Friday, November 23, 2007

Why House?

Shakespeare really screws us with his crafty quote,”What is a name? is he?” Well, thank God I met Roland Barthes.

Tahu nggak kira-kira kenapa Ahmad Dani kalau bikin lagu yang memuja wanita selalu ada nama Dewinya? Padahal kita tahu dia bertentangan dengan Ari Lasso dalam membuat lagu karena Dani mensuperiorkan laki-laki bukan wanita. Sedangkan Ari selalu mengagungkan perempuan. Apakah karena arti kata Dewi yang selalu bagus dan terhormat dijadikannya sebagai perimbangan dalam mensuperiorkan laki-laki di dalam lagu-lagunya, atau, pada dasarnya memang ada seseorang yang bernama Dewi yang lebih berarti dan masih melekat di hati Dani dibandingkan sang istri (atau mantan istri? Tau deh nggak pernah nonton infotainment lagi)?

Setiap nama sebaiknya punya banyak arti. Berlawanan lebih seru. Atau setidaknya kita menyuntikan satu arti yang selalu bisa mengingatkan kita mengapa kita menamakan sesuatu atau seseorang dengan nama yang kita ciptakan.

Contoh, Pria Berputar-putar
Saya saat ini memanggil seorang pria dengan panggilan bundar. Dia dan semua orang (kecuali kalian yang membaca ini) akan mengartikan saya memanggilnya seperti itu “hanya” karena badannya yang gempal, sebuah celaan biasa yang setara apabila ada orang kurus dipanggil ceking. Tapi buat saya ia adalah seseorang dengan cara berpikir yang berputar-putar seperti sebuah bola bundar yang berputar tak tentu arah sehinga ia pun sering sekali melupakan inti dari suatu masalah apalagi mengerti masalah besar dari masalah yang dihadapinya. He is always gone around the bend.

Contoh lain lagi, Perempuan Mengelupas
I call her flaky karena kulitnya mengelupas akibat terkena panas. Mengapa tidak freckless? Kok addicted to Lost bgt kalau pake ini, peeler? Mungkin kalau dia sangat tomboy, tapi juga kata ini deket sama punyanya cowok, gawat kalo salah eja. Atau Snakey? Sayangnya dia tidak gesit. Ok, alasan sebenarnya adalah selain kulitnya mengelupas, dia juga seseorang yang sering sekali bertindak foolish, silly and frivolous.

So, I think I’ve made my point about “the untold meaning” that every name usually or should have. Nah, sekarang sampailah di pertanyaan besar di kepala saya, kenapa namanya Gregory House? Not Gregory Adam, or Muhammad Gregory, or even Gregory Bush. Saya sudah bertanya kepada Mr. Anderson dan dia hanya menjawab kalau yang penting adalah untuk tetap percaya. Well, I don’t.

Saya kemudian mengambil pisau bedah buatan Roland Barthes dan mengorek-ngoreknya. Yang saya dapatkan kurang lebih adalah: karena apapun masalah yang ada dihadapinya, ia selalu memberikan ketenangan karena selalu berhasil menyelesaikan masalah dengan nilai-nilai dasar yang hanya bisa berkembang sempurna di dalam sebuah rumah, nilai-nilai seperti rasa peduli tanpa pamrih dan kebenaran yang benar benar benar.

Or, you know, not.

No comments: