Monday, March 24, 2008

R U avin a laff?

That’s a catchphrase used in a British TV series called “Extras”. I must say it really works that mantra, I mean it’s a real catchy.

The main character is an extra. Yeah see, that’s one of the first reasons why I bought it. Love the paradox. The other reason is how come this series got a Globe?

So, this extra, Andy Millman, was striving to get an elusive line of dialogue. His efforts created miss talks, miss understanding, miss interpret, miss world (haha, you wish!) of dialogues and gestures that were very funny, actually. Not to mention his fellow extra Magie Jacobs and his foolish agent which added more wit anomalies to the movie.

As the story goes, Andy became successful because of the sitcom he wrote and acted, “When The Whistle Blows”. In that sitcom, he acted as a factory supervisor with curly hair and a red wide-framed glasses (I believe Dian Sastro owns one of them) saying the buzzword over and over,”Are you having a laugh? Is he/she having a laugh?”



It was surely funny at first. But then I realized, maybe those words were the real buzzword that they were going to use in the first place. You know, like mocking those ignorant audiences who are laughing when they watch a brainless TV shows or thickheaded TV drama (sinetrons you might say).

I guess I’m beginning to understand why this series has won the Globe. Because it delivers the message so strong and cleverly: Stay aware while watching the series.

I mean like, if you love watching House, be careful that you might become a sarcastic and mean person. Or even if you like this series, this “Extras”, be aware that there were too much anomalies in it. You might become anomalously overloaded, you couldn’t feel the right thing anymore.

What, am I having a laugh?

Just watch the series, mate. I'm pretty sure you'll be avin a laff.

Tuesday, March 18, 2008

Banality

Beberapa minggu terakhir, mantan boss dan boss yang sekarang nanya-nanya kenal copywriter yang bagus atau nggak.

Emangnya kalo copywriter temenannya ama copywriter gitu ya? Tapi akhirnya gw merasakan keputusasaan mereka karena emang ternyata nggak gampang.

Kenapa nggak gampang?

Menurut gw sih, karena ternyata jarang yang suka baca dan menulis. Meskipun copywriter kerjaannya cuma dua itu.

Jadilah sedikit sekali nama yang gw kasih ke boss baru untuk diseleksi. Lebih banyakan nama yang gw kasih ke mantan boss karena para mantan bisa masuk sana, bebas conflict of interest, huehehehe…

Ngomong-ngomong mantan dan copywriter, ada fakta menarik. Ternyata orang-orang mantan copywriter jadi orang lebih penting daripada yang selamanya jadi copywriter.

Bandingin aja
http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_copywriters

http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_former_copywriters

Siapa yang tahu David Ogilvy, Leo Burnett, W. Bernbach? Tapi siapa yang nggak tahu Salman Rusdhie dan Hugh Hefner?

Karena sekarang gw copywriter, berarti tinggal setengah jalan lagi buat gw jadi orang-orang penting itu, hehehe…

Dangkal banget emang, tapi bener kan?

Tuesday, February 26, 2008

Bermainlah ke kebunsemanggi

Kalau akhir-akhir ini merasa kehidupan kok terasa mulai menjemukan dan membosankan, bermain-mainlah ke kebunsemanggi, dijamin hidup rasanya (bisa) seru lagi!

Setidaknya itu yang saya rasakan setelah melakukannya.

Ketertarikan pertama saya kepada si kebunsemanggi diawali dengan sebuah teaser menegangkan tanpa judul di apple.com. Teaser itu hanya diakhiri dengan tanggal. Berhubung tanggal itu dibuat seperti judul film, saya pun mengira tanggal itulah judulnya. Yeah, yeah, saya termasuk makhluk bodoh yang tertipu dengan teasernya.

Tapi coba bayangkan misalnya nih, kita sedang berada di sebuah pesta di sebuah apartemen. Tiba-tiba terjadi gempa dan sebuah ledakan. Kita pasti ikut panik, segera turun dan keluar untuk mencari tahu ada apa. Lalu sesampainya di luar di pinggiran jalan. Belum juga mengerti apa yang sedang terjadi, tiba-tiba sebuah benda besar melayang cepat ke arah kita. Beruntung kita masih sempat menghindarinya. Namun apa rasanya setelah kita melihat dengan mata kepala kita sendiri, ternyata benda besar yang hampir menimpa tadi adalah kepala patung Liberty.



Jadi walaupun saya sudah kena tipu, teaser itu sudah menggaet saya. Memang sempat ada ketakutan dengan idiom “kalau trailernya keren, biasanya filmnya cupu”. Tapi rasa penasaran yang terbangun sudah terlalu besar, tak ada yang bisa menghalangi saya menonton film ini.

Adalah sebuah kebetulan yang berharga kalau release film ini di sini pas dengan datangnya rasa bosan saya dengan ritual hidup. Nah, dicampur dengan ekspektasi yang ada di atas ambang batas harapan akan filmnya, bermain-mainlahlah saya ke kebunsemanggi alias Cloverfield ini.

Teaser yang saya ceritakan tadi merupakan cara awal Matt Reeves (si sutradara) menghidupkan nyawa filmnya, yang kemudian ia perkuat dengan menyuntikkan malapetaka berkali-kali. Sehingga setiap film mulai masuk ke wilayah klise, selalu ada sesuatu yang membangkitkan adrenaline, memainkan emosi maupun menusuk hati sehingga membuat penonton mengucapkan atau berkata dalam hati-,“Oh, shit!”.

Film ini hampir memenuhi semua harapan saya di setiap adegannya. Mereka mengalir begitu manusiawi dan nyata. Apa yang ingin saya lihat pasti ada, bahkan tidak jarang diberi bonus. Kemudian apa yang tidak ingin saya lihat tapi jelas bisa membayangkannya, tidak diperlihatkan oleh film ini sehingga membuatnya minim adegan klise.

Tidak akan ada yang namanya rapat-rapat militer di Pentagon yang merasa paling bisa menyelamatkan dunia atau pesawat-pesawat siluman take off dari carrier. Tidak akan ada juga sejarah monster dan ahli beserta orang-orang sok ahli yang menggurui kita mengenai si monster. Menyenangkan.

Ada satu hal yang saya anggap sebagai usaha yang berhasil membuat film ini semakin nyata, yaitu jarang sekali nama/logo sebuah merk/brand nampang beberapa detik dan membuat penonton bergumam, “halah, sponsor”. Kalau tidak percaya perhatikan merk handycamnya deh. Mungkin saya terlewat atau memang perlu lebih memerhatikan lagi, tapi seingat saya, merk handycam yang digunakan di film ini tidak pernah diperlihatkan. Tentu akan menjadi sebuah iklan colongan/ad in atau apapun namanya yang kuat sekali apabila Sony atau Panasonic mengajak J.J. Abrams (si produser film ini) untuk bekerjasama. Tapi nyatanya tidak (atau tidak mau). Dan menurut saya itu bagus sekali.

Film ini agak sulit diceritakan karena yang terjadi adalah mengalami, bukan menonton atau mengamati. Saat keluar bioskop, saya merasa, I would love to die like Rob. Karena saya setuju dengan pernyataan “sometimes you should fuck the world and just be with the one you love”.

Malam itu, dengan melukiskan kehancuran, Matt Reeves telah memperlihatkan kepada saya betapa indahnya kehidupan.

Friday, February 15, 2008

Friday, February 01, 2008

miss that hurt

Whenever my affection rise to the top
I pinched my heart
By remembering you
Spoiled girl

Whenever I’m being smartass
I snipped my heart
By remembering you
Cute little bookworm

Whenever the jackass live in me
I stab my heart
By remembering you
Old senior girl

When I was just being me
I crush out my heart
By remembering you
Married woman

Tuesday, January 29, 2008

Penyakitan

Oi Pesakitan!

Kamu tahu bosmu pintar
Mengapa sengaja jadi bodoh?

Kamu tahu temanmu baik
Mengapa memilih jadi brengsek?

Mungkin kamu tidak sadar
Tapi itu penyakit meradang

Kamu tahu ia tidak suka dihakimi
Mengapa membuatnya marah?

Kamu tahu dirimu bukan yang terkuat
Mengapa semua beban tetap diangkat?

Rasakan sendiri sakitnya
Penyakit yang kamu tolak obatnya

Tuesday, January 08, 2008

Sarcasm

“Kalau hidup dibikin sarkasme, berarti kita bukan manusia,” begitu kata seorang copywriter di blognya. Sial.

Keluar deh dia dari shortlist gebetan , huehehe...

Tuesday, December 25, 2007

Mas Kris

Pernah mengirim ucapan Selamat Natal yang jujur? Yang benar-benar dari hati terdalam bukan karena ritual atau karena cewek yang beda agama itu cakep banget?

Sebenarnya seperti apa sih ucapan Selamat Natal yang berasal dari hati terdalam? Is such thing even exist?

Buat yang berprofesi sebagai konsultan komunikasi seperti saya (cieh) harusnya tahu (d'oh!). Setahu saya, belum pernah saya mengirimkannya. Tapi toh yang penting sudah berniat melakukannya, lumayan kan dapat pahala.

Berhubung penasaran belum ada obatnya, jadilah hari ini, sudah beberapa hari terakhir sih, saya bingung mau bikin ucapan seperti apa. Dan kemudian karena sudah deadline dan belum nemu racikan yang tepat, jadilah saya menggunakan format ucapan general yang aman. Yang penting feelnya masih "memberi kedamaian", ya nggak? Pasti iya lah, kan lagi Natal.


May the peace and joy of Christmas be with you today and always...


...or you know, not, hehehe...Merry Christmas!

Sunday, December 23, 2007

Fuck-a-tion

Bagi sebagian dari kalian yang jarang menonton tv lokal dan liburan ini jadi memiliki kesempatan menontonnya, terasa kayak buang-buang waktu nggak? Harga waktu terasa melonjak naik apabila harus ditukar dengan menonton sinetron murahan, infotainment memalukan, variety show membosankan, berita-berita kriminal menyeramkan, kontes-kontes memuakkan, dan iklan-iklan diantaranya yang menyedihkan.

Sehari-hari saya masih perlu sempatkan diri menonton tv lokal sebagai referensi, though it’s a bad one. Tapi, karena sekarang lagi liburan, jadi tidak ada keharusan bagi saya untuk menontonnya, hahaha…senangnya.

Berita terbaru saya bisa baca melalui koran dan internet, bahkan yang seram-seram tersedia dengan bahasa sehari-hari yang penuh typo di dalam Pos Kota. Tidak perlu menonton paket berita dengan gambar low-res dan kesalahan dalam pelafalan bahkan pengetikan di running text. Meskipun kadang kangen juga melihat Frida Lidwina atau sekedar pengen tahu sekarang Zelda bawain acara apa.

Hiburan? Berseri-seri House MD dan film dalam bentuk DVD bajakan menyelesaikan masalah sambil make a stand against capitalism. Ribuan musik siap di download meski sekarang search engine music multiply sudah dihapuskan. Belum lagi bloopers House dan video-video ajaib yang sangat menarik di youtube dan siap diunduh menggunakan keepvid. Tentu saja masih ada YMan, blogger, multiply dan facebook yang tidak pernah membosankan.

Yang paling menyenangkan dari semuanya adalah saya menjadi punya waktu untuk membaca. Semua itu kalah serunya dibandingkan membaca buku bagus sambil tidur-tiduran dan menuliskan kata-kata baru atau yang punya arti lucu dalam satu file lalu ketiduran saat meresapi makna ceritanya.

And so, just look at that, I can still be happy for myself though I can’t go to another continent to feel the snow. So pathetic, isn’t it?

What a lame holiday.

Entry ke-100

So what?

Tuesday, December 18, 2007

Thursday, December 06, 2007

Who’s The Master?

Dalam sebuah pembicaraan saya dengan seorang sahabat, diantara topik flow offline dan super video presentasi side job, terselip sebuah topik yang sepertinya tidak akan pernah selesai yang dalam beberapa tahun terakhir ini selalu menjadi pembahasan antara saya dan dia yaitu, who’s the master?

Seperti misalnya,
Saya : mungkin kalo dulu cewek-cewek di Bandung disuruh baris, setengahnya pasti membentuk barisan mantan loe
Sahabat : mungkin, tapi setengahnya lagi pasti jadi barisan cewek yang pernah loe **i
Saya : rese. Hmm…kira2 ada yang berdiri di irisan dua barisan itu nggak ya?
Sahabat : Mudah2an aja nggak…
Saya : Mana mungkin gw nyamain master...

Setelah itu dia pun selalu menghindar dan mengatakan kalau sudah memberikan gelarnya kepada saya. Saya kemudian bilang saya tidak pernah mau menerima gelar itu. Dia pun membalas kalau dia juga tidak pernah menyandang gelar itu. Dan terus begitu hingga salah satu dari kami harus kembali fokus ke kerjaan, makan siang atau mau pulang.

Kantor Baru

Setiap orang yang saya kasih tahu pindah ke mana, jidatnya pasti mengerut dan mengeluarkan pertanyaan yang tiba-tiba semua orang tanyakan,”kok kesitu?”

Kemudian saya akan menilai seberapa dekat hubungan saya dan orang yang bertanya itu, kalau cukup dekat saya akan menjelaskan, tapi kalau tidak, saya pasti menjawab,”Kok loe nanyanya gitu?”

Nah jawaban orang-orang setelah ditanya seperti itu yang cukup menarik. Aneh-aneh jawabannya: “ya abis aneh aja”, “bukannya loe tinggal pilih ke mana aja loe mau?”, “kan itu nggak tambah deket ke rumah loe”, “pasti duitnya gede bgt tuh”, “secakep apa cewek cakepnya di sana?”, “loe dah beneran gila ya”, “apa lagi yang loe cari sih?”

Yang lain sih ternyata nggak penting-penting amat, tapi yang terakhir itu menarik. Kesannya saya sudah mendapatkan semuanya, adalah menyebalkan diliat sebagai orang yang seperti itu. Namun pertanyaan itu berhasil masuk ke dalam pikiran tidak sadar saya.

Jawabannya: masih banyak, sangat banyak, makanya saya pindah.

Ke mana? Ke sini
burat@advantage.web.id

Friday, November 23, 2007

Why House?

Shakespeare really screws us with his crafty quote,”What is a name? is he?” Well, thank God I met Roland Barthes.

Tahu nggak kira-kira kenapa Ahmad Dani kalau bikin lagu yang memuja wanita selalu ada nama Dewinya? Padahal kita tahu dia bertentangan dengan Ari Lasso dalam membuat lagu karena Dani mensuperiorkan laki-laki bukan wanita. Sedangkan Ari selalu mengagungkan perempuan. Apakah karena arti kata Dewi yang selalu bagus dan terhormat dijadikannya sebagai perimbangan dalam mensuperiorkan laki-laki di dalam lagu-lagunya, atau, pada dasarnya memang ada seseorang yang bernama Dewi yang lebih berarti dan masih melekat di hati Dani dibandingkan sang istri (atau mantan istri? Tau deh nggak pernah nonton infotainment lagi)?

Setiap nama sebaiknya punya banyak arti. Berlawanan lebih seru. Atau setidaknya kita menyuntikan satu arti yang selalu bisa mengingatkan kita mengapa kita menamakan sesuatu atau seseorang dengan nama yang kita ciptakan.

Contoh, Pria Berputar-putar
Saya saat ini memanggil seorang pria dengan panggilan bundar. Dia dan semua orang (kecuali kalian yang membaca ini) akan mengartikan saya memanggilnya seperti itu “hanya” karena badannya yang gempal, sebuah celaan biasa yang setara apabila ada orang kurus dipanggil ceking. Tapi buat saya ia adalah seseorang dengan cara berpikir yang berputar-putar seperti sebuah bola bundar yang berputar tak tentu arah sehinga ia pun sering sekali melupakan inti dari suatu masalah apalagi mengerti masalah besar dari masalah yang dihadapinya. He is always gone around the bend.

Contoh lain lagi, Perempuan Mengelupas
I call her flaky karena kulitnya mengelupas akibat terkena panas. Mengapa tidak freckless? Kok addicted to Lost bgt kalau pake ini, peeler? Mungkin kalau dia sangat tomboy, tapi juga kata ini deket sama punyanya cowok, gawat kalo salah eja. Atau Snakey? Sayangnya dia tidak gesit. Ok, alasan sebenarnya adalah selain kulitnya mengelupas, dia juga seseorang yang sering sekali bertindak foolish, silly and frivolous.

So, I think I’ve made my point about “the untold meaning” that every name usually or should have. Nah, sekarang sampailah di pertanyaan besar di kepala saya, kenapa namanya Gregory House? Not Gregory Adam, or Muhammad Gregory, or even Gregory Bush. Saya sudah bertanya kepada Mr. Anderson dan dia hanya menjawab kalau yang penting adalah untuk tetap percaya. Well, I don’t.

