Tuesday, February 08, 2005

Paradoks

Temanku sering bercerita tentangmu. Paras cantikmu, ramah sapamu, hangat sentuhmu. Temanku ingin sekali memilikimu. Sayang kamu milik orang lain, temanku pun mengurungkan niatnya. Ia tak suka merusak kebahagiaan orang lain. Namun temanku yang baik itu tidak tega melihatku penasaran karena cerita-ceritanya tentangmu, ia lalu mengenalkanku kepadamu, kita pun berkenalan, tapi tidak berteman.

Kamu dan pacarmu sangat serasi. Ibaku untuk temanku. Tapi temanku memang laki-laki yang baik, “aku bahagia bisa melihatnya ceria”, katanya bijak. Pacarmu dan aku tidak berteman, begitu juga temanku, kami semua hanya kenal. Temanku kemudian pergi, meninggalkanku, kamu dan pacarmu. Berusaha mencari dunia baru, dunia yang ia mau.

Lalu kamu dan aku berteman. Lebih dari sekedar kenal. Semua karena sifat ramahmu. Aku pun senang berteman denganmu, apalagi karena kamu sudah memiliki pasangan, membuatku merasa aman.

Tiba-tiba kamu datang kepadaku bergelimangan air mata. Kutanya mengapa, kaupun menjawab
“Aku berhenti mencintainya!”
Kamu bercerita betapa tidak amannya ketika bersama dengannya, kamu takut, dan karenanya kamu mencariku, mencari rasa aman. Aku kaget! Dan bingung...Senang sekali karena bisa dibutuhkan oleh teman, membuatku merasa dihargai. Menjadikanku orang baik. Karena aku juga suka memberikan rasa aman, apalagi terhadap teman. Aku suka teman-temanku. Dan teman-temanku suka aku, begitu juga kamu...
“Aku suka kamu. Aku mencintaimu. Bolehkah aku menjadi -...”
Tidak tahan dengan kata-katamu aku pun lari. Aku lari karena pernyataanmu menghilangkan rasa amanku terhadapmu. Aku meninggalkanmu disaat kamu butuh rasa aman yang telah berhasil kuciptakan. Aku sadar itu, tapi aku takut...

***

Kita berpisah. Kutinggalkan kamu dan mencari dunia baru. Dan aku pun merindu...amat merindu...
Kutinggalkan dunia baruku untuk mencarimu. Kembali tanpa rasa malu, hanya rindu. Kita pun kembali bertemu
“Hai!” Kamu menyapaku terlebih dahulu, selalu.
“Hai juga”
“Apa kabar?”
Terus kamu bertanya tentangku. Kujawab tentang dunia baruku yang telah berlalu, tanpamu. Aku kemudian bertanya tentangmu. Tak kau jawab pertanyaanku malah membalas dengan pertanyaan
“Kamu kenal dia?”
Ternyata kamu malah bertanya mengenai dia, temanku yang lain. Kupikir kamu akan bertanya mengenai masa lalu kita. Aku kecewa, meski biasanya aku lega. Tapi tetap aku jawab pertanyaanmu, aku suka ditanya
“Ya, aku kenal dia. Dia temanku.”
Jawabanku menyenangkanmu. Kamu lalu bilang ingin menjadi temannya temanku yang lain itu. Kamu penasaran. Seperti halnya aku penasaran kala temanku yang dulu selalu bercerita tentangmu. Namun aku juga penasaran, mengapa kamu tidak rindu padaku, Padahal aku sengaja kembali untukmu? Pertanyaanku terjawab ketika kita membicarakan temanku yang lain itu
"Dia membuatku kagum. Aku salut padanya," ucapmu dengan mata berbinar. Ya, aku juga, batinku dalam hati. Telah berhasil membuatmu kagum sehingga melupakanku.

Ternyata temanku yang lain itu kagum juga kepadamu, menurutnya kamu cerdas, mandiri dan lucu. Penggambaran dirimu dalam tiga kata yang aku juga sangat setuju. Kemudian kalianpun secara resmi berkenalan...berteman...berpasangan.

***

Aku menyesal...untuk apa aku kembali...
Kini saatnya menjadi laki-laki yang baik seperti temanku yang dulu: “Aku bahagia bisa melihatnya ceria.”

Waktu terus berlalu.

Tiba-tiba di suatu masa, pacarmu tiba-tiba membenci aku. Sedikit kaget, lebih banyak bingung...Aku pun bertanya padanya mengapa
“Dia ngeliat gue sebagai elo!”
Aku kaget! Dan tambah bingung...Kemudian aku pura-pura tidak tahu dan bertanya kepadamu mengapa tak lagi bersama temanku lagi...
“Aku berhenti mencintainya!”
Aku tak lagi kaget dan bingung. Kamu pernah lakukan hal yang sama pada pacarmu yang dulu, jadi mengapa sekarang tidak? Lagipula aku sudah sering membayangkan hal ini akan terjadi. Harapan akan sebuah kesempatan kedua. Pertanyaan lanjutan pun sudah aku siapkan
“Mengapa kamu berhenti mencintainya?”
“Aku...sebenarnya...mmh...gimana ya...”
Kamu terlihat bingung sekali. Haha..tawaku dalam hati. Memang pertanyaan itu kartu asku, memberi kesempatan bagiku untuk memperhatikan wajahmu yang bingung dan panik, mimik muka yang selalu kudamba.... aku senang melihatmu kehilangan dirimu. Tapi tak lama kamu menjawab, dengan nada yang lebih yakin,
“Aku kagum padanya karena ia temanmu. Aku sebenarnya tak pernah mencintainya. Aku mencintaimu”
Deg! Jawabanmu kini membuatku merasa was-was, karena tak ada kata-kata itu di skenarioku. Aku juga mencintaimu, pikirku. Tapi ini tidak benar kata hati kecilku.

“Aku takut kamu pun akan berhenti mencintaiku...”, jawabku.
"Tidak! Tidak mungkin! Mencintaimu adalah segalanya bagiku. Tidak mungkin aku meninggalkanmu. Aku ingin sekali memilikimu. Aku butuh kamu karena aku mencintaimu, dengan sepenuh hati, selamanya..."

BLARR!!! Butuh karena cinta dan bukan sebaliknya adalah bahasaku untuk komitmen yang kuat dan kamu mengucapkannya dengan yakin. Dan selamanya...itu berarti ...oh...ini terlalu berat....terlalu cepat...aku tidak siap...

Lari! Hanya itulah yang terlintas di dalam benakku. Aku pun kembali lari...meninggalkanmu.

***
Dahulu aku lari karena tidak nyaman, takut kamu akan meninggalkanku dan aku akan sangat terluka, karena aku yakin aku tidak akan pernah meninggalkan siapapun yang aku cintai. Dan tentu saja saat itu aku tidak lagi merasa aman karena kamu baru saja mengkhianati pacarmu, aku takut dikhianati, sangat takut.

Kini, setelah aku yakin kamu tidak akan pernah meninggalkanku, aku kembali lari. Aku tak nyaman dengan diriku. Aku takut mengkhianatimu, karena kamu satu-satunya wanita yang kucinta.

***



No comments: