Aku selalu menganggap kamulah penyebabnya. Membuatku lupa akan cita-cita, malas melakukan perjuangan, menerima menjadi orang biasa. Namun dahulu aku menyukainya, tidak melawan. Masa-masa bahagia pria yang mendapat wanita idamannya. Berkarya bukan karena terpaksa tapi karena kamu yang tidak berhenti membuatku bangga.
Tidak lagi bersama adalah awal kuanggap kamu sebagai penyebabnya. Ya. Bisa sebuah dendam, atau juga pembenaran. Aku diredam. Lapuk semua besi-besi pondasi diri, roboh dinding kokoh pemikiran, hingga rela mengumpulkan serpihan karakter yang berserakan tak beraturan.
Kini ku mulai sadar. Memang bukan dirimu penyebabnya. Kamulah yang menyempurnakannya. Kompromi seorang yang idealis tak kan pernah terjadi sebelum orang itu tau apa yang benar-benar baik untuk semuanya. Kamu yang memberiku mata, telinga dan cinta bagi raga yang sering menganggap manusia seperti benda. Yang memperlihatkan terbaik tidak selalu dari yang pertama, sempurna tidak selalu yang paling dipuja. Meski bukan berarti realistis adalah yang utama.
Kamu yang membuatku menjadi idealis. Menjadikanku manusia makhluk paling sempurna dengan segala kekurangannya. Bahwa menjadi idealis harus terus berkarya dengan hasil nyata. Ide, sikap, pandangan, atau apa saja yang dapat dirasa manusia tidak hanya dengan mata tapi juga dengan hatinya.
Kita tak pernah tau apa namanya, karena terlalu larut dalam keindahannya. Kita tak kehilangan apa-apa karena terlalu dalam menanamnya. Tidak. Tidak boleh bilang cinta karena mereka akan mendengarnya. Kita tak perlu lagi membahas yang tidak ada habisnya. Biarkan saja semuanya ada di dalam lubuk hati kita, selamanya...
Dan kini, seperti kata Soe Hok Gie, I’m not an idealist anymore, I’m a bitter realist.
No comments:
Post a Comment