Saya kemudian mengambil pisau bedah buatan Roland Barthes dan mengorek-ngoreknya. Yang saya dapatkan kurang lebih adalah: karena apapun masalah yang ada dihadapinya, ia selalu memberikan ketenangan karena selalu berhasil menyelesaikan masalah dengan nilai-nilai dasar yang hanya bisa berkembang sempurna di dalam sebuah rumah, nilai-nilai seperti rasa peduli tanpa pamrih dan kebenaran yang benar benar benar.

Or, you know, not.

Monday, November 19, 2007

Miserable Moment

I was just wondering, about the day when my moment of the most miserable failure in my life took place. I don’t remember the exact date but I’m sure it was Sunday.

I remember that I was just finishing my homework and saw Doraemon on TV in the morning. Oh did you know Doraemon has been on our national TV for more than 17 years? Quite amazing, yes?

Anyway, my mom saw me sitting too close to the TV and asked me why I was doing that. I said it was blurry to watch the TV from distance. I didn’t realize what that weird blurry meant.

At noon, me, my father and my mother went to an airshow at Kemayoran. It was amazing. I saw the show with binoculars. It was incredible how the pilots piloted their plane. So engaging; very stunning, as if we were watching dancers in the sky. Those top guns also acted like great painters, filling the sky with beautiful colors and forms. But that wasn’t all. One of the pilots was my uncle!

Then he took me to see his jet at the hangar. It was an F-14 Tomcat, an assault fighter jet with great maneuverability and speed, my uncle told me with enthusiasm. What was most amazing that day was that I got to sit in the cockpit! I could hold the steering stick, and wear my uncle’s helmet. I told myself confidently, “I will be an ace.”

After the airshow, we didn’t go straight home. We went to an eye doctor at the Jakarta Eye Center in Cikini. My parents asked me to run some tests with the doctor. I didn’t argue much as I was still excited about the air show and about becoming a pilot.

The tests were just standard eye tests: reading some word charts with one eye, seeing a red dot in an eye microscope, and so on. The results came back instantly. My eye doctor said I got 1.25 minus in both eyes so it was necessary for me to wear glasses. I said that was okay as long as the glasses would fit in my pilot helmet. The room suddenly became silent.

Then my dad took me to another room and told me that a pilot must have a perfect or near perfect sighting ability. A pilot is not allowed to wear minus glasses. Bottom line: I could never be a pilot. It felt like Judgment Day. I was mad at my father, my doctor and also at myself. How could I let something like this happen to me? I should’ve taken care of my eyes more carefully. I should’ve protected them.

At home, I ripped up all of my airplane posters. I threw away all of my toy planes. I hated them.

Wednesday, October 24, 2007

Getting bored in a meeting?

Saya punya beberapa cara yang mudah untuk mengubahnya. Tidak menjadi lebih baik, hanya membuatnya jadi lebih menarik.

Apabila masalah yang dibahas cukup krusial, pikirkan masalah yang lebih krusial yang bisa timbul dari masalah krusial tadi dan kemukakan, Anda sudah mencegah kebodohan semua orang yang ikut rapat untuk melakukan masalah yang lebih krusial.

Dalam mencari jawaban, jangan mencari yang paling benar. Urutkan jawaban yang paling salah dan sebutkan jawaban di urutan terakhir.

Saat forum tidak juga menemukan solusi yang disepakati dan sudah waktunya Anda ke pertemuan selanjutnya, sebutkan ide solusi yang memperkeruh suasana untuk memancing orang lain mengeluarkan idenya. Langsung setuju saat ada yang menyarankan sebuah penyelesaian. Dijamin Anda segera bisa keluar ruangan.

Ketika suasana mengarah ke sebuah keputusan untuk menjalankan solusi yang bodoh, ungkapkan lagi solusi-solusi ideal yang tidak memungkinkan untuk dilakukan hingga semua orang menekankan kembali untuk melakukan solusi bodoh tersebut. Sehingga ketika solusi bodoh melahirkan masalah yang lebih besar, tidak akan ada yang menyalahkan Anda.

Ingat kemenangan sejati bukan membuat orang lain mengikuti sesuai dengan yang Anda katakan seperti seorang diktator dan tirani, tapi membuat mereka mengatakan/melakukan apa yang sebenarnya Anda inginkan. Karena salah itu bukanlah tidak benar dan benar bukanlah tidak salah bukan?

