Monday, July 16, 2007

Kompas Minggu yang Bersahabat

Tertanggal 15 Juli, 2007, surat kabar versi hari Minggu ini membawa ketenangan tersendiri. Tiga buah berita utamanya memberi suntikan optimisme dengan rasa sakitnya masing-masing.

Berita pertama
Headline “Kalah dengan Kepala Tegak” beserta foto Bambang Pamungkas yang sedang menarik kedua tangan M. Ridwan untuk berdiri berhasil menyentil hati. Ditambah isi berita betapa pendukung Indonesia yang mulai dewasa, mereka tidak lagi menghujat atas kekalahan Indonesia, mereka terus meneriakkan “Indonesia…Indonesia..." hingga akhir pertandingan. Mereka juga terus memberikan dukungan dan motivasi setelah pertandingan, “Bambang, jangan biarkan teman-temanmu menundukkan kepala,” ujar mereka mencoba memberi percikan semangat yang sedang padam.

Berita kedua
Kali ini kejujuran pemimpin bangsa yang lumayan menyentuh. Betapa hening ternyata juga menyelimuti tribun VVIP di menit-menit akhir pertandingan. Lalu saat peluit panjang dibunyikan, meski masih sempat menyalami pejabat Arab Saudi yang hadir di sana, dalam kesenyapan Presiden SBY langsung meninggalkan tribun tanpa kata-kata dan lambaian tangan. Malam itu beliau sama seperti saya dan jutaan penonton tim merah putih lainnya, sedih tertampar harapan semu.

Berita ketiga
Tentang film “The Photograph". Tentang Johan, seorang juru foto keliling yang hidup dalam kabut rasa bersalah. Ia kemudian bertemu seseorang yang membuatnya berani membuka kotak berisi benda-benda yang memeram tragedi masa lalunya. Ia berhenti takut atas ketakutan yang ia ciptakan sendiri.

Bagi saya, ketiga berita tersebut menegaskan satu pesan, bahwa rasa sakit tidak harus disembunyikan, dikubur atau dibuang dari ingatan, tapi justru harus dimasuki dan dihadapi. Pedih dan perih harus dikunyah, dicecap hingga habis pedih perihnya, dengan begitu rasa sakit dapat dilewati dan melahirkan optimisme.

Kejujuran terhadap hati sendiri yang masih sulit dilakukan oleh sebagian besar orang.

1 comment:

Stevie Sulaiman said...

... seperti gue, salah satunya.