Monday, October 19, 2009
Tiga warna danau itu jadi satu
Tentang kamu, semua masih terlihat nyata meski aku tidak ingin menjadi pengingat yang hebat. Karena rasa itu masih memelukku. Bukan sisa, tapi utuh adanya.
Kita putuskan menutup hari Minggu indah itu dengan sebuah ciuman. Pintu sudah terkunci, lampu telah dimatikan. Sejuta satu jurus kupersiapkan untuk segala keindahan setelah bibir kita bersentuhan.
Mmmmwwh….
Zap! Dalam sekejap semua jurus menghilang. Kelembutan, ketenangan hembusan serta keeratan dekapanmu menarikku begitu dalam. Jauh meninggalkan kesadaran dan kemampuan untuk tetap waras. Aku lenyap. Kau hilangkan akuku.
“Kamu…,” ucapmu begitu indah.
“Tidak, kamu…,” ucapku tanpa tahu artinya.
Hanya dengan sebuah ciuman, jutaan gombal, ribuan sentuhan dan ratusan adegan bercinta yang pernah terjadi sebelum kamu punah tanpa makna. Kalau mereka itu piala, pecah semua seketika. Yang tersisa hanyalah kedungu-an tidak tahu harus melakukan apa. Memelukmu terlalu erat adalah dayaku. Jurus murahan yang tak pernah kugunakan. Kau pun menjadi sangat heran,
“Kamu kenapa?”
Aku tak langsung menjawab. Meski dalam hati berteriak, “jatuh cintaaa!” Berteriak dalam hati membantu melepaskan kegilaan dan mengembalikan kewarasan, aku pun menemukan jawaban,
“Kamu mandi sana, bau prengus.”
Tiba-tiba dibalikannya badanku, dan dibisikannya pelan ke kupingku sebelum ia menjilat dan melahapnya,
“Aku bikin kita berdua bau prengus.”
Terimakasih sudah menarikku dan rasa cinta hingga kembali bersentuhan.
Monday, October 05, 2009
Hey you, stranger
It was you who I talked to for the first time after the news. From all of the strangers, I half-conscious picked you. Why? I even hadn’t had a change to spoke to myself. How could that be? Blurred it out like some shallow spoiled youngest kid.
And why have you listened to me? Why didn’t you just go back playing with your kids? You should’ve stopped me. Damn, I’m losing my own mystery.
I never need anybody to hear my problems and said things I wanna hear. I always got me, myself, and I. And they’ve been great keeping me not completely insane.
But you shared your remarkable life and greatest secret. Touched, I was.
Although, just like you, the trust raised the claustrophobia. Good thing you’re far away, therefore I won’t have to make a distance.
So, thank you, strange-close stranger.
Tuesday, September 29, 2009
Or will I be sitting at Cafe Terrace on the Place du Forum? Sipping hot chocolate with. Anyone. I won't mind.
Friday, September 25, 2009
Stalker
Namun ternyata ia ikut merasa sedih.
Tidak seharusnya ia merasakan itu. Mengapa masih harus peduli? Apakah ia masih peduli?
Pikirannya mengatakan hal utama yang membuatnya sedih adalah obyek yang tidak membagi kesedihan bersamanya. Kenyataan yang menohok bahwa ia masih sangat peduli kepada obyek sedangkan obyek sama sekali tidak.
Ketidakberadaannya di sisi obyek saat obyek berada di titik kesedihan yang begitu dalam membuatnya merasa kecewa kepada dirinya. Mengikis kepercayaan diri karena terbukti ia tidak berarti di mata orang yang ia peduli.
Terkucil. Tersingkir. Tak berdaya.
Namun tak lama kemudian ia tersenyum.
Ia baru saja menerima karmanya.
Tuesday, September 15, 2009
Sahabat Malam
Entah karena malam di Amsterdam sedang bersahabat atau suasana hati yang temaram, Malam di pinggir taman ini sangat nyaman. Merasa seperti dipeluk dengan dekapan yang cukup. Tidak terlalu kencang, tidak terlalu kendur. Malam yang patut dihirup dalam-dalam.
Pikirannya melayang bertanya-tanya ke mana hati terbang. Lebih baik dicuri saja, terasa lebih ringan. Malam bilang hati sedang menyusul harapan. Mengejar si suatu saatnya. Lengkap bersama ke mana dan sampai kapan yang selalu menuntut jawaban.
Sudah lama badannya kosong akan ketenangan. Keteraturan. Kepuasan. Meresap…dan merasa…Mengisinya akan meluruskan makna, mengeratkan jiwa, menghidupkan aura.