Monday, October 01, 2007

Merinding

Ketika saya sedang memerhatikan bayangan saya di cermin, entah kenapa tiba-tiba saya teringat seorang teman lama, seorang rival lama tepatnya. Kami pernah mencintai seseorang yang sama. Lucu juga saat teringat kembali kompetisi diantara kami.

Dulu saya dengan sangat sadar memutuskan bahwa masa sekolah adalah masa-masa yang tidak boleh disia-siakan sama sekali. Karena itu positioning eh maksudnya saya memosisikan diri ke si dia yang sama-sama kami cintai itu sebagai seseorang yang menawarkan kebebasan dan tak peduli peraturan.

Yang saya lakukan misalnya seperti ini: Sebelum obrolan malam berakhir, saya selalu menawarkan menjemputnya di pagi hari untuk bersama-sama pergi ke sekolah. Meski berjuta-juta kali ditolak, toh akhirnya luluh juga. Saat itulah saya kemudian menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya dengan sengaja menjemputnya sangat telat. Bagi murid baik seperti dirinya yang jarang telat, datang ke sekolah setengah jam lewat dari batas toleransi sama seperti bunuh diri. Ditengah kepanikannya –dia terlihat lebih cantik- saya menawarkan solusi yang…sama sekali bukan solusi, yang penting happy.

Kami pun kemudian madol ke Bandung, padahal dulu belum ada Tol Cipularang. Jadi waktu tempuh ke Bandung lewat Cikampek zaman itu sekitar tiga jam. Begitu sampai di Bandung, kami makan siang di toko Yu dan langsung balik lagi ke Jakarta setelahnya. Agar kami dapat tiba di rumahnya tidak jauh berbeda dengan waktu tiba ia pulang sehari-harinya setelah sekolah dan tambahan bimbingan belajar. Sayang hari itu ibunya tiba-tiba memutuskan untuk menjemputnya. Masuklah saya ke dalam daftar black list mamanya.

Apa yang saya lakukan tentu beda sekali dengan apa yang si rajin rival saya itu lakukan. Ia selalu saja bisa membuatnya terkagum-kagum dengan apa pun yang sudah ia baca. Atau ia juga selalu saja bisa menarik perhatian dia yang kami cinta itu dengan analisa-analisanya tentang sesuatu, baik yang penting maupun tidak. Bahkan, di periode waktu ujian sekolah yang notabene sangat suci bagi seorang siswa untuk bermain atau bertemu dengan teman, rival saya itu setiap harinya selama setengah hari (dari siang/sore hingga malam hari) berhasil terus bersamanya. Saya bisa tahu tentu saja karena suka “sok sedang lewat” dan memerhatikan rumah si dia. Dan kalau sedang belajar seperti itu si dia tidak pernah mau menjawab telepon. Hal menyebalkan ini terus berlangsung hingga puncaknya saat ujian. Selama ujian sekolah berlangsung rival saya itu selalu jadi andalan si dia untuk menjemput dan mengantarnya. Pokoknya di zaman-zaman ujian yang berlangsung beberapa bulan itu rival saya terus-terusan bersama si dia. Sialan.

Tapi bagaimanapun, seorang siswa sekolah pasti mendambakan kebebasan. Dan itulah yang membuat saya unggul dari rival saya. Melewati musim ujian, masa-masa belajar pun berakhir. Dan itu berarti berakhir pula kesempatan rival saya untuk dapat bersamanya. Huahaha…saya pun memenangkan peperangan itu.

Bayangan saya di cermin semakin lebar memerlihatkan senyum penuh kemenangan. Tapi anehnya, bayangan saya tetap tersenyum meski saya sudah manyun. Saya lalu menggerakkan tangan dan kepala saya agar ia ikut bergerak, tapi tetap saja ia hanya bergeming tersenyum. Ini sudah tidak lucu lagi, pikir saya. Tidak lama kemudian, wajah bayangan saya perlahan berubah. Awalnya saya tidak mengenalinya, tapi kemudian saya teringat dengan gaya rambut dan kacamata uniknya itu. Wajah bayangan saya berubah menjadi wajah rival saya.

Apakah ini? Sebuah rasa bersalah? Saya salah di mana? Semuanya fair kok, it’s not like I did any bad trick or so…Saya pun kemudian menelepon beberapa teman lama untuk menanyakan kabar rival saya itu. Sudah kerja di mana, sekarang tinggal di mana, sudah menikah atau belum dan sebagainya-sebagainya.

Namun ternyata tidak ada yang tahu kabarnya sekarang.

