Thursday, October 27, 2005
keramaian yang mengekang
Perjalanan yang melelahkan letih sepanjang jalan tak beranjak tetap di tempat tanpa siapa-siapa bahagia begitu jauh begitu hampa entah oh haruskah terus dipaksa memaksa rasa tak ada lagi hanya yang terlihat mata sebatas harta bahkan kata-kata terlalu berharga berhenti zip stop sementara agar hening…sepi…masuk ke dalam terus ke dalam lagi terus semakin abstrak dalam…dan…keluar ke angkasa ke ruang tanpa sekat hitam penuh bintang bukan tata surya ke sana ingin ke sana tidak perlu berdua biar dia menunggu kalau dia mau aku ingin sendiri tak perlu dibantu atau membantu apalagi membatu terus berputar bebas dalam keheningan.
Tuesday, October 25, 2005
Mother of YM, thank you!
They say,"It's not WHAT you know. It's WHO you know". Karena itu gw mau ngucapin terima kasih buat penemu YM. Hey, you've bringing back my social life! Liat aja, berbagai circle of friends kembali terbentuk.
Pertama di group ad people ada Arya LBK, Attan Fortune, Boncel DM Pratama, Dayat Lowe, Ecky FCB terus memanjang sampe Yona Dwi Sapta. Hampir semua ada kayaknya, kecuali Ogilvy karena di sana di ban.
Terus ada grup fikomers, wah ini lebih panjang lagi list-nya, dua kali lipat. Paling tua ’96 paling muda ’00.
Abis itu ada MACS, ini lumayan banyak juga. Anak2 kreatif, ae, anak magang, ampe exMACS. Hampir sepanjang listnya ad people.
Terus ada sodara,ini isinya wanita2 cantik aja, tapi jadinya ya gitu, tempatnya harapan semu.
Abis itu group temen, nah yg ini agak gado2, gabungan dari semuanya (kecuali sodara) tapi listnya nggak panjang. Di dalamnya ada sahabat, ttm, cinta gak kesampaian, ama temen beneran.
Masih ada juga temen SD, cuman mereka jarang ol. Harusnya kemaren bisa ketemuan karena ada buka bareng, cuman karena masih ada radio yg harus dipikirin jadi nggak bisa ikutan.
Ya kan, liat aja itu udah ada lima lingkaran pergaulan besar. Emang sih nggak mewakili semuanya, tapi setidaknya YM membuat gw nggak merasa sendirian though i never around.
Oya, Mpok juga nitip ucapan terima kasih. Dia juga sama tuh kyk gw, workaholik yang lagi tumbang. Well, terus kembangin ya programnya, ditunggu manfaatnya.
Sekali lagi makasih.
Pertama di group ad people ada Arya LBK, Attan Fortune, Boncel DM Pratama, Dayat Lowe, Ecky FCB terus memanjang sampe Yona Dwi Sapta. Hampir semua ada kayaknya, kecuali Ogilvy karena di sana di ban.
Terus ada grup fikomers, wah ini lebih panjang lagi list-nya, dua kali lipat. Paling tua ’96 paling muda ’00.
Abis itu ada MACS, ini lumayan banyak juga. Anak2 kreatif, ae, anak magang, ampe exMACS. Hampir sepanjang listnya ad people.
Terus ada sodara,ini isinya wanita2 cantik aja, tapi jadinya ya gitu, tempatnya harapan semu.
Abis itu group temen, nah yg ini agak gado2, gabungan dari semuanya (kecuali sodara) tapi listnya nggak panjang. Di dalamnya ada sahabat, ttm, cinta gak kesampaian, ama temen beneran.
Masih ada juga temen SD, cuman mereka jarang ol. Harusnya kemaren bisa ketemuan karena ada buka bareng, cuman karena masih ada radio yg harus dipikirin jadi nggak bisa ikutan.
Ya kan, liat aja itu udah ada lima lingkaran pergaulan besar. Emang sih nggak mewakili semuanya, tapi setidaknya YM membuat gw nggak merasa sendirian though i never around.
Oya, Mpok juga nitip ucapan terima kasih. Dia juga sama tuh kyk gw, workaholik yang lagi tumbang. Well, terus kembangin ya programnya, ditunggu manfaatnya.
Sekali lagi makasih.
Wednesday, October 05, 2005
for Bali...
Once again, we all been visited by mortality
Serendipity and grace has slip through our hands
I’m not alone thinking how fragile is the security we take for granted
Sure we would patience for resolve while the search is under way
But not just that. Not this time.
Not even justice for those responsible will be enough
We need a just end to this senseless cycle of violence!
Let us pray as our nation grieves
Contemplating because we are also what we have lost
Jak-Sel First Oct, 2005
20:00 WIB
Serendipity and grace has slip through our hands
I’m not alone thinking how fragile is the security we take for granted
Sure we would patience for resolve while the search is under way
But not just that. Not this time.
Not even justice for those responsible will be enough
We need a just end to this senseless cycle of violence!
Let us pray as our nation grieves
Contemplating because we are also what we have lost
Jak-Sel First Oct, 2005
20:00 WIB
Friday, September 16, 2005
buang detail-detail yang nggak penting
Gw selalu percaya kalau orang udah mikir ampe detil itu berarti hal-hal yang krusial udah dipikirin. Ternyata selalu juga ada batasnya. Ada beberapa orang yang mulai membuyarkan kepercayaan gw itu.
Yang sangat sadar emang cuma bisa mikir detil. Meski nggak akan terang-terangan bilang, tapi gw ama dia udah sama2 tau kalau dia emang males mikir yg berat2, yg gampang2 aja yang dia mau. Jelas dia nggak akan bilang karena itu akan 'menghancurkan' posisinya yang di atas gw. Awalnya emang gw 'merendahkannya' karena kemauan akan kemampuannya itu, tapi setelah lama-lama dia 'mengakui' kalau gw tau dia seperti itu, gw pun jadi mengerti, alias ngertiin dia. Saling pengertian itu pun kemudian berubah menjadi saling menghormati (orde baru bgt bahasanya). Jadi sekarang saling bisa ngisi, minimal tidak lagi saling merendahkan. Oh, how fairness can be so good.
Yang terlalu mengganggap detil itu penting. Melihat segala sesuatu itu dari yang kecil. Dan selalu berkutat disitu sehingga yang kecil menjadi hal besar, dan yang benar-benar hal besar menjadi hal kecil yang terlupakan. Misalnya lagi boncengan naik sepeda dan udah telat buat nyampe tujuan. Sepanjang jalan yang dibahas,"Kok tutup pentil bannya nggak ada, ban sepedanya bisa nggak kempes? kan pentil itu penting biar bannya nggak kempes. Kalau ban kempes kan kita nggak bisa jalan. Gimana nih caranya ganti pentil ban, kita harus cari sekalian yang nggak kepikiran orang lain" Heh? Padahal yang harus dicari tau gimana caranya sepedanya bisa lari lebih cepet, apakah mau dikasih mesin sepedanya, atau mau dinaikin di atas truk, pokoknya orang ama sepedanya harus nyampe di tujuan dua kali lebih cepet. Akhirnya bosan nerangin hal nggak penting tentang pentil ban (yang dia juga nggak ngerti-ngerti juga!), gw tinggalin aja dia ama si sepeda tanpa pentil ban! Eh, dia marah2 dan ngomong sama semua kalau gw itu tidak peduli, terlalu cuek, tidak bisa bekerjasama, dst...dst...Tujuan masih jauh, telat janji, belon tentu kuat jalan kaki sampe tujuan, terus dicela dan dicerca pula....Oh, how other people stupidity can kill you.
Nggak. bukan berarti gw benci orang2 yang detail, gw bencinya yang cuma tau detail. Nggak melihat maksud utamanya.
Yang sangat sadar emang cuma bisa mikir detil. Meski nggak akan terang-terangan bilang, tapi gw ama dia udah sama2 tau kalau dia emang males mikir yg berat2, yg gampang2 aja yang dia mau. Jelas dia nggak akan bilang karena itu akan 'menghancurkan' posisinya yang di atas gw. Awalnya emang gw 'merendahkannya' karena kemauan akan kemampuannya itu, tapi setelah lama-lama dia 'mengakui' kalau gw tau dia seperti itu, gw pun jadi mengerti, alias ngertiin dia. Saling pengertian itu pun kemudian berubah menjadi saling menghormati (orde baru bgt bahasanya). Jadi sekarang saling bisa ngisi, minimal tidak lagi saling merendahkan. Oh, how fairness can be so good.
Yang terlalu mengganggap detil itu penting. Melihat segala sesuatu itu dari yang kecil. Dan selalu berkutat disitu sehingga yang kecil menjadi hal besar, dan yang benar-benar hal besar menjadi hal kecil yang terlupakan. Misalnya lagi boncengan naik sepeda dan udah telat buat nyampe tujuan. Sepanjang jalan yang dibahas,"Kok tutup pentil bannya nggak ada, ban sepedanya bisa nggak kempes? kan pentil itu penting biar bannya nggak kempes. Kalau ban kempes kan kita nggak bisa jalan. Gimana nih caranya ganti pentil ban, kita harus cari sekalian yang nggak kepikiran orang lain" Heh? Padahal yang harus dicari tau gimana caranya sepedanya bisa lari lebih cepet, apakah mau dikasih mesin sepedanya, atau mau dinaikin di atas truk, pokoknya orang ama sepedanya harus nyampe di tujuan dua kali lebih cepet. Akhirnya bosan nerangin hal nggak penting tentang pentil ban (yang dia juga nggak ngerti-ngerti juga!), gw tinggalin aja dia ama si sepeda tanpa pentil ban! Eh, dia marah2 dan ngomong sama semua kalau gw itu tidak peduli, terlalu cuek, tidak bisa bekerjasama, dst...dst...Tujuan masih jauh, telat janji, belon tentu kuat jalan kaki sampe tujuan, terus dicela dan dicerca pula....Oh, how other people stupidity can kill you.
Nggak. bukan berarti gw benci orang2 yang detail, gw bencinya yang cuma tau detail. Nggak melihat maksud utamanya.
Monday, September 12, 2005
Absolutely there's no absolute right
or absolute wrong maybe only uncertainty that goes absolute so I start smoking sort of try to give a sign of power a bold decision for self recognition become the enemy of the everlasting right let them open their mind create minor conflict to overcome the greater one hoping its effect doesn’t overcome myself it wasn’t hard for me why would it be or should it be hard changing for better chance quite fun actually seeing them behave talking nonsense asking stupid questions am I become a rebel a rebel to what the absolute family value there is no such thing though a family is worthless when each of its member doesn’t have value lack of care when who is right become more important than what is right this family has no soul they don’t know that and so I’m telling them with my own way giving them more life by giving uncertainty insecurity a double edged sword though it may help them survive or fasten its death or this is just an escape a very cheap way to get attention
Wednesday, August 24, 2005
Utopia TV Seri
West Wing memang pelipur lara. Pusingnya kepala jadi clear aja gitu. Mungkin karena filmnya yang harusnya bikin pusing, malah gampang banget dimengerti. Kayak hutan kebakar, dipadaminnya nggak pake air tapi pake api juga yg didatengin dari arah berlawanan.
Logika kepala dingin, jauh dari menye-menye, cowok bgt. Pendramatisiran bukan dari drama kehidupan kayak iri, benci, sirik tapi idealisme mengenai harapan, keadilan, dan kebenaran. Bukan siapa yang salah tapi apa yang salah. Bagaimana kompromi-kompromi di dunia sebenarnya sumber masalah. Namun dapat diselesaikan dengan realisme dan implementasi pemikiran idealis, bukan kemauan atau kompromi antar penguasa. Dengan passion selalu ingin memiliki meski sebenarnya sudah memiliki. Tokoh-tokohnya selalu menjadi yang paling bodoh tanpa harus jadi blo’on. Utopia lintas generasi berbentuk karya nyata yang kaya drama.
Aku pun memejamkan mata. Menuju dunia yang tidak hanya indah, tapi juga adil, tentang surga tempat utopia menjadi nyata dan idealisme terus menjadi juara.
Logika kepala dingin, jauh dari menye-menye, cowok bgt. Pendramatisiran bukan dari drama kehidupan kayak iri, benci, sirik tapi idealisme mengenai harapan, keadilan, dan kebenaran. Bukan siapa yang salah tapi apa yang salah. Bagaimana kompromi-kompromi di dunia sebenarnya sumber masalah. Namun dapat diselesaikan dengan realisme dan implementasi pemikiran idealis, bukan kemauan atau kompromi antar penguasa. Dengan passion selalu ingin memiliki meski sebenarnya sudah memiliki. Tokoh-tokohnya selalu menjadi yang paling bodoh tanpa harus jadi blo’on. Utopia lintas generasi berbentuk karya nyata yang kaya drama.
Aku pun memejamkan mata. Menuju dunia yang tidak hanya indah, tapi juga adil, tentang surga tempat utopia menjadi nyata dan idealisme terus menjadi juara.
Monday, August 22, 2005
Muse
Speak. Oh, my muse goddess. You who developed this massive drug deficiency into my body. Enable me to receive any beauty that was bestowed on me. Bring me those countless amusing things, my goddess. Without extrapolation or exaggeration. A complex unity of wonderful serendipity. The true joy reminiscent of life.
As you can see my goddess, my life is a passing grace now. The past is only cold and death ideas. Artificially and temporarily. Life is the present. Accepting things as they are, acting accordingly to what I feel is right. I won’t lose again from what most people have lost these days, themselves.
As you can see my goddess, my life is a passing grace now. The past is only cold and death ideas. Artificially and temporarily. Life is the present. Accepting things as they are, acting accordingly to what I feel is right. I won’t lose again from what most people have lost these days, themselves.
Tuesday, August 16, 2005
Kompromi Seorang Idealis
Aku selalu menganggap kamulah penyebabnya. Membuatku lupa akan cita-cita, malas melakukan perjuangan, menerima menjadi orang biasa. Namun dahulu aku menyukainya, tidak melawan. Masa-masa bahagia pria yang mendapat wanita idamannya. Berkarya bukan karena terpaksa tapi karena kamu yang tidak berhenti membuatku bangga.
Tidak lagi bersama adalah awal kuanggap kamu sebagai penyebabnya. Ya. Bisa sebuah dendam, atau juga pembenaran. Aku diredam. Lapuk semua besi-besi pondasi diri, roboh dinding kokoh pemikiran, hingga rela mengumpulkan serpihan karakter yang berserakan tak beraturan.
Kini ku mulai sadar. Memang bukan dirimu penyebabnya. Kamulah yang menyempurnakannya. Kompromi seorang yang idealis tak kan pernah terjadi sebelum orang itu tau apa yang benar-benar baik untuk semuanya. Kamu yang memberiku mata, telinga dan cinta bagi raga yang sering menganggap manusia seperti benda. Yang memperlihatkan terbaik tidak selalu dari yang pertama, sempurna tidak selalu yang paling dipuja. Meski bukan berarti realistis adalah yang utama.
Kamu yang membuatku menjadi idealis. Menjadikanku manusia makhluk paling sempurna dengan segala kekurangannya. Bahwa menjadi idealis harus terus berkarya dengan hasil nyata. Ide, sikap, pandangan, atau apa saja yang dapat dirasa manusia tidak hanya dengan mata tapi juga dengan hatinya.
Kita tak pernah tau apa namanya, karena terlalu larut dalam keindahannya. Kita tak kehilangan apa-apa karena terlalu dalam menanamnya. Tidak. Tidak boleh bilang cinta karena mereka akan mendengarnya. Kita tak perlu lagi membahas yang tidak ada habisnya. Biarkan saja semuanya ada di dalam lubuk hati kita, selamanya...
Dan kini, seperti kata Soe Hok Gie, I’m not an idealist anymore, I’m a bitter realist.
Tidak lagi bersama adalah awal kuanggap kamu sebagai penyebabnya. Ya. Bisa sebuah dendam, atau juga pembenaran. Aku diredam. Lapuk semua besi-besi pondasi diri, roboh dinding kokoh pemikiran, hingga rela mengumpulkan serpihan karakter yang berserakan tak beraturan.
Kini ku mulai sadar. Memang bukan dirimu penyebabnya. Kamulah yang menyempurnakannya. Kompromi seorang yang idealis tak kan pernah terjadi sebelum orang itu tau apa yang benar-benar baik untuk semuanya. Kamu yang memberiku mata, telinga dan cinta bagi raga yang sering menganggap manusia seperti benda. Yang memperlihatkan terbaik tidak selalu dari yang pertama, sempurna tidak selalu yang paling dipuja. Meski bukan berarti realistis adalah yang utama.
Kamu yang membuatku menjadi idealis. Menjadikanku manusia makhluk paling sempurna dengan segala kekurangannya. Bahwa menjadi idealis harus terus berkarya dengan hasil nyata. Ide, sikap, pandangan, atau apa saja yang dapat dirasa manusia tidak hanya dengan mata tapi juga dengan hatinya.
Kita tak pernah tau apa namanya, karena terlalu larut dalam keindahannya. Kita tak kehilangan apa-apa karena terlalu dalam menanamnya. Tidak. Tidak boleh bilang cinta karena mereka akan mendengarnya. Kita tak perlu lagi membahas yang tidak ada habisnya. Biarkan saja semuanya ada di dalam lubuk hati kita, selamanya...
Dan kini, seperti kata Soe Hok Gie, I’m not an idealist anymore, I’m a bitter realist.
Thursday, August 11, 2005
Fighting The Giant of Mediocre
In the end I didn’t find the drama. It has been gone far away. I was too late, i guess there was no drama in the first place after all. I’ve tried too replaced it though, in many ways, but still those efforts can’t replace it.
Whose fault, then? Nobody. Or I could say, Me, myself. I haven’t got “the aura” or “the charm” of telling people what is exactly that I want. Too many compromises to those –not so good after all- people. Oh how I’m so sick of it.
Tired. Upset. Sad.
It is so true that fighting the giant of mediocre is not easy…
Whose fault, then? Nobody. Or I could say, Me, myself. I haven’t got “the aura” or “the charm” of telling people what is exactly that I want. Too many compromises to those –not so good after all- people. Oh how I’m so sick of it.
Tired. Upset. Sad.
It is so true that fighting the giant of mediocre is not easy…
Friday, July 08, 2005
What the...?
Friday, June 24, 2005
write to express, not to impress
Perasaan indah setelah selesai membaca sebuah buku. Keheningan menjadi berbicara, ide terus menyapa. Gundah, gelisah, amarah, serta cinta. Kenyamanan yang terus menerus ingin kuulang...
Thursday, May 12, 2005
the old days strikes back!!!
Hai…
Hai…
lagi dimana?
Rumah…
Cirebon?
Nggak, di rumah…
Oh…
Hmmm...Telkomsel ngundang makan MACS, makanya bisa ketemu Teh xxxx…
Oh……
Ya udah, mau ngomong sama Teh xxxx lagi?
Iya…
Klien gw itu kakaknya si dia, tadi makan siang kakanya si dia duduk di depan gw. Tiba2 aja si dia nyodorin Hp-nya ke gw, "Rat, si xxxx..." dan terjadilah percakapan di atas.....
Aneh,kaget,semua2 bercampur....gw ngerasa udah bisa ngelupain, ternyata belum, mungkin belum, mungkin nggak akan bisa, harus bisa, mungkin memang belum....
Gw benci bgt nih, tapi nggak tau mau nyalahin sapa, karena nggak tau salahnya dimana....Susah fokus, dipikirin kok rasanya sia-sia. Tapi kalo nggak dipikiran kepikiran terus...gw kenapa yah? kenapa gw yah?yah, kenapa gw?
han...in the Korean language. A feeling, or state of mind of deepest sadness that no tears can come out. yet there is a hope.
Oh, what a day.....
Hai…
lagi dimana?
Rumah…
Cirebon?
Nggak, di rumah…
Oh…
Hmmm...Telkomsel ngundang makan MACS, makanya bisa ketemu Teh xxxx…
Oh……
Ya udah, mau ngomong sama Teh xxxx lagi?
Iya…
Klien gw itu kakaknya si dia, tadi makan siang kakanya si dia duduk di depan gw. Tiba2 aja si dia nyodorin Hp-nya ke gw, "Rat, si xxxx..." dan terjadilah percakapan di atas.....
Aneh,kaget,semua2 bercampur....gw ngerasa udah bisa ngelupain, ternyata belum, mungkin belum, mungkin nggak akan bisa, harus bisa, mungkin memang belum....
Gw benci bgt nih, tapi nggak tau mau nyalahin sapa, karena nggak tau salahnya dimana....Susah fokus, dipikirin kok rasanya sia-sia. Tapi kalo nggak dipikiran kepikiran terus...gw kenapa yah? kenapa gw yah?yah, kenapa gw?
han...in the Korean language. A feeling, or state of mind of deepest sadness that no tears can come out. yet there is a hope.
Oh, what a day.....
Monday, April 18, 2005
Ruin Labirin
(cerita seratus kata)
Ada dua pilihan jalan, ke kiri atau kanan. Kupilih ke kanan karena ibuku mengajari bahwa kanan itu lebih baik daripada kiri. Di tengah jalan aku dihadang, dengan sedikit perlawanan kutaklukan para penghadang. Sesampainya di ujung jalan kanan, aku menemukan sebuah peti harta karun.
Tanpa kesulitan, aku berhasil membukanya. Graaakkkkk….wuuushhh! Sebuah monster kepala! Daripada menyerahkan nyawa kepada monster tak terkalahkan, aku pun langsung melarikan diri, menuju jalan ke kiri.
Ujung jalan kiri tampak gelap, namun tidak panjang karena terlihat cahaya di ujungnya. Kuterus berjalan dan….hah? Ada dua pilihan jalan lagi, ke kanan dan ke kiri….Wuaaaa! Aku dikirim ke sebuah ruin labirin!
Ada dua pilihan jalan, ke kiri atau kanan. Kupilih ke kanan karena ibuku mengajari bahwa kanan itu lebih baik daripada kiri. Di tengah jalan aku dihadang, dengan sedikit perlawanan kutaklukan para penghadang. Sesampainya di ujung jalan kanan, aku menemukan sebuah peti harta karun.
Tanpa kesulitan, aku berhasil membukanya. Graaakkkkk….wuuushhh! Sebuah monster kepala! Daripada menyerahkan nyawa kepada monster tak terkalahkan, aku pun langsung melarikan diri, menuju jalan ke kiri.
Ujung jalan kiri tampak gelap, namun tidak panjang karena terlihat cahaya di ujungnya. Kuterus berjalan dan….hah? Ada dua pilihan jalan lagi, ke kanan dan ke kiri….Wuaaaa! Aku dikirim ke sebuah ruin labirin!
Friday, April 15, 2005
Money is my choice!...is it?
Sweetness from circle of friends, A joy become double joy. Sorrow become half of sorrow. I have a lot of friends…..once, oh , how I missed it. I lost most of them now. I can’t keep my friends. I kept blaming myself. I shouldn’t, this is my choice! …is it?
Money isn’t everything
It can buy bed, but not good sleep
It can buy clock, but not time
It can buy book, but not knowledge
It can buy a position, but not respect
It can buy medicine, but not health
It can buy sex, but not love
It can buy blood, but not life…
Money isn’t everything
It can buy bed, but not good sleep
It can buy clock, but not time
It can buy book, but not knowledge
It can buy a position, but not respect
It can buy medicine, but not health
It can buy sex, but not love
It can buy blood, but not life…
Tuesday, April 05, 2005
Fated Friend
It ended before
It ever really began
Fate brought us together
I’ve enjoyed you so
Being with you – sharing your space
Because of you my life is richer
You’ve thought me so much – you’ve help me to grow
It’s hard for me to tell you
I’m far more thankful – than I can ever let you know
“They” say there’s a reason
for all things that come to be
a reason we come together
and a reason to let go…
Though it may have been over
Before it really began
It was fate which brought us together
We were destined to be friends…
It ever really began
Fate brought us together
I’ve enjoyed you so
Being with you – sharing your space
Because of you my life is richer
You’ve thought me so much – you’ve help me to grow
It’s hard for me to tell you
I’m far more thankful – than I can ever let you know
“They” say there’s a reason
for all things that come to be
a reason we come together
and a reason to let go…
Though it may have been over
Before it really began
It was fate which brought us together
We were destined to be friends…
Monday, February 28, 2005
love is about to choose
cantik atau keibuan?
kecerdasan atau kedewasaan?
Memiliki selamanya atau selamanya ingin memiliki?
kecerdasan atau kedewasaan?
Memiliki selamanya atau selamanya ingin memiliki?
Tuesday, February 08, 2005
Paradoks
Temanku sering bercerita tentangmu. Paras cantikmu, ramah sapamu, hangat sentuhmu. Temanku ingin sekali memilikimu. Sayang kamu milik orang lain, temanku pun mengurungkan niatnya. Ia tak suka merusak kebahagiaan orang lain. Namun temanku yang baik itu tidak tega melihatku penasaran karena cerita-ceritanya tentangmu, ia lalu mengenalkanku kepadamu, kita pun berkenalan, tapi tidak berteman.
Kamu dan pacarmu sangat serasi. Ibaku untuk temanku. Tapi temanku memang laki-laki yang baik, “aku bahagia bisa melihatnya ceria”, katanya bijak. Pacarmu dan aku tidak berteman, begitu juga temanku, kami semua hanya kenal. Temanku kemudian pergi, meninggalkanku, kamu dan pacarmu. Berusaha mencari dunia baru, dunia yang ia mau.
Lalu kamu dan aku berteman. Lebih dari sekedar kenal. Semua karena sifat ramahmu. Aku pun senang berteman denganmu, apalagi karena kamu sudah memiliki pasangan, membuatku merasa aman.
Tiba-tiba kamu datang kepadaku bergelimangan air mata. Kutanya mengapa, kaupun menjawab
“Aku berhenti mencintainya!”
Kamu bercerita betapa tidak amannya ketika bersama dengannya, kamu takut, dan karenanya kamu mencariku, mencari rasa aman. Aku kaget! Dan bingung...Senang sekali karena bisa dibutuhkan oleh teman, membuatku merasa dihargai. Menjadikanku orang baik. Karena aku juga suka memberikan rasa aman, apalagi terhadap teman. Aku suka teman-temanku. Dan teman-temanku suka aku, begitu juga kamu...
“Aku suka kamu. Aku mencintaimu. Bolehkah aku menjadi -...”
Tidak tahan dengan kata-katamu aku pun lari. Aku lari karena pernyataanmu menghilangkan rasa amanku terhadapmu. Aku meninggalkanmu disaat kamu butuh rasa aman yang telah berhasil kuciptakan. Aku sadar itu, tapi aku takut...
***
Kita berpisah. Kutinggalkan kamu dan mencari dunia baru. Dan aku pun merindu...amat merindu...
Kutinggalkan dunia baruku untuk mencarimu. Kembali tanpa rasa malu, hanya rindu. Kita pun kembali bertemu
“Hai!” Kamu menyapaku terlebih dahulu, selalu.
“Hai juga”
“Apa kabar?”
Terus kamu bertanya tentangku. Kujawab tentang dunia baruku yang telah berlalu, tanpamu. Aku kemudian bertanya tentangmu. Tak kau jawab pertanyaanku malah membalas dengan pertanyaan
“Kamu kenal dia?”
Ternyata kamu malah bertanya mengenai dia, temanku yang lain. Kupikir kamu akan bertanya mengenai masa lalu kita. Aku kecewa, meski biasanya aku lega. Tapi tetap aku jawab pertanyaanmu, aku suka ditanya
“Ya, aku kenal dia. Dia temanku.”
Jawabanku menyenangkanmu. Kamu lalu bilang ingin menjadi temannya temanku yang lain itu. Kamu penasaran. Seperti halnya aku penasaran kala temanku yang dulu selalu bercerita tentangmu. Namun aku juga penasaran, mengapa kamu tidak rindu padaku, Padahal aku sengaja kembali untukmu? Pertanyaanku terjawab ketika kita membicarakan temanku yang lain itu
"Dia membuatku kagum. Aku salut padanya," ucapmu dengan mata berbinar. Ya, aku juga, batinku dalam hati. Telah berhasil membuatmu kagum sehingga melupakanku.
Ternyata temanku yang lain itu kagum juga kepadamu, menurutnya kamu cerdas, mandiri dan lucu. Penggambaran dirimu dalam tiga kata yang aku juga sangat setuju. Kemudian kalianpun secara resmi berkenalan...berteman...berpasangan.
***
Aku menyesal...untuk apa aku kembali...
Kini saatnya menjadi laki-laki yang baik seperti temanku yang dulu: “Aku bahagia bisa melihatnya ceria.”
Waktu terus berlalu.
Tiba-tiba di suatu masa, pacarmu tiba-tiba membenci aku. Sedikit kaget, lebih banyak bingung...Aku pun bertanya padanya mengapa
“Dia ngeliat gue sebagai elo!”
Aku kaget! Dan tambah bingung...Kemudian aku pura-pura tidak tahu dan bertanya kepadamu mengapa tak lagi bersama temanku lagi...
“Aku berhenti mencintainya!”
Aku tak lagi kaget dan bingung. Kamu pernah lakukan hal yang sama pada pacarmu yang dulu, jadi mengapa sekarang tidak? Lagipula aku sudah sering membayangkan hal ini akan terjadi. Harapan akan sebuah kesempatan kedua. Pertanyaan lanjutan pun sudah aku siapkan
“Mengapa kamu berhenti mencintainya?”
“Aku...sebenarnya...mmh...gimana ya...”
Kamu terlihat bingung sekali. Haha..tawaku dalam hati. Memang pertanyaan itu kartu asku, memberi kesempatan bagiku untuk memperhatikan wajahmu yang bingung dan panik, mimik muka yang selalu kudamba.... aku senang melihatmu kehilangan dirimu. Tapi tak lama kamu menjawab, dengan nada yang lebih yakin,
“Aku kagum padanya karena ia temanmu. Aku sebenarnya tak pernah mencintainya. Aku mencintaimu”
Deg! Jawabanmu kini membuatku merasa was-was, karena tak ada kata-kata itu di skenarioku. Aku juga mencintaimu, pikirku. Tapi ini tidak benar kata hati kecilku.
“Aku takut kamu pun akan berhenti mencintaiku...”, jawabku.
"Tidak! Tidak mungkin! Mencintaimu adalah segalanya bagiku. Tidak mungkin aku meninggalkanmu. Aku ingin sekali memilikimu. Aku butuh kamu karena aku mencintaimu, dengan sepenuh hati, selamanya..."
BLARR!!! Butuh karena cinta dan bukan sebaliknya adalah bahasaku untuk komitmen yang kuat dan kamu mengucapkannya dengan yakin. Dan selamanya...itu berarti ...oh...ini terlalu berat....terlalu cepat...aku tidak siap...
Lari! Hanya itulah yang terlintas di dalam benakku. Aku pun kembali lari...meninggalkanmu.
***
Dahulu aku lari karena tidak nyaman, takut kamu akan meninggalkanku dan aku akan sangat terluka, karena aku yakin aku tidak akan pernah meninggalkan siapapun yang aku cintai. Dan tentu saja saat itu aku tidak lagi merasa aman karena kamu baru saja mengkhianati pacarmu, aku takut dikhianati, sangat takut.
Kini, setelah aku yakin kamu tidak akan pernah meninggalkanku, aku kembali lari. Aku tak nyaman dengan diriku. Aku takut mengkhianatimu, karena kamu satu-satunya wanita yang kucinta.
***
Kamu dan pacarmu sangat serasi. Ibaku untuk temanku. Tapi temanku memang laki-laki yang baik, “aku bahagia bisa melihatnya ceria”, katanya bijak. Pacarmu dan aku tidak berteman, begitu juga temanku, kami semua hanya kenal. Temanku kemudian pergi, meninggalkanku, kamu dan pacarmu. Berusaha mencari dunia baru, dunia yang ia mau.
Lalu kamu dan aku berteman. Lebih dari sekedar kenal. Semua karena sifat ramahmu. Aku pun senang berteman denganmu, apalagi karena kamu sudah memiliki pasangan, membuatku merasa aman.
Tiba-tiba kamu datang kepadaku bergelimangan air mata. Kutanya mengapa, kaupun menjawab
“Aku berhenti mencintainya!”
Kamu bercerita betapa tidak amannya ketika bersama dengannya, kamu takut, dan karenanya kamu mencariku, mencari rasa aman. Aku kaget! Dan bingung...Senang sekali karena bisa dibutuhkan oleh teman, membuatku merasa dihargai. Menjadikanku orang baik. Karena aku juga suka memberikan rasa aman, apalagi terhadap teman. Aku suka teman-temanku. Dan teman-temanku suka aku, begitu juga kamu...
“Aku suka kamu. Aku mencintaimu. Bolehkah aku menjadi -...”
Tidak tahan dengan kata-katamu aku pun lari. Aku lari karena pernyataanmu menghilangkan rasa amanku terhadapmu. Aku meninggalkanmu disaat kamu butuh rasa aman yang telah berhasil kuciptakan. Aku sadar itu, tapi aku takut...
***
Kita berpisah. Kutinggalkan kamu dan mencari dunia baru. Dan aku pun merindu...amat merindu...
