Tuesday, December 19, 2006

Hijau yang Biru

Tas berat kupangku
Di ujung alumunium berbentuk bangku
Berpikir mencoba mengartikan
Arti diacuhkan dan dilupakan

Sepasang kekasih melewatinya
Seorang ekspat dan pribumi juga
Bahkan ibu yang kerepotan dengan belanjaan
Semua masuk ke taksi biru

Sedihku tak terlihat mata
Hati teriris berkaca-kaca
Saat mata dan hati jelas melihat
Hijaunya taksi berubah biru

Ya, hijau aku tahu
Walau biru yang selalu dimau
Kutawarkan rumahku tujuan mengantar
Ia pun lama menatap tajam…

Hingga terucap kata terisak dari mulutnya
“Te-te-rima ka-sih…”

Tuesday, December 12, 2006

Your Last Birthday

Tiga tahun sudah kita tak bertegur sapa, kecuali di hari masing-masing kita lahir. Setiap tahun, ucapan selamat menjadi sangat berharga. Andai bisa lebih, andai bisa jadi lebih berarti.

Dan sepertinya ini adalah kali terakhir, karena berikutnya bisa menjadi dosa. Bukan berarti arti dirimu berkurang, tetap sama selamanya, satu-satunya, tapi memang selamanya kita takkan bersama.

Teruslah menjadi bintang, walau kau menetap di langit orang lain. Karena itu adalah yang terbaik.

Selamat Ulang Tahun.

Tuesday, December 05, 2006

Goes without saying

That’s what happened last night. Dia suka baca, Tim Burton pula. Dia juga download soundtrack Before Sunset di Limewire (tapi gw lebih lengkap donk), tidak suka Superman Returns karena ceritanya, bukan cuma karena make upnya Superman yang ketebelan dan dia pindah kerja karena 2 tahun gajinya nggak naik banyak. She‘s just like me, only prettier, hehe… What’s her name? I don’t know, I didn’t hear when she said it. I could’ve asked, but I was too scared, she’s older, that makes her more perfect (I always got a thing for older women). Yes, I got a crush on her.

You give me something that makes me scared all right
This could be nothing but I’m willing to give it a try
Please give me something, cos someday I might know, my heart

Monday, December 04, 2006

Before Sunseting Again

Setelah beberapa kali tersedak di Kill Bill 1 & 2 dan tergelitik di Matrix 1, 2 & 3, akhirnya tetap Before Sunrise & Before Sunset jawaranya di weekend ini. Dua film itu menstimulasi terbentuknya dua file scribbles dan tentu saja tulisan ini juga sebagai karya ketiga.

Sebenarnya lebih ke Before Sunset, lebih terasa faktual dibandingkan Before Sunrise. Atau mungkin juga karena Before Sunset adalah gambaran harapan yang masih saya tunggu akan terjadi. Entah, biar si alam bawah sadar saja yang menikmatinya.

Apa yang saya cari di film-film berseri itu? Self Esteem of course. Di sela-sela membuat presentasi untuk anak kampus 9 Desember nanti dan menemani keponakan ke Dufan, saya masih butuh kontemplasi. Dan apa yang berhasil saya temukan? Petikan favorit saya berubah! Kalau terakhir nonton adalah ini:

“I guess when you're young, you just believe there'll be many people with whom you'll connect with. Later in life, you realize it only happens a few times”

menjadi ini:

“… the true work of improving things is in the little achievements of the day, and that’s you need to enjoy, just to stay in that feel.”

The weird thing is I really don’t know what exactly the changing means, only I felt so relieved. I guess contemplating and sex are the same after all, makes you wanting more! Hehehe…

Thursday, November 23, 2006

Traveling alone is traveling within

Kata-kata itu pernah saya baca di karyanya Desi Anwar saat launch bukunya di Senayan City. Dan baru saja saya membaca kata-kata Seno Gumira,”Perjalanan adalah penjelajahan ke dalam diri sendiri”. Apakah ini petanda saya harus segera melakukan perjalanan? Maunya, tapi duit dari manaaaaa? Jadi daripada pergi jauh-jauh dan harus bayar pula, mending liat pameran interaktif keramik di Japan Foundation aja, gratis! Hehe…

Di tempat yang seharusnya menjadi perpustakaan dan galeri, perupa Miyuki Anai dan Kurniawaty Gautama, mengubahnya menjadi seperti ‘backyard’ alias halaman belakang rumah-rumah di Jepang. Daun-daun kering sengaja dibuat berserakan seperti di taman, mengelilingi beberapa catur jawa dan congklak dari tanah liat yang siap dan boleh dimainkan siapa saja. Di atasnya tergantung awan-awan, bintang-bintang dan bulan sebagai tempat para pengunjung menggantungkan kertas bertuliskan harapan mereka.

Di sana saya berhasil mengurangi ketakutan saya terhadap kodok. Meski dari tanah liat, saya tadi memegangnya! Itu karena kodok-kodokan itu divisualkan berlomba-lomba memasuki rumah-rumah sambil bermain, menyimbolkan manusia yang mencari kedamaian di suatu tempat tidak lagi dengan cara berjalan atau berlari namun melompat! Agar tidak menjadi kodok (katak) dalam tempurung yang selalu dalam kepenatan dan rutinitas namun menjadi seseorang yang selalu bugar dan mengisi hari-hari dengan hal yang positif dan menyenangkan. Walau siang bolong, hati serasa temaram…

Selain itu walau di dalam gedung dan dalam ruangan yang kecil, saya bisa merasakan besarnya pesan yang ingin disampaikan penciptanya. Mereka berhasil menyentuh dan membawa saya pergi dari lantai 2 gedung Summitmas 1 ke ujung hati paling dalam untuk mengambil kembali harapan dan mengajak saya untuk menggantungkannya kembali ke tempat yang tinggi namun tetap dapat diraih pada saatnya nanti.

