Monday, September 20, 2010
To Compromise, Love is.
At a point, we all compromise.
Tuesday, May 25, 2010
Pulp Talk #3
Hello, me.
It’s been a long time. How are you? Are you happier? You should you know. You’ve worked hard for it. You do want to be happy, right? Don’t tell me you’re one of those people who thinks being happy is pointless, because soon after that you’ll be sad.
I know being happy is not that simple for you. You told me once that whenever you’re happy, someone else would be sad. Or hurt. Especially your family.
All this time you’ve been trying hard to find one thing that will give happiness to you and your family. Not easy. I know. Yet you still trying. Which is good. Don’t mind those voices telling you that your family happiness is not worth fighting for, or the whisper of your ego telling that you need to live your life while you’re young and stop being “the caretaker”. Never consider picking one of them, please.
Because, trust me, both are worth to fight for. Although I don’t know in what form it would come to you. Maybe you’ll get a too-good-to-be-true wife, an unlimited amount of fortune, even go to heaven. Or maybe..you know..not all the above.
Hahahaha...Ok, ok, I’m sorry.
Ok, now, maybe what you need is stop looking up. Start looking down. Zillions of people still live a harder, tougher, cruller, scarier life than you. I don’t need to give you an example of that for sure.
Or just look people around you. You still got cousins that owe you money. A college friend who haven’t got a job. Or a high school friend who never had a date in his life.
See? Compare to them, now you have a steady, good income job. A complete family. A great ex-girlfriend (not the last one, the one before that. Or is it the other one before that?) Okay bad point, sorry.
What I’m trying to say is, maybe you are living a happy live. You just don’t realize it. Maybe you..you know..not being grateful. I mean maybe you are, but not enough.
I remember how you told me those stories which you got what you want after you stop asking and start thanking. Being grateful over a smallest thing lift up a huge burden, you said.
So maybe that’s the solution. Just simply say Alhamdullillah on simple things or list down and express it whenever you pray. Be thankful all the time. And less things will make you unhappy.
Just try it. It worked once, it will work again.
Sunday, May 09, 2010
Saturday, May 08, 2010
fiksimini #1
Wednesday, March 31, 2010
Pulp Word #1
Seorang lapisist menciptakan lapisan pelarian ketika sebuah masalah datang. Karena sebenarnya ia tidak mau menjalankannya tapi harus tetap melakukannya. Sehingga untuk tetap dapat menjalankannya ia menciptakan lapisan baru. Lapisan pelarian. Bentuknya macam-macam. Akumulasi lapisan ketidakberdayaan yang tak terkendalikan biasa disebut schizophrenia, ketika ia tidak bisa lagi membedakan mana yang lapisan mana yang bukan. Jika lapisan itu adalah seseorang, berarti penderita akan memiliki teman bayangan. Kalau lapisan itu kesendirian, si pencipta lapisan selalu bahwa ia adalah aktor dalam hidupnya sendiri. Orang lain hanya penonton, tak akan pernah bisa menyentuh dirinya yang “asli”.
Seperti di salah satu episode series Mental, ketika si penderita diberitahu ia akan dimasukkan ke institusi kejiwaan yang permanen, ia seperti tidak mendengar dan sibuk mencari jam tangannya. Kenyataannya, ia tidak pernah punya jam tangan. Si penderita sebenarnya sangat jelas mendengar dan mengerti namun menolak untuk menerima keputusan yang harus ia jalankan walaupun ia tidak setuju. Ia tidak suka akan dimasukkan ke institusi kejiwaan tapi tidak bisa menolak karena ia juga tahu kalau ia sakit dan ingin sembuh.
Lapisist sebagian besar berawal dari masalah keluarga yang tidak bisa terpecahkan dan harus terus hidup di dalamnya. Seseorang menjadi lapisist dimulai karena belum bisa menerima bahwa ketidakbahagiaan itu besarnya selalu sama dengan kebahagiaan yang kita rasakan.
Akan terdengar cukup basi, tapi ikhlas adalah penyembuh yang ampuh bagi para lapisist.
Wednesday, March 17, 2010
Craving for The Great Escape
“The Great Escape”
Boys Like Girls
Paper bags and plastic hearts
All our belongings in shopping carts
It's goodbye
But we got one more night
Let's get drunk and ride around
And make peace with an empty town
We can make it right
Throw it away
Forget yesterday
'We'll make the great escape
We won't hear a word they say
They don't know us anyway
Watch it burn
Let it die
Cause we are finally free tonight
Tonight will change our lives
It's so good to be by your side
But we'll cry
We won't give up the fight
We'll scream loud at the top of our lungs
And they'll think it's just 'cause we're young
And we'll feel so alive
Throw it away
Forget yesterday
We'll make the great escape
We won't hear a word they say
They don't know us anyway
Watch it burn
Let it die
'Cause we are finally free tonight
All of the wasted time
The hours that were left behind
The answers that we'll never find
They don't mean a thing tonight
Throw it away
Forget yesterday
We'll make the great escape
We won't hear a word they say
They don't know us anyway
Throw it away
Forget yesterday
We'll make the great escape
We won't hear a word they say
They don't know us anyway
Throw it away
Forget yesterday
We'll make the great escape
We won't hear a word they say
They won't know us anyway
Watch it burn
Let it die
'Cause we are finally free tonight
Monday, March 15, 2010
A false dream
Bagaimana bisa sebuah impian yang didapat dengan usaha mati-matian ternyata tidak sesuai dengan harapan?Apakah karena sebenarnya impian tersebut adalah sebuah kewajiban?
Atau sekedar pelarian?
Atau sedang “dicoba” seberapa bisa bersyukurkah?
Atau sedang “ditabung” untuk impian yang lebih besar lagi?
Atau malah sedang bayar “utang”?
Bagaimana cara mengetahui apa yang benar-benar kita inginkan ketika satu persatu terwujud namun tidak sesuai harapan?
…
Ikhlas dan loncat ke mimpi lain bahkan yang lebih besar.
Hanya itu yang terpikir. Untuk sementara. Karena sepertinya akan menjadi sebuah kekalahan ketika kita berhenti mengejar mimpi apalagi berhenti percaya bermimpi ada gunanya.
Saturday, March 06, 2010
Annyeonghaseyo!

Friday, March 05, 2010
What Lies Beneath
Di perjalanan, pria kembali memikirkan kenapa ia mau menerima undangan si mantan.
Aneh juga tiba-tiba dia minta ketemuan, tanpa ngasih alasan. Untung dijanjiin gratisan sarapan. Hehehe ternyata saya murahan…
Mereka bertemu di toko kecil yang menjual roti kesukaan pria. Duduk berhadapan, pria mengakhiri keheningan dengan membuka percakapan.
“Ada apa?”
Kok dia nggak nawarin pesen makanan ya? Hehe”
“Kamu nggak merasa kita pernah nyata ya?”
Yaelah, apaan sih?
“Maksudnya?”
“Kamu nggak pernah nulis tentang aku di blog kamu”
Heh? Serius nih ngajak ketemuan cuma gara-gara itu? Kangen kek, atau tiba-tiba minta pertanggungjawaban gitu biar seru, taunya ginian doank. Culun. Eh tapi tunggu, lucu juga kalau emang iya, baru pertama kali ada yang protes kayak gini. Atau mungkin baru pancingan awal dia aja. Tes dulu ah.
“Aku kan nulis kamunya di hati, ya di blog nggak bakalan ada”
PLAAKKK!!!
Perempuan muda tiba-tiba menampar pria cukup keras.
...bunyi krik krik jangkrik, tik tok jam, burung chirping sama sekali tidak terdengar. Hanya hening…
Yeah, ok, I forgot she knows me that well. But at least now I make her angry. That’s good. It’s easier to get her away that way.
Pelayan datang membawa dua bungkusan yang dijadikan satu.
Oh, ternyata dia udah pesan duluan. Asik. Tapi apa dia mau ngasih lagi ngambek gitu. Hmm…gimana mintanya ya…
“Nggak cuma kamu kok yang nggak ditulis di blog…”
Start with a truth…
“Berarti ada yang lain waktu kita --?”
