Sent. Paragraf terakhir terkirim. Satu lagi duet cerita pendek selesai. Hendra yang memulai, pesan yang selama ini ia pendam pun menjadi sebuah karya, nyata namun masih menjadi rahasia. Menyenangkan. Melegakan. Salah satu dasar banyak orang membuat jurnal dengan file ber-password atau buku dengan gembok kecil. Katarsis tanpa perlu khawatir akan bisa membesar menjadi sebuah masalah karena kesalahpahaman.
Kucopot earphone. Orang-orang kantor sedang bekerja di cubicle dengan sekat bayangan masing-masing, beberapa membuat sekat itu sama seperti aku, dengan earphone. Menandakan mereka sedang menikmati kerjaannya. Workstation tanpa privasi, salah satu hal yang paling kubenci di kantor ini.
Hendra membalas. Cerita masih ia sambung lagi. Namun seperti dipaksakan. Kasihan yang membaca kataku. Biarkan saja cerita itu tamat. Paragraf mu kita jadikan paragraf pertama cerita yang baru. Ia setuju. Namun jelas aku belum puas. Hasil yang biasa, mungkin karena pertama. Drama yang dibuat-buat. Karya seperti ini hanya bisa menjadi laris dan berarti ketika penulisnya sudah sangat terkenal. Ketika apa saja yang dikeluarkannya dianggap emas.
Cerita baru tidak jadi dimulai, Hendra memintaku membuat yang baru, buatanku. Sudah pakai saja punyamu, sepertinya bisa digunakan, lagipula pesannya sudah berbeda. Tidak, katanya. Kau boleh ambil temanya. Tapi kau yang masukan pesannya. Toh sekarang memang giliranmu. Aku terpojok. Ok. Beri aku waktu.
Seru. Ketika karya sudah ditunggu untuk dinikmati bukan untuk direvisi. Semangat dari dalam sudah terasa sampai di kepala. Tak ada stimulus yang lebih baik dari passion yang jujur. Kupakai kembali earphone. Bahagia karena cinta, itu temanya. Tinggal kucari saja di jurnal, pasti banyak. Seperti yang satu ini.
Suatu sore di kafe bale-bale. Gerimis lantunkan bunyi terindah yang disuarakan katak-katak tanpa nada penuh makna. Cantiknya si cantik tiba-tiba saja aku berkata. Bibirnya tersenyum...ah...kurasakan dengan bibirku. Begitu manis dan lembut. Tidak berhenti, kami terus berpagut, saling menyambut hingga ranumnya kurenggut.
Ugh. Indah namun tidak nyata, tidak lagi bisa merasakannya. Keindahan yang telah berlalu adalah sumber kesedihan. Kucari yang lain saja.
...semakin sakit. Detail-detail tulisanku, jurnal waktu itu membawa kembali jelas mukanya, wangi harumnya indah tubuhnya. Bodoh. Lemas. Kusandarkan diriku. ...not been enough...not been enough....bisik Kings of Convenience mencoba mengungkap apa yang ada dibalik ketiadaannya.
Maaf Hendra. Aku belum bisa menulis paragraf pertama.
1 comment:
The hardest part to write a story its write the first paragraph. Trust me. But I always remember what William Forrester said to Jamal Wallace in the movie Finding Forrester (Great movie by the way!): "You must write your first draft with your heart. You rewrite with your head. The first key to writing is... to write, not to think!"
I'll wait lah...tenang lah...
Post a Comment