Tak seorang pun!

“Bunuh diri kali dia, Rat,” kata salah satu teman saya.

Nah lo.

Friday, August 24, 2007

Romansa Kota -2

Melihat bangunan-bangunan tua yang seksi di daerah kota berhasil menembus dinding yang melindungi rasa peduli terhadap ibukota ini. Andai daerah ini diurus sepenuh hati, suasana romantisnya pasti mengalahkan Clarke Quay dan indahnya bisa setara Venesia.

Perbaikan yang sudah dan sedang dilakukan di daerah ini pun terasa artifisial. Sepertinya hanya untuk alasan pariwisata semata. Hanya untuk enak dipandang mata dan mendatangkan devisa. Seperti keberadaan sebuah kafe yang menempati gedung tertua kedua di daerah itu namun tidak memiliki menu yang khas serta mematok harga yang sangat tidak bersahabat. Luarnya terlihat bercahaya tapi di dalamnya tak tersisa nyawa.

Perbaikan sebenarnya baik karena daerah kota sudah terlalu lama menunggu pengembalian keindahan dirinya. Tapi sebaiknya perbaikan, peremajaan, pembangunan kembali atau apapun namanya yang saat ini sudah dan sedang dilaksanakan itu dilakukan atas tujuan yang lebih mendasar, mempertahankannya sebagai daerah nostalgia penuh romansa di ibukota.

Ketidakpedulian pengatur yang seharusnya memikirkan cara mengatur bukan asal atur sekadar agar mereka tambah subur dan nyenyak tidur terhadap daerah kota menguatkan sebuah rasa sesal dalam diri saya. Penyesalan tidak hadir di saat para calon pemimpin ibukota ini menyampaikan aspirasinya. Meski belakangan saya mengetahui bahwa ajang tersebut hanya menjadi sebuah formalitas tanpa makna dan terkesan hura-hura, tetap saja saya seharusnya hadir di sana.

Ingin saya mendengarkan langsung seperti apa kata-kata yang diucapkan mereka. Bukan hanya apa kata-katanya, seperti apa struktur kalimatnya, tapi saya juga mau melihat mata mereka saat mengucapkannya, seperti apa bahasa tubuhnya serta bagaimana reaksi orang-orang yang mendengarnya.

Kehadiran saya di sana pasti dapat memperjelas bayangan saya saat calon yang saya bangun kampanyenya menyampaikan aspirasi dan pesannya yang menginspirasi seluruh hadirin.

Janji lima tahun ke depan itu sudah berkurang satu tahun, dan saya belum sempat melakukan apa-apa. Sialan.

Wednesday, August 22, 2007

Romansa Kota -1

Dengan kuatnya, aura bangunan-bangunan tua ini lembutkan kuduk. Hidupkan segala romantisme. Hilangkan semua rasa tanpa rasa.

Kamu yang di sana, hati ini sedang terbuka, memintamu masuk ke dalamnya, hanya kali ini saja, saat ini juga.

Monday, August 20, 2007

Merdekanya anak 5 tahun

Lucu deh. Weekend 17-an kemarin saya pergi bersama keponakan, adik dan sepupu-sepupu saya. Melihat banyak sekali bendera yang dikibarkan di depan rumah-rumah, keponakan saya yang baru berumur 5 tahun penasaran, “Kok banyak gituan sih?”

“Itu bendera, kan ada yang lagi ulang tahun,” kata saya. “Ayah ya yg ulang tahun? Ibu? Kak ini? Mba itu?.....” dia terus menyebutkan semua yang dia kenal.

“Bukan, yang ulang tahun Indonesia, negara kita”

“Negara kita suka bendera ya?”

……(hening)…….

“Hmm…nggak gitu, bendera itu biar ramai, kalau lagi ulang tahun kan harus ramai, kayak pesta ulang tahun kamu itu,” sepupu saya mencoba menjelaskan.

“Iya, yang lomba-lomba kemarin di rumah itu kan pesta ulang tahunnya negara kita,” adik saya mencoba menambahkan.

“Kok kita kemarin nggak bawa kado?”

….(hening)…

“Soalnya….” saya kebingungan menjawabnya

“Ah aku kalau ulang tahun nggak mau ada bendera sama lomba-lomba ah, nanti pada nggak bawa kado,” keponakan saya membuat kesimpulan.

…(hening lagi)….

….(masih hening)….