Ada suatu masa di mana gw bener-bener ga percaya sama satu orang pun. Dan itu berlangsung cukup lama. Karena pasti apa yg gw sampein itu diterima salah sama orang itu dan efek snowball membuat kesalahpahamannya semakin parah. Gw pun menjadi orang yang dibenci banyak orang karena kesalahan yang nggak pernah gw buat.
Sekarang2 ini gw mulai masuk ke masa itu lagi. Penyebabnya sederhana, tiba2 ada orang lain yg tahu info yg gw share cuma ke dua orang yg (saat ini) paling gw percaya dan orang yg (seharusnya nggak) tahu itu nggak mau membagi dia tahu dari mana.
Gara-gara itu gw mempertanyakan loyalitas para sahabat. Sesuatu yang bener-bener gw anggap tabu. Kayak ngelakuin dosa besar rasanya, tapi mungkin karena memang iya. Untung belum mempertanyakan ke dua2nya, secara yg satu lagi nikah. Goblog bgt kalau sampai itu terjadi.
Mungkin bukan hal yg penting buat orang yg tau itu (krn emg seharusnya dia nggak tahu), tapi kenyataan kalau info itu bisa keluar dari “jalur komunikasi aman” gw adalah sesuatu yang berdampak sangat besar.
Pertama, yang pasti gw jadi ga percaya sama orang yang tahu itu. Gw ngerti sih, kalau dia ngasih tau ke gw dia tahu dari siapa info itu, berarti dia mengkhianati orang yg ngasih tau info itu. Tapi dengan tidak memberitahu, buat gw itu berarti dia membela pengkhianat. Kita liat sejauh apa dia bisa dipercaya.
Kedua, gw jadi curiga sama semua teman yang ada, temen kantor, Fikom, Metro, semuanya, bahkan saudara yang sudah jadi temen juga.
Dalam menjalin hubungan baik pertemanan, persahabatan atau persaudaraan, sebisa mungkin gw terbuka dan sejujur mungkin. Karena memang nggak banyak juga yang gw anggap sebagai teman atau sahabat, saudara aja ga sampai lima yang gw percaya.
Gw tahu betapa capeknya hidup sendiri tanpa bisa membagi kesedihan apalagi kebahagiaan, rasanya sepi bgt. Dan gw udh cukup lama hidup di lubang tanpa orang lain itu. Gw benci lubang itu, tapi untuk sebuah kepercayaan, i have to get back into that hole.
Ya, itulah self defence mechanism gw. Tidak peduli sama orang lain. Hell is other people, sartre once said.
Jadi sampai akhirnya gw tahu itu siapa atau mungkin sampai tahu alasan sebenarnya, i‘ll always in a bitchy mode.
Syuh!
Saturday, August 26, 2006
Friday, August 25, 2006
Late Hour Stupidity
I’m awake to be exact.
(Yeah, I woke u up. That’s why
Why in the world I woke her up, anyway?
Why did I have to call her in the first place?
Why not some other padangneese?)
I’m awake and start to think
Nooooo….
(Don’t think.
Ur not gonna stop doing that
Now I got problem to forgive myself)
I mean, i'm sorry.
No worries.
Oh no..no..no..no…
(It’s easier if u mad or angry
This kinda thing stucks in my head
While I got lines and lines to be made)
Just go back to sleep
Please
Will do
Ok.
Do it now
Just close ur eyes and count those sheeps
In a while
Nooo
Now
U need to sleep now
(I need you to go back to sleep now)
…..
(Oh I hate this
Can’t take the guilt anymore
I better go home
Who knows I’ll be able to sleep
And forget all this)
(Damn it!)
(Yeah, I woke u up. That’s why
Why in the world I woke her up, anyway?
Why did I have to call her in the first place?
Why not some other padangneese?)
I’m awake and start to think
Nooooo….
(Don’t think.
Ur not gonna stop doing that
Now I got problem to forgive myself)
I mean, i'm sorry.
No worries.
Oh no..no..no..no…
(It’s easier if u mad or angry
This kinda thing stucks in my head
While I got lines and lines to be made)
Just go back to sleep
Please
Will do
Ok.
Do it now
Just close ur eyes and count those sheeps
In a while
Nooo
Now
U need to sleep now
(I need you to go back to sleep now)
…..
(Oh I hate this
Can’t take the guilt anymore
I better go home
Who knows I’ll be able to sleep
And forget all this)
(Damn it!)
Tuesday, August 22, 2006
the battle within
I hate my family, they judge
I hate my friends, they’re narcissist
I hate my workmates, they never really understand
I hate my boss, he just get things talked not get things done
I hate my girl friend, she’s too sensitive
I hate my ex, she haunts me all the time
I hate God, He knows everything about me
I hate myself hating them all.
I hate my friends, they’re narcissist
I hate my workmates, they never really understand
I hate my boss, he just get things talked not get things done
I hate my girl friend, she’s too sensitive
I hate my ex, she haunts me all the time
I hate God, He knows everything about me
I hate myself hating them all.
Sunday, August 20, 2006
Dari mata turun ke hati

Di bawah jembatan ratu plaza setelah beli tiket Trans Bintaro, saya baru sadar kalau harusnya beli tiketnya pake lima puluhan saja, bukannya sepuluh ribuan. Mengapa? Karena saat itu saya lagi haus sekali dan tukang minuman belum tentu punya kembalian. Ya masa’ beli minumannya di OhLaLa atau Carefour…
Coba dulu lah ke tukang minuman, kenapa juga harus lompat ke kesimpulan padahal masalahnya juga belum nyata.
Sesampainya di tukang minuman, sepertinya yang haus bukan cuma saya. Di samping penjaja minum, seorang mbo-mbo sedang menenggak aqua dengan kencangnya. Saya merasa geli sendiri melihatnya. Senyum saya mengembang, tapi cuma sebentar. Karena setelah saya melihat bakul jamu besar yang ada di sebelahnya si Mbo, saya jadi malu hati sendiri. Karena memang sepertinya ia memang sedang haus sekali.
Dari mata turun ke hati, begitu katanya. Cuman yang jadi masalah adalah saya ngga punya uang kecil itu tadi. Saya jadi ragu untuk dapat membantu si Mbo.
Tapi kalau hati sudah berbicara, apa juga dilakukan. Makanya langsung saja saya coba tukar uang ke tukang tahu pong. Si bapak penjaja tahu pong lagi melayani pembeli. Kebetulan ia sedang menyiapkan kembalian. Ia menghitung agak keras, sayangnya perhitungannya tidak pas. “Satu, dua, tiga, dua, empat, lima setengah, enam setengah…Nah ini kembaliannya” Bapak tahu pong memberikan kurang lebih 11 ribu rupiah (karena saya lihat ada satu 5 ribuan dan sisanya ribuan) ke pembeli yang awalnya memberikan Rp 10 rb buat sepuluh tahu pong dan sepotong lontong. Saya melongo melihatnya, lebih lagi si pembeli. Aduh, Pak…..Tapi sepertinya si pembeli orang baik, sebelum saya menawarkan bantuan, Ia langsung membantu si bapak menghitung kembalian dengan benar.
Melihat sepertinya akan lama, saya beralih ke tukang siomay, karena saya harus bisa melaksanakan niat awal saya sendiri yang sedang tertunda ini. Namun, dengan sombongnya tukang siomay menolak untuk menukarkan uangnya. Padahal saya sempat melihat laci uangnya penuh dengan puluhan ribu. Tukang siomay sialan. Dia lupa apa kalau ikhlas membantu orang itu niscaya akan lebih mudah mendapat berkah dibandingkan berdagang dengan itung-itungan yang berlebihan? Terserah lah, tanggung sendiri saja pokoknya.
Hmm…Tidak lagi ada penjaja yang bisa ditukarkan uangnya. Setidaknya itu yang saya pikir saat itu. Saya lupa bahwa sebenarnya masih ada tukang minuman yang belum saya minta bantuannya. Memang agak dilematis karena si mbo ada tepat di sebelahnya. Tapi mau bagaimana lagi, sudah tidak ada pilihan lain.
“Mas, maaf, boleh tuker puluhan?”
“Minumnya apa, Mas”
“Nggak minum”
“Wah nggak ada, Mas”
Wah ini sih sama aja kayak tukang somay. Dasar pelit. Tapi tiba-tiba…
“Ini saya ada, Den. Campur ribuan ndak papa?”
“Eh…oh, Mbo. Iya boleh, nggak papa.”
Saat si Mbo sedang mengeluarkan uang-uangnya dari dompet kecilnya itu, saya coba laksanakan niat awal saya yang sepertinya keadaannya saat ini malah kebalikan.
“Mbo, masih ada beras kencur? Saya mau.”
“Wah jangan, Den. Itu sudah tinggal ampas, nanti malah jadi penyakit.”
“Oh…kalau gitu yang lain aja Mbo, itu yang kuning-kuning juga ga papa.”
“Sing iki? Wah Den, iki kunyit. Nggak enak kalau tidak dicampur, lagian khasiatnya nggak terlalu pas buat Aden.”
Entah apa maksud sebenarnya, yang pasti saya merasa mulai kehabisan akal. She really caught me off guard.
“Ya udah terserah Mbo aja, yang penting bisa bikin saya seger.”
“Lha ya mending beli teh botol dingin sama Mase’ iki, dijamin pasti seger.”
Hukk! Langsung kena di lubuk. Bodoh. Bodoh. Bodoh.
“Kalau itu sih rasanya udah apal Mbo. Kalau jamu si Mbo kan beda”
“Wah kita kebalikan ya, Den…hahaha…mungkin karena si mbo jarang beli minuman kayak gitu ya, habisnya mahal.”
Oh My God….I’m Sorry.
“….katanya tukang minuman nggak punya kembalian Mbo, kalau saya nggak beli.”
“Yah, mungkin memang kurang uangnya tukang minuman…Nah, ini tukerannya, Den. Coba dihitung lagi”
“Iya Mbo. Terima kasih. Permisi.”
“Maaf ya Den, jadi gak bisa ngerasain yang seger-seger”
“Nggak papa Mbo. Saya sudah segar kok”
…dan itu karena Mbo. Terima kasih banyak, Mbo. Semoga Mbo mendapat balasan yang paling sepadan dari Tuhan….
Friday, August 11, 2006
be the second but the best, not the first but the last
“Syukur tahun ini bisa pulang kampung. Sudah kekumpul duitnya”
“Oya? Rencana naik apa? Bis? Kereta?”
“Oh enggak, ngajak temen yang punya motor aja, patungan. Paling banyak habis 150, kalau dibagi dua kan jadi ga berat diongkos. Soalnya keperluan mudik lainnya masih banyak”
Duak! Kepala gw langsung ketiban palu hakim 1000 ton. Rp 150 dibagi dua adalah budget yg ia tabung selama setahun untuk bisa pulang kampung, itupun baru sekali jalan naik motor ke Madura. Tuh tukang sate udah gila. Hehe ya nggak lah, keadaan yang memaksa.
Gw langsung berpikir, ini pasti gara2 dia salah tempat jualan. Masak dia jualan sate di deket sate Apjay yang terkenal itu.
“kenapa dagang di sebelah mereka, Pak? Dagangan mereka kan terkenal nomor satu”
“Saya sudah coba cari tempat lain, Dik, dan istilahnya jadi nomor satu di sana, tapi penjualan gak sebaik di sini”
Ternyata dia sudah berusaha menjadi nomor satu dan memang berhasil jadi nomor satu juga, tapi bila dilihat lebih besar lagi dia sedang menjadi nomor dua, dan kalau mau ditarik lagi dia mungkin itungannya bukan apa-apa.
Jleb! Tiba-tiba sebuah pedang lancip nan panjang menusuk hati. Itu yang terjadi di agency ini. Yang katanya nomor satu dan diakui sebagai nomor, tapi tidak pernah menghasilkan karya nomor satu bagi klien nomor satunya. Dan aku tahu kenapa. Semua yang ada di sini merasa sebagai nomor satu, merasa masih menjadi yang terbaik sehingga segala petanda bahwa mereka bukan lagi nomor satu tidak terbaca. Klien utama yang kecewa dengan hasil beberapa bulan terakhir, tidak lagi percaya dengan rekomendasi yang diajukan, mempertanyakan semua langkah yang diambil agency yang notabene adalah konsultannya.
Si tukang sate kemudian mengajukan pertanyaan mendalam
“Mas, kenapa makan satenya di sini, bukan di sana?”
Jawabannya adalah, karena di sana pelayanannya ga enak. Mereka terlalu sibuk mencari perhatian untuk dirinya sendiri sehingga melupakan kepuasan pembeli. Seperti pesanan yang datangnya lama, tidak sesuai dengan yang diminta bahkan tidak datang karena mereka begitu sibuk sendiri membanggakan diri.
Tapi gw menjawabnya, “di sana bosen, mau nyoba ngerasain yang lain”
Dzig! Gw kepukul kata-kata gw sendiri. Inilah ketakutan gw dari kemarin yang terbukti, meski baru oleh kata-kata gw sendiri, tapi ini adalah bad feeling yg mulai jadi masalah nyata. Beberapa minggu terakhir gw uring2an di kantor karena setiap mau mengatakan bad feeling ini belum didukung sama bukti nyata, hanya instink yang biasanya gw bahas sama CD lama dan kemudian bersama-sama mencegahnya jadi masalah nyata. Tapi sekarang gw gak bisa melakukan itu, belum ada lagi orang yang mengerti hal itu dan tau bagaimana menyelesaikannya.
Tukang sate kemudian menjawab, “iya Mas, banyak yang kayak gitu bilangnya. Kadang saya pingin bilang itu ke tukang sate di sana itu. Tapi kalau begitu nanti saya bisa kehilangan pekerjaan, keluarga mau dikasih makan apa?”
Duenk! Plak! Bak! Buk! Brak! Jleb! Jleb! Jleb! Kali ini gw ga bisa jawab, karena memang belum ketemu jawabannya atau karena memang begitu mengena di dalam hati. Jadi mending gw cepet2 pergi aja daripada mati berdiri di sana.
“ini Pak, ambil aja kembaliannya”
“Oya? Rencana naik apa? Bis? Kereta?”
“Oh enggak, ngajak temen yang punya motor aja, patungan. Paling banyak habis 150, kalau dibagi dua kan jadi ga berat diongkos. Soalnya keperluan mudik lainnya masih banyak”
Duak! Kepala gw langsung ketiban palu hakim 1000 ton. Rp 150 dibagi dua adalah budget yg ia tabung selama setahun untuk bisa pulang kampung, itupun baru sekali jalan naik motor ke Madura. Tuh tukang sate udah gila. Hehe ya nggak lah, keadaan yang memaksa.
Gw langsung berpikir, ini pasti gara2 dia salah tempat jualan. Masak dia jualan sate di deket sate Apjay yang terkenal itu.
“kenapa dagang di sebelah mereka, Pak? Dagangan mereka kan terkenal nomor satu”
“Saya sudah coba cari tempat lain, Dik, dan istilahnya jadi nomor satu di sana, tapi penjualan gak sebaik di sini”
Ternyata dia sudah berusaha menjadi nomor satu dan memang berhasil jadi nomor satu juga, tapi bila dilihat lebih besar lagi dia sedang menjadi nomor dua, dan kalau mau ditarik lagi dia mungkin itungannya bukan apa-apa.
