Ngurus orang itu susah. Salah satu Crative Director di agency multinasional terbesar di Indonesia pernah bilang,”mendingan kasih gw kerjaan yang banyak daripada gw harus ngurus orang”. Memang pernyataan itu hanya keluar saat ngobrol-ngobrol ringan saja bukan pernyataannya ke manajemen. Tapi sekarang saya mengerti benar maksudnya.
Menurut saya mayoritas orang Indonesia adalah pekerja yang malas. Tidak seperti Singapura dengan kiasu-nya (kiasu=fear of losing) dan orang India dengan fear to be perceive as a stupid-nya. Orang Indonesia menganut pedoman dikit berusaha banyak dapatnya. Hal ini semakin menjadi karena mungkin koruptor terus bebas di negeri ini.
Saya ingat masa di mana saya baru masuk ke dalam industri. Saya sering overdone the work. Bikin headline dengan banyak sekali versi malah kadang saya gabung hingga jadi cerita. Agak jadi nggak fokus memang tapi itu cara saya menyukai pekerjaan ini. Saya bikin asik aja, walaupun begitu sampai di klien, mintanya bikin yang biasa-biasa saja.
Bahan bakar utama kerja di periklanan (seperti juga industri karya lainnya) cuma passion. Sejago-jagonya, sebanyak apa pun award yang pernah didapat, begitu passionnya hilang, orang itu akan jadi useless. Dan sebaliknya. Junior yang terus menyukai dan berusaha semaksimal mungkin bisa langsung jadi hero of the day ketika idenya hacep. Pertanyaannya adalah, bagaimana mengurus yang kebalikannya?
Bagaimana mengurus yang diminta bikin headline alternatif banyak, hanya membuka thesaurus dan menuliskan kata yang berbeda?
Bagaimana mengurus yang diminta membuat alternatif layout banyak hanya mengubah warna backgroundnya saja?
Bagaimana ketika diminta mengerjakan alternatif yang banyak mengerjakannya butuh waktu 3 kali lipat?
Dan ketika dipush untuk lebih cepat, malah izin nggak masuk keesokan harinya?
Itu baru dari satu sisi, belum lagi orang-orang dari samping
Bagaimana mengurus orang yang ditanya mana briefnya, jawabannya malah bertanya lagi menurut loe gimana?
Bagaimana mengurus orang yang ditanya strateginya apa, jawabannya malah idenya dulu aja, strateginya nanti setelah kreatifnya jadi?
Bagaimana mengurus yang minta kerjaan selesai besok dikasih jawaban nggak bisa malah nongkrong langsung ke orang studio?
Saat di-ambush dengan segala pertanyaan itu, kebetulan saya membaca blognya Paramita Mohamad, yang salah satu isi postingnya: “I guess many people leave their agencies because of people they work with. I truly empathize with them.”
Memang semua itu kekurangan yang akan membuat tertarik turun. Tinggal menentukan pilihan akan ikut turun dan berusaha mengangkat mereka pelan-pelan sambil terjatuh-jatuh bersama-sama. Atau terjatuh-jatuh mengangkat diri sendiri saat berlari atau mencoba terbang lebih tinggi di tempat yang berbeda dengan mereka.
No comments:
Post a Comment