Monday, February 06, 2006

orang aneh

Pertama kali dicela seperti itu waktu SD. Ceritanya dimulai saat jam istirahat pas “aduan” benteng kelas 5 lawan kelas 6. Seseorang mengajak ikut serta. “Nggak ah, hari ini mau makan, tadi nggak sarapan,” kata saya. “Ya udah makannya sambil main aja,” kata salah satu dari mereka. Akhirnya sebungkus nasi uduk dan sebuah tahu goreng menemani saya menjaga benteng yang terus diserang anak kelas 6 bertubi-tubi dari berbagai arah. Selain tatapan aneh anak kelas lima, saya acuhkan juga sepatu-sepatu ukuran besar itu menyeruduk masuk mencoba menginjak benteng. Sakitnya kaki diinjak-injak tak terasa dibanding lezatnya sarapan seharga Rp 200,- itu, saya tetap bergeming. Lalau seperti manusia pada umumnya, setelah makan saya pun mencari minum, tentu setelah menitipkan tugas menjaga benteng kepada salah satu teman. Es the manis Rp 100,- yang dikemas dalam plastik yang ditarik menjadi pilihan penawar dahaga, namun saya lupa uangku tinggal Rp 50,- untung saja teman sekelas yang katanya anak anggota DPR berbaik meminjamkan kekurangannya. Sebagai balas budi, saya menemaninya ke depan gerbang sekolah karena ia hendak menyuruh supirnya mengambilkan buku PRnya yang ketinggalan. Di gerbang, setelah menjelaskan mandatnya, teman saya pun mengucapkan terima kasih dan nyelonong pergi. Secuek-cueknya tetap saja saya merasa diabaikan. Tapi tak apa-apa, karena tanpa sadar tiba-tiba saya melihat benteng kelas enam berada di depan, tidak terjaga!
Langsung saja saya berlari sekuat tenaga dan menginjaknya sambil berteriak, BENTENG!!!! Untuk pertama kalinya dalam sejarah SD Pancoran 01 Pagi, kelas 5 menang main benteng melawan kelas 6….Keesokan harinya timbullah bisik-bisik “….iya dia tuh si Aneh, nggak pernah maen benteng tapi jago. Nggak pernah kenalan sama cewek tapi punya pacar anak DPR…” Karir sebagai pemain benteng saya sudahi saja sampai di situ….

Waktu SMP, kalau tidak salah pas kelas dua. Tiba-tiba saja sang ketua kelas terpilih menunjuk saya sebagai wakilnya (jaman dulu yang dipilih cuma ketua kelas sama sekretaris, wakil ketua kelas sama bendahara dipilih ketua dan sekretaris terpilih). Susah untuk tidak menolaknya, jadi saya iyakan. Belakangan saya tanyakan alasannya, dan jawaban sang ketua kelas: “Abis loe aneh, masak baru kelas dua SMP udah bawa mobil sendiri.” Yah mungkin maksudnya saya sepertinya bisa diberi tanggung jawab karena sudah bisa mengemudi di usia yang sangat dini. Selain itu, waktu di SMP 12 juga, ada sebuah kata aneh yang terngiang sampai sekarang, diucapkan oleh seorang sahabat: “Aneh banget sih loe, suka malah sama temennya yang kurus dan kacamataan gitu, mending sama dianya, udah cantik, jago maen basket, dan suka sama elo.”

Kalau di SMA terjadi di awal-awal masuk 82, saat perkenalan murid satu-persatu di dalam kelas. Saya Burat Pangeran dari SMP 12. NEM saya 47, 52. Wuih!!!!! Suara murid satu kelas. Wali kelas berkata, kamu nilai NEM-nya tertinggi di kelas ini. Kamu harus menjadi contoh buat yang lain. Terasa tidak enak di hati, saya menjawab: Jangan, Pak. Saya mau main. Wuaahahaha!!!Aneh! Aneh bgt ni orang! Satu kelas kembali bergemuruh. Dan terbukti saya tidak pernah ranking satu di SMA. Namun saya punya lingkaran teman yang menyenangkan, meskipun akhirnya terpisah juga karena mereka semua bersekolah di luar negeri dan kebanyakan dari mereka sampai sekarang belum kembali. Saya ditinggal sendiri di sini karena diterima di universitas negeri.

Di kuliah, saat pertama kali masuk pun sudah terasa akan menjadi sangat susah untuk beradaptasi. Dari yang di kelas ganjil nomor-nomor terakhir fikom 99’ UnPad dikira sebagai anak angkatan 98’, simply because they always saw me play with them. Sampai puncaknya pujaan hati sendiri selalu memanggilku Si Aneh (meskipun nickname ku darinya juga cukup banyak kayak Ndut atau Mr. Want to Know). Sebal juga, sering dipanggil si aneh sama orang yang (masih) saya sayang. Sebel banget. Kenapa harus dia yang bilang itu. Tapi ternyata dia cuma bercanda, karena cuma dia satu-satunya yang bisa mengerti keanehan itu…

Memasuki dunia kerja kenehan saya mendapat teman. Bekerja di stasiun TV langsung di bawah produser paling aneh yang ada di situ. Sampai anak buahnya juga banyak yang diliat aneh oleh anak buah dan bos-bos yang lain Ada yang berubah menjadi dambaan tapi ada juga yang jadi dampratan. Gak tahu saya masuk kriteria mana, tapi ada dua dari mereka yang jadi temen dekat. Tanpa banyak kata-kata, saya dan dua orang itu bermimpi bersama, mencela orang yang sama dalam waktu yang sangat lama sampai sama-sama berbagi cerita keluarga yang tidak bahagia. Suatu ketika saat kembali bertemu setelah sekian lama tak berjumpa, tak ada kata-kata yang terucap di antara kami bertiga. Masing-masing terlalu seru dengan pikirannya. Mungkin karena kami bertiga memang sama anehnya. Kurang lebih setahun selalu mendengar pertanyaan, “kok bisa sih kerja sama orang aneh gitu? Kayaknya loe sama anehnya sama dia.” Biar saja. Misi saya di sini menyelamatkan program tv mengenai periklanan satu-satunya di Indonesia saat ini, bukan menjadi orang biasa yang kerjanya cuma copy berita seperti mereka.

Di tempat kerja yang baru (gak baru juga sih, udah setahun lebih juga). Keanehan saya mendapat semakin banyak teman. Namun, dibalik bebasnya para aneh itu hidup, semuanya harus sama, sesuai dengan brief, huahaha....!!!!! Saya kembali merasa aneh. Susah masuk ke orang lain. Meski sebenernya gak boleh menganggap orang dangkal, tapi memang itu yang dirasa. Terlalu sering orang-orang itu membahas abis hal yang sudah pernah saya pikirkan. Memang sih ada yang bisa masuk dan mengerti bahasa tersirat saya, tapi sayangnya belum bisa percaya. Kadang merasa bersalah, atau takut. Takut karena mereka itu orang-orang yang suka menilai dari luarnya saja, mereka yang harus dimengerti dan malas mengerti orang lain, apalagi orang aneh seperti saya. Bersalah karena sepertinya saya tidak bisa mengalahkan kelemahan dalam bersosialisasi. Ah tapi nggak. Bukannya nggak mau bersosialisasi, cuma lebih suka berkontemplasi. Sayang aja mereka nggak ngerti. Atau mungkin belum. Cuek aja lah, capek juga terus-terusan diambil ati.

Here I am again. Being strange in the world of stranger…

2 comments:

Stevie Sulaiman said...

Ordinary people make ordinary things, strange people make strange things. That includes good writings, great films, clever ads, superb musics, and Apple Macintosh! So don't worry about being strange (unique).

Unknown said...

ah..ternyata saya tak seaneh kamu..
padahal udah worry, benarkah saya aneh??

tapi keknya, justru keanehan2 itulah yang membuat kita jadi special ;)