Wednesday, April 18, 2012

Ngurus Orang

Ngurus orang itu susah. Salah satu Crative Director di agency multinasional terbesar di Indonesia pernah bilang,”mendingan kasih gw kerjaan yang banyak daripada gw harus ngurus orang”. Memang pernyataan itu hanya keluar saat ngobrol-ngobrol ringan saja bukan pernyataannya ke manajemen. Tapi sekarang saya mengerti benar maksudnya.

Menurut saya mayoritas orang Indonesia adalah pekerja yang malas. Tidak seperti Singapura dengan kiasu-nya (kiasu=fear of losing) dan orang India dengan fear to be perceive as a stupid-nya. Orang Indonesia menganut pedoman dikit berusaha banyak dapatnya. Hal ini semakin menjadi karena mungkin koruptor terus bebas di negeri ini.

Saya ingat masa di mana saya baru masuk ke dalam industri. Saya sering overdone the work. Bikin headline dengan banyak sekali versi malah kadang saya gabung hingga jadi cerita. Agak jadi nggak fokus memang tapi itu cara saya menyukai pekerjaan ini. Saya bikin asik aja, walaupun begitu sampai di klien, mintanya bikin yang biasa-biasa saja.

Bahan bakar utama kerja di periklanan (seperti juga industri karya lainnya) cuma passion. Sejago-jagonya, sebanyak apa pun award yang pernah didapat, begitu passionnya hilang, orang itu akan jadi useless. Dan sebaliknya. Junior yang terus menyukai dan berusaha semaksimal mungkin bisa langsung jadi hero of the day ketika idenya hacep. Pertanyaannya adalah, bagaimana mengurus yang kebalikannya?

Bagaimana mengurus yang diminta bikin headline alternatif banyak, hanya membuka thesaurus dan menuliskan kata yang berbeda?

Bagaimana mengurus yang diminta membuat alternatif layout banyak hanya mengubah warna backgroundnya saja?

Bagaimana ketika diminta mengerjakan alternatif yang banyak mengerjakannya butuh waktu 3 kali lipat?

Dan ketika dipush untuk lebih cepat, malah izin nggak masuk keesokan harinya?

Itu baru dari satu sisi, belum lagi orang-orang dari samping

Bagaimana mengurus orang yang ditanya mana briefnya, jawabannya malah bertanya lagi menurut loe gimana?

Bagaimana mengurus orang yang ditanya strateginya apa, jawabannya malah idenya dulu aja, strateginya nanti setelah kreatifnya jadi?

Bagaimana mengurus yang minta kerjaan selesai besok dikasih jawaban nggak bisa malah nongkrong langsung ke orang studio?

Saat di-ambush dengan segala pertanyaan itu, kebetulan saya membaca blognya Paramita Mohamad, yang salah satu isi postingnya: “I guess many people leave their agencies because of people they work with. I truly empathize with them.”

Memang semua itu kekurangan yang akan membuat tertarik turun. Tinggal menentukan pilihan akan ikut turun dan berusaha mengangkat mereka pelan-pelan sambil terjatuh-jatuh bersama-sama. Atau terjatuh-jatuh mengangkat diri sendiri saat berlari atau mencoba terbang lebih tinggi di tempat yang berbeda dengan mereka.


Saturday, April 14, 2012

Keseimbangan Berputar

Kasihan banget blog ini mati suri cukup lama. Bohong kalau alasannya sibuk karena nyatanya selalu ada tulisan baru di journal berpassword di laptop ini. Merasa nggak ada faedahnya adalah alasan sebenarnya. Kemalasan memosting pun jadi berkerak.

Lalu postingan ini akan menghapus kerak itu? Belum bisa janji. Yang pasti sekarang sudah tahu faedahnya terus posting di sini, jadi setidaknya kerak malasnya tidak akan bertambah.

Apa itu faedahnya? Ketika sedang berada di luar negeri atau di mana pun saat saya sedang merasa kehilangan jati diri dan ada koneksi internet tapi tidak sedang ada laptop, saya bisa mendengar lagi suara saya sendiri. Hal ini cukup menenangkan dan membuat saya bisa men-summon diri saya sendiri masuk lagi.

Lalu apa suara hari ini?

Karena saya sudah membuat entry di journal berpassword, jadi saya posting saja entry itu di bawah ini:

Tiba-tiba agak sebal sama cerita basi dengan mengambil pesan mengenai orang tua super kaya yang mengukung anaknya dengan segala keputusan dan aturan. Di mana anaknya lalu memberontak dengan cara rebel yang kemudian berhasil mengubah keadaan.

180 derajat kebalikan sama kenyataan sehari-hari. Surely that’s why I hate it.

Walaupun kalau dipikir lagi sebenarnya sama. Kalau yang satunya segala kebutuhan terpenuhi baik materi maupun kasih sayang tapi minim kebebasan, yang satunya memiliki kebebasan tapi minim materi dan kasih sayang.

Sebalnya lagi, di film, cerita selalu habis saat keadaan seimbang. Materi, kasih sayang dan kebebasan berada di titik teratas semua. Tapi yang tidak diceritakan adalah kelanjutannya, bahwa setelah itu keadaan akan kembali berulang dari titik terbawah.

Contoh nyata: Seorang teman masuk ke universitas di luar negeri sesuai kemauan orang tuanya. Di tengah jalan ia memberontak sampai orang tuanya berhenti menyokong biaya hidupnya, padahal ia ada di negeri orang seorang diri. Jadilah ia surviving bermodalkan mimpinya. Ia yang tadinya memiliki materi dan kasih sayang namun tak memiliki kebebasan, langsung berubah 180 derajat. Kebebasan ditukar dengan kecukupan materi dan kasih sayang.

Ia pun harus makan mie instan sebungkus untuk tiga kali makan. Pagi siang malam. Banyak hal tak terbayangkan lainnya yang kiranya tak akan terjadi, tiba-tiba menjadi nyata. Dan harus tetap dihadapi. Sendiri. Tak ada materi dan kasih sayang, yang ada hanya kebebasan.

Akhirnya dengan segala upaya, ia pun berhasil. Kebebasan yang digunakannya untuk berkarya menghasilkan materi dan kasih sayang yang cukup. Ia pun “bahagia”.

Kalau hidupnya adalah sebuah film, ceritanya akan berhenti sampai di sini. Tapi di sinilah turning pointnya, square one, di mana kebebasannya kembali terenggut karena ia tidak bisa meraih mimpinya lebih tinggi lagi karena harus menjadi pewaris keluarga.

Apakah ia akan berani menukar kembali materi dan kasih sayang untuk kembali bisa mendapatkan kebebasannya untuk bisa meraih mimpinya yang lebih tinggi lagi? Saya pun masih menunggu kisah selanjutnya.

Jadi buat apa ngoyo ngejar kalau di ujung harus mulai dari awal?

Sebuah pertanyaan retorik yang levelnya sama dengan pertanyaan, “ngapain makan kalau nanti lapar lagi?” dan ribuan pertanyaan retorik yang identik.

Bagi saya jawabannya sederhana: itulah sistem hidup manusia, keseimbangan yang berputar.