Tuesday, September 29, 2009

Or will I be sitting at Cafe Terrace on the Place du Forum? Sipping hot chocolate with. Anyone. I won't mind.

image: http://www.vangoghgallery.com/catalog/Painting/53/Caf%C3%A9-Terrace-on-the-Place-du-Forum,-Arles,-at-Night,-The.html

Will I see myself in front of The Hague's new church anytime soon?


image: www.vangoghgallery.com/catalog/Watercolor/1897/View-of-The-Hague-with-the-New-Church.html

Friday, September 25, 2009

Stalker

Lama ia menanti saat dimana obyek merasakan sedih yang mendalam. Ingin melihat rasa sakit yang selama ini ia rasakan sebagai penderita. Sebuah momen yang ia pikir akan membuatnya tertawa, atau setidaknya merasa puas.

Namun ternyata ia ikut merasa sedih.

Tidak seharusnya ia merasakan itu. Mengapa masih harus peduli? Apakah ia masih peduli?

Pikirannya mengatakan hal utama yang membuatnya sedih adalah obyek yang tidak membagi kesedihan bersamanya. Kenyataan yang menohok bahwa ia masih sangat peduli kepada obyek sedangkan obyek sama sekali tidak.

Ketidakberadaannya di sisi obyek saat obyek berada di titik kesedihan yang begitu dalam membuatnya merasa kecewa kepada dirinya. Mengikis kepercayaan diri karena terbukti ia tidak berarti di mata orang yang ia peduli.

Terkucil. Tersingkir. Tak berdaya.

Namun tak lama kemudian ia tersenyum.

Ia baru saja menerima karmanya.

Tuesday, September 15, 2009

Sahabat Malam

Entah karena malam di Amsterdam sedang bersahabat atau suasana hati yang temaram, Malam di pinggir taman ini sangat nyaman. Merasa seperti dipeluk dengan dekapan yang cukup. Tidak terlalu kencang, tidak terlalu kendur. Malam yang patut dihirup dalam-dalam.


Pikirannya melayang bertanya-tanya ke mana hati terbang. Lebih baik dicuri saja, terasa lebih ringan. Malam bilang hati sedang menyusul harapan. Mengejar si suatu saatnya. Lengkap bersama ke mana dan sampai kapan yang selalu menuntut jawaban.


Sudah lama badannya kosong akan ketenangan. Keteraturan. Kepuasan. Meresap…dan merasa…Mengisinya akan meluruskan makna, mengeratkan jiwa, menghidupkan aura.


"Berhentilah segera," Malam meniupkan asa.


Tanpa kata, malam banyak berbicara kepadanya. Bercerita palsunya dunia tanpa harapan. Mahakarya terbuang demi angka. Terkungkungnya jiwa karena keluarga. Alasan demi alasan berwujud realita hadir bernyawa.


Malam mengangguk saat ia sadar kehidupan dibangun dari pengorbanan. Teman yang mengatakan dibangun dari mimpi pasti belum pernah kelaparan, belum pernah melihat ibunya tidak makan karenanya. Malam pun mengingatkan kembali untuk tersenyum, menuju kejujuran.


Sesuai mimpi, hatinya tak lagi betah singgah. Sehingga betapa pun sakitnya, ia akan bertahan.


Bersama Malam.



Friday, September 11, 2009



You are the someday of my life.



Thursday, September 10, 2009

Blacked Out

I was worried too much.

I must not allow myself to do that again.

Ever.

Ever?


Monday, September 07, 2009

Awake

The longing chat ended the hibernation.

Birth a maybe.

So, mac & cheese?


Thursday, September 03, 2009

The Wisdom of Larry David on Emotion

"If you tell the truth about how you're feeling,
it becomes funny."


Tuesday, September 01, 2009

Wahai pembaca blog

Langsung aja ya, gw ada permintaan khusus nih, yaitu: kasih komentar donk.


Berkat Penghitung Pengunjung yang ada di paling bawah halaman, gw jadi tahu kalau ternyata blog ini dibaca secara berkala. Walau entah oleh siapa.


Kasih komennya tetap sebagai anonymous aja, kita nggak usah kenal lagi di sini, asal bisa interaksi. Karena gw suka ngobrol sama orang asing. Jadi kita di sini ngomong2 tanpa pretensi, cuma membahas esensi, meskipun sebenarnya kalian adalah orang-orang yang gw kenal bahkan pernah deket.


Boleh ya dicoba? Terimakasih sebelumnya.


Burat