Lezat sekali makan siang hati saya hari rabu ini, jadi mau lagi, tapi kalau bisa jangan yang imitasi, pengen banget bisa ketemu samurai asli.

Monday, November 13, 2006

be present

Postingan ini sebenarnya udah agak lama ada di draft, belum selesai2. Tapi kemarin tiba-tiba dapat tambahannya, jadi coba diselesein tapi ternyata kalau nunggu selesai kayaknya nggak akan selesai-selesai, hehe…

be present. Dua orang creative director udah bilang itu langsung ke gw. Dan baru aja Beau Burroughs bilang itu ke Sarah Jennings. Walau bisa aja dia bilang gitu cuma trik buat bikin tenang Sarah so he can get laid with her. But either way, it’s still a good thing.

Di hari kerja, gw biasanya udah nyiapin rencana buat weekend mau ngapain aja. Mulai dari hari Sabtunya mau bangun jam berapa sampai nentuin hari seninnya akan ijin masuk siang atau malah sekalian cuti mendadak karena kebayang pasti akan capek banget ngelakuin semua rencana itu. Tapi biasanya yang terjadi adalah Sabtunya seharian tidur-makan-nonton tv series-makan-tidur lagi. Terus minggunya paling nemenin nyokap belanja ke some hypermart atau ITC-ITC. Bukannya recharge malah tambah capek.

Bandingkan sama yang ini. Di hari kerja berangkat agak pagian (walaupun malemnya baru pulang jam 2) dan ngedatengin bank yang nggak ada di jalur menuju kantor. Terus membagi-bagi uang gajian/honor SJ-an yang ada di bank tersebut ke dua account yang berbeda di dua bank lainnya. Lagi ngantri tiba-tiba ketemu junior kuliah dulu yang sekarang kerja di USAID. Tanpa sengaja jalur ke NGO pun terbuka, padahal selama berbulan-bulan berusaha menghubungi teman yang lain yang juga kerja di NGO dan belum pernah berhasil.

Atau kalau lagi badung dan nggak terlalu banyak kerjaan, naek feeder busway dari BTC jam 9 dan sampai di Plasa Senayan pas mereka baru buka. Abis itu ubek2 Kinokuniya sampai pusing ngebacain judul dan sinopsis buku satu-persatu dan tanpa sadar ngabaca lagi yang awal-awal tadi udah pernah dilihat dan baca. Tapi disaat lagi pusing-pusingnya, trilogy Griffin & Sabine yang bertahun-tahun dicari nggak dapet-dapet (bahkan yang minjemin buku itu pertama kali ke gw juga belum dapet sampai sekarang) muncul di depan mata, langsung deh ngambil tanpa mikir harus kehilangan 600rb (but i really felt worth for it).

Terus disaat weekendnya. Pagi-pagi milih salah satu nomor telepon perempuan cantik di phone book dan ngajak dia jalan. Walaupun nggak bisa dapet malam minggunya karena dia pasti kencan sama pacarnya, tetap aja seru. Sesampainya di rumah tiba-tiba saja kepikiran sesuatu dan langsung menulisnya walau itu berarti belum ganti baju dan makan. Dalam waktu setengah hingga satu jam langsung jadi satu cerpen baru, meski anehnya tema cerpennya kematian.

You see, I’m starting to live my life again by being present, or present man that is. Karena kalau dilihat-lihat dari kata-nya sendiri sebenarnya secara tersirat kata itu sudah menyampaikan makna dalamnya. Nih ya, selain berarti SAAT INI, present kan memiliki arti lain sebagai HADIAH. Dan bila arti harafiahnya digabungkan, present pun akhirnya mengandung arti bahwa MENIKMATI SAAT INI ADALAH SEBUAH HADIAH. Hehe…tau deh bener atau nggak.

Anyway, cobain deh, be present, jangan terlalu pusing sama masa depan apalagi masa lalu. Toh kita nggak akan bisa membeli waktu. So, selamat menikmati hari ini ya dan pastikan untuk dapat menikmatinya, asal jangan keterlaluan aja.

Carpe diem friends! Carpe diem!


Note:
Beau Burroughs is Kevin Costner and Sarah Jennings is Jennifer Aniston in Rumor has it…

Friday, November 10, 2006

Pahitnya (Nonton) Jomblo Lagi

Meskipun nggak suka kopi, tapi gw suka film ini karena membuat gw merasakan kembali kepahitan. Biarpun udah nonton berkali-kali, tetep aja hati gw terasa ditusuk-tusuk dan perasaan ditendang-tendang, nyebelin. Jadi karena itulah gw putuskan buat nonton sekali lagi di VCD, hehe...Hasilnya? Ada yang terasa tusukannya malah makin dalem tapi ada juga yang tendangannya lebih pelan. Here’s some of them why

Logatna, euy…
Dulu tuh gw benci bgt gaya bicara Ringgo. Saking bencinya sampe nggak pengen temenan sama siapapun yang berlogat kayak gitu (dan ingat gw kuliah dimana?). Jadilah gw susah dapet temen dan nggak bisa belajar bener-bener bahasanya. Sampe akhirnya diajarin untuk mengerti logat itu sama si “Agus” gw itu (bukan, bukan perihal gay atau semacamnya, cuma analogi aja, nanti juga ngerti) dan sampe sekarang gw pun menjadi sering berlogat seperti itu, dan belum tahu gimana cara ngilanginnya.

Karakter yang mewakili
Sebenarnya sih dia bukan kayak Agus yang smart & funny gitu. Aslinya dia lebih kayak Asri yang memenuhi criteria semua orang sebagai seseorang yang cantik digabung sama kepribadian kayak Rita yang keibuan dan penuh perhatian.
Karakter Doni juga terasa deket. Sahabat gw waktu kuliah adalah sex master of multiple girls, hehe tapi sayang nggak bisa meraih gelar grand master karena sekarang punya gelar lain yang abadi, MBA. Tapi pada dasarnya sekarang ini mereka sama, dewasa karena sering bercinta, hahaha….

Exact moment
Yang Ultimate adalah adegan yang suasana dan tokohnya selalu berubah sendiri setiap kali nonton lagi, yaitu waktu dia jadi Agus di Gumati (waktu itu di café roti) dan gw jadi…Lani.

Nyesel juga dulu nonton film ini pertama kali nggak bareng “Agus” gw itu. Padahal dia dulu ngotot ngajak nonton bareng walaupun sebelumnya dia udah nonton sama pacarnya, “filmnya kita banget,” katanya. Yah siapa tahu kalau nonton bareng bisa ada kejadian yang merubah keadaan sekarang? hehe...
Oh, well…the past surely never dies and it definitely kills...

Thursday, November 09, 2006

What’s up on me? #1

Sebagian orang kini jarang catching up lagi dengan teman-temannya karena alasan waktunya tersita oleh kerjaan. Mereka kemudian mengandalkan blog milik temannya untuk mengetahui kabar terbaru tanpa harus menghubungi atau bertemu. Begitu juga dengan gw, hehe…Tipe-tipe yang masih selalu bertanya kapan pekerjaan bisa berhenti jadi alasan setiap ada yang ngajak jalan atau sekedar ketemuan.

Tapi ternyata buat gw setiap saat melihat sesuatu yang baru dan menuliskannya di blog juga bukan hal yang sempat untuk dilakukan, kadang hanya sempat menulisnya di journal tanpa edit namun dilindungi password. Tapi ya itu, yang tahu cuma gw sendiri. Sedangkan gw nggak (mau) idup sendiri di dunia ini, Superman aja nggak tahan, gimana gw?

Nah, karena itu gw sekarang mau bikin daftarnya (diusahakan diupdate per minggu, kalau nggak ya per bulan aja yak). Daftar yang isinya hal-hal terbaru yang gw dapet atau baru kembali gw lakukan. Kalau tertarik sama detailnya silakan melakukan usaha yang lebih ya jangan cuma gratisan baca aja, hehehe…

Here’s the list:

Ponsel 3G, Sony Ericsson K608i. Murah dan terbukti udah bisa dipake buat video call, tapi belum tahu caranya nonton tv.

Dua buku kumpulan cerpen Kompas, Jl, Asmaradhana sama Riwayat Negeri yang Haru. Dua-duanya belum sempet dibaca.

Baru selese baca Batman, A Death In The Family. Ternyata pembaca komik tahun 80-an sadis2, hehe…”Robin died by the readers, not the writers”

Dua mainan yang menghabiskan 5 giga ibook gw, Call of Duty 2 sama Football Manager 2007. Mereka memaksa gw mengusir Miyabi dari hardisk dan pindah ke dalam 3 keping CD (hehe, lumayan banyak ya).

Shaver BrAun. Lebih bersih dari sebelumnya dan lebih gampang dibersihinnya. Sayang masih pakai batere, bukan listrik (abis yg listrik mahal bgt, di atas 1 juta).

Bercinta tanpa rasa.

Dua cerpen selesai, Kado sama Takdir Takbir. Tapi belum bisa wrap, masih mau diedit lagi dikit.

Dua program TV lahir, belum selesai tapi. Rencanya mau gw ajuin ke om gw sang Eksekutif Produser di salah satu stasiun tv dan PH.

Side Job translate-an.

CD player Philips. Beli ini di Electronic Solutions cuma karena modelnya keren. Tapi ternyata suaranya bagus dan bisa ditempel di tembok saking tipisnya! Bener-bener keren! Tapi itu berarti tambah lagi beban cicilan yang harus gw bayar…*sigh*

Bola-bola Speedball penyangga ibook.

Club 8 di itunes jadi ada tiga album. Nouville, The Friend I Once Had sama Strangely Beautiful. Album yang terakhir bagus banget.

Mouse putih Mediatech. Cukup efektif untuk memenangkan pertempuran di Call of Duty 2, hehe..

CSI season 6, Thank You for Smoking, The Lake House, The Girl in The Café, 36, The Unfinished Life. DVD-DVD yang terakhir gw beli dan tonton.

Setelah namatin Star Trek: Encounter, gw beli God Hand. DVD PS2. Ini side storynya Jin di Tekken. Seru dan menghibur. Kita bisa bikin jurus sendiri.

