Wednesday, July 19, 2006

Pot dan Pucuk Tanaman

Sebuah pot bertanya marah kepada pucuk tanaman.
“Mengapa kita tidak pindah saja? Aku malu menampung tanaman yang tidak juga berambah besar seperti ini.”
“Nanti saja kalau cuacanya bagus.”
“Di sini cuaca nggak akan pernah bagus, makanya ayo cepat kita pindah!”
“Udh tenang aja. Kamu nggak lihat apa yang aku lihat dari atas sini sih, di bawah sana tuh sebenarnya lebih aman, jadi santai lah.”

Pot tidak mau mengerti itu. Apa enaknya di bawah sini, enakan juga di atas sana. Tapi mengapa si Pucuk tidak begitu menikmatinya? Alhasil ia jadi tidak banyak membuat perubahan. Mana daun-daun baru yang seharusnya ia hasilkan? Ia juga kelihatannya tidak terlalu mati-matian mengejar sinar matahari, hanya mencari secukupnya saja. Peran Pucuk sebagai tombak utama tanaman ini menurut Pot sangat kurang!

Namun entah mengapa Batang dan para Akar adem-adem saja. Mereka selalu menemukan cara untuk berkompromi dengan si Pucuk, mereka pun santai-santai saja menyerap apapun makanan yang dihasilkan Pucuk.

Di suatu malam, Pot melihat pucuk tanaman bergoyang keras. Ia dan Batang sedang berusaha keras melepaskan diri dari cengkraman Benalu. Pucuk tanaman biasanya bisa lolos, namun sekarang ia agak sulit bergerak karena ia bersama si Batang. Benalu menang, Pucuk tanaman dan Batangnya tertebang.

Saat itu, Pot tidak dapat berbuat apa-apa.

Namun bukan berarti kemudian ia tidak berusaha. Pot berusaha mengikuti arah jatuh Pucuk tanaman. Mencoba bergerak sekuat tenaga, sayang ia belum mampu melepaskan tanaman yang ditampungnya begitu saja. Lagipula dalam perpindahannya, Pucuk tanaman berpesan agar Pot tetap bertahan dan terus menjadi penopang tanaman yang kini dikepalai oleh Benalu pemenggal si Pucuk.

Pot marah besar. “Lihat! Sekarang aku juga kan yang mempertahankan tanaman ini, katanya kita mau sama-sama bikin tanaman yang besar dengan daun2 yg banyak??!!”

Pucuk tanaman yg sudah menjadi pucuk lagi di tanaman yang lain balik mempertanyakan,”Pucuk baru kan pandai mencari makan, apa masalahnya? Kamu bilang ingin memiliki daun banyak tanaman bisa dapat banyak makanan dan cepat menjadi besar, kau ingin menampung tanaman yg besar kan?”

“Iya. Tapi biarpun menjadi pucuk, tetap saja dia itu benalu. Dapat makanan juga lebih banyak buat dia sendiri bukan dengan membuat daun yang banyak. Liat saja Batang baru dan para Akar menjadi lemah dan kehilangan kekuatan untuk menyerap makanan karena kini tidak banyak makanan yang dapat diserap. Bagaimana tanaman ini bisa tambah besar? Pucuk Benalu ini terlalu arogan. Selalu saja melihat ke atas tanpa sadar siapa sebenarnya yang menyokong tanaman ini selama ini,” ratap Pot pilu.

“Kalau begitu bergulinglah. Mau memecahkan diri dulu baru berguling atau mengajak seluruh tanaman agar si pucuk baru merasakan apa yg namanya tanah, terserah. Tapi bergulinglah…” rintih Pucuk tanaman.

“Baiklah…” Meski sedih, kini Pot pun lega.

No comments: