Monday, October 01, 2007

Merinding

Ketika saya sedang memerhatikan bayangan saya di cermin, entah kenapa tiba-tiba saya teringat seorang teman lama, seorang rival lama tepatnya. Kami pernah mencintai seseorang yang sama. Lucu juga saat teringat kembali kompetisi diantara kami.

Dulu saya dengan sangat sadar memutuskan bahwa masa sekolah adalah masa-masa yang tidak boleh disia-siakan sama sekali. Karena itu positioning eh maksudnya saya memosisikan diri ke si dia yang sama-sama kami cintai itu sebagai seseorang yang menawarkan kebebasan dan tak peduli peraturan.

Yang saya lakukan misalnya seperti ini: Sebelum obrolan malam berakhir, saya selalu menawarkan menjemputnya di pagi hari untuk bersama-sama pergi ke sekolah. Meski berjuta-juta kali ditolak, toh akhirnya luluh juga. Saat itulah saya kemudian menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya dengan sengaja menjemputnya sangat telat. Bagi murid baik seperti dirinya yang jarang telat, datang ke sekolah setengah jam lewat dari batas toleransi sama seperti bunuh diri. Ditengah kepanikannya –dia terlihat lebih cantik- saya menawarkan solusi yang…sama sekali bukan solusi, yang penting happy.

Kami pun kemudian madol ke Bandung, padahal dulu belum ada Tol Cipularang. Jadi waktu tempuh ke Bandung lewat Cikampek zaman itu sekitar tiga jam. Begitu sampai di Bandung, kami makan siang di toko Yu dan langsung balik lagi ke Jakarta setelahnya. Agar kami dapat tiba di rumahnya tidak jauh berbeda dengan waktu tiba ia pulang sehari-harinya setelah sekolah dan tambahan bimbingan belajar. Sayang hari itu ibunya tiba-tiba memutuskan untuk menjemputnya. Masuklah saya ke dalam daftar black list mamanya.

Apa yang saya lakukan tentu beda sekali dengan apa yang si rajin rival saya itu lakukan. Ia selalu saja bisa membuatnya terkagum-kagum dengan apa pun yang sudah ia baca. Atau ia juga selalu saja bisa menarik perhatian dia yang kami cinta itu dengan analisa-analisanya tentang sesuatu, baik yang penting maupun tidak. Bahkan, di periode waktu ujian sekolah yang notabene sangat suci bagi seorang siswa untuk bermain atau bertemu dengan teman, rival saya itu setiap harinya selama setengah hari (dari siang/sore hingga malam hari) berhasil terus bersamanya. Saya bisa tahu tentu saja karena suka “sok sedang lewat” dan memerhatikan rumah si dia. Dan kalau sedang belajar seperti itu si dia tidak pernah mau menjawab telepon. Hal menyebalkan ini terus berlangsung hingga puncaknya saat ujian. Selama ujian sekolah berlangsung rival saya itu selalu jadi andalan si dia untuk menjemput dan mengantarnya. Pokoknya di zaman-zaman ujian yang berlangsung beberapa bulan itu rival saya terus-terusan bersama si dia. Sialan.

Tapi bagaimanapun, seorang siswa sekolah pasti mendambakan kebebasan. Dan itulah yang membuat saya unggul dari rival saya. Melewati musim ujian, masa-masa belajar pun berakhir. Dan itu berarti berakhir pula kesempatan rival saya untuk dapat bersamanya. Huahaha…saya pun memenangkan peperangan itu.

Bayangan saya di cermin semakin lebar memerlihatkan senyum penuh kemenangan. Tapi anehnya, bayangan saya tetap tersenyum meski saya sudah manyun. Saya lalu menggerakkan tangan dan kepala saya agar ia ikut bergerak, tapi tetap saja ia hanya bergeming tersenyum. Ini sudah tidak lucu lagi, pikir saya. Tidak lama kemudian, wajah bayangan saya perlahan berubah. Awalnya saya tidak mengenalinya, tapi kemudian saya teringat dengan gaya rambut dan kacamata uniknya itu. Wajah bayangan saya berubah menjadi wajah rival saya.

Apakah ini? Sebuah rasa bersalah? Saya salah di mana? Semuanya fair kok, it’s not like I did any bad trick or so…Saya pun kemudian menelepon beberapa teman lama untuk menanyakan kabar rival saya itu. Sudah kerja di mana, sekarang tinggal di mana, sudah menikah atau belum dan sebagainya-sebagainya.

Namun ternyata tidak ada yang tahu kabarnya sekarang.

Tak seorang pun!

“Bunuh diri kali dia, Rat,” kata salah satu teman saya.

Nah lo.

No comments: