Tuesday, January 30, 2007

Membangun Istana Kesedihan

Sangat membanggakan memiliki istana kesedihan termegah yang berpondasikan keluarga inti terpecah-belah ini. Serpihannya mengisi setiap kekosongan yang ditimbulkan kebahagiaan. Ketidakakuran, salah komunikasi, menuding dan selalu membela diri adalah ramuan ajaib tanpa kelemahan yang selalu berhasil mencegah kedamaian. Siapa yang membutuhkan kedamaian di dalam megahnya istana kepedihan?

Pondasi yang kuat tentu harus didukung oleh pilar-pilar utama yang kokoh. Akan melewatkan pernikahan sepupu demi mimpi pribadi ke luar negeri dengan uang keringat sendiri bisa jadi salah satu pilar megahnya istana ini. Bahan tadi memperkokoh pilar ketidakberadaan di keluarga besar. Andai saja mereka mau memecat saya dari keluarga, pilar ini pasti menjadi yang pertama abadi!

Di sisi lain juga berdiri kuat pilar ditinggal teman yang semakin kokoh dipenuhi kekosongan akibat akan perginya seorang teman kantor yang sudah menjadi kawan. Sudah terbayang pilar ini semakin kokoh menahan terpaan kegembiraan yang kadang datang menghadang. Pilar ditinggal teman ini sudah mulai terbangun dari SMP, jangan sampai saya yang mengatakan selamat tinggal, bisa runtuh pilar ini.

Di antara dua pilar tadi terbangun sebuah monumen abadi yang menjadi pilar utama nomor tiga. Monumen abadi itu berisi semua kenangan terindah bersama dan mengenai seorang dewi, kenangan yang setiap hari selalu menjadi sumber sakit hati paling dalam.

Tiga pilar inilah yang menjadi bangunan inti istana kesedihan ini. Berikutnya akan ada dinding-dinding dingin yang melindungi hati dari panah cinta sejati. Kemudian ada atap ego yang begitu tinggi, sehingga hati tak perlu capek-capek bersedih karena terlalu sering tersentuh hal-hal kecil yang sudah tidak manusiawi lagi.

Ah, istana ini akan menjadi begitu indah pada saatnya nanti.

Thursday, January 11, 2007

Resolusi

Seorang bapak berusia 52 tahun beresolusi. Bertekad kuat demi kebaikan keluarga. Ia memiliki dua istri dan 3 orang anak. Tahun ini ia berencana membuat sebuah toko kelontong dengan modal dari hasil penjualan motor yang sekarang ia gunakan untuk mengojek. Badannya sudah tidak kuat untuk bekerja mulai dari jam 8 pagi hingga 9 malam. Bagaimanapun ia tetap optimis, “Awalnya untung pasti tipis sih, tapi nantinya kan nggak”, ucap sang bapak yakin. Hebat.

Seorang bapak yang lain, berusia 52 tahun juga, sedang ditraktir makan sushi oleh anak pertamanya. “Trus kira-kira tahun ini kerjaan gimana?” tanya anak pertamanya. “Masih nunggu modal, masih disuruh sabar sama yang di Atas.” Ia juga menjawab seperti itu dua tahun yang lalu saat ku menanyakan hal yang sama kepadanya. Hebat…

Tuesday, January 02, 2007

(Not) Being Sensitive

Ada yang percaya kalau sebenarnya seniman dan orang kreatif di biro iklan itu sebenarnya sama, yaitu orang-orang yang sensitif dengan keadaan sekitarnya dan dengan jujur mengungkapkannya melalui medium yang disuka.

Benar juga.

Tapi mengapa saya sekarang ini benar-benar tidak ingin melakukannya? Saya maunya cuma main, atau jalan-jalan tanpa tujuan, atau tidur lelap seharian. Bukannya main tapi nggak lolos-lolos karena belum tau mau ngomong apa di iklan radio pengganti iklan radio yang ditarik, atau jalan-jalan dan melihat ide-ide yang pernah dibunuh hidup menjadi sebuah eksekusi yang lebih bagus dari bayangan saya, atau ditengah-tengah lelapnya tidur terbangun karena tersadar tentang beberapa kejadian aneh yang ternyata merupakan skenario pihak-pihak tidak kompeten dalam memenangkan kepentingannya.

Those brings us to my greatest war, why should I keep doing what I’m doing? Wars, all wars, does not determine what’s right, it only determines what’s left. So what’s left if I win this war?

Sayang belum tahu cara menanginnya…

Si Stagnan Si Stagnan Si

Pernah perhatiin nggak kalau semua orang pernah ngalamin yang namanya stagnansi dalam kehidupannya. Kayak marmut lari di lingkarannya itu. Secepet-cepetnya atau selambat apapun kita lari ya akan di situ-situ juga. Masanya aja yang beda. Ada yang pas lagi sekolah, kuliah, kerja, berkeluarga, atau jaman tua.

Ada temen saya yang SMA-nya 6 tahun, tiap 2 tahun dia ganti sekolah biar bisa naik kelas. Padahal waktu SD dia itu jago matematika yang pernah mewakili Indonesia di kompetisi internasional. Aneh, tapi emang gitu. Ada juga sepupu yang udah 7 eh 8 tahun belum kelar kuliahnya, padahal IQ-nya lebih tinggi 10 poin dari saya! Ada juga yang pacaran sampai 10 tahun tapi nggak kemana-mana, nggak putus-putus karena “mahkota” ceweknya sudah dia ambil. Si cowok selingkuh melulu, sedangkan si cewek sekali aja selingkuh langsung nyembah2 dan merengek2 minta tunangan. Ancur banget hubungannya.

Saya yang ngeliat stagnansi-stagnansi itu pengen bgt neriakin “Move On!” di depan muka mereka. Bisa aja, cuman sepertinya nggak akan ada gunanya, karena itulah hidup mereka, begitulah jalannya. Emang sih awalnya saya pikir itu adalah ketidakmampuan mereka, menjadikan stagnansi itu kotak aman. Yup, people are more comfortable in hell ‘cos they got nothing to lose. Nothing can be worse than being in hell all the time, right? Tapi nggak kok, sesukses apapun orang pasti mengalami stagnansi di kehidupannya. Beda di apa, kapan dan berapa lama ngalaminnya.

Jadi pertanyaannya sekarang adalah, bisa nggak move on saat stagnansi kehidupan itu melanda? Atau belum sadar kalau sedang mengalaminya? That makes two of us.

Another Goodbye

Beberapa kali saya membayangkan dan bermimpi mengucapkan selamat tinggal ke dia. Menyampaikan terima kasih secara personal dan menyampaikan bahwa dia sudah salah satu yang menginspirasi saya selama mengerjakan accountnya. Saya keduluan.

Yup, it’s not easy to find great client, but it’s easier than to lose one.