Saya punya beberapa blog, banyak tepatnya, tapi terakhir tinggal tiga. Yang pertama tentu saja blog ini, pertama dibuat dan untuk siapa saja. Blog kedua untuk saya sendiri, kalau-kalau file jurnal berpassword saya tidak sengaja terhapus. Dan yang ketiga adalah blog saya dan dia. Ya, blog ketiga itu adalah blog kami berdua. Tapi maaf saya tidak bisa memberitahu siapa dia. Mungkin nanti kalau keadaannya berbeda, kita lihat saja.
Menyenangkan sebenarnya memiliki blog bersama, setidaknya saya menganggapnya seperti itu. Banyak hal yang tidak sempat terucap bisa tersampaikan. Saya memang tipe yang lebih bisa mengerti seseorang dari tulisannya daripada perkataannya. Dan sebaliknya, saya lebih bisa berkata-kata dengan aksara daripada berbicara empat mata.
Tapi kemudian kepercayaan saya ke dia pudar. Saya merasa tidak nyaman lagi. Dia menjadi anak manja yang ahli sekali memutarbalikkan fakta. Sepertinya dia menjadi terlalu tinggi menilai dirinya sendiri dan merasa sudah mengerti seluruhnya saya. Dia pun menjadi hakim yang tidak pernah obyektif.
Karena itulah saya hapus blog itu.
Selain itu saya juga berhenti berbicara kepadanya walau masih harus bertemu dengannya. Kekanak-kanakan? Bisa. Terlalu capek? Sepertinya sih itu.
Saya kemudian menceritakan hal ini kepada seorang teman dekat (minus identitas si dia) dan bertanya mengapa kok saya bisa melakukan itu. “…karena nggak banyak orang yang bisa dapet kepercayaan dari loe, jadi kadang loe suka terlalu tinggi memposisikan orang yang loe percaya,” begitu katanya. Komentar seperti ini memang yang membuat saya selalu menganggap dia sebagai sahabat.
1 comment:
turut bersimpati bro... semoga elu makin laku ye rat....
Post a Comment