Saya suka dengan mood tiap episodenya yang tenang namun entah kenapa tersimpan kegelisahan yang besar dibaliknya. Tidak seperti kebanyakan series dengan plot sok penting dan adegan grasakgrusuk, alur Rubicon yang bercerita mengenai para analis intelijen di sebuah “think tank” bernama American Policy Institute (API) berjalan mulus, sederhana, namun dewasa. Terasa seperti sedang menonton film festival.
Ketertarikan saya lalu menguat ketika beberapa kali disuguhkan shot angle yang tidak membosankan dan permainan karakter yang kuat. Setelah semuanya terasa “benar” saya pun mulai gelisah untuk mencari kekurangannya. Segala sesuatu itu tak ada yang sempurna toh?
Yang pertama menghantam saya adalah rasa bosan. Dalam beberapa episode sepertinya sang sutradara “carried away” dengan angle dan shot dramatis yang akhirnya kebanyakan dan membuat alur cerita menjadi super lambat.
Lalu yang kedua, seperti yang saya sudah takutkan juga, adalah adegan actionnya. Sama sekali tidak ada yang baru dan termasuk super biasa. Tapi yang ini saya masih tolerir (untuk sementara waktu) karena ketegangan dan kedewasaan episodenya masih terjaga.
Tebakan saya selanjutnya untuk kekurangan series ini ada di ujung musim. Mampukah menjawab pertanyaan “sebesar apa kejadian buruk yang akan terjadi?” yang selalu ditanyakan di hampir tiap episodenya. If every conspiracy is not a theory, then what? Do they really passing a point of no return?
cat:
Rubicon bisa ditonton streaming di videostic.com atau download pakai torrent di kickasstorrents.com
No comments:
Post a Comment