Thursday, November 10, 2005

Voyeur in love

Itu dia. Ternyata ia shift pagi. Sepertinya akan menjadi Minggu pagi yang sempurna. Meskipun perut belum dihangati wafel coklat, badan sudah hangat bersemangat.

Kesempatan ini sudah kutunggu. Sabtu Minggu tidak lagi tidur seharian. Bila di shift pagi yang berakhir jam 2 itu ia tidak ada, aku melahap wafel coklat di warteg Amerika lalu pergi berenang di sport center belakang square ini. Siang hingga sore hari bila ia belum ada juga, aku makan di lantai 2 seharga segelas kopi di lantai 1 dan pergi bermain hingga zona waktu shift 3. Bila malam ia tidak juga ada, aku hubungi teman-teman untuk ketemuan atau menulis sambil internetan di cafe wi-fi bersofa.

Sayang tidak ada tempat bebas memperhatikannya bekerja. Aku harus masuk ke dalam toko buku dan juga membeli sesuatu. Karena di dalam toko buku sulit mencuri pandang. Meja kasir yang begitu besar selalu menutupinya, lagipula kebanyakan melirik dan celingak-celinguk bisa disangka pengutil.

Bau baru dibuka. Toko buku ini sendiri sebenarnya sudah memiliki bau yang khas, tapi lebih khas lagi saat baru dibuka. Senyum sapa biasa kepada customer ia sunggingkan, aku membalas dengan senyum aneh-penuh-maksud- tapi sok biasa dan jaim. Ia sedang berdiri, tempat duduk kasir ditempati partner kerjanya. Yes. Ia berdiri berarti bisa memperhatikannya tanpa harus membeli sesuatu. Aku langsung menuju ke rak majalah.

Di antara pengunjung toko yang baru sedikit ini mengapa harus ada yang menempati tempat itu. Cuek juga Mba ini, sendal kamar, celana pendek dan tank top. Hihi, dia pasti belum mandi. Mukanya lucu juga tapi seperti pernah liat. Tapi untukku ada yang lebih lucu, ayo donk Mba geser sedikit kek, atau cepetan liat-liatnya keburu dia duduk nih.

Sudah 3 majalah, waktunya mengeluarkan vibe negatif agar ia merasa resah. Bolak balik aku mengambil majalah yang berbeda. Membukanya dengan kasar dan pura-pura tertawa atau mengeluarkan decak kagum membacanya. Tidak ada pengaruh. Aku intip sebentar ke arah kasir, ia masih berdiri. Syukurlah. Tapi Mba ini masih juga bergeming di tempat intip terbaikku.

Aku bergeser sedikit masuk ke jarak intim dengan Mba perebut agar bisa melihat dia si penjaga toko buku sedang bercakap dan sesekali tersenyum kepada partner kerjanya.

Mas! Nah, Si Mba pasti merasa risih. Alasan apa kira-kira. Mas! Ok, ok. Kuturunkan majalah yang sedang aku baca. Mas, boleh liat yang Mas lagi baca? Tapi Mba, kayaknya saya mau beli majalah ini. Tapi Mas...Ya udah nggak usah.

Maaf deh agak nyebelin, tapi beneran mau beli kok. Soalnya majalah cowok ini menyiapkan kado khusus untukku tahun ini melalui edisi Oktober 2005nya. Mereka menampilkan Kiera Knightley topless, well not really, tapi setidaknya keliatan ujungnya yang nggak akan bisa diliat di Bend It Like Beckham atau King Arthur, tapi entah di Domino, belum nonton. But that’s just my pervert side. Overall majalahnya bagus dan aku memang selalu membelinya.

Setelah tempat strategis, si Mba perebut kini menghalangi pandanganku ke si lucu penjaga toko buku. Si Mba bertanya ke si lucu, mungkin meminta stok lain majalah ini, sesaat ia mencari...dan sekarang si lucu datang ke arahku...

Mas, Mba itu butuh majalah ini, Mas mau beli? Iya. Tapi Mas, Mba itu lebih butuh. Lebih butuh bagaimana? Sebenarnya kami yang lebih butuh. ???? . Iya, soalnya Mba itu kan salah satu penyanyi di trio AB, yang paling kecil itu loh dan ia salah satu langganan kami. Lagipula Mas, minggu depan akan di drop lagi kok.

Jadi saya kalah karena tidak tenar? Saya juga langganan kok. Dan saya kerja di media (dulu sih). Selebriti bukan apa-apa kan tanpa media? Tapi itu semua cuma ada di dalam hati. You got me at Mas, cutie (you got me at halo maksudnya, tapi karena kata pertamanya itu jadi begitu deh hehe).

Aku memperhatikannya lekat-lekat, itung-itung mengambil kesempatan dalam kesempitan. Lalu melirik ke si Mba yang baru saja mengalihkan pandangannya. I see...mmmm...3 detik....5...Ok gini aja. Si lucu tiba-tiba ke meja kasir menulis dan mengambil sesuatu lalu kembali lagi. Mas namanya sapa? Huh? Ok, nama saya si lucu penjaga toko buku, tiap karyawan di sini ada internal diskon 20 persen, minggu depan pas majalahnya dateng lagi, Mas akan saya hubungi dan Mas cuma bayar 80 persen. Ini nomor HP saya, coba Mas miss call biar saya langsung simpan nomor dan nama Mas.

Drrtt....drrrtt....(HP vibrating).

a-R-a. Ok sudah di-save. Majalahnya saya bawa ya Mas.

Idea in disguise

Lepas tengah malam di perjalanan pulang. Belum tenang, kerjaan belum selesai, belum tahu juga kapan akan selesai. Sudah terlalu capai selalu menanti kapan akan berakhir. Dinikmati saja. Begitu klise, tapi karena itu aku bisa menyelesaikannya.

Kerjaan seperti biasa, terlalu banyak dan harus selesai dengan kualitas yang terjaga dalam waktu yang sangat terbatas. Bila yang terakhir ditambahkan, biasanya dua yang pertama dapat teratasi. Waktu. Hmm...Mungkin tidak ya alasan Tuhan menciptakan waktu adalah agar semuanya tidak terjadi secara bersamaan? Kalau memang begitu, mengapa tidak terjadi seperti itu???!!! Sistem waktu siapa yang salah? Yang pasti bukan yang diciptakan Tuhan.

Kantor Mas itu biro iklan kan ya? Sudah cukup terkenal loh di antara supir taksi. Kalau Mas inget-inget sebenarnya saya sudah pernah mengantar Mas pagi-pagi jam 7an. Tapi dari alamat sebelum pindah ke sini Mas. Mas juga sama Mba’nya tadi yang baru turun... Oh gitu? Wah saya sudah agak lupa tuh Pa’. Hmmm…, kalau begitu saya boleh tinggal tidur ya Pa’? Tolong bangunin kalau sudah sampai.

Sudah bukan badan saja yang begitu capai. Hati pun sudah malas berbasa basi. Lebih tenang sekarang...Nama event, printa adnya, radio juga. Ide besarnya belum ada karena namanya belum ada. Belum lagi utang paragraf ke Hendra dan tiga, oh tidak empat lainnya. Arrghh! Tidak bisa, aku terlalu khawatir, nalarku tidak bisa menembus apa-apa. Begitu tepuruk. Lelah...tapi tidak bisa tidur.

Taksi serasa tidak bergerak. Pohon-pohon diluar lah yang bergerak pelan, seperti slowmotion dalam klip musik lagu menye-menye. Andai aku bisa merubah waktu menjadi lambat sehingga aku bisa bergerak dan berpikir lebih cepat dari siapapun di dunia ini. Terserah mereka bergerak slowmotion atau stop motion toh keduanya sama-sa..ma..mo-ti-on...Wait a minute...this can be a good event name! Dengan nama itu, berarti campaignnya akan ke arah sana, jadinya print adnya bakal begini dan radionya jadi begitu!

Nggak jadi tidur Mas?

It ain’t over though it’s over

Sent. Paragraf terakhir terkirim. Satu lagi duet cerita pendek selesai. Hendra yang memulai, pesan yang selama ini ia pendam pun menjadi sebuah karya, nyata namun masih menjadi rahasia. Menyenangkan. Melegakan. Salah satu dasar banyak orang membuat jurnal dengan file ber-password atau buku dengan gembok kecil. Katarsis tanpa perlu khawatir akan bisa membesar menjadi sebuah masalah karena kesalahpahaman.

Kucopot earphone. Orang-orang kantor sedang bekerja di cubicle dengan sekat bayangan masing-masing, beberapa membuat sekat itu sama seperti aku, dengan earphone. Menandakan mereka sedang menikmati kerjaannya. Workstation tanpa privasi, salah satu hal yang paling kubenci di kantor ini.

Hendra membalas. Cerita masih ia sambung lagi. Namun seperti dipaksakan. Kasihan yang membaca kataku. Biarkan saja cerita itu tamat. Paragraf mu kita jadikan paragraf pertama cerita yang baru. Ia setuju. Namun jelas aku belum puas. Hasil yang biasa, mungkin karena pertama. Drama yang dibuat-buat. Karya seperti ini hanya bisa menjadi laris dan berarti ketika penulisnya sudah sangat terkenal. Ketika apa saja yang dikeluarkannya dianggap emas.

Cerita baru tidak jadi dimulai, Hendra memintaku membuat yang baru, buatanku. Sudah pakai saja punyamu, sepertinya bisa digunakan, lagipula pesannya sudah berbeda. Tidak, katanya. Kau boleh ambil temanya. Tapi kau yang masukan pesannya. Toh sekarang memang giliranmu. Aku terpojok. Ok. Beri aku waktu.

Seru. Ketika karya sudah ditunggu untuk dinikmati bukan untuk direvisi. Semangat dari dalam sudah terasa sampai di kepala. Tak ada stimulus yang lebih baik dari passion yang jujur. Kupakai kembali earphone. Bahagia karena cinta, itu temanya. Tinggal kucari saja di jurnal, pasti banyak. Seperti yang satu ini.

Suatu sore di kafe bale-bale. Gerimis lantunkan bunyi terindah yang disuarakan katak-katak tanpa nada penuh makna. Cantiknya si cantik tiba-tiba saja aku berkata. Bibirnya tersenyum...ah...kurasakan dengan bibirku. Begitu manis dan lembut. Tidak berhenti, kami terus berpagut, saling menyambut hingga ranumnya kurenggut.

Ugh. Indah namun tidak nyata, tidak lagi bisa merasakannya. Keindahan yang telah berlalu adalah sumber kesedihan. Kucari yang lain saja.

...semakin sakit. Detail-detail tulisanku, jurnal waktu itu membawa kembali jelas mukanya, wangi harumnya indah tubuhnya. Bodoh. Lemas. Kusandarkan diriku. ...not been enough...not been enough....bisik Kings of Convenience mencoba mengungkap apa yang ada dibalik ketiadaannya.

Maaf Hendra. Aku belum bisa menulis paragraf pertama.