Tuesday, February 26, 2008

Bermainlah ke kebunsemanggi

Kalau akhir-akhir ini merasa kehidupan kok terasa mulai menjemukan dan membosankan, bermain-mainlah ke kebunsemanggi, dijamin hidup rasanya (bisa) seru lagi!

Setidaknya itu yang saya rasakan setelah melakukannya.

Ketertarikan pertama saya kepada si kebunsemanggi diawali dengan sebuah teaser menegangkan tanpa judul di apple.com. Teaser itu hanya diakhiri dengan tanggal. Berhubung tanggal itu dibuat seperti judul film, saya pun mengira tanggal itulah judulnya. Yeah, yeah, saya termasuk makhluk bodoh yang tertipu dengan teasernya.

Tapi coba bayangkan misalnya nih, kita sedang berada di sebuah pesta di sebuah apartemen. Tiba-tiba terjadi gempa dan sebuah ledakan. Kita pasti ikut panik, segera turun dan keluar untuk mencari tahu ada apa. Lalu sesampainya di luar di pinggiran jalan. Belum juga mengerti apa yang sedang terjadi, tiba-tiba sebuah benda besar melayang cepat ke arah kita. Beruntung kita masih sempat menghindarinya. Namun apa rasanya setelah kita melihat dengan mata kepala kita sendiri, ternyata benda besar yang hampir menimpa tadi adalah kepala patung Liberty.



Jadi walaupun saya sudah kena tipu, teaser itu sudah menggaet saya. Memang sempat ada ketakutan dengan idiom “kalau trailernya keren, biasanya filmnya cupu”. Tapi rasa penasaran yang terbangun sudah terlalu besar, tak ada yang bisa menghalangi saya menonton film ini.

Adalah sebuah kebetulan yang berharga kalau release film ini di sini pas dengan datangnya rasa bosan saya dengan ritual hidup. Nah, dicampur dengan ekspektasi yang ada di atas ambang batas harapan akan filmnya, bermain-mainlahlah saya ke kebunsemanggi alias Cloverfield ini.

Teaser yang saya ceritakan tadi merupakan cara awal Matt Reeves (si sutradara) menghidupkan nyawa filmnya, yang kemudian ia perkuat dengan menyuntikkan malapetaka berkali-kali. Sehingga setiap film mulai masuk ke wilayah klise, selalu ada sesuatu yang membangkitkan adrenaline, memainkan emosi maupun menusuk hati sehingga membuat penonton mengucapkan atau berkata dalam hati-,“Oh, shit!”.

Film ini hampir memenuhi semua harapan saya di setiap adegannya. Mereka mengalir begitu manusiawi dan nyata. Apa yang ingin saya lihat pasti ada, bahkan tidak jarang diberi bonus. Kemudian apa yang tidak ingin saya lihat tapi jelas bisa membayangkannya, tidak diperlihatkan oleh film ini sehingga membuatnya minim adegan klise.

Tidak akan ada yang namanya rapat-rapat militer di Pentagon yang merasa paling bisa menyelamatkan dunia atau pesawat-pesawat siluman take off dari carrier. Tidak akan ada juga sejarah monster dan ahli beserta orang-orang sok ahli yang menggurui kita mengenai si monster. Menyenangkan.

Ada satu hal yang saya anggap sebagai usaha yang berhasil membuat film ini semakin nyata, yaitu jarang sekali nama/logo sebuah merk/brand nampang beberapa detik dan membuat penonton bergumam, “halah, sponsor”. Kalau tidak percaya perhatikan merk handycamnya deh. Mungkin saya terlewat atau memang perlu lebih memerhatikan lagi, tapi seingat saya, merk handycam yang digunakan di film ini tidak pernah diperlihatkan. Tentu akan menjadi sebuah iklan colongan/ad in atau apapun namanya yang kuat sekali apabila Sony atau Panasonic mengajak J.J. Abrams (si produser film ini) untuk bekerjasama. Tapi nyatanya tidak (atau tidak mau). Dan menurut saya itu bagus sekali.

Film ini agak sulit diceritakan karena yang terjadi adalah mengalami, bukan menonton atau mengamati. Saat keluar bioskop, saya merasa, I would love to die like Rob. Karena saya setuju dengan pernyataan “sometimes you should fuck the world and just be with the one you love”.

Malam itu, dengan melukiskan kehancuran, Matt Reeves telah memperlihatkan kepada saya betapa indahnya kehidupan.

No comments: