Kurang lebih setahun yang lalu, seorang teman yang baik terkena penyakit mata, uveitis. Peradangan di Retina yang membuat satu matanya tidak dapat melihat sama sekali dan satunya lagi buram terlapisi lapisan berwarna kuning. Sekitar enam bulan yang lalu, seorang CD yang juga baik terkena Myasthenia Gravis. Kondisi di mana otot tidak memiliki kekuatan sama sekali karena zat yang dikeluarkan syaraf (namanya acetylcholine) agar otot bergerak dihancurkan oleh antibodi sang CD. Dalam kata lain, antibodinya fed up dan melawan balik. “Enough is enough!” mungkin kata mereka.
Kemudian beberapa bulan yang lalu, istri yang baik seorang teman baru divonis terkena kanker hati. Kalau yang ini udah tahu lah ya penyakitnya seganas apa.
Saya kemudian sok playing God, sok-sokan sebagai yang menciptakan alasan mengapa mereka harus mengalami itu semua.
Yang pertama. Selain baik, teman saya yang baik itu juga cakep, ya menarik lah, eh nggak ding benar yang awal, cakep (tomboy, jadi nggak cocok dibilang cantik). Sudah bisa ditebak kan masalahnya, bagaimana ia harus menolak cowok-cowok dengan cara yang paling halus dan tidak menyakitkan. “Kita masih bisa temenan kan” mungkin ia sudah ucapkan ratusan kali, ups berlebihan, ribuan maksudnya, hehe…Itulah yang menjadi penyebab penyakitnya. Bukan, penyakitnya timbul bukan karena ia disumpahin ribuan barisan patah hati, tapi karena sebenarnya ia merasa dikhianati. Merasa dikhianati karena ia sudah percaya kepada mereka sebagai teman, namun saat mereka meminta lebih, itu adalah pengkhianatan terhadap kepercayaannya. Dan pengkhianatan selalu melahirkan dendam. Nah, dendam yang tidak tersalurkan itulah penyebab penyakitnya.
Trus untuk sang CD yang baik, penyakitnya adalah sebuah peringatan. Meski tidak cinta terhadap diri sendiri tapi bukan berarti boleh seenaknya sendiri. Kecintaannya terhadap hal lain selain dirinya harus dikurangi, sinkronisasi jiwa dan raganya masih lebih penting daripada hal lain yang ia cintai itu. Ia harus tetap ada karena masih banyak yang mencintai dan membutuhkannya. Ia harus menyadari itu, itulah mengapa ia harus mengalami penyakitnya.
Lalu mengenai istri yang baik…Hal itu terjadi agar teman kantor suaminya menjalankan takdirnya sebagai karyawan yang selalu overload pekerjaannya, hehe apa hubungannya. Alasannya adalah simply cobaan. Mereka sudah sampai di tahap terakhir cobaan-cobaan hidup. Saat mereka menyadarinya, melewatinya hanya semudah menutup mata dengan sengaja dan mereka sekeluarga akan bahagia selamanya.
Jadi, sebenarnya bukan pantas atau tidak, tapi tinggal mau mengambil hikmahnya atau tidak, cos’ there’s always a bigger thing from everything that we’ve been doing.
6 comments:
Duh yang ditolak dan berkhianat...:)
iya ya kasian mereka...
Dunno, but i'm sure they're perfectky fine, or maybe one of them (this one i'm sure)
have a very very nice life yaaa:)
have a very very nice life for both of us then
gw pernah baca : "takkan kubiarkan mereka mengaku-ngaku beriman tanpa melewai ujian KU.."
mungkin ini salah satu bentuk implementasinya.. entahlah...
Post a Comment