Mas Shafiq is leaving. All because of...let's just say the management is having their way. I'm quite upset. Cos he's beginning to know who am i really is, not many people can do that.
This is something i wrote to him the first time i heard the rumor:
Begin again
first time in mind beside why is WHO BENEFITS?
Surely everyone will feel lost, even for me,
though lost Is A PAIN THAT I’M USED TO
hopefully you and those guys STILL FIGHTING IT
cos from what I know, we all here,
even I WILL FOLLOW YOU INTO THE DARK
or just went FREE FALLING into the WORLD FULL OF NOTHING
maybe THE WEIGHT OF MY WORDS won’t make any different
but I’m sure THOUGH IT’S NOT LOVE IT MEANS SOMETHING
The capital words are the words represent something that we shared. Words from comics, song title and some of song lyrics.
And this is something i wrote after i got confirmation that he's really gonna quit
Kamar panjang dan kosong
Pemilik kamar panjang diganti
Entah siapa penghuni barunya
Entah dengan apa akan memenuhinya
Mungkin malah akan menutupnya
Kamar panjang yang selalu terbuka kini kosong
Ditinggal penghuninya yang ikut semua
Hellboy, Trinity, Thor, Lara Croft dan para Alien
Perginya mereka membuat kamar panjang itu terlihat sempit
Kamar panjang, akankah kembali panjang?
Siapapun yang akan mengisi
Kamar panjang itu pernah besar dengan seluruh penghuninya
Hope we can meet again at some point ahead or "The Point" that we talked about.
Farewell, and good luck.
Wednesday, June 28, 2006
Monday, June 19, 2006
Love is Durian is Love is Durian
Cinta itu kayak buah duren. Susah sekali membukanya. Bila tidak tahu caranya bisa terluka hingga berdarah-berdarah. Namun apabila berhasil membuka kulitnya, akan terasa daging dalamnya yang begitu lembut dan manis. Sayangnya ketika menemukan yang matang, tanpa sadar kita pasti terus meminta lagi, lagi dan lagi. Terus menerus meminta hingga mabuk kepayang. Sehingga rasa manis yang seharusnya selalu dapat dinikmati bersama menjadi terlalu cepat dihabisi. Saat tersadar, dagingnya yang enak pun sudah habis tercerna berubah menjadi tai, menyisakan biji yang keras dan kulit yang sangat tajam.
Thursday, June 15, 2006
Picture of My Life
I never had a dream that I could follow through
Only tears left to stain, dry my eyes once again
I don’t know who I am, or what I’m gonna do
Been so long I’ve been hopelessly confused
This can never really end, it’s infinitely sad
Can someone tell me when
Something good became so bad
So if you have a cure
To me would you please send
A picture of my life
With a letter telling how
It should really be instead
The precipice is there
But will I ever dare
Throw myself in the sky, so at last I can die
See I’ve become a man
Who holds nothing too dear
Who will mind if I just disappear
This can never really end, it’s infinitely sad
Can someone tell me when
Something good became so bad
So if you have a cure
To me would you please send
A picture of my life
With a letter telling how
It should really be instead
Oh, tell me how it really should be
Picture of My Life - Jamiroquai
Only tears left to stain, dry my eyes once again
I don’t know who I am, or what I’m gonna do
Been so long I’ve been hopelessly confused
This can never really end, it’s infinitely sad
Can someone tell me when
Something good became so bad
So if you have a cure
To me would you please send
A picture of my life
With a letter telling how
It should really be instead
The precipice is there
But will I ever dare
Throw myself in the sky, so at last I can die
See I’ve become a man
Who holds nothing too dear
Who will mind if I just disappear
This can never really end, it’s infinitely sad
Can someone tell me when
Something good became so bad
So if you have a cure
To me would you please send
A picture of my life
With a letter telling how
It should really be instead
Oh, tell me how it really should be
Picture of My Life - Jamiroquai
Tuesday, June 13, 2006
Semu
Khayalku terbuai tinggi
Terpana bahagia
Melihatmu mendekat tanpa sebab
Bidadari bungsu yang kutunggu
Tak perlu tahu
Tak perlu diberitahu
Kau tahu aku menunggu
Kutahu kau datang bukan untukku
Hati berbicara tanpa suatu kata
Mengerti, memahami tanpa bertanya
Tanpa pergi lagi kau tetap tak kembali
Tanpa kubenci kau tetaplah bidadari
Terpana bahagia
Melihatmu mendekat tanpa sebab
Bidadari bungsu yang kutunggu
Tak perlu tahu
Tak perlu diberitahu
Kau tahu aku menunggu
Kutahu kau datang bukan untukku
Hati berbicara tanpa suatu kata
Mengerti, memahami tanpa bertanya
Tanpa pergi lagi kau tetap tak kembali
Tanpa kubenci kau tetaplah bidadari
Wednesday, June 07, 2006
My First Motorcycle Diary
Starts at 06.06.06 08.15 WIB
Yihaaa! Pertama kalinya naik hasil keringet sendiri. Itulah yang bikin hari ini berani berangkat kantor naik motor untuk pertama kalinya. I was believed nothing’s gonna happen on my way to office, cos I bought the bike with clear money (terjemahan bebas buat uang bersih bebas korupsi). Belum lunas sih, tapi rasanya yakin aja gitu.
Baru jalan beberapa meter, rasanya udah mau loncat tinggi sambil teriak girang. Seneng banget. Ngalahin senengnya waktu bisa nyetir mobil pas SMP. Terasa lebih bebas, nggak ada beban (kayak kartuHALO ya ;p). Jadi lupa kalau sebenernya belum lancar nyetir motor dan belum punya SIM C! Hehe…jangan bilang2 pak pulisi yak…Yah maklum aja, pertama kali duduk di kursi supir motor ya baru dua minggu yang lalu itu pas si Nouvo dateng.
Sebelum berangkat udah membekali diri mau lewat jalur mana. Biar bisa siap di tempat2 yang kira2 belum dikuasai dan cukup susah buat dilewati. Rintangan pertama adalah pertigaan Bintaro-Veteran alias Organon (nulisnya gimana sih?), itu kalau pagi susah ke kanan karena suka dikasih pembatas, tapi tadi nggak, pas nyampe di ujung lampunya hijau, langsung deh belok ke kanan. Rintangan kedua tanjakan Deplu. Ngeri banget ngebayangin kalo tiba-tiba harus berhenti di tengah2, itu tanjakan kan tajem bener. Eh tadi lancar, gak ada macet2nya sedikit pun. Gas teruuuss dan syuutt sampe deh di atas. Dan Alhamdullillah lancar terus sampai kantor tanpa ada kejadian yang tidak diinginkan di rintangan2 selanjutnya.
Tantangan berikutnya adalah pulang malam naik motor, suka ada razia soalnya. Yang harus dipastikan ada itu STNK, laporan kehilangan SIM, sama 20 ribuan, hehe. Setelah yakin semuanya ada, tancap! Keluar kantor jam 22.15. Enak jalanan sepi, sayang kena lampu merah mulu. Dan untungnya nggak ada razia, selamatlah sampai di rumah.
Hari kedua. Ujaaaannn. Baru juga lewat McD, byuurr kayak diguyur. Melipirlah ke pom bensin. Banyak yang neduh juga. Gak disangka ada yang lucu. Aneh, tumben banget. Ya udah liatin aja terus biar dia ama cowoknya juga, tapi sepertinya kurang pinter dan karakternya ga kuat, bosen deh ngeliatinnya. Ternyata derasnya nggak lama, cuma 10 menitan, jadi bisa jalan lagi. Langit berubah agak cerah. Tapi pas di PIM tiba-tiba gelap dan di Jalan Radio Dalam mulai gerimis. Tanggung, udah ampir nyampe, gaspol!
Makin deket ke kantor ternyata makin reda, sampai di kantor berhenti ujannya, dasar. Pas mau parkir Mas Sapik tiba-tiba nongol kayak Giant Ongol-ongol (apa pula ini?), “Rat, anterin ke Kayu Umbi”. Halah, pertama kali boncengin orang kok Bos, mati dah. Cuek. Tapi kok berat bener yak, hehe...tau sendiri kan dia segede apaan. Kebut terus biar cepet sampe, lumayan bisa bikin Bos teriak2 dikit tapi selamat kok sampai tujuan. Langsung tinggal aja, katanya. Ya udah, balik deh ke kantor, parkir.
The road of life twists and turns and no two directions are ever the same. Yet our lessons come from the journey.
Yihaaa! Pertama kalinya naik hasil keringet sendiri. Itulah yang bikin hari ini berani berangkat kantor naik motor untuk pertama kalinya. I was believed nothing’s gonna happen on my way to office, cos I bought the bike with clear money (terjemahan bebas buat uang bersih bebas korupsi). Belum lunas sih, tapi rasanya yakin aja gitu.
Baru jalan beberapa meter, rasanya udah mau loncat tinggi sambil teriak girang. Seneng banget. Ngalahin senengnya waktu bisa nyetir mobil pas SMP. Terasa lebih bebas, nggak ada beban (kayak kartuHALO ya ;p). Jadi lupa kalau sebenernya belum lancar nyetir motor dan belum punya SIM C! Hehe…jangan bilang2 pak pulisi yak…Yah maklum aja, pertama kali duduk di kursi supir motor ya baru dua minggu yang lalu itu pas si Nouvo dateng.
Sebelum berangkat udah membekali diri mau lewat jalur mana. Biar bisa siap di tempat2 yang kira2 belum dikuasai dan cukup susah buat dilewati. Rintangan pertama adalah pertigaan Bintaro-Veteran alias Organon (nulisnya gimana sih?), itu kalau pagi susah ke kanan karena suka dikasih pembatas, tapi tadi nggak, pas nyampe di ujung lampunya hijau, langsung deh belok ke kanan. Rintangan kedua tanjakan Deplu. Ngeri banget ngebayangin kalo tiba-tiba harus berhenti di tengah2, itu tanjakan kan tajem bener. Eh tadi lancar, gak ada macet2nya sedikit pun. Gas teruuuss dan syuutt sampe deh di atas. Dan Alhamdullillah lancar terus sampai kantor tanpa ada kejadian yang tidak diinginkan di rintangan2 selanjutnya.
Tantangan berikutnya adalah pulang malam naik motor, suka ada razia soalnya. Yang harus dipastikan ada itu STNK, laporan kehilangan SIM, sama 20 ribuan, hehe. Setelah yakin semuanya ada, tancap! Keluar kantor jam 22.15. Enak jalanan sepi, sayang kena lampu merah mulu. Dan untungnya nggak ada razia, selamatlah sampai di rumah.
Hari kedua. Ujaaaannn. Baru juga lewat McD, byuurr kayak diguyur. Melipirlah ke pom bensin. Banyak yang neduh juga. Gak disangka ada yang lucu. Aneh, tumben banget. Ya udah liatin aja terus biar dia ama cowoknya juga, tapi sepertinya kurang pinter dan karakternya ga kuat, bosen deh ngeliatinnya. Ternyata derasnya nggak lama, cuma 10 menitan, jadi bisa jalan lagi. Langit berubah agak cerah. Tapi pas di PIM tiba-tiba gelap dan di Jalan Radio Dalam mulai gerimis. Tanggung, udah ampir nyampe, gaspol!
Makin deket ke kantor ternyata makin reda, sampai di kantor berhenti ujannya, dasar. Pas mau parkir Mas Sapik tiba-tiba nongol kayak Giant Ongol-ongol (apa pula ini?), “Rat, anterin ke Kayu Umbi”. Halah, pertama kali boncengin orang kok Bos, mati dah. Cuek. Tapi kok berat bener yak, hehe...tau sendiri kan dia segede apaan. Kebut terus biar cepet sampe, lumayan bisa bikin Bos teriak2 dikit tapi selamat kok sampai tujuan. Langsung tinggal aja, katanya. Ya udah, balik deh ke kantor, parkir.
The road of life twists and turns and no two directions are ever the same. Yet our lessons come from the journey.
Subscribe to:
Posts (Atom)