Monday, April 30, 2007

paths

Dua anak lelaki lahir ke dunia sebagai sepupu berselisih satu tahun baru. Mereka sama-sama anak pertama. Para orang tua mereka memang merencanakannya. Agar mereka bisa tumbuh bersama dan saling menjaga.

Anak lelaki pertama tumbuh seperti anak lelaki biasanya, aktif, lincah, punya banyak teman, suka menjadi pusat perhatian, selalu main ke sana ke sini yang selalu membuat was-was orang tua.

Anak lelaki kedua sedikit berbeda. Toh memang orang tuanya juga berbeda. Yang ini agak sedikit pendiam. Sibuk dengan dunianya sendiri dan tidak memiliki banyak teman. Ia bahkan takut menjadi pusat perhatian karena biasanya ia akan memuntahkan makanan. Namun ia jarang membuat was-was orang tuanya.

Dua anak lelaki pun tumbuh menjadi remaja.

Anak lelaki pertama mengalami masa puber di waktu yang tepat. Ia menyukai anak perempuan seumuran dan disukai juga oleh mereka. Kehidupan percintaannya pun dimulai, mengikis waktu yang seharusnya ia gunakan untuk mengejar nilai-nilai pelajaran. Ia bisa tentu saja, hanya hatinya sedang berada di seseorang yang mencintainya. Orang tuanya sedikit kecewa dengan pilihan hatinya, mereka menyebut-nyebut sosok sepupunya sebagai yang harus diikuti prestasinya. Mereka pun kemudian mulai membatasi kebebasannya.

Sedangkan sepupunya, anak lelaki kedua baru saja keluar dari dunia ciptaannya. Ia baru mengerti arti pertemanan, persahabatan dan dendam. Pelajaran yang mudah ia mengerti dan membuatnya menjadi unggulan mulai ditinggalkannya demi status dalam pergaulan. Ia menjadi iri dengan sepupunya karena lebih dulu merasakan seperti apa cinta sepenuh hati yang terbalas. Orang tua anak lelaki kedua masih merasa aman-aman saja dengan prestasi dan perkembangan pertemanan anak sulungnya. Mereka sama sekali tidak membatasi gerak-gerik dan privatisasi, bahkan memfasilitasi.

Saat beranjak dewasa, mereka sama-sama kehilangan kepala sekaligus tulang punggung keluarga, papa dan bapaknya.

Lelaki pertama kehilangan untuk selamanya. Papanya terlalu dalam memikirkan penyelesaian masalah pekerjaannya hingga stroke menyerangnya, tepat di malam saat ia bertengkar hebat dengannya. Anak lelaki pertama kehilangan arah. Menjadi kepala dan tulang punggungg keluarga sebelum waktunya tidak pernah ada dalam bayangannya. Ia kemudian terjerat ke dalam lingkaran setan dan meninggalkan ibu dan adik-adiknya tanpa arahan.


Lelaki kedua tidak kehilangan bapaknya selamanya, bapaknya ada namun tak pernah ada. Seperti zombie. Anak lelaki tidak tahan, ia melarikan diri. Mecoba hidup sendiri meski tidak melepaskan hubungan biologis dan ekonomi dengan keluarganya. Ia kemudian menemukan jati dirinya di lingkaran pertemanan. Para mantan, kawan dan lawan, sahabat, semuanya menempatkan ia di posisi yang nyaman. Namun ia tidak tahu posisinya di keluarga, ia tidak tahu bagaimana harus mencintai mereka, apa yang harus dilakukan atau dikorbankan, peran seperti apa yang ia seharusnya lakonkan.

Kini mereka sama-sama hampir sampai di titik kedewasaan.

Lelaki pertama kini telah menjadi pria dan berhasil keluar dari lingkaran setan. Namun belum, ia belum berhasil menjadi kepala sekaligus tulang punggung keluarga. Ia telah memilih jalan lain, membentuk keluarga baru yang resmi tanpa perlu membiayai semuanya sendiri.

Lelaki kedua juga tumbuh menjadi pria. Ia berhasil menjaga perannya di lingkaran pertemanan dan mengerti sekali peran yang harus ia jalankan di keluarganya. Namun ia pun sama dengan pria pertama yang tidak juga menjalankan peran sebagai kepala dan tulang punggung keluarga dengan baik. Pria kedua malah lebih memilih membiayai sendiri “bulan madu” ke luar negeri bersama seseorang yang belum dinikahi.

Itulah dua pria bersaudara di dua jalur kehidupan berbeda namun berada di titik kedewasaan yang sama, mengesampingkan keluarga.

No comments: