Saturday, October 28, 2006

"Ingat-ingatlah semua salahku: caci, dengki, semuanya yang membuatmu sakit. Sudah semuanya? Berapa harus kubayar? Sejuta cek maaf cukup? Atau kau ingin tunai seperti mata dibalas mata? Berapapun kau jual, kubeli!

Untuk maafku? Gratislah untukmu :-)

Selamat Idul Fitri 1427 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Monday, October 09, 2006

Senior yang Junior

Seorang sutradara senior mengatakan TVC yang dulu kami kerjakan tidak maksimal (salah satunya) akibat saya terlalu sok tahu dengan mengajukan arahan untuk menghadirkan storytelling ad yang dilakukan dengan motion control approach, karena menurutnya karakter dan emosi tidak akan terbangun. Mungkin mengenai tidak cocoknya storytelling ad dan motion control menurut dia itu benar. Tapi yang dia lupa (atau memang tidak pernah mengerti) bahwa TVC yang saya dan tim maksud dan inginkan bukan storytelling ad menye-menye atau storytelling yang menyentuh secara mendalam yang memerlukan karakter dan emosi yang mendalam. Maksudnya, iklan yang ingin kami buat bukan untuk menjadi terlalu dramatis, namun menjual dengan elegan dengan cara yang berkesan massif dan canggih namun tetap bercerita. Suatu upaya untuk menggambarkan keunggulan sinyal TELKOMSEL dan inovasinya selama sebelas tahun yang selalu menjadi yang pertama di generasi-generasi GSM di Indonesia. Kami pun sudah punya ‘klasifikasi’ sendiri hasil seloroh CD kami waktu itu, yaitu storryselling ad!

Di pre-pro awal sepertinya director mengerti hal tersebut, ia pun setuju bahwa motion control adalah pendekatan yang paling cocok. Namun sayang ternyata ia tidak mengerti keseluruhan pesan yang ingin disampaikan dalam iklan kami ini.

Bukti dari hal tersebut terjadi pada salah satu, saya ulangi lagi, salah satu klimaks kesalahannya, yaitu salah mengambil shot! Itulah pertama kalinya saya dan art director melihat seorang director salah mengambil shot. Bukan. Yang ia ambil bukan shot untuk stock seperti yang dilakukan director awamnya, ia mengambil shot yang benar-benar tidak berguna.

Biar saya terangkan kesalahannya. Shot yang mau diambil adalah adegan video call. Adegan setelah transisi antar penelepon yang dilakukan dengan cara crash zoom ke dalam layar ponsel lalu warping ke tempat lawan bicara. Untuk mendapatkan tempat lawan bicara tentu saja angle yang harus diambil adalah frontal dari depan, namun yang ia ambil adalah frontal dari samping. Ketika ditanya alasannya,”Iya, kan nanti ada transisi cut/dissolve” Duar!!! Kontan saya dan tim meledak, sepanjang iklan telah disetujui bersama bahwa transisinya tidak akan ada cut sama sekali, tiba-tiba di bagian yang transisinya tidak mungkin dengan cut malah ia lakukan. Meski kemudian ia mengakui sudah salah mengambil shot (dan memang terbukti salah karena kami tidak pakai sama sekali shot2 itu) tapi tetap saja…ia beruntung GM marketing klien sedang diajak makan oleh account director dan president director kami, kalau tidak…

Tapi sepertinya kejadian itu membekas dengan arti yang berbeda di dalam diri sang director, ga papa juga, namun sayangnya ia mengungkapkannya ke banyak orang dengan cara dan pesan yang berbeda (seperti yang ada di dalam blognya), sehingga kami (agency) dan PH mendapat pandangan negatif yang mempengaruhi kredibilitas kami. Saran saya sih, jadi Public Relations aja gih, hasilnya lebih bagus tuh daripada nge-direct.

Mungkin ia sudah senior di bidangnya, namun saat membuat iklan kami ia sama sekali bukan itu. Banyak sekali pekerjaan rumah yang tidak ia kerjakan. Sebagai contoh adalah director shooting board yang plek ketiplek persis eh salah maaf, 80% plek ketiplek, dua puluh persen adalah tambahannya dia yang tidak sesuai dengan pesan iklannya. Dan hal tersebut terjadi berkali-kali meski kami sudah minta revisi, sehingga kami harus merevisi di kantor klien sepuluh menit sebelum final prepro meeting.

Mengenai art director kami yang dianggapnya nggak pede sehingga mengeluarkan terlalu banyak referensi yang membuat (ingat ini menurut dia) iklannya kehilangan identitas, malah yang terjadi waktu itu adalah sebaliknya. Kami melihat ia kebingungan sebenarnya iklannya mau dibuat seperti apa. Treatment-treatmentnya terus bertabrakan dengan isi pesan. Karena itu kami bantu dengan menghadirkan referensi-referensi untuk membantunya. Agency, PH bahkan Post House sih mengerti-mengerti saja, cuma dia saja yang kebingungan sendiri. Seperti timing slot masuknya super, masak tidak diperhitungkan saat offline sehingga kami harus merombak kembali hasil offline, beruntung sebelumnya produser kami sudah mengantisipasi sehingga kami bisa masuk dan melihat hasil offlinenya lebih awal, hal tersebut telah berhasil mencegah kesalahan yang lebih besar. Namun sayang tindakan pencegahan tidak berhasil dilakukan pada tahap online, akibatnya tim agency harus terus supervisi rombakan online hingga jam enam pagi.

Kalau kemudian ia banyak mendapat job setelah orang tau ia menggarap iklan kami, ya sudahlah. Tapi mungkin orang2 itu harus tahu bagaimana sebenarnya iklan kami ini akhirnya bisa jadi. Yaitu karena DOP yang dengan kompetensi dan kesabarannya membuat iklannya tidak blontang blonteng. Lalu ada Mas astrada yang dengan ulet memberi arahan ke semua talent terutama si bapak yang masih juga kaku sampai akhir sementara ia lebih sering ongkang-ongkang kaki bukan karena yang paling mengerti tapi menjadi yang paling terakhir mengerti. Serta peran besar terakhir ada di para editor post house yang sudah cukup sering bekerja dengan kami.

Jadi kalau ternyata ekspektasi director tidak sesuai dengan realita saat membuat iklan kami, mungkin ia harus mulai melihat ke dalam dirinya dahulu daripada sibuk menilai dan bercuap mengenai jeleknya orang lain.

Thursday, September 28, 2006

Kebenaran bukanlah kenyataan

Waktu Batman (Christian Bale) bilang ke Rachel Dawes, “It’s not who you are underneath, it’s what you do that defines you”, gw tau itu bener, and I love Batman in many ways.

But somehow I disagree with his statement. For me, “It’s who you are underneath that defines you, not what you do.”

Here's why:
- “Loe mau ngapain lagi datang ke sini? Why haven’t you give up on me? Pokoknya apapun yang loe mau omongin jawabannya nggak!!!”
Hmm…Okay, Gw mau bilang kalau kita udah tiga tahun lebih putus silaturahmi, sedangkan aturan di Islam cuma 3 hari, selebihnya diangap dosa besar. Gw ke sini mau nyoba jalin itu lagi, but if you say so…selamat menjalankan bulan Ramadhan penuh dengan dendam…
- “Wah copy2 loe terlalu langsung ya, nggak ada twist.”
Yet that’s not the way I usually speak or write, I did it so we can get fast approval through the client since the AE’s can’t sell a thing. And…didn’t you hear yourself these days? “Udah ikutin aja maunya mereka, yang penting cepet selesai”. Oh I really want to stamp your forehead with a really big capital words, I TOLD YOU!
- “Segitunya banget kerja, kalau cuma buat duit segitu aja kerja sama gw deh, gw bayar lebih.”
Thanks, but no thanks. I know where you got your money…I know what I gotfrom this job is not worth it, but at least it’s a clean money…
- “Ambil cuti kok pas lagi banyak kerjaan, karena urusan keluarga lagi, egois banget.”
Yang ngomong nggak tahu kalau orang rumah udah bilang kayak gini, “Emang sih keluarga sudah nggak mampu ngidupin, tapi sampai kapan pekerjaan selalu di atas keluarga, memang tempat kerja itu rumah kamu?”

Huff…I guess to be good is to be misunderstood.

Wednesday, September 27, 2006

Hai lihat kami baikan lagi! Hehe...;p


Sunday, September 17, 2006

Kebahagiaan yang tak terlihat mata

Beberapa teman membagi masalahnya. Masalah yang sama, masalah saya juga. Menyenangkan. Mengetahui kalau mereka masih percaya, setidaknya membuat saya melupakan masalah sama yang melanda saya juga.

Pada dasarnya mereka bertanya bagaimana kami dapat menang dalam perang ini, perang melawan kebodohan orang lain yang membuat hidup kami lebih berat. Sebuah kehidupan yang harus dijalani dengan terus menerus kehilangan begitu banyak teman, keluarga, waktu, kesempatan, dan yang paling menyakitkan, harapan.

Namun kemudian ada salah satu dari kami (hampir dapat dipastikan) berhasil keluar dari kungkungan masalah yang kami semua alami. Ia tidak pergi atau melarikan diri. Ia berhasil meraih harapannya.

Saya ikut bangga, lebih-lebih bahagia. Karena dengan begitu berkurang satu yang harus dijaga, sehingga kedepannya saya bisa lebih fokus berperang ke hal yang lebih besar daripada melawan kebodohan orang lain ini, yaitu perang melawan kebodohan diri sendiri. Seperti yang terjadi sampai saat ini.

Nggak ada brief, deadline mepet. Berarti kerjakan secepatnya tanpa kesalahan, lalu gunakan waktu lebihnya untuk crafting masterpiece yang lain atau membangun kehidupan. Ibarat air mulai pasang dan kita harus membuat sebuah kastil di atas pasir, semakin lama menghabiskan waktu semakin sia-sia nantinya. Kalau kita Tuhan sih tidak apa-apa. Yang kapan saja tinggal mengalihkan air pasangnya atau mengubah pasirnya menjadi adamantium sehingga meski air pasang kastil tetap bergeming.

Setelah tahunan setia bekerja mengubah sampah menjadi karya hingga mengorbankan keluarga, lalu tiba-tiba dianggap pengkhianat karena sedang jatuh cinta? Atau meski naik pangkat namun masih menerima lebih kecil dari yang belum? Saran saya, mulai saja bangun kerajaan bisnis sendiri. Walau dari nol, yang penting tiap proyek bisa gol. ‘Cos as far as i know, loyalty for a company is a lie. Hanya sebuah harapan semu yang diciptakan pemilik usaha untuk mengurangi pengeluaran seperti pemerintah menghargai guru di Indonesia dengan slogan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”, tanpa menghitung dengan benar kebutuhan atau sama sekali peduli dengan kesejahteraan mereka. Mau kerja kayak apa ya dapatnya segitu juga.

Mau ikut perang sampai kapan? Sudah, mulailah jadi raja, jangan mau hanya jadi budak yang dipuja.

ps:beberapa contoh yang ada hanya drama belaka, tapi kalau sudah terlanjur percaya itu nyata ya saya mau berkata apa, huahahahaha…

Wednesday, September 06, 2006

vuck

V vor vague vapid vanity view ov very vicious vigilant vindication

Saturday, September 02, 2006

"kok pacarnya tiba-tiba unjuk gigi gitu ya, Bos? :p"
"Masudnya?"
"Tiba-tiba muncul di mana-mana aja gitu. Ya mungkin ada hubungannya sama elo."
"Mungkin."
"Pasti kali maksud loe? Haha...Secara loe berhari-hari ama ceweknya bedua doank ngine--"
"Woi, iye tau. Tapi masih SMS-an tuh, jadi ya harusnya nggak papa. Yang dulu aja satu kota gw ga disentuh tuh ama cowoknya, hehehehe..."
"Masih SMSan? Biar kesannya nggak langsung ngebuang ya? Canggih. You're becoming a Jedi Master."
"Sialan, yah setidaknya gw ga kayak elo, lord sidius."
"Ah kayak gituan nggak ada yang putih, Bos. Item semua, opacitynya aja yg beda. Akhirnya ilmu gw terwariskan. hwakakakak"
"Gw belajar sendiri neh, ilmu loe tuh sesat, gw ga mau."
"Kenapa? Karena akhirnya gelar gw MBA? Justru itu."
"Lah kok malah justru itu? Loe mau ngajakin gw ke dark side?"
"Bukan gitu. Gw malah mau ngajarin biar loe ga kayak gw."
"Ow, kirain...hmm...eh, Man..."
"Ape?"
"Sorry ya gw ga dateng ke nikahan loe."
"It's okay. Tapi loe tau kan loe harusnya dateng?"
"Yeah, i know. I NEED to be there."
"Yup, there u go."
"But we're good now, right Matey?"
"Sure, but only if you accept my 'playacology'."
"Hahahaha...okay. That would be fun."

Saturday, August 26, 2006

into the same hole again

Ada suatu masa di mana gw bener-bener ga percaya sama satu orang pun. Dan itu berlangsung cukup lama. Karena pasti apa yg gw sampein itu diterima salah sama orang itu dan efek snowball membuat kesalahpahamannya semakin parah. Gw pun menjadi orang yang dibenci banyak orang karena kesalahan yang nggak pernah gw buat.

Sekarang2 ini gw mulai masuk ke masa itu lagi. Penyebabnya sederhana, tiba2 ada orang lain yg tahu info yg gw share cuma ke dua orang yg (saat ini) paling gw percaya dan orang yg (seharusnya nggak) tahu itu nggak mau membagi dia tahu dari mana.

Gara-gara itu gw mempertanyakan loyalitas para sahabat. Sesuatu yang bener-bener gw anggap tabu. Kayak ngelakuin dosa besar rasanya, tapi mungkin karena memang iya. Untung belum mempertanyakan ke dua2nya, secara yg satu lagi nikah. Goblog bgt kalau sampai itu terjadi.

Mungkin bukan hal yg penting buat orang yg tau itu (krn emg seharusnya dia nggak tahu), tapi kenyataan kalau info itu bisa keluar dari “jalur komunikasi aman” gw adalah sesuatu yang berdampak sangat besar.

Pertama, yang pasti gw jadi ga percaya sama orang yang tahu itu. Gw ngerti sih, kalau dia ngasih tau ke gw dia tahu dari siapa info itu, berarti dia mengkhianati orang yg ngasih tau info itu. Tapi dengan tidak memberitahu, buat gw itu berarti dia membela pengkhianat. Kita liat sejauh apa dia bisa dipercaya.

Kedua, gw jadi curiga sama semua teman yang ada, temen kantor, Fikom, Metro, semuanya, bahkan saudara yang sudah jadi temen juga.

Dalam menjalin hubungan baik pertemanan, persahabatan atau persaudaraan, sebisa mungkin gw terbuka dan sejujur mungkin. Karena memang nggak banyak juga yang gw anggap sebagai teman atau sahabat, saudara aja ga sampai lima yang gw percaya.

Gw tahu betapa capeknya hidup sendiri tanpa bisa membagi kesedihan apalagi kebahagiaan, rasanya sepi bgt. Dan gw udh cukup lama hidup di lubang tanpa orang lain itu. Gw benci lubang itu, tapi untuk sebuah kepercayaan, i have to get back into that hole.

Ya, itulah self defence mechanism gw. Tidak peduli sama orang lain. Hell is other people, sartre once said.
Jadi sampai akhirnya gw tahu itu siapa atau mungkin sampai tahu alasan sebenarnya, i‘ll always in a bitchy mode.

Syuh!

Friday, August 25, 2006

Late Hour Stupidity

I’m awake to be exact.
(Yeah, I woke u up. That’s why
Why in the world I woke her up, anyway?
Why did I have to call her in the first place?
Why not some other padangneese?)

I’m awake and start to think
Nooooo….
(Don’t think.
Ur not gonna stop doing that
Now I got problem to forgive myself)
I mean, i'm sorry.

No worries.
Oh no..no..no..no…
(It’s easier if u mad or angry
This kinda thing stucks in my head
While I got lines and lines to be made)
Just go back to sleep
Please

Will do
Ok.
Do it now
Just close ur eyes and count those sheeps

In a while
Nooo
Now
U need to sleep now
(I need you to go back to sleep now)

…..
(Oh I hate this
Can’t take the guilt anymore
I better go home
Who knows I’ll be able to sleep
And forget all this)

(Damn it!)

Tuesday, August 22, 2006

the battle within

I hate my family, they judge
I hate my friends, they’re narcissist
I hate my workmates, they never really understand
I hate my boss, he just get things talked not get things done
I hate my girl friend, she’s too sensitive
I hate my ex, she haunts me all the time
I hate God, He knows everything about me

I hate myself hating them all.

Sunday, August 20, 2006

Dari mata turun ke hati


Di bawah jembatan ratu plaza setelah beli tiket Trans Bintaro, saya baru sadar kalau harusnya beli tiketnya pake lima puluhan saja, bukannya sepuluh ribuan. Mengapa? Karena saat itu saya lagi haus sekali dan tukang minuman belum tentu punya kembalian. Ya masa’ beli minumannya di OhLaLa atau Carefour…

Coba dulu lah ke tukang minuman, kenapa juga harus lompat ke kesimpulan padahal masalahnya juga belum nyata.

Sesampainya di tukang minuman, sepertinya yang haus bukan cuma saya. Di samping penjaja minum, seorang mbo-mbo sedang menenggak aqua dengan kencangnya. Saya merasa geli sendiri melihatnya. Senyum saya mengembang, tapi cuma sebentar. Karena setelah saya melihat bakul jamu besar yang ada di sebelahnya si Mbo, saya jadi malu hati sendiri. Karena memang sepertinya ia memang sedang haus sekali.

Dari mata turun ke hati, begitu katanya. Cuman yang jadi masalah adalah saya ngga punya uang kecil itu tadi. Saya jadi ragu untuk dapat membantu si Mbo.

