Tiba-tiba agak sebal sama cerita basi dengan mengambil pesan mengenai orang tua super kaya yang mengukung anaknya dengan segala keputusan dan aturan. Di mana anaknya lalu memberontak dengan cara rebel yang kemudian berhasil mengubah keadaan.
180 derajat kebalikan sama kenyataan sehari-hari. Surely that’s why I hate it.
Walaupun kalau dipikir lagi sebenarnya sama. Kalau yang satunya segala kebutuhan terpenuhi baik materi maupun kasih sayang tapi minim kebebasan, yang satunya memiliki kebebasan tapi minim materi dan kasih sayang.
Sebalnya lagi, di film, cerita selalu habis saat keadaan seimbang. Materi, kasih sayang dan kebebasan berada di titik teratas semua. Tapi yang tidak diceritakan adalah kelanjutannya, bahwa setelah itu keadaan akan kembali berulang dari titik terbawah.
Contoh nyata: Seorang teman masuk ke universitas di luar negeri sesuai kemauan orang tuanya. Di tengah jalan ia memberontak sampai orang tuanya berhenti menyokong biaya hidupnya, padahal ia ada di negeri orang seorang diri. Jadilah ia surviving bermodalkan mimpinya. Ia yang tadinya memiliki materi dan kasih sayang namun tak memiliki kebebasan, langsung berubah 180 derajat. Kebebasan ditukar dengan kecukupan materi dan kasih sayang.
Ia pun harus makan mie instan sebungkus untuk tiga kali makan. Pagi siang malam. Banyak hal tak terbayangkan lainnya yang kiranya tak akan terjadi, tiba-tiba menjadi nyata. Dan harus tetap dihadapi. Sendiri. Tak ada materi dan kasih sayang, yang ada hanya kebebasan.
Akhirnya dengan segala upaya, ia pun berhasil. Kebebasan yang digunakannya untuk berkarya menghasilkan materi dan kasih sayang yang cukup. Ia pun “bahagia”.
Kalau hidupnya adalah sebuah film, ceritanya akan berhenti sampai di sini. Tapi di sinilah turning pointnya, square one, di mana kebebasannya kembali terenggut karena ia tidak bisa meraih mimpinya lebih tinggi lagi karena harus menjadi pewaris keluarga.
Apakah ia akan berani menukar kembali materi dan kasih sayang untuk kembali bisa mendapatkan kebebasannya untuk bisa meraih mimpinya yang lebih tinggi lagi? Saya pun masih menunggu kisah selanjutnya.
Jadi buat apa ngoyo ngejar kalau di ujung harus mulai dari awal?
Sebuah pertanyaan retorik yang levelnya sama dengan pertanyaan, “ngapain makan kalau nanti lapar lagi?” dan ribuan pertanyaan retorik yang identik.
Bagi saya jawabannya sederhana: itulah sistem hidup manusia, keseimbangan yang berputar.
No comments:
Post a Comment