Kutinggalkan dunia baruku untuk mencarimu. Kembali tanpa rasa malu, hanya rindu. Kita pun kembali bertemu
“Hai!” Kamu menyapaku terlebih dahulu, selalu.
“Hai juga”
“Apa kabar?”
Terus kamu bertanya tentangku. Kujawab tentang dunia baruku yang telah berlalu, tanpamu. Aku kemudian bertanya tentangmu. Tak kau jawab pertanyaanku malah membalas dengan pertanyaan
“Kamu kenal dia?”
Ternyata kamu malah bertanya mengenai dia, temanku yang lain. Kupikir kamu akan bertanya mengenai masa lalu kita. Aku kecewa, meski biasanya aku lega. Tapi tetap aku jawab pertanyaanmu, aku suka ditanya
“Ya, aku kenal dia. Dia temanku.”
Jawabanku menyenangkanmu. Kamu lalu bilang ingin menjadi temannya temanku yang lain itu. Kamu penasaran. Seperti halnya aku penasaran kala temanku yang dulu selalu bercerita tentangmu. Namun aku juga penasaran, mengapa kamu tidak rindu padaku, Padahal aku sengaja kembali untukmu? Pertanyaanku terjawab ketika kita membicarakan temanku yang lain itu
"Dia membuatku kagum. Aku salut padanya," ucapmu dengan mata berbinar. Ya, aku juga, batinku dalam hati. Telah berhasil membuatmu kagum sehingga melupakanku.
Ternyata temanku yang lain itu kagum juga kepadamu, menurutnya kamu cerdas, mandiri dan lucu. Penggambaran dirimu dalam tiga kata yang aku juga sangat setuju. Kemudian kalianpun secara resmi berkenalan...berteman...berpasangan.
***
Aku menyesal...untuk apa aku kembali...
Kini saatnya menjadi laki-laki yang baik seperti temanku yang dulu: “Aku bahagia bisa melihatnya ceria.”
Waktu terus berlalu.
Tiba-tiba di suatu masa, pacarmu tiba-tiba membenci aku. Sedikit kaget, lebih banyak bingung...Aku pun bertanya padanya mengapa
“Dia ngeliat gue sebagai elo!”
Aku kaget! Dan tambah bingung...Kemudian aku pura-pura tidak tahu dan bertanya kepadamu mengapa tak lagi bersama temanku lagi...
“Aku berhenti mencintainya!”
Aku tak lagi kaget dan bingung. Kamu pernah lakukan hal yang sama pada pacarmu yang dulu, jadi mengapa sekarang tidak? Lagipula aku sudah sering membayangkan hal ini akan terjadi. Harapan akan sebuah kesempatan kedua. Pertanyaan lanjutan pun sudah aku siapkan
“Mengapa kamu berhenti mencintainya?”
“Aku...sebenarnya...mmh...gimana ya...”
Kamu terlihat bingung sekali. Haha..tawaku dalam hati. Memang pertanyaan itu kartu asku, memberi kesempatan bagiku untuk memperhatikan wajahmu yang bingung dan panik, mimik muka yang selalu kudamba.... aku senang melihatmu kehilangan dirimu. Tapi tak lama kamu menjawab, dengan nada yang lebih yakin,
“Aku kagum padanya karena ia temanmu. Aku sebenarnya tak pernah mencintainya. Aku mencintaimu”
Deg! Jawabanmu kini membuatku merasa was-was, karena tak ada kata-kata itu di skenarioku. Aku juga mencintaimu, pikirku. Tapi ini tidak benar kata hati kecilku.
“Aku takut kamu pun akan berhenti mencintaiku...”, jawabku.
"Tidak! Tidak mungkin! Mencintaimu adalah segalanya bagiku. Tidak mungkin aku meninggalkanmu. Aku ingin sekali memilikimu. Aku butuh kamu karena aku mencintaimu, dengan sepenuh hati, selamanya..."
BLARR!!! Butuh karena cinta dan bukan sebaliknya adalah bahasaku untuk komitmen yang kuat dan kamu mengucapkannya dengan yakin. Dan selamanya...itu berarti ...oh...ini terlalu berat....terlalu cepat...aku tidak siap...
Lari! Hanya itulah yang terlintas di dalam benakku. Aku pun kembali lari...meninggalkanmu.
***
Dahulu aku lari karena tidak nyaman, takut kamu akan meninggalkanku dan aku akan sangat terluka, karena aku yakin aku tidak akan pernah meninggalkan siapapun yang aku cintai. Dan tentu saja saat itu aku tidak lagi merasa aman karena kamu baru saja mengkhianati pacarmu, aku takut dikhianati, sangat takut.
Kini, setelah aku yakin kamu tidak akan pernah meninggalkanku, aku kembali lari. Aku tak nyaman dengan diriku. Aku takut mengkhianatimu, karena kamu satu-satunya wanita yang kucinta.
***
Subscribe to:
Posts (Atom)

