Kalau sudah bisa merasa nyaman di neraka, maka berada di mana pun pasti akan terasa lebih enak. Mindset yang membentukku untuk tidak takut dan tidak menyerah saat berada di keadaan seburuk apapun.
Jeleknya, mindset itu mulai menjadi attitude. Dan menganggap semua orang juga kuat menghadapi panasnya neraka. Lupa kalau sebagian besar dari mereka mendengar kata neraka saja langsung menutup kuping rapat2 dan lari menghindar.
AEs yang lebih suka menjadi messenger pun meledak, karena secara terang2an kutunjukan di mata pemimpinnya betapa bodohnya mereka. Aku pun dimusuhi. Meski didukung oleh teman2 kreatif dan bos mereka sendiri, tetap saja akulah target utama penembak bayaran mereka, apabila mereka mampu menyewanya.
Ada juga yang sakitnya bisa langsung kurasa. Dalam beberapa bulan terakhir, berhasil memotivasi beberapa teman untuk lebih berani menulis. Tapi efeknya di luar perkiraan, ada yang sampai mengabaikan tangisan anaknya yang meminta susu atau yang lupa makan karena terlalu bersemangat menulis blog.
Rasa bersalah yang terakumulasi membentuk rasa sakit berkumpul lagi di dalam diri, menyayat perih. Dan selalu, cara menghilangkannya tidak dengan mengguyurnya dengan hura-hura, tapi dengan rasa bersalah yang lebih besar lagi. So here I am, listening to Damien Rice, discouraging and gloomy…
This is not what I'd do

It's the wrong kind of place
To be cheating on you
It's the wrong time
but she's pulling me through
It's a small crime
And I've got no excuse
But do you really feel alive without me?
If so, be free
If not, leave him for me
Before one of us has accidental babies
For we are in love
2 comments:
kenape lo men? stress mulu kayanya... bukan tipikal burat yang gue kenal. hehehe. inget saja satu adegan yang selalu kita bahas. saat gue datang dan mengetuk pintu lo, adalah saat dimana gue menemukan "the one", dan karena dia one of us, kita akan bekerja sepenuh hati untuk dia.
Still waiting for that real thing to come, mate. Just find him and i'll be ready
Post a Comment