Wednesday, October 24, 2007

Getting bored in a meeting?

Saya punya beberapa cara yang mudah untuk mengubahnya. Tidak menjadi lebih baik, hanya membuatnya jadi lebih menarik.

Apabila masalah yang dibahas cukup krusial, pikirkan masalah yang lebih krusial yang bisa timbul dari masalah krusial tadi dan kemukakan, Anda sudah mencegah kebodohan semua orang yang ikut rapat untuk melakukan masalah yang lebih krusial.

Dalam mencari jawaban, jangan mencari yang paling benar. Urutkan jawaban yang paling salah dan sebutkan jawaban di urutan terakhir.

Saat forum tidak juga menemukan solusi yang disepakati dan sudah waktunya Anda ke pertemuan selanjutnya, sebutkan ide solusi yang memperkeruh suasana untuk memancing orang lain mengeluarkan idenya. Langsung setuju saat ada yang menyarankan sebuah penyelesaian. Dijamin Anda segera bisa keluar ruangan.

Ketika suasana mengarah ke sebuah keputusan untuk menjalankan solusi yang bodoh, ungkapkan lagi solusi-solusi ideal yang tidak memungkinkan untuk dilakukan hingga semua orang menekankan kembali untuk melakukan solusi bodoh tersebut. Sehingga ketika solusi bodoh melahirkan masalah yang lebih besar, tidak akan ada yang menyalahkan Anda.

Ingat kemenangan sejati bukan membuat orang lain mengikuti sesuai dengan yang Anda katakan seperti seorang diktator dan tirani, tapi membuat mereka mengatakan/melakukan apa yang sebenarnya Anda inginkan. Karena salah itu bukanlah tidak benar dan benar bukanlah tidak salah bukan?

Monday, October 01, 2007

Merinding

Ketika saya sedang memerhatikan bayangan saya di cermin, entah kenapa tiba-tiba saya teringat seorang teman lama, seorang rival lama tepatnya. Kami pernah mencintai seseorang yang sama. Lucu juga saat teringat kembali kompetisi diantara kami.

Dulu saya dengan sangat sadar memutuskan bahwa masa sekolah adalah masa-masa yang tidak boleh disia-siakan sama sekali. Karena itu positioning eh maksudnya saya memosisikan diri ke si dia yang sama-sama kami cintai itu sebagai seseorang yang menawarkan kebebasan dan tak peduli peraturan.

Yang saya lakukan misalnya seperti ini: Sebelum obrolan malam berakhir, saya selalu menawarkan menjemputnya di pagi hari untuk bersama-sama pergi ke sekolah. Meski berjuta-juta kali ditolak, toh akhirnya luluh juga. Saat itulah saya kemudian menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya dengan sengaja menjemputnya sangat telat. Bagi murid baik seperti dirinya yang jarang telat, datang ke sekolah setengah jam lewat dari batas toleransi sama seperti bunuh diri. Ditengah kepanikannya –dia terlihat lebih cantik- saya menawarkan solusi yang…sama sekali bukan solusi, yang penting happy.

Kami pun kemudian madol ke Bandung, padahal dulu belum ada Tol Cipularang. Jadi waktu tempuh ke Bandung lewat Cikampek zaman itu sekitar tiga jam. Begitu sampai di Bandung, kami makan siang di toko Yu dan langsung balik lagi ke Jakarta setelahnya. Agar kami dapat tiba di rumahnya tidak jauh berbeda dengan waktu tiba ia pulang sehari-harinya setelah sekolah dan tambahan bimbingan belajar. Sayang hari itu ibunya tiba-tiba memutuskan untuk menjemputnya. Masuklah saya ke dalam daftar black list mamanya.

Apa yang saya lakukan tentu beda sekali dengan apa yang si rajin rival saya itu lakukan. Ia selalu saja bisa membuatnya terkagum-kagum dengan apa pun yang sudah ia baca. Atau ia juga selalu saja bisa menarik perhatian dia yang kami cinta itu dengan analisa-analisanya tentang sesuatu, baik yang penting maupun tidak. Bahkan, di periode waktu ujian sekolah yang notabene sangat suci bagi seorang siswa untuk bermain atau bertemu dengan teman, rival saya itu setiap harinya selama setengah hari (dari siang/sore hingga malam hari) berhasil terus bersamanya. Saya bisa tahu tentu saja karena suka “sok sedang lewat” dan memerhatikan rumah si dia. Dan kalau sedang belajar seperti itu si dia tidak pernah mau menjawab telepon. Hal menyebalkan ini terus berlangsung hingga puncaknya saat ujian. Selama ujian sekolah berlangsung rival saya itu selalu jadi andalan si dia untuk menjemput dan mengantarnya. Pokoknya di zaman-zaman ujian yang berlangsung beberapa bulan itu rival saya terus-terusan bersama si dia. Sialan.

Tapi bagaimanapun, seorang siswa sekolah pasti mendambakan kebebasan. Dan itulah yang membuat saya unggul dari rival saya. Melewati musim ujian, masa-masa belajar pun berakhir. Dan itu berarti berakhir pula kesempatan rival saya untuk dapat bersamanya. Huahaha…saya pun memenangkan peperangan itu.

Bayangan saya di cermin semakin lebar memerlihatkan senyum penuh kemenangan. Tapi anehnya, bayangan saya tetap tersenyum meski saya sudah manyun. Saya lalu menggerakkan tangan dan kepala saya agar ia ikut bergerak, tapi tetap saja ia hanya bergeming tersenyum. Ini sudah tidak lucu lagi, pikir saya. Tidak lama kemudian, wajah bayangan saya perlahan berubah. Awalnya saya tidak mengenalinya, tapi kemudian saya teringat dengan gaya rambut dan kacamata uniknya itu. Wajah bayangan saya berubah menjadi wajah rival saya.

Apakah ini? Sebuah rasa bersalah? Saya salah di mana? Semuanya fair kok, it’s not like I did any bad trick or so…Saya pun kemudian menelepon beberapa teman lama untuk menanyakan kabar rival saya itu. Sudah kerja di mana, sekarang tinggal di mana, sudah menikah atau belum dan sebagainya-sebagainya.

Namun ternyata tidak ada yang tahu kabarnya sekarang.

Tak seorang pun!

“Bunuh diri kali dia, Rat,” kata salah satu teman saya.

Nah lo.

Friday, August 24, 2007

Romansa Kota -2

Melihat bangunan-bangunan tua yang seksi di daerah kota berhasil menembus dinding yang melindungi rasa peduli terhadap ibukota ini. Andai daerah ini diurus sepenuh hati, suasana romantisnya pasti mengalahkan Clarke Quay dan indahnya bisa setara Venesia.

Perbaikan yang sudah dan sedang dilakukan di daerah ini pun terasa artifisial. Sepertinya hanya untuk alasan pariwisata semata. Hanya untuk enak dipandang mata dan mendatangkan devisa. Seperti keberadaan sebuah kafe yang menempati gedung tertua kedua di daerah itu namun tidak memiliki menu yang khas serta mematok harga yang sangat tidak bersahabat. Luarnya terlihat bercahaya tapi di dalamnya tak tersisa nyawa.

Perbaikan sebenarnya baik karena daerah kota sudah terlalu lama menunggu pengembalian keindahan dirinya. Tapi sebaiknya perbaikan, peremajaan, pembangunan kembali atau apapun namanya yang saat ini sudah dan sedang dilaksanakan itu dilakukan atas tujuan yang lebih mendasar, mempertahankannya sebagai daerah nostalgia penuh romansa di ibukota.

Ketidakpedulian pengatur yang seharusnya memikirkan cara mengatur bukan asal atur sekadar agar mereka tambah subur dan nyenyak tidur terhadap daerah kota menguatkan sebuah rasa sesal dalam diri saya. Penyesalan tidak hadir di saat para calon pemimpin ibukota ini menyampaikan aspirasinya. Meski belakangan saya mengetahui bahwa ajang tersebut hanya menjadi sebuah formalitas tanpa makna dan terkesan hura-hura, tetap saja saya seharusnya hadir di sana.

Ingin saya mendengarkan langsung seperti apa kata-kata yang diucapkan mereka. Bukan hanya apa kata-katanya, seperti apa struktur kalimatnya, tapi saya juga mau melihat mata mereka saat mengucapkannya, seperti apa bahasa tubuhnya serta bagaimana reaksi orang-orang yang mendengarnya.

Kehadiran saya di sana pasti dapat memperjelas bayangan saya saat calon yang saya bangun kampanyenya menyampaikan aspirasi dan pesannya yang menginspirasi seluruh hadirin.

Janji lima tahun ke depan itu sudah berkurang satu tahun, dan saya belum sempat melakukan apa-apa. Sialan.

Wednesday, August 22, 2007

Romansa Kota -1

Dengan kuatnya, aura bangunan-bangunan tua ini lembutkan kuduk. Hidupkan segala romantisme. Hilangkan semua rasa tanpa rasa.

Kamu yang di sana, hati ini sedang terbuka, memintamu masuk ke dalamnya, hanya kali ini saja, saat ini juga.

Monday, August 20, 2007

Merdekanya anak 5 tahun

Lucu deh. Weekend 17-an kemarin saya pergi bersama keponakan, adik dan sepupu-sepupu saya. Melihat banyak sekali bendera yang dikibarkan di depan rumah-rumah, keponakan saya yang baru berumur 5 tahun penasaran, “Kok banyak gituan sih?”

“Itu bendera, kan ada yang lagi ulang tahun,” kata saya. “Ayah ya yg ulang tahun? Ibu? Kak ini? Mba itu?.....” dia terus menyebutkan semua yang dia kenal.

“Bukan, yang ulang tahun Indonesia, negara kita”

“Negara kita suka bendera ya?”

……(hening)…….

“Hmm…nggak gitu, bendera itu biar ramai, kalau lagi ulang tahun kan harus ramai, kayak pesta ulang tahun kamu itu,” sepupu saya mencoba menjelaskan.

“Iya, yang lomba-lomba kemarin di rumah itu kan pesta ulang tahunnya negara kita,” adik saya mencoba menambahkan.

“Kok kita kemarin nggak bawa kado?”

….(hening)…

“Soalnya….” saya kebingungan menjawabnya

“Ah aku kalau ulang tahun nggak mau ada bendera sama lomba-lomba ah, nanti pada nggak bawa kado,” keponakan saya membuat kesimpulan.

…(hening lagi)….

….(masih hening)….

Tuesday, August 07, 2007

a knife to kill the cliche


I've prepared a knife
because wounds never heal,
as long as you try,
but never again should you be able to cry.

For just one second it goes away,
but once again it tries to sway.

I've always wondered what it felt like,
just to lead a normal life.

A life without stress or hurt or loss,
yet one without love,
for it is always lost.

A thought or feeling of normal,
pulled away by the truth of life.
Always knowing your caught
in the middle of a strife.

I always wished to be loved,
to be held and to be hugged,
but now I find its overrated
and so much easier to just be hated.

I once loved
I trusted and hugged
but before long I was betrayed.
and forevermore unable to trade.

I tried to trust and love again but
once I got close once more was I slayed.
Even though the cuts have healed
They still lay there beneath my shield.

In a sense I've survived
only by knowing I must decide.
I have ambitions and futures and hopes,
and to prove my strength they shall never be revoked.

The knife sits under my bed,
never knowing when next it shall shed.

My tiny ray of hope lies in that knife.

Monday, August 06, 2007

Choke on a regret

Dulu, saya tidak bilang iya waktu dia bilang suka. Padahal pengen bilang iya. Karena saya sudah berpikir-pikir lebih panjang dan sepertinya bukan dia yang cocok untuk rencana besar saya. Tapi dia bisa masuk ke dalam salah satu pos dalam rencana besar itu. Saya belum boleh kehilangan dia.

Saya kemudian menolaknya dengan cara paling halus dan sebaik mungkin meski akhirnya membuat pesannya tidak terlalu jelas. Hasilnya sih sesuai mau saya, dia tidak mundur, dan sepertinya mengerti dan baik-baik saja. Cukup dewasa juga. Malah saya kemudian yang merasa bersalah karena kalau dipikir saya yang egois, lebih sakit ditusuk langsung mati daripada pelan-pelan dan merasakan sakitnya terus-terusan kan?

Belum lagi kemudian dia tiba-tiba menghilang. Tanpa kabar tanpa sebab. Perkiraan saya adalah dia menyadari pesan sebenarnya. Langsung deh minta maaf walau rasanya kok ilfil karena ternyata dia belum dewasa, gitu aja kok ngilang.

Dia belum memaafkan saya, saya pun menjadi kecewa. Tapi mungkin karena pada dasarnya saya peduli sama dia, ingin sekali saya memberitahu dia betapa egoisnya saya waktu itu.

I miss her…I think.

Wednesday, August 01, 2007

dari casablanca menuju surga

Andai ku lebih mengenalmu
Pasti ku akan pernah melihatmu berteriak
Atau memberontak
Tidak hanya berkata ramah dan sopan

Andai ku lebih mengenalmu
Ku akan tahu siapa musuhmu
Dan ikut dalam perangmu
Tuk capai bahagiamu

Andai ku lebih mengenalmu
Entah ku akan bisa
Atau mau
menerima kepergianmu

Untuk Suryahito, Jurnal ‘99
Selamat jalan, kawan.
Mengenalmu adalah sebuah kehormatan.

Monday, July 30, 2007

Membosankan

Mendua, bosan!
Istri teman, perawan, anak gedongan
Bosan
Enakan ditusuk dalam-dalam

Baikan, bosan!
Kenalan, temenan, pacaran, balik temenan
Bosan
Enakan musuhan

Pembuktian, bosan!
Romantisme, kesetiaan, kemapanan, kedewasaan
Bosan
Enakan ngasih cobaan

Buktikanlah kau yang buktikan
Aku sedang bosan

Thursday, July 26, 2007

dicium istri orang

- Dia kayak loe, ganggu. Nggak mikir perasaan orang kalo ngomong. Nyebelin. Gw cium bibirnya aja. Abis gemes.
+ Goblok!
- Bukan goblok, gw mabok!
+ Mabok cinta?
- Halah. Dibilangin gemes.
+ Loe remes?
- :-*!!!
+ Itu gemes juga?
- Bukan, itu cinta.
+ Goblok…

Thursday, July 19, 2007

Do they deserve it?