"Berhentilah segera," Malam meniupkan asa.
Tanpa kata, malam banyak berbicara kepadanya. Bercerita palsunya dunia tanpa harapan. Mahakarya terbuang demi angka. Terkungkungnya jiwa karena keluarga. Alasan demi alasan berwujud realita hadir bernyawa.
Malam mengangguk saat ia sadar kehidupan dibangun dari pengorbanan. Teman yang mengatakan dibangun dari mimpi pasti belum pernah kelaparan, belum pernah melihat ibunya tidak makan karenanya.
Sesuai mimpi, hatinya tak lagi betah singgah. Sehingga betapa pun sakitnya, ia akan bertahan.
Bersama Malam.
Friday, September 11, 2009
Thursday, September 10, 2009
Monday, September 07, 2009
Thursday, September 03, 2009
The Wisdom of Larry David on Emotion
it becomes funny."
Tuesday, September 01, 2009
Wahai pembaca blog
Langsung aja ya, gw ada permintaan khusus nih, yaitu: kasih komentar donk.
Berkat Penghitung Pengunjung yang ada di paling bawah halaman, gw jadi tahu kalau ternyata blog ini dibaca secara berkala. Walau entah oleh siapa.
Kasih komennya tetap sebagai anonymous aja, kita nggak usah kenal lagi di sini, asal bisa interaksi. Karena gw suka ngobrol sama orang asing. Jadi kita di sini ngomong2 tanpa pretensi, cuma membahas esensi, meskipun sebenarnya kalian adalah orang-orang yang gw kenal bahkan pernah deket.
Boleh ya dicoba? Terimakasih sebelumnya.
Burat
Tuesday, August 25, 2009
A morning call
“Conceal the heart as the wise precaution,” his master said.
“Really? If we would, shouldn’t we should? What if, it is?”
“What it is doesn’t mean it should.”
“What makes it should then?”
“A virtue.”
Thursday, August 20, 2009
A little of you just sparked
But not the disguise. On the passenger seat she saw her own reflection by accident. The passion in a cheap-o-hotel, up on the hills. The touch of love from the blue eyes. She’s into what she was made of, the dreams.
“Sorry to disturb your silent, my dear. You forgot your wrinkles. Here.”
"Thank you", he already knew, she thought.
Into a deep sea she went to cure the cause. Clearing to the masses. The wave of happiness gave her a smile.
One wish she declared, “I hope you’re good. I really do.”
Monday, August 17, 2009
Not to kill is killing
A bounty hunter was on a vacation. She just finished the hardest job ever, killed her own love.
Another bounty hunter also in a vacation, they met and made love.
One night she asked, “Why are you on a vacation?”
“I wanna be hurt.”
“Why?”
“So I can kill again. You?”
“I’m quitting.”
“Why?”
“Age.”
“Really?”
“Joke. I don’t want to kill people that I love again, I don’t wanna feel the pain again. To love is my dream, and I’ve killed it. I still want to love, so I should stop killing.”
“A bounty hunter cannot resign, you know that.”
“You’re wrong. Just shut up and make love.”
“Good. That would be hurt.”
She’s trying hard to forget her last job and just to love the other bounty hunter. But in the middle of the love making, she doubted that she killed her loved one.
“Do you love me?”, she asked.
He surely knows the answer, he just hate to say it.
“You’re asking me just to now that there will always be someone that loves you?”
“Because there always is”
“Then my answer is I really do.”
“You’re saying that just to get hurt?”
“Hmm…ok wait a sec…”
“What? What are you doing?”
The bounty hunter took something from the drawer and put it in his mouth. He kissed her.
The next day she packed her things.
“I have to go, I haven't really finished my last assignment. But I think I’m ready to kill again, thanks to you. And thank you for the ring.”
She gave him back the ring. He nodded and smiled.
“Good bye.”
“Thank you, again.”
Sunday, August 16, 2009
Good things come to an end. Always.
Wednesday, August 12, 2009
Drugs Do Work
I let myself died. She pulled the trigger, yes, but I’m not blaming her. I’m the one who gave her the gun and asked her to pull the trigger. So she did. And I was dead.
For a week.
Nobody helped me but the drugs. They helped me cure without saying a word. How convenient is that?
Not like people, drugs never lie. But they cover up something. They always do. Mostly pain.
Now I’m running out of them. Not even to the end of this week. By then I have to stay alive without them. Can I?
You know what funny about all this? I had seen it. And I also saw what me-and-she-not-we gonna see.
Oh I really need more drugs.
Or…maybe…
a total stranger to talk to.
Yup. A pretty one, please ;)