Kurang lebih dua pertiga dari total biaya pendidikan saya adalah hasil kerja keras ibu saya belasan tahun sebagai corporate secretary. Dan tentu saja sebagai seorang sekretaris andalan boss ia banyak mengetik menggunakan komputer.
Pagi ini ia bertanya kepada saya dan adik saya, "Kalau ngetik di laptop nantinya bisa di-print kan?"
Saya sarankan adik saya untuk meminjamkan laptopnya, karena berpikir ibu saya akan lebih mudah beradaptasi dengan laptop pc.
Ternyata tidak.
Dia sudah lupa bagaimana membuat huruf kapital, bagaimana membuat teks menjadi justified, dan hal-hal standar penggunaan Word lainnya.
Saya ingat dulu ketika saya mengetik tugas di rumah seringkali ia mengingatkan untuk memencet control s, tapi sekarang ia kesulitan mencari tombol itu. Kok bisa ya? Kalau kita sudah pernah naik sepeda, kapan pun naik sepeda lagi pasti akan ingat. Tapi mengapa ia tidak? Umur?
Saya rasa tidak. Tebakan saya karena rasa sakit hati yang tersisa sehingga dia menjadi apatis. Karena mengingat kembali cara menggunakan komputer berarti mengingat kembali suasana di kantornya saat itu. Kembali lagi mengingat pengkhianatan anak asuhnya, kembali lagi merasakan penghinaan dan sakit hati.
Siapa juga yang mau merasakan hal seperti itu lagi.
No comments:
Post a Comment