“Kan memang seharusnya ‘kita’ nggak pernah ada.”
Damn, I just lied.
“Tapi buatku kita pernah nyata”
You’re expecting me to admit the same thing? Come on, that’s lame. Duh, tapi bau rotinya menggoda sekali nih. Laperrr…But a lie helps, so...
“Kalau aku bilang ada yang lain waktu ‘kita’ sama-sama, akan membantu?”
“Kejujuran selalu memunculkan hal baik.”
Need to say this as honestly as I could…
“Waktu itu... memang ada yang lain.”
Perempuan terlihat kaget. Namun perlahan ia tersenyum.
“Akhirnya kamu jujur juga. Siapa?”
Shit. I’m dead! One lie always leads to another, I should’ve known that.
“Nggak perlu. Percaya sama aku, kamu nggak pengen tahu.”
“Hmm…ok…Segini aja aku senang kok… Ya udah aku duluan ya. Itu rotinya buat kamu. Pelan-pelan makannya jangan langsung dihabisin semua”
Woaa that's it? Fiuuuhh! Eh tapi dia nggak marah, berarti belum akan pergi beneran dia. Sial.”
“Thanks.”
Perempuan muda berdiri dan pergi meninggalkan mantannya dengan perasaan lega.
Woohoo roti gratisan! Tapi tunggu deh, kalo dipikir ini sama nggak sih kayak menang judi, dapet bukan dari kejujuran. Kalau dimakan dosanya bakal jadi darah donk. Aaah cuek aja lah. Oh! Atau kasih anak kantor aja, mereka pasti suka :)
Sambil keluar toko, pria melihat-lihat tweetnya, ada teman kantor yang meminta dibawakan cemilan.
Monday, October 19, 2009
Tiga warna danau itu jadi satu
Tentang kamu, semua masih terlihat nyata meski aku tidak ingin menjadi pengingat yang hebat. Karena rasa itu masih memelukku. Bukan sisa, tapi utuh adanya.
Kita putuskan menutup hari Minggu indah itu dengan sebuah ciuman. Pintu sudah terkunci, lampu telah dimatikan. Sejuta satu jurus kupersiapkan untuk segala keindahan setelah bibir kita bersentuhan.
Mmmmwwh….
Zap! Dalam sekejap semua jurus menghilang. Kelembutan, ketenangan hembusan serta keeratan dekapanmu menarikku begitu dalam. Jauh meninggalkan kesadaran dan kemampuan untuk tetap waras. Aku lenyap. Kau hilangkan akuku.
“Kamu…,” ucapmu begitu indah.
“Tidak, kamu…,” ucapku tanpa tahu artinya.
Hanya dengan sebuah ciuman, jutaan gombal, ribuan sentuhan dan ratusan adegan bercinta yang pernah terjadi sebelum kamu punah tanpa makna. Kalau mereka itu piala, pecah semua seketika. Yang tersisa hanyalah kedungu-an tidak tahu harus melakukan apa. Memelukmu terlalu erat adalah dayaku. Jurus murahan yang tak pernah kugunakan. Kau pun menjadi sangat heran,
“Kamu kenapa?”
Aku tak langsung menjawab. Meski dalam hati berteriak, “jatuh cintaaa!” Berteriak dalam hati membantu melepaskan kegilaan dan mengembalikan kewarasan, aku pun menemukan jawaban,
“Kamu mandi sana, bau prengus.”
Tiba-tiba dibalikannya badanku, dan dibisikannya pelan ke kupingku sebelum ia menjilat dan melahapnya,
“Aku bikin kita berdua bau prengus.”
Terimakasih sudah menarikku dan rasa cinta hingga kembali bersentuhan.
Monday, October 05, 2009
Hey you, stranger
It was you who I talked to for the first time after the news. From all of the strangers, I half-conscious picked you. Why? I even hadn’t had a change to spoke to myself. How could that be? Blurred it out like some shallow spoiled youngest kid.
And why have you listened to me? Why didn’t you just go back playing with your kids? You should’ve stopped me. Damn, I’m losing my own mystery.
I never need anybody to hear my problems and said things I wanna hear. I always got me, myself, and I. And they’ve been great keeping me not completely insane.
But you shared your remarkable life and greatest secret. Touched, I was.
Although, just like you, the trust raised the claustrophobia. Good thing you’re far away, therefore I won’t have to make a distance.
So, thank you, strange-close stranger.
Tuesday, September 29, 2009
Or will I be sitting at Cafe Terrace on the Place du Forum? Sipping hot chocolate with. Anyone. I won't mind.
Friday, September 25, 2009
Stalker
Namun ternyata ia ikut merasa sedih.
Tidak seharusnya ia merasakan itu. Mengapa masih harus peduli? Apakah ia masih peduli?
Pikirannya mengatakan hal utama yang membuatnya sedih adalah obyek yang tidak membagi kesedihan bersamanya. Kenyataan yang menohok bahwa ia masih sangat peduli kepada obyek sedangkan obyek sama sekali tidak.
Ketidakberadaannya di sisi obyek saat obyek berada di titik kesedihan yang begitu dalam membuatnya merasa kecewa kepada dirinya. Mengikis kepercayaan diri karena terbukti ia tidak berarti di mata orang yang ia peduli.
Terkucil. Tersingkir. Tak berdaya.
Namun tak lama kemudian ia tersenyum.
Ia baru saja menerima karmanya.
Tuesday, September 15, 2009
Sahabat Malam
Entah karena malam di Amsterdam sedang bersahabat atau suasana hati yang temaram, Malam di pinggir taman ini sangat nyaman. Merasa seperti dipeluk dengan dekapan yang cukup. Tidak terlalu kencang, tidak terlalu kendur. Malam yang patut dihirup dalam-dalam.
Pikirannya melayang bertanya-tanya ke mana hati terbang. Lebih baik dicuri saja, terasa lebih ringan. Malam bilang hati sedang menyusul harapan. Mengejar si suatu saatnya. Lengkap bersama ke mana dan sampai kapan yang selalu menuntut jawaban.
Sudah lama badannya kosong akan ketenangan. Keteraturan. Kepuasan. Meresap…dan merasa…Mengisinya akan meluruskan makna, mengeratkan jiwa, menghidupkan aura.
"Berhentilah segera," Malam meniupkan asa.
Tanpa kata, malam banyak berbicara kepadanya. Bercerita palsunya dunia tanpa harapan. Mahakarya terbuang demi angka. Terkungkungnya jiwa karena keluarga. Alasan demi alasan berwujud realita hadir bernyawa.
Malam mengangguk saat ia sadar kehidupan dibangun dari pengorbanan. Teman yang mengatakan dibangun dari mimpi pasti belum pernah kelaparan, belum pernah melihat ibunya tidak makan karenanya.
Sesuai mimpi, hatinya tak lagi betah singgah. Sehingga betapa pun sakitnya, ia akan bertahan.
Bersama Malam.
Friday, September 11, 2009
Thursday, September 10, 2009
Monday, September 07, 2009
Thursday, September 03, 2009
The Wisdom of Larry David on Emotion
it becomes funny."
Tuesday, September 01, 2009
Wahai pembaca blog
Langsung aja ya, gw ada permintaan khusus nih, yaitu: kasih komentar donk.
Berkat Penghitung Pengunjung yang ada di paling bawah halaman, gw jadi tahu kalau ternyata blog ini dibaca secara berkala. Walau entah oleh siapa.
Kasih komennya tetap sebagai anonymous aja, kita nggak usah kenal lagi di sini, asal bisa interaksi. Karena gw suka ngobrol sama orang asing. Jadi kita di sini ngomong2 tanpa pretensi, cuma membahas esensi, meskipun sebenarnya kalian adalah orang-orang yang gw kenal bahkan pernah deket.
Boleh ya dicoba? Terimakasih sebelumnya.
Burat