Biru muda, hijau muda dan hitam. Itu yang kita lihat bersama dulu. Kamu masih ingat? Tadi pagi kubaca di surat kabar kalau ketiganya menjadi hijau muda. Dan tetap tak ada yang tahu kenapa.
Tentang kamu, semua masih terlihat nyata meski aku tidak ingin menjadi pengingat yang hebat. Karena rasa itu masih memelukku. Bukan sisa, tapi utuh adanya.
Kita putuskan menutup hari Minggu indah itu dengan sebuah ciuman. Pintu sudah terkunci, lampu telah dimatikan. Sejuta satu jurus kupersiapkan untuk segala keindahan setelah bibir kita bersentuhan.
Mmmmwwh….
Zap! Dalam sekejap semua jurus menghilang. Kelembutan, ketenangan hembusan serta keeratan dekapanmu menarikku begitu dalam. Jauh meninggalkan kesadaran dan kemampuan untuk tetap waras. Aku lenyap. Kau hilangkan akuku.
“Kamu…,” ucapmu begitu indah.
“Tidak, kamu…,” ucapku tanpa tahu artinya.
Hanya dengan sebuah ciuman, jutaan gombal, ribuan sentuhan dan ratusan adegan bercinta yang pernah terjadi sebelum kamu punah tanpa makna. Kalau mereka itu piala, pecah semua seketika. Yang tersisa hanyalah kedungu-an tidak tahu harus melakukan apa. Memelukmu terlalu erat adalah dayaku. Jurus murahan yang tak pernah kugunakan. Kau pun menjadi sangat heran,
“Kamu kenapa?”
Aku tak langsung menjawab. Meski dalam hati berteriak, “jatuh cintaaa!” Berteriak dalam hati membantu melepaskan kegilaan dan mengembalikan kewarasan, aku pun menemukan jawaban,
“Kamu mandi sana, bau prengus.”
Tiba-tiba dibalikannya badanku, dan dibisikannya pelan ke kupingku sebelum ia menjilat dan melahapnya,
“Aku bikin kita berdua bau prengus.”
Terimakasih sudah menarikku dan rasa cinta hingga kembali bersentuhan.
No comments:
Post a Comment