Tapi kalau hati sudah berbicara, apa juga dilakukan. Makanya langsung saja saya coba tukar uang ke tukang tahu pong. Si bapak penjaja tahu pong lagi melayani pembeli. Kebetulan ia sedang menyiapkan kembalian. Ia menghitung agak keras, sayangnya perhitungannya tidak pas. “Satu, dua, tiga, dua, empat, lima setengah, enam setengah…Nah ini kembaliannya” Bapak tahu pong memberikan kurang lebih 11 ribu rupiah (karena saya lihat ada satu 5 ribuan dan sisanya ribuan) ke pembeli yang awalnya memberikan Rp 10 rb buat sepuluh tahu pong dan sepotong lontong. Saya melongo melihatnya, lebih lagi si pembeli. Aduh, Pak…..Tapi sepertinya si pembeli orang baik, sebelum saya menawarkan bantuan, Ia langsung membantu si bapak menghitung kembalian dengan benar.

Melihat sepertinya akan lama, saya beralih ke tukang siomay, karena saya harus bisa melaksanakan niat awal saya sendiri yang sedang tertunda ini. Namun, dengan sombongnya tukang siomay menolak untuk menukarkan uangnya. Padahal saya sempat melihat laci uangnya penuh dengan puluhan ribu. Tukang siomay sialan. Dia lupa apa kalau ikhlas membantu orang itu niscaya akan lebih mudah mendapat berkah dibandingkan berdagang dengan itung-itungan yang berlebihan? Terserah lah, tanggung sendiri saja pokoknya.

Hmm…Tidak lagi ada penjaja yang bisa ditukarkan uangnya. Setidaknya itu yang saya pikir saat itu. Saya lupa bahwa sebenarnya masih ada tukang minuman yang belum saya minta bantuannya. Memang agak dilematis karena si mbo ada tepat di sebelahnya. Tapi mau bagaimana lagi, sudah tidak ada pilihan lain.

“Mas, maaf, boleh tuker puluhan?”
“Minumnya apa, Mas”
“Nggak minum”
“Wah nggak ada, Mas”

Wah ini sih sama aja kayak tukang somay. Dasar pelit. Tapi tiba-tiba…

“Ini saya ada, Den. Campur ribuan ndak papa?”
“Eh…oh, Mbo. Iya boleh, nggak papa.”

Saat si Mbo sedang mengeluarkan uang-uangnya dari dompet kecilnya itu, saya coba laksanakan niat awal saya yang sepertinya keadaannya saat ini malah kebalikan.

“Mbo, masih ada beras kencur? Saya mau.”
“Wah jangan, Den. Itu sudah tinggal ampas, nanti malah jadi penyakit.”
“Oh…kalau gitu yang lain aja Mbo, itu yang kuning-kuning juga ga papa.”
“Sing iki? Wah Den, iki kunyit. Nggak enak kalau tidak dicampur, lagian khasiatnya nggak terlalu pas buat Aden.”

Entah apa maksud sebenarnya, yang pasti saya merasa mulai kehabisan akal. She really caught me off guard.

“Ya udah terserah Mbo aja, yang penting bisa bikin saya seger.”
“Lha ya mending beli teh botol dingin sama Mase’ iki, dijamin pasti seger.”

Hukk! Langsung kena di lubuk. Bodoh. Bodoh. Bodoh.

“Kalau itu sih rasanya udah apal Mbo. Kalau jamu si Mbo kan beda”
“Wah kita kebalikan ya, Den…hahaha…mungkin karena si mbo jarang beli minuman kayak gitu ya, habisnya mahal.”

Oh My God….I’m Sorry.

“….katanya tukang minuman nggak punya kembalian Mbo, kalau saya nggak beli.”

“Yah, mungkin memang kurang uangnya tukang minuman…Nah, ini tukerannya, Den. Coba dihitung lagi”

“Iya Mbo. Terima kasih. Permisi.”

“Maaf ya Den, jadi gak bisa ngerasain yang seger-seger”

“Nggak papa Mbo. Saya sudah segar kok”

…dan itu karena Mbo. Terima kasih banyak, Mbo. Semoga Mbo mendapat balasan yang paling sepadan dari Tuhan….

Friday, August 11, 2006

be the second but the best, not the first but the last

“Syukur tahun ini bisa pulang kampung. Sudah kekumpul duitnya”
“Oya? Rencana naik apa? Bis? Kereta?”
“Oh enggak, ngajak temen yang punya motor aja, patungan. Paling banyak habis 150, kalau dibagi dua kan jadi ga berat diongkos. Soalnya keperluan mudik lainnya masih banyak”

Duak! Kepala gw langsung ketiban palu hakim 1000 ton. Rp 150 dibagi dua adalah budget yg ia tabung selama setahun untuk bisa pulang kampung, itupun baru sekali jalan naik motor ke Madura. Tuh tukang sate udah gila. Hehe ya nggak lah, keadaan yang memaksa.

Gw langsung berpikir, ini pasti gara2 dia salah tempat jualan. Masak dia jualan sate di deket sate Apjay yang terkenal itu.

“kenapa dagang di sebelah mereka, Pak? Dagangan mereka kan terkenal nomor satu”
“Saya sudah coba cari tempat lain, Dik, dan istilahnya jadi nomor satu di sana, tapi penjualan gak sebaik di sini”

Ternyata dia sudah berusaha menjadi nomor satu dan memang berhasil jadi nomor satu juga, tapi bila dilihat lebih besar lagi dia sedang menjadi nomor dua, dan kalau mau ditarik lagi dia mungkin itungannya bukan apa-apa.

Jleb! Tiba-tiba sebuah pedang lancip nan panjang menusuk hati. Itu yang terjadi di agency ini. Yang katanya nomor satu dan diakui sebagai nomor, tapi tidak pernah menghasilkan karya nomor satu bagi klien nomor satunya. Dan aku tahu kenapa. Semua yang ada di sini merasa sebagai nomor satu, merasa masih menjadi yang terbaik sehingga segala petanda bahwa mereka bukan lagi nomor satu tidak terbaca. Klien utama yang kecewa dengan hasil beberapa bulan terakhir, tidak lagi percaya dengan rekomendasi yang diajukan, mempertanyakan semua langkah yang diambil agency yang notabene adalah konsultannya.

Si tukang sate kemudian mengajukan pertanyaan mendalam

“Mas, kenapa makan satenya di sini, bukan di sana?”

Jawabannya adalah, karena di sana pelayanannya ga enak. Mereka terlalu sibuk mencari perhatian untuk dirinya sendiri sehingga melupakan kepuasan pembeli. Seperti pesanan yang datangnya lama, tidak sesuai dengan yang diminta bahkan tidak datang karena mereka begitu sibuk sendiri membanggakan diri.

Tapi gw menjawabnya, “di sana bosen, mau nyoba ngerasain yang lain”

Dzig! Gw kepukul kata-kata gw sendiri. Inilah ketakutan gw dari kemarin yang terbukti, meski baru oleh kata-kata gw sendiri, tapi ini adalah bad feeling yg mulai jadi masalah nyata. Beberapa minggu terakhir gw uring2an di kantor karena setiap mau mengatakan bad feeling ini belum didukung sama bukti nyata, hanya instink yang biasanya gw bahas sama CD lama dan kemudian bersama-sama mencegahnya jadi masalah nyata. Tapi sekarang gw gak bisa melakukan itu, belum ada lagi orang yang mengerti hal itu dan tau bagaimana menyelesaikannya.

Tukang sate kemudian menjawab, “iya Mas, banyak yang kayak gitu bilangnya. Kadang saya pingin bilang itu ke tukang sate di sana itu. Tapi kalau begitu nanti saya bisa kehilangan pekerjaan, keluarga mau dikasih makan apa?”

Duenk! Plak! Bak! Buk! Brak! Jleb! Jleb! Jleb! Kali ini gw ga bisa jawab, karena memang belum ketemu jawabannya atau karena memang begitu mengena di dalam hati. Jadi mending gw cepet2 pergi aja daripada mati berdiri di sana.

“ini Pak, ambil aja kembaliannya”

Monday, August 07, 2006

my resignation

August 7th, 2006

To:
All of my cousins

Dear Guys/Girls,

I want to thank you for all you have done for me. It's been a pleasure shared with you and tries to solve your problems.

As you can see, its all your problems, not mind. Therefore I have decided to tender my resignation. I want to solve my problems first. My last date of availability will be today. This decision has nothing to do with the exceptional opportunity you all have provided me. You and your family have been quite fair with me, and in a way, I genuinely appreciate it.

I wish all of you can be better persons and become success, and I want to thank you for allowing me to be a part of the family. Please feel free to contact me for further smooth transition assistance.

Love and regards,


Burat Pangeran

Monday, July 24, 2006

i won't fail you

The following is my latest conversations with my best friends after i told them about the situation.

This one here is my best friend whom I almost fuck his fiancee with

Him : "leave her"
me : "I did. I came back."
H : "What? You never do that, you always leave. How can you be so stupid?"
m : "i...i...
H : "You...You...What? You're so in love with her and become a moron?"
m : "Hey no!...i mean yes i love her..no! i mean, i don't! i don't know what i mean...
H : "She don't seem worth to be kept, just leave her..."
m : "I won't, i'm not gonna leave her,not now. She's really a nice girl. I think at least she can be a friend..."
H : "You think? Do you really think she'll be there when you go down? She's the kind who just wanna have fun, she's doesn't really wanna be your friend. U already got friends, u got me. Come on, Man. You're just wasting your time and energy, which i know u don't have a lot of those right now."
m : "Hey, don't say that! I always have time and energy for my friends!"
H : "True...but answer me this, IS SHE YOUR FRIEND right now?
m : "..."
H : "Suits yourself, i'm leaving and gonna make a huge sign with "i told you" written on it so i can show it to you whenever you come to me later on,crying. Hehehe..."
m : "Bastard! You're a jerk, you know that??!!!"
H : "But as jerk as i can be, i'm still your friend. And unfortunately, one of your best one. Huahahaahhaaha..."

This one here, is someone who rejected me cos we got different religion.

She : "isn't this what exactly happen between us back then?
Me : "Yup. pretty much the same."
S : "and she's furious with you? Why don't you tell her about me? About us?"
m : "I did,i tried. But she think that just some bullshit or something."
S: "maybe you told her wrong. I mean, you often did that you know. Telling a wrong message from what you really want to say."
m: "I think i made my self clear."
S: "Clear enough to say that we're still care for each other and still can be together though not as a couple? Hey, why don't we just be a couple? u still love me, right?
m: "Oh shut up! u know exactly why we can't be a couple."
S: "Hahaha of course i know, just teasing you...So why don't you just leave her?"
m: "oh great, not this kind of conversation again..."

Wednesday, July 19, 2006

Pot dan Pucuk Tanaman

Sebuah pot bertanya marah kepada pucuk tanaman.
“Mengapa kita tidak pindah saja? Aku malu menampung tanaman yang tidak juga berambah besar seperti ini.”
“Nanti saja kalau cuacanya bagus.”
“Di sini cuaca nggak akan pernah bagus, makanya ayo cepat kita pindah!”
“Udh tenang aja. Kamu nggak lihat apa yang aku lihat dari atas sini sih, di bawah sana tuh sebenarnya lebih aman, jadi santai lah.”

Pot tidak mau mengerti itu. Apa enaknya di bawah sini, enakan juga di atas sana. Tapi mengapa si Pucuk tidak begitu menikmatinya? Alhasil ia jadi tidak banyak membuat perubahan. Mana daun-daun baru yang seharusnya ia hasilkan? Ia juga kelihatannya tidak terlalu mati-matian mengejar sinar matahari, hanya mencari secukupnya saja. Peran Pucuk sebagai tombak utama tanaman ini menurut Pot sangat kurang!

Namun entah mengapa Batang dan para Akar adem-adem saja. Mereka selalu menemukan cara untuk berkompromi dengan si Pucuk, mereka pun santai-santai saja menyerap apapun makanan yang dihasilkan Pucuk.

Di suatu malam, Pot melihat pucuk tanaman bergoyang keras. Ia dan Batang sedang berusaha keras melepaskan diri dari cengkraman Benalu. Pucuk tanaman biasanya bisa lolos, namun sekarang ia agak sulit bergerak karena ia bersama si Batang. Benalu menang, Pucuk tanaman dan Batangnya tertebang.

Saat itu, Pot tidak dapat berbuat apa-apa.

Namun bukan berarti kemudian ia tidak berusaha. Pot berusaha mengikuti arah jatuh Pucuk tanaman. Mencoba bergerak sekuat tenaga, sayang ia belum mampu melepaskan tanaman yang ditampungnya begitu saja. Lagipula dalam perpindahannya, Pucuk tanaman berpesan agar Pot tetap bertahan dan terus menjadi penopang tanaman yang kini dikepalai oleh Benalu pemenggal si Pucuk.

Pot marah besar. “Lihat! Sekarang aku juga kan yang mempertahankan tanaman ini, katanya kita mau sama-sama bikin tanaman yang besar dengan daun2 yg banyak??!!”

Pucuk tanaman yg sudah menjadi pucuk lagi di tanaman yang lain balik mempertanyakan,”Pucuk baru kan pandai mencari makan, apa masalahnya? Kamu bilang ingin memiliki daun banyak tanaman bisa dapat banyak makanan dan cepat menjadi besar, kau ingin menampung tanaman yg besar kan?”

“Iya. Tapi biarpun menjadi pucuk, tetap saja dia itu benalu. Dapat makanan juga lebih banyak buat dia sendiri bukan dengan membuat daun yang banyak. Liat saja Batang baru dan para Akar menjadi lemah dan kehilangan kekuatan untuk menyerap makanan karena kini tidak banyak makanan yang dapat diserap. Bagaimana tanaman ini bisa tambah besar? Pucuk Benalu ini terlalu arogan. Selalu saja melihat ke atas tanpa sadar siapa sebenarnya yang menyokong tanaman ini selama ini,” ratap Pot pilu.

“Kalau begitu bergulinglah. Mau memecahkan diri dulu baru berguling atau mengajak seluruh tanaman agar si pucuk baru merasakan apa yg namanya tanah, terserah. Tapi bergulinglah…” rintih Pucuk tanaman.

“Baiklah…” Meski sedih, kini Pot pun lega.

Monday, July 17, 2006

Yin

I’m in need for one. An equalizer, a balancer, the Yin. An opposite power that stabilizes me. The nice and soft kinda power. And within her, I believe I found it.

Ideally, this power lies within “The One” that you love forever. That’s why they often said, “He/She completes me”. Yeah right. I don’t buy that. The idea that someone can be completed by only just one person is absurd. I believe that’s not even a fact, it’s just something we create to fulfill our expectations and also (unfortunately) our hope. Cos if it’s true we can be completed by just one person, why would we need another person? Why in fact we still need our relatives and friends?

As for me, I think Yin can lies in the heart of our mom, sister, cousin, best friend, a friend or maybe the sum of them. Just like right now. I got a cousin that can pull me from my gloomy world, and show me how warm this world is. No, not taking me to some park or conservation or just being so nice to me. But her kindness to other that melted my gloomy cold heart. Even my purest heart is not as kind as her regular heart.

See? I feel completed already.

Wait…What’s this? Who are you? What? I love her? Are you crazy? Me? I am the crazy one? Hey! I can’t have that feeling for her. You! Shut your mouth up!

Hmm…what if that noise is telling the truth? No way! Just what if? Ooo…ooo…I’m in big trouble…dududududu

Well, anyway, no matter what, I hope she continues doing it. Cos someday who knows, I’ll be able to do kind things the way she’s doing it without wax.

Thursday, July 06, 2006

Mengalirlah Bersamaku

Tadi pas lagi denger Prambors ada lagu yang sebagian liriknya kayak gitu. Ga tau yang nyanyi sapa tapi kena banget.

Gw bukan tipe yang suka ngukung, dan dia pun bukan tipe yang suka dikukung. Tapi gw juga gak mau yang selalu cuma bisa ngedorong dia dari belakang aja, gw juga mau jadi yang narik dia ke atas, agar pada akhirnya, berdua selalu bisa melewati semua riak dan ombak hidup serta menikmati kesenangan-kesenangannya bersama.

Mengalir tanpa beban.
Saling bantu dari belakang dan depan.
Untuk satu tujuan.
Kebahagiaan.

Monday, July 03, 2006

build trust 'till the end

first of all, my dear,
i never imagine anything like that could ever happen

i know it's hard for you to trust me right now
again, i'm so sorry

and for that, from now 'till the end
i will regain that trust

'cos after you said you believe my reasons,
i started to think that i've been giving
a second chance
a chance to feel again how nice it was
to love somebody

it's not gonna be easy, but i know i can
all because i care about you, i really do

Saturday, July 01, 2006

hatred for loving

always seem unfair
some have killed
their heart, their faith
just because of it

not just being hatred
nor envy
yet patience is not enough
u have to be an angel

don't wanna feel a thing
hating this, the pain i'm used to
should quit from this pain
but i'm not been enough

it's sad when she is not
she was is what she is
loves me hates me
for loving her

Wednesday, June 28, 2006

the end is the beginning is the end

Mas Shafiq is leaving. All because of...let's just say the management is having their way. I'm quite upset. Cos he's beginning to know who am i really is, not many people can do that.

This is something i wrote to him the first time i heard the rumor:

Begin again

first time in mind beside why is WHO BENEFITS?
Surely everyone will feel lost, even for me,
though lost Is A PAIN THAT I’M USED TO

hopefully you and those guys STILL FIGHTING IT
cos from what I know, we all here,
even I WILL FOLLOW YOU INTO THE DARK
or just went FREE FALLING into the WORLD FULL OF NOTHING

maybe THE WEIGHT OF MY WORDS won’t make any different
but I’m sure THOUGH IT’S NOT LOVE IT MEANS SOMETHING


The capital words are the words represent something that we shared. Words from comics, song title and some of song lyrics.

And this is something i wrote after i got confirmation that he's really gonna quit


Kamar panjang dan kosong

Pemilik kamar panjang diganti
Entah siapa penghuni barunya
Entah dengan apa akan memenuhinya
Mungkin malah akan menutupnya

Kamar panjang yang selalu terbuka kini kosong
Ditinggal penghuninya yang ikut semua
Hellboy, Trinity, Thor, Lara Croft dan para Alien
Perginya mereka membuat kamar panjang itu terlihat sempit

Kamar panjang, akankah kembali panjang?

Siapapun yang akan mengisi
Kamar panjang itu pernah besar dengan seluruh penghuninya

Hope we can meet again at some point ahead or "The Point" that we talked about.

Farewell, and good luck.