Huff..ternyata lumayan banyak ya. Itu pun baru material aja. Belum mengenai hubungan, pengetahuan, gosip, keyakinan, dll. Sepertinya nggak akan cukup kalau ditulis semua. Tapi namanya juga usaha, siapa tahu abis ini ada yang ngajak ketemuan, huehehe…

Saturday, October 28, 2006

"Ingat-ingatlah semua salahku: caci, dengki, semuanya yang membuatmu sakit. Sudah semuanya? Berapa harus kubayar? Sejuta cek maaf cukup? Atau kau ingin tunai seperti mata dibalas mata? Berapapun kau jual, kubeli!

Untuk maafku? Gratislah untukmu :-)

Selamat Idul Fitri 1427 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Monday, October 09, 2006

Senior yang Junior

Seorang sutradara senior mengatakan TVC yang dulu kami kerjakan tidak maksimal (salah satunya) akibat saya terlalu sok tahu dengan mengajukan arahan untuk menghadirkan storytelling ad yang dilakukan dengan motion control approach, karena menurutnya karakter dan emosi tidak akan terbangun. Mungkin mengenai tidak cocoknya storytelling ad dan motion control menurut dia itu benar. Tapi yang dia lupa (atau memang tidak pernah mengerti) bahwa TVC yang saya dan tim maksud dan inginkan bukan storytelling ad menye-menye atau storytelling yang menyentuh secara mendalam yang memerlukan karakter dan emosi yang mendalam. Maksudnya, iklan yang ingin kami buat bukan untuk menjadi terlalu dramatis, namun menjual dengan elegan dengan cara yang berkesan massif dan canggih namun tetap bercerita. Suatu upaya untuk menggambarkan keunggulan sinyal TELKOMSEL dan inovasinya selama sebelas tahun yang selalu menjadi yang pertama di generasi-generasi GSM di Indonesia. Kami pun sudah punya ‘klasifikasi’ sendiri hasil seloroh CD kami waktu itu, yaitu storryselling ad!

Di pre-pro awal sepertinya director mengerti hal tersebut, ia pun setuju bahwa motion control adalah pendekatan yang paling cocok. Namun sayang ternyata ia tidak mengerti keseluruhan pesan yang ingin disampaikan dalam iklan kami ini.

Bukti dari hal tersebut terjadi pada salah satu, saya ulangi lagi, salah satu klimaks kesalahannya, yaitu salah mengambil shot! Itulah pertama kalinya saya dan art director melihat seorang director salah mengambil shot. Bukan. Yang ia ambil bukan shot untuk stock seperti yang dilakukan director awamnya, ia mengambil shot yang benar-benar tidak berguna.

Biar saya terangkan kesalahannya. Shot yang mau diambil adalah adegan video call. Adegan setelah transisi antar penelepon yang dilakukan dengan cara crash zoom ke dalam layar ponsel lalu warping ke tempat lawan bicara. Untuk mendapatkan tempat lawan bicara tentu saja angle yang harus diambil adalah frontal dari depan, namun yang ia ambil adalah frontal dari samping. Ketika ditanya alasannya,”Iya, kan nanti ada transisi cut/dissolve” Duar!!! Kontan saya dan tim meledak, sepanjang iklan telah disetujui bersama bahwa transisinya tidak akan ada cut sama sekali, tiba-tiba di bagian yang transisinya tidak mungkin dengan cut malah ia lakukan. Meski kemudian ia mengakui sudah salah mengambil shot (dan memang terbukti salah karena kami tidak pakai sama sekali shot2 itu) tapi tetap saja…ia beruntung GM marketing klien sedang diajak makan oleh account director dan president director kami, kalau tidak…

Tapi sepertinya kejadian itu membekas dengan arti yang berbeda di dalam diri sang director, ga papa juga, namun sayangnya ia mengungkapkannya ke banyak orang dengan cara dan pesan yang berbeda (seperti yang ada di dalam blognya), sehingga kami (agency) dan PH mendapat pandangan negatif yang mempengaruhi kredibilitas kami. Saran saya sih, jadi Public Relations aja gih, hasilnya lebih bagus tuh daripada nge-direct.

Mungkin ia sudah senior di bidangnya, namun saat membuat iklan kami ia sama sekali bukan itu. Banyak sekali pekerjaan rumah yang tidak ia kerjakan. Sebagai contoh adalah director shooting board yang plek ketiplek persis eh salah maaf, 80% plek ketiplek, dua puluh persen adalah tambahannya dia yang tidak sesuai dengan pesan iklannya. Dan hal tersebut terjadi berkali-kali meski kami sudah minta revisi, sehingga kami harus merevisi di kantor klien sepuluh menit sebelum final prepro meeting.

Mengenai art director kami yang dianggapnya nggak pede sehingga mengeluarkan terlalu banyak referensi yang membuat (ingat ini menurut dia) iklannya kehilangan identitas, malah yang terjadi waktu itu adalah sebaliknya. Kami melihat ia kebingungan sebenarnya iklannya mau dibuat seperti apa. Treatment-treatmentnya terus bertabrakan dengan isi pesan. Karena itu kami bantu dengan menghadirkan referensi-referensi untuk membantunya. Agency, PH bahkan Post House sih mengerti-mengerti saja, cuma dia saja yang kebingungan sendiri. Seperti timing slot masuknya super, masak tidak diperhitungkan saat offline sehingga kami harus merombak kembali hasil offline, beruntung sebelumnya produser kami sudah mengantisipasi sehingga kami bisa masuk dan melihat hasil offlinenya lebih awal, hal tersebut telah berhasil mencegah kesalahan yang lebih besar. Namun sayang tindakan pencegahan tidak berhasil dilakukan pada tahap online, akibatnya tim agency harus terus supervisi rombakan online hingga jam enam pagi.