Kurang lebih setahun yang lalu, seorang teman yang baik terkena penyakit mata, uveitis. Peradangan di Retina yang membuat satu matanya tidak dapat melihat sama sekali dan satunya lagi buram terlapisi lapisan berwarna kuning.

Sekitar enam bulan yang lalu, seorang CD yang juga baik terkena Myasthenia Gravis. Kondisi di mana otot tidak memiliki kekuatan sama sekali karena zat yang dikeluarkan syaraf (namanya acetylcholine) agar otot bergerak dihancurkan oleh antibodi sang CD. Dalam kata lain, antibodinya fed up dan melawan balik. “Enough is enough!” mungkin kata mereka.

Kemudian beberapa bulan yang lalu, istri yang baik seorang teman baru divonis terkena kanker hati. Kalau yang ini udah tahu lah ya penyakitnya seganas apa.

Saya kemudian sok playing God, sok-sokan sebagai yang menciptakan alasan mengapa mereka harus mengalami itu semua.

Yang pertama. Selain baik, teman saya yang baik itu juga cakep, ya menarik lah, eh nggak ding benar yang awal, cakep (tomboy, jadi nggak cocok dibilang cantik). Sudah bisa ditebak kan masalahnya, bagaimana ia harus menolak cowok-cowok dengan cara yang paling halus dan tidak menyakitkan. “Kita masih bisa temenan kan” mungkin ia sudah ucapkan ratusan kali, ups berlebihan, ribuan maksudnya, hehe…Itulah yang menjadi penyebab penyakitnya. Bukan, penyakitnya timbul bukan karena ia disumpahin ribuan barisan patah hati, tapi karena sebenarnya ia merasa dikhianati. Merasa dikhianati karena ia sudah percaya kepada mereka sebagai teman, namun saat mereka meminta lebih, itu adalah pengkhianatan terhadap kepercayaannya. Dan pengkhianatan selalu melahirkan dendam. Nah, dendam yang tidak tersalurkan itulah penyebab penyakitnya.

Trus untuk sang CD yang baik, penyakitnya adalah sebuah peringatan. Meski tidak cinta terhadap diri sendiri tapi bukan berarti boleh seenaknya sendiri. Kecintaannya terhadap hal lain selain dirinya harus dikurangi, sinkronisasi jiwa dan raganya masih lebih penting daripada hal lain yang ia cintai itu. Ia harus tetap ada karena masih banyak yang mencintai dan membutuhkannya. Ia harus menyadari itu, itulah mengapa ia harus mengalami penyakitnya.

Lalu mengenai istri yang baik…Hal itu terjadi agar teman kantor suaminya menjalankan takdirnya sebagai karyawan yang selalu overload pekerjaannya, hehe apa hubungannya. Alasannya adalah simply cobaan. Mereka sudah sampai di tahap terakhir cobaan-cobaan hidup. Saat mereka menyadarinya, melewatinya hanya semudah menutup mata dengan sengaja dan mereka sekeluarga akan bahagia selamanya.

Jadi, sebenarnya bukan pantas atau tidak, tapi tinggal mau mengambil hikmahnya atau tidak, cos’ there’s always a bigger thing from everything that we’ve been doing.

Monday, July 16, 2007

Kompas Minggu yang Bersahabat

Tertanggal 15 Juli, 2007, surat kabar versi hari Minggu ini membawa ketenangan tersendiri. Tiga buah berita utamanya memberi suntikan optimisme dengan rasa sakitnya masing-masing.

Berita pertama
Headline “Kalah dengan Kepala Tegak” beserta foto Bambang Pamungkas yang sedang menarik kedua tangan M. Ridwan untuk berdiri berhasil menyentil hati. Ditambah isi berita betapa pendukung Indonesia yang mulai dewasa, mereka tidak lagi menghujat atas kekalahan Indonesia, mereka terus meneriakkan “Indonesia…Indonesia..." hingga akhir pertandingan. Mereka juga terus memberikan dukungan dan motivasi setelah pertandingan, “Bambang, jangan biarkan teman-temanmu menundukkan kepala,” ujar mereka mencoba memberi percikan semangat yang sedang padam.

Berita kedua
Kali ini kejujuran pemimpin bangsa yang lumayan menyentuh. Betapa hening ternyata juga menyelimuti tribun VVIP di menit-menit akhir pertandingan. Lalu saat peluit panjang dibunyikan, meski masih sempat menyalami pejabat Arab Saudi yang hadir di sana, dalam kesenyapan Presiden SBY langsung meninggalkan tribun tanpa kata-kata dan lambaian tangan. Malam itu beliau sama seperti saya dan jutaan penonton tim merah putih lainnya, sedih tertampar harapan semu.

Berita ketiga
Tentang film “The Photograph". Tentang Johan, seorang juru foto keliling yang hidup dalam kabut rasa bersalah. Ia kemudian bertemu seseorang yang membuatnya berani membuka kotak berisi benda-benda yang memeram tragedi masa lalunya. Ia berhenti takut atas ketakutan yang ia ciptakan sendiri.

Bagi saya, ketiga berita tersebut menegaskan satu pesan, bahwa rasa sakit tidak harus disembunyikan, dikubur atau dibuang dari ingatan, tapi justru harus dimasuki dan dihadapi. Pedih dan perih harus dikunyah, dicecap hingga habis pedih perihnya, dengan begitu rasa sakit dapat dilewati dan melahirkan optimisme.

Kejujuran terhadap hati sendiri yang masih sulit dilakukan oleh sebagian besar orang.

Tuesday, July 10, 2007

Unspoken Little Truth

Beberapa wanita mendekati kepala tiga dan sudah menjadi senior di pekerjaannya memiliki cerita cinta yang hampir sama. Dekatnya mereka dengan “deadline” membuat mereka tidak ingin lagi menjalankan proses hubungan yang panjang. Ingin langsung mendapatkan paket yang sempurna. Alhasil, puluhan pria gugur sebelum masuk ke medan pertempuran, singkatnya mereka menjadi pengumpul penggemar.

Dengan keyakinan bahwa “the one” masih belum mereka temukan, para wanita ini tanpa sadar semakin hari semakin tinggi menetapkan standar pria-pria yang dapat berkencan dengan mereka. Berpenghasilan di level manager. Bukan penggoda namun dapat terus menjaga perasaan membara. Harus setia. Sudah pernah keliling dunia, minimum asia. Tidak menggunakan roda dua sehari-harinya, kecuali cc-nya di atas 600. Mobil manual boleh, selama umurnya belum tiga tahun, dst.

Suatu saat, salah satu wanita ini bertemu dengan pria yang berniat untuk selalu jujur dan setia kepadanya, selamanya. Dimulai dengan kesiapan akan melapor saat mau bertemu wanita lain selain dia. Wanita merasa cocok dengan pria.

Namun dalam perkembangannya wanita tahu bahwa pria ini berpenghasilan sedikit di bawah level manager, roda duanya hanya ber-cc seratusan, mobil matic tapi umurnya lebih dari lima tahun serta hal-hal lain di bawah standarnya. Wanita pun meninggalkannya, tanpa kata-kata.

Tak lama kemudian wanita mengetahui tanpa sengaja kalau si pria bukanlah pria yang ia kenal sebelumnya dari sisi harta. Ternyata pria itu memiliki kekayaan tiga kali lipat dari standar wanita. Rupanya sang wanitalah yang sedang dites oleh pria.

In relationship, the enemy of truth is not lie, it’s the myth

Wednesday, July 04, 2007

Menghapus blog

Saya punya beberapa blog, banyak tepatnya, tapi terakhir tinggal tiga. Yang pertama tentu saja blog ini, pertama dibuat dan untuk siapa saja. Blog kedua untuk saya sendiri, kalau-kalau file jurnal berpassword saya tidak sengaja terhapus. Dan yang ketiga adalah blog saya dan dia.

Ya, blog ketiga itu adalah blog kami berdua. Tapi maaf saya tidak bisa memberitahu siapa dia. Mungkin nanti kalau keadaannya berbeda, kita lihat saja.

Menyenangkan sebenarnya memiliki blog bersama, setidaknya saya menganggapnya seperti itu. Banyak hal yang tidak sempat terucap bisa tersampaikan. Saya memang tipe yang lebih bisa mengerti seseorang dari tulisannya daripada perkataannya. Dan sebaliknya, saya lebih bisa berkata-kata dengan aksara daripada berbicara empat mata.

Tapi kemudian kepercayaan saya ke dia pudar. Saya merasa tidak nyaman lagi. Dia menjadi anak manja yang ahli sekali memutarbalikkan fakta. Sepertinya dia menjadi terlalu tinggi menilai dirinya sendiri dan merasa sudah mengerti seluruhnya saya. Dia pun menjadi hakim yang tidak pernah obyektif.

Karena itulah saya hapus blog itu.

Selain itu saya juga berhenti berbicara kepadanya walau masih harus bertemu dengannya. Kekanak-kanakan? Bisa. Terlalu capek? Sepertinya sih itu.

Saya kemudian menceritakan hal ini kepada seorang teman dekat (minus identitas si dia) dan bertanya mengapa kok saya bisa melakukan itu. “…karena nggak banyak orang yang bisa dapet kepercayaan dari loe, jadi kadang loe suka terlalu tinggi memposisikan orang yang loe percaya,” begitu katanya. Komentar seperti ini memang yang membuat saya selalu menganggap dia sebagai sahabat.

Friday, June 22, 2007

Dihakimi karena blog

Seorang director senior protes ke orang-orang yang protes dan menghakiminya setelah membaca blognya. Orang-orang yang protes memprotes nama-nama orang dan institusi yang disebutkan untuk direndahkan oleh director. Director menolak karena ia menganggap blognya adalah diary pribadinya. Hmm…Kalau merasa untuk pribadi kok di posting untuk umum ya?

Menurut saya pertanyaan dasarnya adalah, “Blog itu diary pribadi atau media massa?” Mungkin bukan persamaan yang tepat tapi dua itu adalah kutubnya.

Postingan di blog yang dibuka untuk umum sudah menjadi media massa, walaupun itu namanya blog. Karena ada usaha dari penulisnya untuk menyebarluaskan (dalam hal ini menjadikannya postingan umum). Tapi kalau penulisnya menulis di blog/file yang diberi password dan kemudian orang lain menjebolnya, itu baru salah karena itu diary pribadi.

Beberapa orang mengatakan, blog yang bagus sifatnya personal. Menurut saya sih, itu karena sifat dasar manusia yang suka peeping. Terbukti dari betapa lakunya produk gossip dan video pribadi. Bahkan karya serius yang mengambil kebutuhan mengintip manusia seperti film Malena, Trilogy Griffine & Sabine-nya Nick Bantock, cerpennya Seno Gumira yang saya lupa judulnya dan tentunya masih banyak lagi lainnya disuka.

Saya pribadi juga mempergunakan blog sebagai sarana peeping. Dengan maksud baik tapinya (ada nggak sih peeping tapi maksudnya baik?). Saya mempergunakannya untuk mencari tahu kabar orang lain. Saya suka malas catching up dengan teman, kenalan atau bahkan mantan dengan ketemuan atau telfonan. Bukan apa-apa, saya suka bingung mau ngomong apa, selain itu saya juga (tanpa sengaja tentunya) suka mengeluarkan kata-kata yang terlalu sarkas atau yang salah diartikan hingga akhirnya membuat semua jadi berantakan. Lagipula, buat saya terkadang tulisan lebih jujur dibanding lisan. Saya jadi lebih bisa merasakan apa yang mereka (dan Anda) sedang rasakan.

Tapi ternyata banyak juga yang melakukan itu ke saya.

Dan seperti cerita si director di atas, saya juga dihakimi oleh orang-orang yang membaca blog saya (mungkin Anda termasuk salah satunya? ;p). Seru loh. Ada yang memuji tulisan saya bagus, ada yang mengatakan saya tipe orang yang sensitive bahkan ada yang mencap saya gay. Proteskah saya? Deep down sih mau, karena fakta yang sebenarnya berlawanan. Tapi haruskah? Buat apa juga? Biarin saja seperti itu. Selama saya tidak merendahkan orang lain dan yang direndahkan orang lain cuma saya, ya nggak papa, toh semua itu akan membuat saya semakin kaya (atau gila?).

Atau mungkin tulisan-tulisan itu memang menggambarkan saya yang sebenarnya? Ngeri juga kalau begitu. Yang pasti saya memang dari awal memisahkan tulisan di blog ini dengan diary pribadi. Ada beberapa yang topiknya sama, namun kemasan, gaya bahasa dan isi sudah pasti berbeda. Segala macam umpatan, celaan, penghakiman, nama serta rahasia terungkap di dalam tulisan yang disimpan di beberapa file dengan password yang cuma saya sendiri mengetahuinya.

Atau mungkin tulisan-tulisan ini sengaja ditulis untuk menciptakan imej-imej seperti itu karena sebenarnya cita-cita saya menjadi Deputy Communication Director gedung putih yang membuat propaganda dan menjaga imej yang berbeda dengan aslinya. Bisa juga….

Yang pasti kalau nantinya ada yang bisa membuka file-file berpassword itu, berarti dia benar-benar membenci saya atau saya cinta mati kepadanya, huahahaha…

Monday, May 21, 2007

Suatu hari di akhir-akhir kontrak 3 minggu gw sebagai deputi direktur komunikasi yang memperbantukan pembuatan pidato rencana kerja tahunan kepala negara yang sangat peduli dengan kemanusiaan ini tiba-tiba saja gw dikejutkan dengan kedatangan beliau di ruangan gw di istana negara.

“Selamat malam, Bapak Presiden”

“Malam. Bagaimana, sudah bisa berbicara seperti saya?”

“Memang sudah seharusnya bisa, Pak. Tapi, bagaimanapun, saya tidak akan pernah bisa seperti Bapak.”

Ada satu kebijakan luar negeri mengenai pengiriman pasukan negara ini ke tempat-tempat terjadinya konflik akibat ketidakadilan yang gw tidak setuju. Kebijakan luar negeri yang tahun ini beliau akan ucapkan di depan ratusan juta rakyatnya adalah sebuah kompromi, beliau tidak ingin menjadi negara ini menjadi polisi dunia tapi juga tidak mau jadi pemimpin negara terkuat di dunia yang tidak memedulikan negara lain yang sedang ditindas tirani.

“Tugasmu memang hanya membahasakan kebijakan yang aku buat menjadi dekat dengan kenyataan kan? Bukan membuatnya menjadi harapan semu dengan membuat kebijakan baru.”

“Kontrak saya akan segera habis, Pak. Kalaupun saya tidak membuat perubahan, menciptakan harapan akan menjadi sangat berarti.”

“Tapi percayalah, tidak akan semudah itu bila kamu di posisi yang harus menanggung semua konsekwensinya. Kompromi walau tidak sesuai dengan kata hati adalah pilihan yang masuk akal.”

Gw mengerti posisinya, karena apabila beliau membuat kebijakan luar negeri negara ini untuk memperkuat posisinya menjadi polisi dunia, pasti akan mendapat kecaman dari senat dan dewan-dewan tinggi lainnya karena dianggap mengorbankan anak bangsa dan kebijakannya pun tidak akan menjadi undang-undang. Padahal negara ini sangat mampu dan sudah seharunya mau menjalankan doktrin “bebas dari tirani di mana saja di dunia” dengan alasan yang benar, bukan dengan niatan untuk mengelabuhi dunia agar negara ini bisa mendapat minyak bumi tanpa harus membeli.

“Menurut kamu, mengapa seluruh dunia menganggap rakyat negara dunia ketiga yang sedang ditindas tirani nyawanya lebih rendah dibandingkan rakyat negara kita?”

“Entahlah, Pak. Tapi memang begitu.”

Presiden yang sangat peduli kemanusian ini langsung meninggalkan ruangan gw dengan cukup marah dan sedikit kecewa.

Keesokan paginya, gw dipanggil untuk ikut dalam rapat senior staf. Beliau mau mengubah kebijakan luar negerinya.

“Kebebasan berbicara di seluruh dunia ini berawal dari doktrin kita, begitu juga kesetaraan perawatan kesehatan yang sedan kita usahakan. Sepertinya dunia membutuhkan satu doktrin lagi, bebas dari tirani, bagaimana kalian setuju?”

Seluruh senior staf tiba-tiba sibuk dengan hp masing-masing, mereka menelepon pihak-pihak yang terkait dengan perubahan kebijakan itu.

“Aku anggap itu iya.”

“Terima kasih Bapak Presiden.”

Semua senior staf berjalan keluar ruangan. Tapi…

“Burat, sebentar. Di masa kuliah kamu membuat beberapa tulisan tentang kesetaraan manusia di seluruh dunia, kamu juga pernah menjadi anggota NGO yang mendukung itu…yang kamu lakukan kemarin itu sangat berisiko, kamu tahu itu? Kamu bisa mendapat penghakiman yang 180 derajat berlawanan dengan yang kamu sebenarnya bela.”

“Betul, Pak. Saya bisa kehilangan semuanya.”

“Jadi mengapa?”

“Karena apabila sudah ada yang mengerti mengapa, saya bisa berhenti mencari.”

“Seperti sekarang ini?”

“Sepertinya, iya.”

“Kalau begitu kontrak kamu perlu diperbaharui.”

“Terima kasih, Bapak Presiden.”

Wednesday, May 02, 2007

Gut Feeling

Dua hari yang lalu gw beli tas Astro Boy warna item buat kado sepupu. Waktu milih udah mau ngambil yang putih, “more classy,” kata Ayu waktu itu. Cuman karena mikir item lebih aman dan gampang masuk sama baju apa aja, jadi ngambil yang item. Ternyata eh ternyata, sepupu gw udh punya barang yang sama! Alhasil besoknya gw tukerin lagi dah ama yang putih, untung boleh.

Beberapa hari sebelumnya pernah juga tiba-tiba rasanya harus nelfon temen lama yang udah nggak tahu kabarnya. Tapi kok takut ngeganggu dan akhirnya nggak jadi. Kemaren akhirnya nelpon dia dan ternyata pas waktu gw pengen banget nelfon dia beberapa hari sebelumnya, dia lagi makan di samping kantor.

Beberapa hari yang lalu, pengen banget ketemu dia dan bawain semacam Redoxon gitu. Setelah mikir-mikir kayaknya cuma akan bikin dia tambah capek dan bisa dimarahin mamanya, jadinya nggak jadi. Ternyata hari ini dia masuk rumah sakit.

Gut feeling shouldn’t be ignored.

Monday, April 30, 2007

paths

Dua anak lelaki lahir ke dunia sebagai sepupu berselisih satu tahun baru. Mereka sama-sama anak pertama. Para orang tua mereka memang merencanakannya. Agar mereka bisa tumbuh bersama dan saling menjaga.

Anak lelaki pertama tumbuh seperti anak lelaki biasanya, aktif, lincah, punya banyak teman, suka menjadi pusat perhatian, selalu main ke sana ke sini yang selalu membuat was-was orang tua.

Anak lelaki kedua sedikit berbeda. Toh memang orang tuanya juga berbeda. Yang ini agak sedikit pendiam. Sibuk dengan dunianya sendiri dan tidak memiliki banyak teman. Ia bahkan takut menjadi pusat perhatian karena biasanya ia akan memuntahkan makanan. Namun ia jarang membuat was-was orang tuanya.

Dua anak lelaki pun tumbuh menjadi remaja.

Anak lelaki pertama mengalami masa puber di waktu yang tepat. Ia menyukai anak perempuan seumuran dan disukai juga oleh mereka. Kehidupan percintaannya pun dimulai, mengikis waktu yang seharusnya ia gunakan untuk mengejar nilai-nilai pelajaran. Ia bisa tentu saja, hanya hatinya sedang berada di seseorang yang mencintainya. Orang tuanya sedikit kecewa dengan pilihan hatinya, mereka menyebut-nyebut sosok sepupunya sebagai yang harus diikuti prestasinya. Mereka pun kemudian mulai membatasi kebebasannya.

Sedangkan sepupunya, anak lelaki kedua baru saja keluar dari dunia ciptaannya. Ia baru mengerti arti pertemanan, persahabatan dan dendam. Pelajaran yang mudah ia mengerti dan membuatnya menjadi unggulan mulai ditinggalkannya demi status dalam pergaulan. Ia menjadi iri dengan sepupunya karena lebih dulu merasakan seperti apa cinta sepenuh hati yang terbalas. Orang tua anak lelaki kedua masih merasa aman-aman saja dengan prestasi dan perkembangan pertemanan anak sulungnya. Mereka sama sekali tidak membatasi gerak-gerik dan privatisasi, bahkan memfasilitasi.

Saat beranjak dewasa, mereka sama-sama kehilangan kepala sekaligus tulang punggung keluarga, papa dan bapaknya.

Lelaki pertama kehilangan untuk selamanya. Papanya terlalu dalam memikirkan penyelesaian masalah pekerjaannya hingga stroke menyerangnya, tepat di malam saat ia bertengkar hebat dengannya. Anak lelaki pertama kehilangan arah. Menjadi kepala dan tulang punggungg keluarga sebelum waktunya tidak pernah ada dalam bayangannya. Ia kemudian terjerat ke dalam lingkaran setan dan meninggalkan ibu dan adik-adiknya tanpa arahan.


Lelaki kedua tidak kehilangan bapaknya selamanya, bapaknya ada namun tak pernah ada. Seperti zombie. Anak lelaki tidak tahan, ia melarikan diri. Mecoba hidup sendiri meski tidak melepaskan hubungan biologis dan ekonomi dengan keluarganya. Ia kemudian menemukan jati dirinya di lingkaran pertemanan. Para mantan, kawan dan lawan, sahabat, semuanya menempatkan ia di posisi yang nyaman. Namun ia tidak tahu posisinya di keluarga, ia tidak tahu bagaimana harus mencintai mereka, apa yang harus dilakukan atau dikorbankan, peran seperti apa yang ia seharusnya lakonkan.

Kini mereka sama-sama hampir sampai di titik kedewasaan.

Lelaki pertama kini telah menjadi pria dan berhasil keluar dari lingkaran setan. Namun belum, ia belum berhasil menjadi kepala sekaligus tulang punggung keluarga. Ia telah memilih jalan lain, membentuk keluarga baru yang resmi tanpa perlu membiayai semuanya sendiri.

Lelaki kedua juga tumbuh menjadi pria. Ia berhasil menjaga perannya di lingkaran pertemanan dan mengerti sekali peran yang harus ia jalankan di keluarganya. Namun ia pun sama dengan pria pertama yang tidak juga menjalankan peran sebagai kepala dan tulang punggung keluarga dengan baik. Pria kedua malah lebih memilih membiayai sendiri “bulan madu” ke luar negeri bersama seseorang yang belum dinikahi.

Itulah dua pria bersaudara di dua jalur kehidupan berbeda namun berada di titik kedewasaan yang sama, mengesampingkan keluarga.

Little Girl

There’s a little girl
She’s real cute
And a real eater
But she’s not fat
Nor love cat
Sometimes she wears hat
Whenever she pretends to be a male brat

Everyone loves her and so do i
But I’m not a lover boy
I don’t know how to care
All I know I hurt every people I know
To let it out all the hatred in me
So I can love her with pure heart

But, lately she keep asking me to stop making her happy
Asked me to mad at her
or just stop being nice
She hated me for not being hatred

So I stop hurting people
And start hurting her
She asked to be drown when she’s drowning
Buried when she falls into a hole
i pinched, she weep
i stabbed, she bleed
i chopped, she’s dead

You should’ve been careful of your wish, dear...

Friday, April 20, 2007

Kelam itu nyaman

Cuma satu orang dewi yang bisa bikin kayak gini, nggak lagi-lagi!















Culun ya, biarin lah, momentnya cuma sekali, coba dinikmatin...