Entah karena malam di Amsterdam sedang bersahabat atau suasana hati yang temaram, Malam di pinggir taman ini sangat nyaman. Merasa seperti dipeluk dengan dekapan yang cukup. Tidak terlalu kencang, tidak terlalu kendur. Malam yang patut dihirup dalam-dalam.
Pikirannya melayang bertanya-tanya ke mana hati terbang. Lebih baik dicuri saja, terasa lebih ringan. Malam bilang hati sedang menyusul harapan. Mengejar si suatu saatnya. Lengkap bersama ke mana dan sampai kapan yang selalu menuntut jawaban.
Sudah lama badannya kosong akan ketenangan. Keteraturan. Kepuasan. Meresap…dan merasa…Mengisinya akan meluruskan makna, mengeratkan jiwa, menghidupkan aura.
"Berhentilah segera," Malam meniupkan asa.
Tanpa kata, malam banyak berbicara kepadanya. Bercerita palsunya dunia tanpa harapan. Mahakarya terbuang demi angka. Terkungkungnya jiwa karena keluarga. Alasan demi alasan berwujud realita hadir bernyawa.
Malam mengangguk saat ia sadar kehidupan dibangun dari pengorbanan. Teman yang mengatakan dibangun dari mimpi pasti belum pernah kelaparan, belum pernah melihat ibunya tidak makan karenanya.
Sesuai mimpi, hatinya tak lagi betah singgah. Sehingga betapa pun sakitnya, ia akan bertahan.
Bersama Malam.
No comments:
Post a Comment