Kalau kemudian ia banyak mendapat job setelah orang tau ia menggarap iklan kami, ya sudahlah. Tapi mungkin orang2 itu harus tahu bagaimana sebenarnya iklan kami ini akhirnya bisa jadi. Yaitu karena DOP yang dengan kompetensi dan kesabarannya membuat iklannya tidak blontang blonteng. Lalu ada Mas astrada yang dengan ulet memberi arahan ke semua talent terutama si bapak yang masih juga kaku sampai akhir sementara ia lebih sering ongkang-ongkang kaki bukan karena yang paling mengerti tapi menjadi yang paling terakhir mengerti. Serta peran besar terakhir ada di para editor post house yang sudah cukup sering bekerja dengan kami.

Jadi kalau ternyata ekspektasi director tidak sesuai dengan realita saat membuat iklan kami, mungkin ia harus mulai melihat ke dalam dirinya dahulu daripada sibuk menilai dan bercuap mengenai jeleknya orang lain.

Thursday, September 28, 2006

Kebenaran bukanlah kenyataan

Waktu Batman (Christian Bale) bilang ke Rachel Dawes, “It’s not who you are underneath, it’s what you do that defines you”, gw tau itu bener, and I love Batman in many ways.

But somehow I disagree with his statement. For me, “It’s who you are underneath that defines you, not what you do.”

Here's why:
- “Loe mau ngapain lagi datang ke sini? Why haven’t you give up on me? Pokoknya apapun yang loe mau omongin jawabannya nggak!!!”
Hmm…Okay, Gw mau bilang kalau kita udah tiga tahun lebih putus silaturahmi, sedangkan aturan di Islam cuma 3 hari, selebihnya diangap dosa besar. Gw ke sini mau nyoba jalin itu lagi, but if you say so…selamat menjalankan bulan Ramadhan penuh dengan dendam…
- “Wah copy2 loe terlalu langsung ya, nggak ada twist.”
Yet that’s not the way I usually speak or write, I did it so we can get fast approval through the client since the AE’s can’t sell a thing. And…didn’t you hear yourself these days? “Udah ikutin aja maunya mereka, yang penting cepet selesai”. Oh I really want to stamp your forehead with a really big capital words, I TOLD YOU!
- “Segitunya banget kerja, kalau cuma buat duit segitu aja kerja sama gw deh, gw bayar lebih.”
Thanks, but no thanks. I know where you got your money…I know what I gotfrom this job is not worth it, but at least it’s a clean money…
- “Ambil cuti kok pas lagi banyak kerjaan, karena urusan keluarga lagi, egois banget.”
Yang ngomong nggak tahu kalau orang rumah udah bilang kayak gini, “Emang sih keluarga sudah nggak mampu ngidupin, tapi sampai kapan pekerjaan selalu di atas keluarga, memang tempat kerja itu rumah kamu?”

Huff…I guess to be good is to be misunderstood.

Wednesday, September 27, 2006

Hai lihat kami baikan lagi! Hehe...;p


Sunday, September 17, 2006

Kebahagiaan yang tak terlihat mata

Beberapa teman membagi masalahnya. Masalah yang sama, masalah saya juga. Menyenangkan. Mengetahui kalau mereka masih percaya, setidaknya membuat saya melupakan masalah sama yang melanda saya juga.

Pada dasarnya mereka bertanya bagaimana kami dapat menang dalam perang ini, perang melawan kebodohan orang lain yang membuat hidup kami lebih berat. Sebuah kehidupan yang harus dijalani dengan terus menerus kehilangan begitu banyak teman, keluarga, waktu, kesempatan, dan yang paling menyakitkan, harapan.

Namun kemudian ada salah satu dari kami (hampir dapat dipastikan) berhasil keluar dari kungkungan masalah yang kami semua alami. Ia tidak pergi atau melarikan diri. Ia berhasil meraih harapannya.

Saya ikut bangga, lebih-lebih bahagia. Karena dengan begitu berkurang satu yang harus dijaga, sehingga kedepannya saya bisa lebih fokus berperang ke hal yang lebih besar daripada melawan kebodohan orang lain ini, yaitu perang melawan kebodohan diri sendiri. Seperti yang terjadi sampai saat ini.

Nggak ada brief, deadline mepet. Berarti kerjakan secepatnya tanpa kesalahan, lalu gunakan waktu lebihnya untuk crafting masterpiece yang lain atau membangun kehidupan. Ibarat air mulai pasang dan kita harus membuat sebuah kastil di atas pasir, semakin lama menghabiskan waktu semakin sia-sia nantinya. Kalau kita Tuhan sih tidak apa-apa. Yang kapan saja tinggal mengalihkan air pasangnya atau mengubah pasirnya menjadi adamantium sehingga meski air pasang kastil tetap bergeming.

