I guess when you're young, you just believe there'll be many people with whom you'll connect with. Later in life, you realize it only happens a few times.
- Celine, Before Sunset -
Tidak pernah mudah menemukan seorang yang dekat apalagi ketika kehilangannya. Begitu yang terjadi pada orang pada umumnya.
Saya sedikit berbeda. Saya bisa lebih gembira ketika kehilangan seseorang.
Bagi saya, kepergian seseorang melahirkan kesempatan untuk bertemu dan dekat dengan seseorang yang lebih baik. Atau setidaknya akan ada pengalaman dan perasaan baru dengan orang yang baru. Baik itu lebih baik atau lebih buruk.
Setiap dipertemukan dengan seseorang yang kemudian menjadi dekat, saya menganggapnya seperti sedang naik sebuah alat transportasi. Seseorang itu akan membawa kita melalui berbagai hal baru hingga sampai di suatu titik yang mengharuskan untuk berpisah. Baik itu teman, sahabat atau pacar (mantan). Berteman sama R, misalnya, merasakan bagaimana berani pulang sekolah sendiri untuk pertama kalinya, lalu berpisah karena kemudian beda sekolah. Atau sama si M, merasakan bagaimana rasanya pertama jatuh cinta tapi nggak lama karena sudah harus pindah. Lalu sama yang lain lagi menjalani dan merasakan berbagai hal yang juga berbeda-beda. Tentu dengan akhir yang berbeda pula.
Saya termasuk yang picky dalam memilih siapa yang bisa dekat. Bukan apa-apa, tapi saya bersyukur diberi kemampuan lebih untuk bisa memilih. Maksudnya, setiap bertemu seseorang yang baru, entah kenapa saya bisa tahu kalau dekat dengan dia apakah akan mengalami hal yang sakit melulu atau sebaliknya. Wah berarti pilih yang akan merasakan enak aja terus! Nggak juga. Karena pengalaman enak/indah, nantinya akan menjadi ingatan yang menyakitkan. Sebaliknya, pengalaman yang menyakitkan bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga nantinya. Lah, terus bagaimana milihnya? Ya, pada akhirnya harus memilih secara imbang. Setelah sakit, pilih yang senang dulu dan sebaliknya. Jadi buat kalian yang merasa dekat dengan saya, selamat, kalian telah mengalahkan jutaan saingan (huek, lebay gila).
Pointnya apa ya ngomong-ngomong? Oh sorry. Apa ya? Loh kok?
Banyak yang saya kenal mengalami masalah berlarut-larut karena pada dasarnya tidak bisa “merelakan” orang terdekatnya pergi, baik karena takdir atau kesalahan pribadi. ntung karena pulp theory ini saya tidak begitu lagi.
Ok. jadi inilah Pulp Theory #2: Kepergian seseorang adalah bel penanda waktunya untuk tertawa.
1 comment:
kalo katanya Haruki Murakami, when people you love gone, they takes a part of you with them, and you'll never be the same person again. that's why we hate when they're gone.
bukankah demikian? :(
Post a Comment