Monday, July 30, 2007

Membosankan

Mendua, bosan!
Istri teman, perawan, anak gedongan
Bosan
Enakan ditusuk dalam-dalam

Baikan, bosan!
Kenalan, temenan, pacaran, balik temenan
Bosan
Enakan musuhan

Pembuktian, bosan!
Romantisme, kesetiaan, kemapanan, kedewasaan
Bosan
Enakan ngasih cobaan

Buktikanlah kau yang buktikan
Aku sedang bosan

Thursday, July 26, 2007

dicium istri orang

- Dia kayak loe, ganggu. Nggak mikir perasaan orang kalo ngomong. Nyebelin. Gw cium bibirnya aja. Abis gemes.
+ Goblok!
- Bukan goblok, gw mabok!
+ Mabok cinta?
- Halah. Dibilangin gemes.
+ Loe remes?
- :-*!!!
+ Itu gemes juga?
- Bukan, itu cinta.
+ Goblok…

Thursday, July 19, 2007

Do they deserve it?

Kurang lebih setahun yang lalu, seorang teman yang baik terkena penyakit mata, uveitis. Peradangan di Retina yang membuat satu matanya tidak dapat melihat sama sekali dan satunya lagi buram terlapisi lapisan berwarna kuning.

Sekitar enam bulan yang lalu, seorang CD yang juga baik terkena Myasthenia Gravis. Kondisi di mana otot tidak memiliki kekuatan sama sekali karena zat yang dikeluarkan syaraf (namanya acetylcholine) agar otot bergerak dihancurkan oleh antibodi sang CD. Dalam kata lain, antibodinya fed up dan melawan balik. “Enough is enough!” mungkin kata mereka.

Kemudian beberapa bulan yang lalu, istri yang baik seorang teman baru divonis terkena kanker hati. Kalau yang ini udah tahu lah ya penyakitnya seganas apa.

Saya kemudian sok playing God, sok-sokan sebagai yang menciptakan alasan mengapa mereka harus mengalami itu semua.

Yang pertama. Selain baik, teman saya yang baik itu juga cakep, ya menarik lah, eh nggak ding benar yang awal, cakep (tomboy, jadi nggak cocok dibilang cantik). Sudah bisa ditebak kan masalahnya, bagaimana ia harus menolak cowok-cowok dengan cara yang paling halus dan tidak menyakitkan. “Kita masih bisa temenan kan” mungkin ia sudah ucapkan ratusan kali, ups berlebihan, ribuan maksudnya, hehe…Itulah yang menjadi penyebab penyakitnya. Bukan, penyakitnya timbul bukan karena ia disumpahin ribuan barisan patah hati, tapi karena sebenarnya ia merasa dikhianati. Merasa dikhianati karena ia sudah percaya kepada mereka sebagai teman, namun saat mereka meminta lebih, itu adalah pengkhianatan terhadap kepercayaannya. Dan pengkhianatan selalu melahirkan dendam. Nah, dendam yang tidak tersalurkan itulah penyebab penyakitnya.

Trus untuk sang CD yang baik, penyakitnya adalah sebuah peringatan. Meski tidak cinta terhadap diri sendiri tapi bukan berarti boleh seenaknya sendiri. Kecintaannya terhadap hal lain selain dirinya harus dikurangi, sinkronisasi jiwa dan raganya masih lebih penting daripada hal lain yang ia cintai itu. Ia harus tetap ada karena masih banyak yang mencintai dan membutuhkannya. Ia harus menyadari itu, itulah mengapa ia harus mengalami penyakitnya.

Lalu mengenai istri yang baik…Hal itu terjadi agar teman kantor suaminya menjalankan takdirnya sebagai karyawan yang selalu overload pekerjaannya, hehe apa hubungannya. Alasannya adalah simply cobaan. Mereka sudah sampai di tahap terakhir cobaan-cobaan hidup. Saat mereka menyadarinya, melewatinya hanya semudah menutup mata dengan sengaja dan mereka sekeluarga akan bahagia selamanya.

Jadi, sebenarnya bukan pantas atau tidak, tapi tinggal mau mengambil hikmahnya atau tidak, cos’ there’s always a bigger thing from everything that we’ve been doing.

Monday, July 16, 2007

Kompas Minggu yang Bersahabat

Tertanggal 15 Juli, 2007, surat kabar versi hari Minggu ini membawa ketenangan tersendiri. Tiga buah berita utamanya memberi suntikan optimisme dengan rasa sakitnya masing-masing.

Berita pertama
Headline “Kalah dengan Kepala Tegak” beserta foto Bambang Pamungkas yang sedang menarik kedua tangan M. Ridwan untuk berdiri berhasil menyentil hati. Ditambah isi berita betapa pendukung Indonesia yang mulai dewasa, mereka tidak lagi menghujat atas kekalahan Indonesia, mereka terus meneriakkan “Indonesia…Indonesia..." hingga akhir pertandingan. Mereka juga terus memberikan dukungan dan motivasi setelah pertandingan, “Bambang, jangan biarkan teman-temanmu menundukkan kepala,” ujar mereka mencoba memberi percikan semangat yang sedang padam.

