Friday, March 05, 2010

What Lies Beneath

Di suatu pagi, seorang perempuan muda tiba-tiba mengajak mantannya untuk bertemu di sebuah mall.

Di perjalanan, pria kembali memikirkan kenapa ia mau menerima undangan si mantan.
Aneh juga tiba-tiba dia minta ketemuan, tanpa ngasih alasan. Untung dijanjiin gratisan sarapan. Hehehe ternyata saya murahan…

Mereka bertemu di toko kecil yang menjual roti kesukaan pria. Duduk berhadapan, pria mengakhiri keheningan dengan membuka percakapan.
“Ada apa?”
Kok dia nggak nawarin pesen makanan ya? Hehe”

“Kamu nggak merasa kita pernah nyata ya?”

Yaelah, apaan sih?
“Maksudnya?”

“Kamu nggak pernah nulis tentang aku di blog kamu”

Heh? Serius nih ngajak ketemuan cuma gara-gara itu? Kangen kek, atau tiba-tiba minta pertanggungjawaban gitu biar seru, taunya ginian doank. Culun. Eh tapi tunggu, lucu juga kalau emang iya, baru pertama kali ada yang protes kayak gini. Atau mungkin baru pancingan awal dia aja. Tes dulu ah.
“Aku kan nulis kamunya di hati, ya di blog nggak bakalan ada”

PLAAKKK!!!
Perempuan muda tiba-tiba menampar pria cukup keras.

...bunyi krik krik jangkrik, tik tok jam, burung chirping sama sekali tidak terdengar. Hanya hening…

Yeah, ok, I forgot she knows me that well. But at least now I make her angry. That’s good. It’s easier to get her away that way.

Pelayan datang membawa dua bungkusan yang dijadikan satu.

Oh, ternyata dia udah pesan duluan. Asik. Tapi apa dia mau ngasih lagi ngambek gitu. Hmm…gimana mintanya ya…

“Nggak cuma kamu kok yang nggak ditulis di blog…”
Start with a truth…

“Berarti ada yang lain waktu kita --?”

“Kan memang seharusnya ‘kita’ nggak pernah ada.”
Damn, I just lied.

“Tapi buatku kita pernah nyata”

You’re expecting me to admit the same thing? Come on, that’s lame. Duh, tapi bau rotinya menggoda sekali nih. Laperrr…But a lie helps, so...
“Kalau aku bilang ada yang lain waktu ‘kita’ sama-sama, akan membantu?”

“Kejujuran selalu memunculkan hal baik.”

Need to say this as honestly as I could…
“Waktu itu... memang ada yang lain.”

Perempuan terlihat kaget. Namun perlahan ia tersenyum.

“Akhirnya kamu jujur juga. Siapa?”

Shit. I’m dead! One lie always leads to another, I should’ve known that.
“Nggak perlu. Percaya sama aku, kamu nggak pengen tahu.”

“Hmm…ok…Segini aja aku senang kok… Ya udah aku duluan ya. Itu rotinya buat kamu. Pelan-pelan makannya jangan langsung dihabisin semua”

Woaa that's it? Fiuuuhh! Eh tapi dia nggak marah, berarti belum akan pergi beneran dia. Sial.”
“Thanks.”

Perempuan muda berdiri dan pergi meninggalkan mantannya dengan perasaan lega.

Woohoo roti gratisan! Tapi tunggu deh, kalo dipikir ini sama nggak sih kayak menang judi, dapet bukan dari kejujuran. Kalau dimakan dosanya bakal jadi darah donk. Aaah cuek aja lah. Oh! Atau kasih anak kantor aja, mereka pasti suka :)

Sambil keluar toko, pria melihat-lihat tweetnya, ada teman kantor yang meminta dibawakan cemilan.


No comments: