Dulu, saya tidak bilang iya waktu dia bilang suka. Padahal pengen bilang iya. Karena saya sudah berpikir-pikir lebih panjang dan sepertinya bukan dia yang cocok untuk rencana besar saya. Tapi dia bisa masuk ke dalam salah satu pos dalam rencana besar itu. Saya belum boleh kehilangan dia.
Saya kemudian menolaknya dengan cara paling halus dan sebaik mungkin meski akhirnya membuat pesannya tidak terlalu jelas. Hasilnya sih sesuai mau saya, dia tidak mundur, dan sepertinya mengerti dan baik-baik saja. Cukup dewasa juga. Malah saya kemudian yang merasa bersalah karena kalau dipikir saya yang egois, lebih sakit ditusuk langsung mati daripada pelan-pelan dan merasakan sakitnya terus-terusan kan?
Belum lagi kemudian dia tiba-tiba menghilang. Tanpa kabar tanpa sebab. Perkiraan saya adalah dia menyadari pesan sebenarnya. Langsung deh minta maaf walau rasanya kok ilfil karena ternyata dia belum dewasa, gitu aja kok ngilang.
Dia belum memaafkan saya, saya pun menjadi kecewa. Tapi mungkin karena pada dasarnya saya peduli sama dia, ingin sekali saya memberitahu dia betapa egoisnya saya waktu itu.
I miss her…I think.
No comments:
Post a Comment