Jleb! Tiba-tiba sebuah pedang lancip nan panjang menusuk hati. Itu yang terjadi di agency ini. Yang katanya nomor satu dan diakui sebagai nomor, tapi tidak pernah menghasilkan karya nomor satu bagi klien nomor satunya. Dan aku tahu kenapa. Semua yang ada di sini merasa sebagai nomor satu, merasa masih menjadi yang terbaik sehingga segala petanda bahwa mereka bukan lagi nomor satu tidak terbaca. Klien utama yang kecewa dengan hasil beberapa bulan terakhir, tidak lagi percaya dengan rekomendasi yang diajukan, mempertanyakan semua langkah yang diambil agency yang notabene adalah konsultannya.
Si tukang sate kemudian mengajukan pertanyaan mendalam
“Mas, kenapa makan satenya di sini, bukan di sana?”
Jawabannya adalah, karena di sana pelayanannya ga enak. Mereka terlalu sibuk mencari perhatian untuk dirinya sendiri sehingga melupakan kepuasan pembeli. Seperti pesanan yang datangnya lama, tidak sesuai dengan yang diminta bahkan tidak datang karena mereka begitu sibuk sendiri membanggakan diri.
Tapi gw menjawabnya, “di sana bosen, mau nyoba ngerasain yang lain”
Dzig! Gw kepukul kata-kata gw sendiri. Inilah ketakutan gw dari kemarin yang terbukti, meski baru oleh kata-kata gw sendiri, tapi ini adalah bad feeling yg mulai jadi masalah nyata. Beberapa minggu terakhir gw uring2an di kantor karena setiap mau mengatakan bad feeling ini belum didukung sama bukti nyata, hanya instink yang biasanya gw bahas sama CD lama dan kemudian bersama-sama mencegahnya jadi masalah nyata. Tapi sekarang gw gak bisa melakukan itu, belum ada lagi orang yang mengerti hal itu dan tau bagaimana menyelesaikannya.
Tukang sate kemudian menjawab, “iya Mas, banyak yang kayak gitu bilangnya. Kadang saya pingin bilang itu ke tukang sate di sana itu. Tapi kalau begitu nanti saya bisa kehilangan pekerjaan, keluarga mau dikasih makan apa?”
Duenk! Plak! Bak! Buk! Brak! Jleb! Jleb! Jleb! Kali ini gw ga bisa jawab, karena memang belum ketemu jawabannya atau karena memang begitu mengena di dalam hati. Jadi mending gw cepet2 pergi aja daripada mati berdiri di sana.
“ini Pak, ambil aja kembaliannya”
Monday, August 07, 2006
my resignation
August 7th, 2006
To:
All of my cousins
Dear Guys/Girls,
I want to thank you for all you have done for me. It's been a pleasure shared with you and tries to solve your problems.
As you can see, its all your problems, not mind. Therefore I have decided to tender my resignation. I want to solve my problems first. My last date of availability will be today. This decision has nothing to do with the exceptional opportunity you all have provided me. You and your family have been quite fair with me, and in a way, I genuinely appreciate it.
I wish all of you can be better persons and become success, and I want to thank you for allowing me to be a part of the family. Please feel free to contact me for further smooth transition assistance.
Love and regards,
Burat Pangeran
To:
All of my cousins
Dear Guys/Girls,
I want to thank you for all you have done for me. It's been a pleasure shared with you and tries to solve your problems.
As you can see, its all your problems, not mind. Therefore I have decided to tender my resignation. I want to solve my problems first. My last date of availability will be today. This decision has nothing to do with the exceptional opportunity you all have provided me. You and your family have been quite fair with me, and in a way, I genuinely appreciate it.
I wish all of you can be better persons and become success, and I want to thank you for allowing me to be a part of the family. Please feel free to contact me for further smooth transition assistance.
Love and regards,
Burat Pangeran
Subscribe to:
Posts (Atom)