Lama ia menanti saat dimana obyek merasakan sedih yang mendalam. Ingin melihat rasa sakit yang selama ini ia rasakan sebagai penderita. Sebuah momen yang ia pikir akan membuatnya tertawa, atau setidaknya merasa puas.
Namun ternyata ia ikut merasa sedih.
Tidak seharusnya ia merasakan itu. Mengapa masih harus peduli? Apakah ia masih peduli?
Pikirannya mengatakan hal utama yang membuatnya sedih adalah obyek yang tidak membagi kesedihan bersamanya. Kenyataan yang menohok bahwa ia masih sangat peduli kepada obyek sedangkan obyek sama sekali tidak.
Ketidakberadaannya di sisi obyek saat obyek berada di titik kesedihan yang begitu dalam membuatnya merasa kecewa kepada dirinya. Mengikis kepercayaan diri karena terbukti ia tidak berarti di mata orang yang ia peduli.
Terkucil. Tersingkir. Tak berdaya.
Namun tak lama kemudian ia tersenyum.
Ia baru saja menerima karmanya.
No comments:
Post a Comment