Berita kedua
Kali ini kejujuran pemimpin bangsa yang lumayan menyentuh. Betapa hening ternyata juga menyelimuti tribun VVIP di menit-menit akhir pertandingan. Lalu saat peluit panjang dibunyikan, meski masih sempat menyalami pejabat Arab Saudi yang hadir di sana, dalam kesenyapan Presiden SBY langsung meninggalkan tribun tanpa kata-kata dan lambaian tangan. Malam itu beliau sama seperti saya dan jutaan penonton tim merah putih lainnya, sedih tertampar harapan semu.

Berita ketiga
Tentang film “The Photograph". Tentang Johan, seorang juru foto keliling yang hidup dalam kabut rasa bersalah. Ia kemudian bertemu seseorang yang membuatnya berani membuka kotak berisi benda-benda yang memeram tragedi masa lalunya. Ia berhenti takut atas ketakutan yang ia ciptakan sendiri.

Bagi saya, ketiga berita tersebut menegaskan satu pesan, bahwa rasa sakit tidak harus disembunyikan, dikubur atau dibuang dari ingatan, tapi justru harus dimasuki dan dihadapi. Pedih dan perih harus dikunyah, dicecap hingga habis pedih perihnya, dengan begitu rasa sakit dapat dilewati dan melahirkan optimisme.

Kejujuran terhadap hati sendiri yang masih sulit dilakukan oleh sebagian besar orang.

Tuesday, July 10, 2007

Unspoken Little Truth

Beberapa wanita mendekati kepala tiga dan sudah menjadi senior di pekerjaannya memiliki cerita cinta yang hampir sama. Dekatnya mereka dengan “deadline” membuat mereka tidak ingin lagi menjalankan proses hubungan yang panjang. Ingin langsung mendapatkan paket yang sempurna. Alhasil, puluhan pria gugur sebelum masuk ke medan pertempuran, singkatnya mereka menjadi pengumpul penggemar.

Dengan keyakinan bahwa “the one” masih belum mereka temukan, para wanita ini tanpa sadar semakin hari semakin tinggi menetapkan standar pria-pria yang dapat berkencan dengan mereka. Berpenghasilan di level manager. Bukan penggoda namun dapat terus menjaga perasaan membara. Harus setia. Sudah pernah keliling dunia, minimum asia. Tidak menggunakan roda dua sehari-harinya, kecuali cc-nya di atas 600. Mobil manual boleh, selama umurnya belum tiga tahun, dst.

Suatu saat, salah satu wanita ini bertemu dengan pria yang berniat untuk selalu jujur dan setia kepadanya, selamanya. Dimulai dengan kesiapan akan melapor saat mau bertemu wanita lain selain dia. Wanita merasa cocok dengan pria.

Namun dalam perkembangannya wanita tahu bahwa pria ini berpenghasilan sedikit di bawah level manager, roda duanya hanya ber-cc seratusan, mobil matic tapi umurnya lebih dari lima tahun serta hal-hal lain di bawah standarnya. Wanita pun meninggalkannya, tanpa kata-kata.

Tak lama kemudian wanita mengetahui tanpa sengaja kalau si pria bukanlah pria yang ia kenal sebelumnya dari sisi harta. Ternyata pria itu memiliki kekayaan tiga kali lipat dari standar wanita. Rupanya sang wanitalah yang sedang dites oleh pria.

In relationship, the enemy of truth is not lie, it’s the myth

Wednesday, July 04, 2007

Menghapus blog

Saya punya beberapa blog, banyak tepatnya, tapi terakhir tinggal tiga. Yang pertama tentu saja blog ini, pertama dibuat dan untuk siapa saja. Blog kedua untuk saya sendiri, kalau-kalau file jurnal berpassword saya tidak sengaja terhapus. Dan yang ketiga adalah blog saya dan dia.

Ya, blog ketiga itu adalah blog kami berdua. Tapi maaf saya tidak bisa memberitahu siapa dia. Mungkin nanti kalau keadaannya berbeda, kita lihat saja.

Menyenangkan sebenarnya memiliki blog bersama, setidaknya saya menganggapnya seperti itu. Banyak hal yang tidak sempat terucap bisa tersampaikan. Saya memang tipe yang lebih bisa mengerti seseorang dari tulisannya daripada perkataannya. Dan sebaliknya, saya lebih bisa berkata-kata dengan aksara daripada berbicara empat mata.

Tapi kemudian kepercayaan saya ke dia pudar. Saya merasa tidak nyaman lagi. Dia menjadi anak manja yang ahli sekali memutarbalikkan fakta. Sepertinya dia menjadi terlalu tinggi menilai dirinya sendiri dan merasa sudah mengerti seluruhnya saya. Dia pun menjadi hakim yang tidak pernah obyektif.

Karena itulah saya hapus blog itu.

Selain itu saya juga berhenti berbicara kepadanya walau masih harus bertemu dengannya. Kekanak-kanakan? Bisa. Terlalu capek? Sepertinya sih itu.

Saya kemudian menceritakan hal ini kepada seorang teman dekat (minus identitas si dia) dan bertanya mengapa kok saya bisa melakukan itu. “…karena nggak banyak orang yang bisa dapet kepercayaan dari loe, jadi kadang loe suka terlalu tinggi memposisikan orang yang loe percaya,” begitu katanya. Komentar seperti ini memang yang membuat saya selalu menganggap dia sebagai sahabat.