Monday, May 21, 2007

Suatu hari di akhir-akhir kontrak 3 minggu gw sebagai deputi direktur komunikasi yang memperbantukan pembuatan pidato rencana kerja tahunan kepala negara yang sangat peduli dengan kemanusiaan ini tiba-tiba saja gw dikejutkan dengan kedatangan beliau di ruangan gw di istana negara.

“Selamat malam, Bapak Presiden”

“Malam. Bagaimana, sudah bisa berbicara seperti saya?”

“Memang sudah seharusnya bisa, Pak. Tapi, bagaimanapun, saya tidak akan pernah bisa seperti Bapak.”

Ada satu kebijakan luar negeri mengenai pengiriman pasukan negara ini ke tempat-tempat terjadinya konflik akibat ketidakadilan yang gw tidak setuju. Kebijakan luar negeri yang tahun ini beliau akan ucapkan di depan ratusan juta rakyatnya adalah sebuah kompromi, beliau tidak ingin menjadi negara ini menjadi polisi dunia tapi juga tidak mau jadi pemimpin negara terkuat di dunia yang tidak memedulikan negara lain yang sedang ditindas tirani.

“Tugasmu memang hanya membahasakan kebijakan yang aku buat menjadi dekat dengan kenyataan kan? Bukan membuatnya menjadi harapan semu dengan membuat kebijakan baru.”

“Kontrak saya akan segera habis, Pak. Kalaupun saya tidak membuat perubahan, menciptakan harapan akan menjadi sangat berarti.”

“Tapi percayalah, tidak akan semudah itu bila kamu di posisi yang harus menanggung semua konsekwensinya. Kompromi walau tidak sesuai dengan kata hati adalah pilihan yang masuk akal.”

Gw mengerti posisinya, karena apabila beliau membuat kebijakan luar negeri negara ini untuk memperkuat posisinya menjadi polisi dunia, pasti akan mendapat kecaman dari senat dan dewan-dewan tinggi lainnya karena dianggap mengorbankan anak bangsa dan kebijakannya pun tidak akan menjadi undang-undang. Padahal negara ini sangat mampu dan sudah seharunya mau menjalankan doktrin “bebas dari tirani di mana saja di dunia” dengan alasan yang benar, bukan dengan niatan untuk mengelabuhi dunia agar negara ini bisa mendapat minyak bumi tanpa harus membeli.

“Menurut kamu, mengapa seluruh dunia menganggap rakyat negara dunia ketiga yang sedang ditindas tirani nyawanya lebih rendah dibandingkan rakyat negara kita?”

“Entahlah, Pak. Tapi memang begitu.”

Presiden yang sangat peduli kemanusian ini langsung meninggalkan ruangan gw dengan cukup marah dan sedikit kecewa.

Keesokan paginya, gw dipanggil untuk ikut dalam rapat senior staf. Beliau mau mengubah kebijakan luar negerinya.

“Kebebasan berbicara di seluruh dunia ini berawal dari doktrin kita, begitu juga kesetaraan perawatan kesehatan yang sedan kita usahakan. Sepertinya dunia membutuhkan satu doktrin lagi, bebas dari tirani, bagaimana kalian setuju?”

Seluruh senior staf tiba-tiba sibuk dengan hp masing-masing, mereka menelepon pihak-pihak yang terkait dengan perubahan kebijakan itu.

“Aku anggap itu iya.”

“Terima kasih Bapak Presiden.”

Semua senior staf berjalan keluar ruangan. Tapi…

“Burat, sebentar. Di masa kuliah kamu membuat beberapa tulisan tentang kesetaraan manusia di seluruh dunia, kamu juga pernah menjadi anggota NGO yang mendukung itu…yang kamu lakukan kemarin itu sangat berisiko, kamu tahu itu? Kamu bisa mendapat penghakiman yang 180 derajat berlawanan dengan yang kamu sebenarnya bela.”

“Betul, Pak. Saya bisa kehilangan semuanya.”

“Jadi mengapa?”

“Karena apabila sudah ada yang mengerti mengapa, saya bisa berhenti mencari.”

“Seperti sekarang ini?”

“Sepertinya, iya.”

“Kalau begitu kontrak kamu perlu diperbaharui.”

“Terima kasih, Bapak Presiden.”

2 comments:

wahyuningrat said...

you report to toby, then you report to me as a chief of staff. not straight to the eagle. this thing happen again, I'll transfer you to nepal.

Burat said...

he came to me!