“Tapi ini lebih dari dua itu, mauku dan maumu. Ini lebih besar artinya.”
“Sebesar apapun itu, semua dimulai dari hati yang menjalani. Seluruh dunia akan mengikuti.”
“Tidak, menurutku. Itu egois. Ada hal yang lebih besar dari keinginan kita. Orangtua, keluarga. Tak bisa kita tak mengacuhkan mereka. Walaupun belati dalam perutmu itu –“
“Dia bukan belati! Dia ANAK KITA!”
“Ok, anak kita.”
“Dia dan aku adalah keluargamu. KELUARGAMU. Ingat itu.”
“Tidak secara legal.”
Kuturunkan salah satu kartu as. Karena bila si belati lahir dan tumbuh tentu akan menjadi aib. Bagi keluargaku, keluarganya. Ia akan lahir menjadi musuh bersama. Kambing hitam dosaku dan dirinya. Tak bisakah ia mengerti itu?
Membiarkan atau melenyapkan hasil cinta buta, yang mana yang patut?
Duh.
No comments:
Post a Comment