Wednesday, March 31, 2010

Pulp Word #1

Lapisist
pembuat lapisan pelarian

Seorang lapisist menciptakan lapisan pelarian ketika sebuah masalah datang. Karena sebenarnya ia tidak mau menjalankannya tapi harus tetap melakukannya. Sehingga untuk tetap dapat menjalankannya ia menciptakan lapisan baru. Lapisan pelarian. Bentuknya macam-macam. Akumulasi lapisan ketidakberdayaan yang tak terkendalikan biasa disebut schizophrenia, ketika ia tidak bisa lagi membedakan mana yang lapisan mana yang bukan. Jika lapisan itu adalah seseorang, berarti penderita akan memiliki teman bayangan. Kalau lapisan itu kesendirian, si pencipta lapisan selalu bahwa ia adalah aktor dalam hidupnya sendiri. Orang lain hanya penonton, tak akan pernah bisa menyentuh dirinya yang “asli”.


Seperti di salah satu episode series Mental, ketika si penderita diberitahu ia akan dimasukkan ke institusi kejiwaan yang permanen, ia seperti tidak mendengar dan sibuk mencari jam tangannya. Kenyataannya, ia tidak pernah punya jam tangan. Si penderita sebenarnya sangat jelas mendengar dan mengerti namun menolak untuk menerima keputusan yang harus ia jalankan walaupun ia tidak setuju. Ia tidak suka akan dimasukkan ke institusi kejiwaan tapi tidak bisa menolak karena ia juga tahu kalau ia sakit dan ingin sembuh.

Lapisist sebagian besar berawal dari masalah keluarga yang tidak bisa terpecahkan dan harus terus hidup di dalamnya. Seseorang menjadi lapisist dimulai karena belum bisa menerima bahwa ketidakbahagiaan itu besarnya selalu sama dengan kebahagiaan yang kita rasakan.

Lapisist tak bisa menerima ketidakbahagiaan, sehingga tidak pernah merasa benar-benar bahagia. Bahkan ketika merasa bahagia, langsung menjadi takut, karena tahu itu hanya sementara dan akan ada kepahitan yang lebih, menunggu setelahnya. Rasa percaya diri untuk dapat menemukan solusi di tiap masalah menjadi terasa tidak penting. Sebab tahu masalah utama yang mengganggu masih tak akan terpecahkan hingga belasan tahun ke depan. Kesedihan berkepanjangan. Lelah tak berkesudahan. Ketidakbahagiaan permanen.

Akan terdengar cukup basi, tapi ikhlas adalah penyembuh yang ampuh bagi para lapisist.


Wednesday, March 17, 2010

Craving for The Great Escape


“The Great Escape”

Boys Like Girls


Paper bags and plastic hearts

All our belongings in shopping carts

It's goodbye

But we got one more night


Let's get drunk and ride around

And make peace with an empty town

We can make it right


Throw it away

Forget yesterday

'We'll make the great escape

We won't hear a word they say

They don't know us anyway


Watch it burn

Let it die

Cause we are finally free tonight


Tonight will change our lives

It's so good to be by your side

But we'll cry

We won't give up the fight


We'll scream loud at the top of our lungs

And they'll think it's just 'cause we're young

And we'll feel so alive


Throw it away

Forget yesterday

We'll make the great escape

We won't hear a word they say

They don't know us anyway


Watch it burn

Let it die

'Cause we are finally free tonight


All of the wasted time

The hours that were left behind

The answers that we'll never find

They don't mean a thing tonight


Throw it away

Forget yesterday

We'll make the great escape

We won't hear a word they say

They don't know us anyway


Throw it away

Forget yesterday

We'll make the great escape

We won't hear a word they say

They don't know us anyway


Throw it away

Forget yesterday

We'll make the great escape

We won't hear a word they say

They won't know us anyway


Watch it burn

Let it die

'Cause we are finally free tonight

Monday, March 15, 2010

A false dream

Bagaimana bisa sebuah impian yang didapat dengan usaha mati-matian ternyata tidak sesuai dengan harapan?

Apakah karena sebenarnya impian tersebut adalah sebuah kewajiban?

Atau sekedar pelarian?

Atau sedang “dicoba” seberapa bisa bersyukurkah?

Atau sedang “ditabung” untuk impian yang lebih besar lagi?

Atau malah sedang bayar “utang”?

Bagaimana cara mengetahui apa yang benar-benar kita inginkan ketika satu persatu terwujud namun tidak sesuai harapan?

…

Ikhlas dan loncat ke mimpi lain bahkan yang lebih besar.

Hanya itu yang terpikir. Untuk sementara. Karena sepertinya akan menjadi sebuah kekalahan ketika kita berhenti mengejar mimpi apalagi berhenti percaya bermimpi ada gunanya.


Saturday, March 06, 2010

Annyeonghaseyo!

Sorry I haven't got the chance to update you, damn stalkers :D

Last year, my office went to South Korea for outing. Unfortunately it was a so-so trip for me. I was too tired to go at that time thanks to the good GSM. But still there are some moments worth mentioning. I think.

Incheon Airport
Arrived at Incheon Airport early in the morning. Didn't gave me the whole feeling of the country yet. But the weather was freezing. It's a good start. Because cold means warmth to me.

Will CGK be as cool as these?

It gets waaay colder on the outside. That's why I give you this warm smile (huuueeekkk!!) :D

Nami Island
was our first destination. Why? Because the travel agency thought we all fond of Korean TV series "Winter Sonata". And surely, WE DON"T! Especially since it's not WINTER means no snow at all! Bollocks.
Just imagine if the snow were there

Samsung Phoenix Park
This was the place that kept me (and maybe most of us) excited about the trip, because here we met: The Snow! How come there were no snow at Nami Island but lots up here? Because it's just a fake snow. They made it up. But surely real enough for us.
Two lucky Jatinangor boys that could feel the snow for free!

Meet my waayyy cooler twin brother.

Eternal coolness of the freezing mind.

A warning for you who haven't try skiing, you'll get addicted.

Woke up at 6 a.m. craving for sunrise. The rain greeted me instead.

Gyeongbok Palace
Means Shining Happiness. It's an old skool palace that still have weird aura in some parts of the whole complex. And it wasn't happiness aura. It was greatness.

Welcoming you to my palace.

King's view from the top of the palace.

Everland
Just like Dufan in Jakarta but with the biggest wood roller-coaster in the region. Too bad it was raining, so not many playgrounds were open. And for me, after battling with tremendous cold the night before plus still a bit hangover from too much Soju, the Everland became the Feverland.



Dongdaemun Market
It's the largest wholesale and retail shopping in Korea with 26 shopping malls, more than 30,000 30,000 specialty shops, and 50,000 manufacturers. The travel guide described it like Tanah Abang in Jakarta. But it wasn't really like that as their price is as high as shops in Pacific Place. I bought a pair of shoes though :D


Myongdong
The heaven for shopaholics. Here you can find lots of funny stuff (the screaming chicken for instance), pirated DVD/CD, local food, and of course vast branded products. The price? Way cheaper than Dongdaemun. It's their Mangga Dua. I found what Mom asked, a plain umbrella. Found it at Uniclo.




Others

The last morning view from the room

This is where I bought the amethyst for mom and sis. Don't ask me the name of the store.

The oleh-oleh! Well some of them.

Friday, March 05, 2010

What Lies Beneath

Di suatu pagi, seorang perempuan muda tiba-tiba mengajak mantannya untuk bertemu di sebuah mall.

Di perjalanan, pria kembali memikirkan kenapa ia mau menerima undangan si mantan.
Aneh juga tiba-tiba dia minta ketemuan, tanpa ngasih alasan. Untung dijanjiin gratisan sarapan. Hehehe ternyata saya murahan…

Mereka bertemu di toko kecil yang menjual roti kesukaan pria. Duduk berhadapan, pria mengakhiri keheningan dengan membuka percakapan.
“Ada apa?”
Kok dia nggak nawarin pesen makanan ya? Hehe”

“Kamu nggak merasa kita pernah nyata ya?”

Yaelah, apaan sih?
“Maksudnya?”

“Kamu nggak pernah nulis tentang aku di blog kamu”

Heh? Serius nih ngajak ketemuan cuma gara-gara itu? Kangen kek, atau tiba-tiba minta pertanggungjawaban gitu biar seru, taunya ginian doank. Culun. Eh tapi tunggu, lucu juga kalau emang iya, baru pertama kali ada yang protes kayak gini. Atau mungkin baru pancingan awal dia aja. Tes dulu ah.
“Aku kan nulis kamunya di hati, ya di blog nggak bakalan ada”

PLAAKKK!!!
Perempuan muda tiba-tiba menampar pria cukup keras.

...bunyi krik krik jangkrik, tik tok jam, burung chirping sama sekali tidak terdengar. Hanya hening…

Yeah, ok, I forgot she knows me that well. But at least now I make her angry. That’s good. It’s easier to get her away that way.

Pelayan datang membawa dua bungkusan yang dijadikan satu.

Oh, ternyata dia udah pesan duluan. Asik. Tapi apa dia mau ngasih lagi ngambek gitu. Hmm…gimana mintanya ya…

“Nggak cuma kamu kok yang nggak ditulis di blog…”
Start with a truth…

“Berarti ada yang lain waktu kita --?”

“Kan memang seharusnya ‘kita’ nggak pernah ada.”
Damn, I just lied.

“Tapi buatku kita pernah nyata”

You’re expecting me to admit the same thing? Come on, that’s lame. Duh, tapi bau rotinya menggoda sekali nih. Laperrr…But a lie helps, so...
“Kalau aku bilang ada yang lain waktu ‘kita’ sama-sama, akan membantu?”

“Kejujuran selalu memunculkan hal baik.”

Need to say this as honestly as I could…
“Waktu itu... memang ada yang lain.”

Perempuan terlihat kaget. Namun perlahan ia tersenyum.

“Akhirnya kamu jujur juga. Siapa?”

Shit. I’m dead! One lie always leads to another, I should’ve known that.
“Nggak perlu. Percaya sama aku, kamu nggak pengen tahu.”

“Hmm…ok…Segini aja aku senang kok… Ya udah aku duluan ya. Itu rotinya buat kamu. Pelan-pelan makannya jangan langsung dihabisin semua”

Woaa that's it? Fiuuuhh! Eh tapi dia nggak marah, berarti belum akan pergi beneran dia. Sial.”
“Thanks.”

Perempuan muda berdiri dan pergi meninggalkan mantannya dengan perasaan lega.

Woohoo roti gratisan! Tapi tunggu deh, kalo dipikir ini sama nggak sih kayak menang judi, dapet bukan dari kejujuran. Kalau dimakan dosanya bakal jadi darah donk. Aaah cuek aja lah. Oh! Atau kasih anak kantor aja, mereka pasti suka :)

Sambil keluar toko, pria melihat-lihat tweetnya, ada teman kantor yang meminta dibawakan cemilan.