Thursday, September 28, 2006

Kebenaran bukanlah kenyataan

Waktu Batman (Christian Bale) bilang ke Rachel Dawes, “It’s not who you are underneath, it’s what you do that defines you”, gw tau itu bener, and I love Batman in many ways.

But somehow I disagree with his statement. For me, “It’s who you are underneath that defines you, not what you do.”

Here's why:
- “Loe mau ngapain lagi datang ke sini? Why haven’t you give up on me? Pokoknya apapun yang loe mau omongin jawabannya nggak!!!”
Hmm…Okay, Gw mau bilang kalau kita udah tiga tahun lebih putus silaturahmi, sedangkan aturan di Islam cuma 3 hari, selebihnya diangap dosa besar. Gw ke sini mau nyoba jalin itu lagi, but if you say so…selamat menjalankan bulan Ramadhan penuh dengan dendam…
- “Wah copy2 loe terlalu langsung ya, nggak ada twist.”
Yet that’s not the way I usually speak or write, I did it so we can get fast approval through the client since the AE’s can’t sell a thing. And…didn’t you hear yourself these days? “Udah ikutin aja maunya mereka, yang penting cepet selesai”. Oh I really want to stamp your forehead with a really big capital words, I TOLD YOU!
- “Segitunya banget kerja, kalau cuma buat duit segitu aja kerja sama gw deh, gw bayar lebih.”
Thanks, but no thanks. I know where you got your money…I know what I gotfrom this job is not worth it, but at least it’s a clean money…
- “Ambil cuti kok pas lagi banyak kerjaan, karena urusan keluarga lagi, egois banget.”
Yang ngomong nggak tahu kalau orang rumah udah bilang kayak gini, “Emang sih keluarga sudah nggak mampu ngidupin, tapi sampai kapan pekerjaan selalu di atas keluarga, memang tempat kerja itu rumah kamu?”

Huff…I guess to be good is to be misunderstood.

Wednesday, September 27, 2006

Hai lihat kami baikan lagi! Hehe...;p


Sunday, September 17, 2006

Kebahagiaan yang tak terlihat mata

Beberapa teman membagi masalahnya. Masalah yang sama, masalah saya juga. Menyenangkan. Mengetahui kalau mereka masih percaya, setidaknya membuat saya melupakan masalah sama yang melanda saya juga.

Pada dasarnya mereka bertanya bagaimana kami dapat menang dalam perang ini, perang melawan kebodohan orang lain yang membuat hidup kami lebih berat. Sebuah kehidupan yang harus dijalani dengan terus menerus kehilangan begitu banyak teman, keluarga, waktu, kesempatan, dan yang paling menyakitkan, harapan.

Namun kemudian ada salah satu dari kami (hampir dapat dipastikan) berhasil keluar dari kungkungan masalah yang kami semua alami. Ia tidak pergi atau melarikan diri. Ia berhasil meraih harapannya.

Saya ikut bangga, lebih-lebih bahagia. Karena dengan begitu berkurang satu yang harus dijaga, sehingga kedepannya saya bisa lebih fokus berperang ke hal yang lebih besar daripada melawan kebodohan orang lain ini, yaitu perang melawan kebodohan diri sendiri. Seperti yang terjadi sampai saat ini.

Nggak ada brief, deadline mepet. Berarti kerjakan secepatnya tanpa kesalahan, lalu gunakan waktu lebihnya untuk crafting masterpiece yang lain atau membangun kehidupan. Ibarat air mulai pasang dan kita harus membuat sebuah kastil di atas pasir, semakin lama menghabiskan waktu semakin sia-sia nantinya. Kalau kita Tuhan sih tidak apa-apa. Yang kapan saja tinggal mengalihkan air pasangnya atau mengubah pasirnya menjadi adamantium sehingga meski air pasang kastil tetap bergeming.

Setelah tahunan setia bekerja mengubah sampah menjadi karya hingga mengorbankan keluarga, lalu tiba-tiba dianggap pengkhianat karena sedang jatuh cinta? Atau meski naik pangkat namun masih menerima lebih kecil dari yang belum? Saran saya, mulai saja bangun kerajaan bisnis sendiri. Walau dari nol, yang penting tiap proyek bisa gol. ‘Cos as far as i know, loyalty for a company is a lie. Hanya sebuah harapan semu yang diciptakan pemilik usaha untuk mengurangi pengeluaran seperti pemerintah menghargai guru di Indonesia dengan slogan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”, tanpa menghitung dengan benar kebutuhan atau sama sekali peduli dengan kesejahteraan mereka. Mau kerja kayak apa ya dapatnya segitu juga.

Mau ikut perang sampai kapan? Sudah, mulailah jadi raja, jangan mau hanya jadi budak yang dipuja.

ps:beberapa contoh yang ada hanya drama belaka, tapi kalau sudah terlanjur percaya itu nyata ya saya mau berkata apa, huahahahaha…

Wednesday, September 06, 2006

vuck

V vor vague vapid vanity view ov very vicious vigilant vindication

Saturday, September 02, 2006

"kok pacarnya tiba-tiba unjuk gigi gitu ya, Bos? :p"
"Masudnya?"
"Tiba-tiba muncul di mana-mana aja gitu. Ya mungkin ada hubungannya sama elo."
"Mungkin."
"Pasti kali maksud loe? Haha...Secara loe berhari-hari ama ceweknya bedua doank ngine--"
"Woi, iye tau. Tapi masih SMS-an tuh, jadi ya harusnya nggak papa. Yang dulu aja satu kota gw ga disentuh tuh ama cowoknya, hehehehe..."
"Masih SMSan? Biar kesannya nggak langsung ngebuang ya? Canggih. You're becoming a Jedi Master."
"Sialan, yah setidaknya gw ga kayak elo, lord sidius."
"Ah kayak gituan nggak ada yang putih, Bos. Item semua, opacitynya aja yg beda. Akhirnya ilmu gw terwariskan. hwakakakak"
"Gw belajar sendiri neh, ilmu loe tuh sesat, gw ga mau."
"Kenapa? Karena akhirnya gelar gw MBA? Justru itu."
"Lah kok malah justru itu? Loe mau ngajakin gw ke dark side?"
"Bukan gitu. Gw malah mau ngajarin biar loe ga kayak gw."
"Ow, kirain...hmm...eh, Man..."
"Ape?"
"Sorry ya gw ga dateng ke nikahan loe."
"It's okay. Tapi loe tau kan loe harusnya dateng?"
"Yeah, i know. I NEED to be there."
"Yup, there u go."
"But we're good now, right Matey?"
"Sure, but only if you accept my 'playacology'."
"Hahahaha...okay. That would be fun."