Setelah tahunan setia bekerja mengubah sampah menjadi karya hingga mengorbankan keluarga, lalu tiba-tiba dianggap pengkhianat karena sedang jatuh cinta? Atau meski naik pangkat namun masih menerima lebih kecil dari yang belum? Saran saya, mulai saja bangun kerajaan bisnis sendiri. Walau dari nol, yang penting tiap proyek bisa gol. ‘Cos as far as i know, loyalty for a company is a lie. Hanya sebuah harapan semu yang diciptakan pemilik usaha untuk mengurangi pengeluaran seperti pemerintah menghargai guru di Indonesia dengan slogan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”, tanpa menghitung dengan benar kebutuhan atau sama sekali peduli dengan kesejahteraan mereka. Mau kerja kayak apa ya dapatnya segitu juga.

Mau ikut perang sampai kapan? Sudah, mulailah jadi raja, jangan mau hanya jadi budak yang dipuja.

ps:beberapa contoh yang ada hanya drama belaka, tapi kalau sudah terlanjur percaya itu nyata ya saya mau berkata apa, huahahahaha…

Wednesday, September 06, 2006

vuck

V vor vague vapid vanity view ov very vicious vigilant vindication

Saturday, September 02, 2006

"kok pacarnya tiba-tiba unjuk gigi gitu ya, Bos? :p"
"Masudnya?"
"Tiba-tiba muncul di mana-mana aja gitu. Ya mungkin ada hubungannya sama elo."
"Mungkin."
"Pasti kali maksud loe? Haha...Secara loe berhari-hari ama ceweknya bedua doank ngine--"
"Woi, iye tau. Tapi masih SMS-an tuh, jadi ya harusnya nggak papa. Yang dulu aja satu kota gw ga disentuh tuh ama cowoknya, hehehehe..."
"Masih SMSan? Biar kesannya nggak langsung ngebuang ya? Canggih. You're becoming a Jedi Master."
"Sialan, yah setidaknya gw ga kayak elo, lord sidius."
"Ah kayak gituan nggak ada yang putih, Bos. Item semua, opacitynya aja yg beda. Akhirnya ilmu gw terwariskan. hwakakakak"
"Gw belajar sendiri neh, ilmu loe tuh sesat, gw ga mau."
"Kenapa? Karena akhirnya gelar gw MBA? Justru itu."
"Lah kok malah justru itu? Loe mau ngajakin gw ke dark side?"
"Bukan gitu. Gw malah mau ngajarin biar loe ga kayak gw."
"Ow, kirain...hmm...eh, Man..."
"Ape?"
"Sorry ya gw ga dateng ke nikahan loe."
"It's okay. Tapi loe tau kan loe harusnya dateng?"
"Yeah, i know. I NEED to be there."
"Yup, there u go."
"But we're good now, right Matey?"
"Sure, but only if you accept my 'playacology'."
"Hahahaha...okay. That would be fun."

Saturday, August 26, 2006

into the same hole again

Ada suatu masa di mana gw bener-bener ga percaya sama satu orang pun. Dan itu berlangsung cukup lama. Karena pasti apa yg gw sampein itu diterima salah sama orang itu dan efek snowball membuat kesalahpahamannya semakin parah. Gw pun menjadi orang yang dibenci banyak orang karena kesalahan yang nggak pernah gw buat.

Sekarang2 ini gw mulai masuk ke masa itu lagi. Penyebabnya sederhana, tiba2 ada orang lain yg tahu info yg gw share cuma ke dua orang yg (saat ini) paling gw percaya dan orang yg (seharusnya nggak) tahu itu nggak mau membagi dia tahu dari mana.

Gara-gara itu gw mempertanyakan loyalitas para sahabat. Sesuatu yang bener-bener gw anggap tabu. Kayak ngelakuin dosa besar rasanya, tapi mungkin karena memang iya. Untung belum mempertanyakan ke dua2nya, secara yg satu lagi nikah. Goblog bgt kalau sampai itu terjadi.

Mungkin bukan hal yg penting buat orang yg tau itu (krn emg seharusnya dia nggak tahu), tapi kenyataan kalau info itu bisa keluar dari “jalur komunikasi aman” gw adalah sesuatu yang berdampak sangat besar.

Pertama, yang pasti gw jadi ga percaya sama orang yang tahu itu. Gw ngerti sih, kalau dia ngasih tau ke gw dia tahu dari siapa info itu, berarti dia mengkhianati orang yg ngasih tau info itu. Tapi dengan tidak memberitahu, buat gw itu berarti dia membela pengkhianat. Kita liat sejauh apa dia bisa dipercaya.

Kedua, gw jadi curiga sama semua teman yang ada, temen kantor, Fikom, Metro, semuanya, bahkan saudara yang sudah jadi temen juga.

Dalam menjalin hubungan baik pertemanan, persahabatan atau persaudaraan, sebisa mungkin gw terbuka dan sejujur mungkin. Karena memang nggak banyak juga yang gw anggap sebagai teman atau sahabat, saudara aja ga sampai lima yang gw percaya.

Gw tahu betapa capeknya hidup sendiri tanpa bisa membagi kesedihan apalagi kebahagiaan, rasanya sepi bgt. Dan gw udh cukup lama hidup di lubang tanpa orang lain itu. Gw benci lubang itu, tapi untuk sebuah kepercayaan, i have to get back into that hole.

Ya, itulah self defence mechanism gw. Tidak peduli sama orang lain. Hell is other people, sartre once said.
Jadi sampai akhirnya gw tahu itu siapa atau mungkin sampai tahu alasan sebenarnya, i‘ll always in a bitchy mode.

Syuh!

Friday, August 25, 2006

Late Hour Stupidity

I’m awake to be exact.
(Yeah, I woke u up. That’s why
Why in the world I woke her up, anyway?
Why did I have to call her in the first place?
Why not some other padangneese?)

I’m awake and start to think
Nooooo….
(Don’t think.
Ur not gonna stop doing that
Now I got problem to forgive myself)
I mean, i'm sorry.

No worries.
Oh no..no..no..no…
(It’s easier if u mad or angry
This kinda thing stucks in my head
While I got lines and lines to be made)
Just go back to sleep
Please

Will do
Ok.
Do it now
Just close ur eyes and count those sheeps

In a while
Nooo
Now
U need to sleep now
(I need you to go back to sleep now)

…..
(Oh I hate this
Can’t take the guilt anymore
I better go home
Who knows I’ll be able to sleep
And forget all this)

(Damn it!)

Tuesday, August 22, 2006

the battle within

I hate my family, they judge
I hate my friends, they’re narcissist
I hate my workmates, they never really understand
I hate my boss, he just get things talked not get things done
I hate my girl friend, she’s too sensitive
I hate my ex, she haunts me all the time
I hate God, He knows everything about me

I hate myself hating them all.

Sunday, August 20, 2006

Dari mata turun ke hati


Di bawah jembatan ratu plaza setelah beli tiket Trans Bintaro, saya baru sadar kalau harusnya beli tiketnya pake lima puluhan saja, bukannya sepuluh ribuan. Mengapa? Karena saat itu saya lagi haus sekali dan tukang minuman belum tentu punya kembalian. Ya masa’ beli minumannya di OhLaLa atau Carefour…

Coba dulu lah ke tukang minuman, kenapa juga harus lompat ke kesimpulan padahal masalahnya juga belum nyata.

Sesampainya di tukang minuman, sepertinya yang haus bukan cuma saya. Di samping penjaja minum, seorang mbo-mbo sedang menenggak aqua dengan kencangnya. Saya merasa geli sendiri melihatnya. Senyum saya mengembang, tapi cuma sebentar. Karena setelah saya melihat bakul jamu besar yang ada di sebelahnya si Mbo, saya jadi malu hati sendiri. Karena memang sepertinya ia memang sedang haus sekali.

Dari mata turun ke hati, begitu katanya. Cuman yang jadi masalah adalah saya ngga punya uang kecil itu tadi. Saya jadi ragu untuk dapat membantu si Mbo.

Tapi kalau hati sudah berbicara, apa juga dilakukan. Makanya langsung saja saya coba tukar uang ke tukang tahu pong. Si bapak penjaja tahu pong lagi melayani pembeli. Kebetulan ia sedang menyiapkan kembalian. Ia menghitung agak keras, sayangnya perhitungannya tidak pas. “Satu, dua, tiga, dua, empat, lima setengah, enam setengah…Nah ini kembaliannya” Bapak tahu pong memberikan kurang lebih 11 ribu rupiah (karena saya lihat ada satu 5 ribuan dan sisanya ribuan) ke pembeli yang awalnya memberikan Rp 10 rb buat sepuluh tahu pong dan sepotong lontong. Saya melongo melihatnya, lebih lagi si pembeli. Aduh, Pak…..Tapi sepertinya si pembeli orang baik, sebelum saya menawarkan bantuan, Ia langsung membantu si bapak menghitung kembalian dengan benar.

Melihat sepertinya akan lama, saya beralih ke tukang siomay, karena saya harus bisa melaksanakan niat awal saya sendiri yang sedang tertunda ini. Namun, dengan sombongnya tukang siomay menolak untuk menukarkan uangnya. Padahal saya sempat melihat laci uangnya penuh dengan puluhan ribu. Tukang siomay sialan. Dia lupa apa kalau ikhlas membantu orang itu niscaya akan lebih mudah mendapat berkah dibandingkan berdagang dengan itung-itungan yang berlebihan? Terserah lah, tanggung sendiri saja pokoknya.

Hmm…Tidak lagi ada penjaja yang bisa ditukarkan uangnya. Setidaknya itu yang saya pikir saat itu. Saya lupa bahwa sebenarnya masih ada tukang minuman yang belum saya minta bantuannya. Memang agak dilematis karena si mbo ada tepat di sebelahnya. Tapi mau bagaimana lagi, sudah tidak ada pilihan lain.

“Mas, maaf, boleh tuker puluhan?”
“Minumnya apa, Mas”
“Nggak minum”
“Wah nggak ada, Mas”

Wah ini sih sama aja kayak tukang somay. Dasar pelit. Tapi tiba-tiba…

“Ini saya ada, Den. Campur ribuan ndak papa?”
“Eh…oh, Mbo. Iya boleh, nggak papa.”

Saat si Mbo sedang mengeluarkan uang-uangnya dari dompet kecilnya itu, saya coba laksanakan niat awal saya yang sepertinya keadaannya saat ini malah kebalikan.

“Mbo, masih ada beras kencur? Saya mau.”
“Wah jangan, Den. Itu sudah tinggal ampas, nanti malah jadi penyakit.”
“Oh…kalau gitu yang lain aja Mbo, itu yang kuning-kuning juga ga papa.”
“Sing iki? Wah Den, iki kunyit. Nggak enak kalau tidak dicampur, lagian khasiatnya nggak terlalu pas buat Aden.”

Entah apa maksud sebenarnya, yang pasti saya merasa mulai kehabisan akal. She really caught me off guard.

“Ya udah terserah Mbo aja, yang penting bisa bikin saya seger.”
“Lha ya mending beli teh botol dingin sama Mase’ iki, dijamin pasti seger.”

Hukk! Langsung kena di lubuk. Bodoh. Bodoh. Bodoh.

“Kalau itu sih rasanya udah apal Mbo. Kalau jamu si Mbo kan beda”
“Wah kita kebalikan ya, Den…hahaha…mungkin karena si mbo jarang beli minuman kayak gitu ya, habisnya mahal.”

Oh My God….I’m Sorry.

“….katanya tukang minuman nggak punya kembalian Mbo, kalau saya nggak beli.”

“Yah, mungkin memang kurang uangnya tukang minuman…Nah, ini tukerannya, Den. Coba dihitung lagi”

“Iya Mbo. Terima kasih. Permisi.”

“Maaf ya Den, jadi gak bisa ngerasain yang seger-seger”

“Nggak papa Mbo. Saya sudah segar kok”

…dan itu karena Mbo. Terima kasih banyak, Mbo. Semoga Mbo mendapat balasan yang paling sepadan dari Tuhan….

Friday, August 11, 2006

be the second but the best, not the first but the last

“Syukur tahun ini bisa pulang kampung. Sudah kekumpul duitnya”
“Oya? Rencana naik apa? Bis? Kereta?”
“Oh enggak, ngajak temen yang punya motor aja, patungan. Paling banyak habis 150, kalau dibagi dua kan jadi ga berat diongkos. Soalnya keperluan mudik lainnya masih banyak”

Duak! Kepala gw langsung ketiban palu hakim 1000 ton. Rp 150 dibagi dua adalah budget yg ia tabung selama setahun untuk bisa pulang kampung, itupun baru sekali jalan naik motor ke Madura. Tuh tukang sate udah gila. Hehe ya nggak lah, keadaan yang memaksa.

Gw langsung berpikir, ini pasti gara2 dia salah tempat jualan. Masak dia jualan sate di deket sate Apjay yang terkenal itu.

“kenapa dagang di sebelah mereka, Pak? Dagangan mereka kan terkenal nomor satu”
“Saya sudah coba cari tempat lain, Dik, dan istilahnya jadi nomor satu di sana, tapi penjualan gak sebaik di sini”

Ternyata dia sudah berusaha menjadi nomor satu dan memang berhasil jadi nomor satu juga, tapi bila dilihat lebih besar lagi dia sedang menjadi nomor dua, dan kalau mau ditarik lagi dia mungkin itungannya bukan apa-apa.

Jleb! Tiba-tiba sebuah pedang lancip nan panjang menusuk hati. Itu yang terjadi di agency ini. Yang katanya nomor satu dan diakui sebagai nomor, tapi tidak pernah menghasilkan karya nomor satu bagi klien nomor satunya. Dan aku tahu kenapa. Semua yang ada di sini merasa sebagai nomor satu, merasa masih menjadi yang terbaik sehingga segala petanda bahwa mereka bukan lagi nomor satu tidak terbaca. Klien utama yang kecewa dengan hasil beberapa bulan terakhir, tidak lagi percaya dengan rekomendasi yang diajukan, mempertanyakan semua langkah yang diambil agency yang notabene adalah konsultannya.

Si tukang sate kemudian mengajukan pertanyaan mendalam

“Mas, kenapa makan satenya di sini, bukan di sana?”

Jawabannya adalah, karena di sana pelayanannya ga enak. Mereka terlalu sibuk mencari perhatian untuk dirinya sendiri sehingga melupakan kepuasan pembeli. Seperti pesanan yang datangnya lama, tidak sesuai dengan yang diminta bahkan tidak datang karena mereka begitu sibuk sendiri membanggakan diri.

Tapi gw menjawabnya, “di sana bosen, mau nyoba ngerasain yang lain”

Dzig! Gw kepukul kata-kata gw sendiri. Inilah ketakutan gw dari kemarin yang terbukti, meski baru oleh kata-kata gw sendiri, tapi ini adalah bad feeling yg mulai jadi masalah nyata. Beberapa minggu terakhir gw uring2an di kantor karena setiap mau mengatakan bad feeling ini belum didukung sama bukti nyata, hanya instink yang biasanya gw bahas sama CD lama dan kemudian bersama-sama mencegahnya jadi masalah nyata. Tapi sekarang gw gak bisa melakukan itu, belum ada lagi orang yang mengerti hal itu dan tau bagaimana menyelesaikannya.

Tukang sate kemudian menjawab, “iya Mas, banyak yang kayak gitu bilangnya. Kadang saya pingin bilang itu ke tukang sate di sana itu. Tapi kalau begitu nanti saya bisa kehilangan pekerjaan, keluarga mau dikasih makan apa?”

Duenk! Plak! Bak! Buk! Brak! Jleb! Jleb! Jleb! Kali ini gw ga bisa jawab, karena memang belum ketemu jawabannya atau karena memang begitu mengena di dalam hati. Jadi mending gw cepet2 pergi aja daripada mati berdiri di sana.

“ini Pak, ambil aja kembaliannya”