Tuesday, December 09, 2008

What’s Your Klan?

Sepak terjang klan BB, Ai Fung dan Eji semakin seru. Terlihat dari jumlah pengikut dari ketiganya yang terus melonjak.

Mengapa tiga klan ini bisa lebih eksis dibandingkan klan lain seperti P1 Soner yang berangsur musnah?

BB
Idiom waktu saya kuliah “We cannot not communicate” sepertinya cocok bagi para pengikut klan Blackberry Bold. Di mana saja (sesuai kemampuan jaringan kartu SIMnya) pengikut klan ini dapat berkomunikasi dan menjelajah internet dengan mudahnya. A total mobile communication solution.

Namun pertanyaannya adalah, sudah siapkah mengabdi sejauh itu kapada sebuah alat? Seorang master Zen akan berkata bahwa kita selalu berkomunikasi dengan siapa dan apa pun kapan saja, bahwa kita selalu terkoneksi satu sama lain, tanpa perlu alat.

Niscaya, alat yang berfungsi menghubungkan dengan mudah, pada kenyatannya menjauhkan jarak hubungan antar manusia yang sesungguhnya.

Eji
Berasal dari perguruan tua bernama Nokia, Eji dibekali jurus pamungkas, yaitu kemudahan mobile internet. Membuka email, menyimpan attachment, membuat dan mengirim attachment hingga membuat website dengan mudah di mana saja. Tapi sayangnya, jurus pamungkasnya masih kalah mematikan bila bertarung dengan klan BB. Bahkan melawan Ai Fung saja mereka keteteran karena kurang variasi pada aplikasinya.

Rasanya mereka bisa ini itu, tapi ternyata ya cuma segitu.


Ai Fung
Memiliki banyak sekali jurus pamungkas. Pengikutnya tidak perlu lagi membeli iPod, PSP, bahkan GPS. Kesemuanya pasti dikuasai bagi pengikut klan ini, bahkan pengikut Ai Fung tingkat tinggi dapat mengubahnya menjadi mouse atau mengusai laptop dengan kemampuan remote. Jurus-jurus Ai Fung menjadikan pengikutnya autis dengan kemampuan-kemampuan ajaib.

Sayangnya masih banyak yang ragu menjadi pengikut klan ini, karena Ai Fung bukanlah aliran resmi yang diakui di negeri ini. Dianggap sebagai aliran ilegal. Meski sebenarnya dasar ketetapan legal atau tidaknya bukanlah benar atau salah, tapi laba dan kepentingan semata.

So, what's gonna be? Be bold, just open emails, or live lively as a prodigy?

Wednesday, November 12, 2008

About "The Apple..." Proverb

It would be easier to know the answer of our life’s questions, if we had known our parents answers to theirs.

Friday, October 31, 2008

Thursday, October 23, 2008

Heartless

You got two
Therefore I got none

Wednesday, October 22, 2008

Mengapa?

Trus kenapa?

Sebuah alasan yang telah dijelaskan namun tetap menimbulkan ketidakjelasan berarti tetap membutuhkan jawaban. Dan ketika jawaban tersebut kembali membutuhkan penjelasan, apakah pertanyaan awal yang menanyakan alasan masih perlu dipertanyakan?

Thursday, October 16, 2008

Untung

Aneh banget pagi-pagi
Ada satu anak STPDN
Nggak sok, tapi percaya diri
Jalannya cepat nggak ngerem-ngerem

Mukanya serius ngomongnya becanda
Nyuruh-nyuruh pulang
Padahal bilang selamat datang

Untung tak jadi bertanya
“Kapan lulus dari Jatinangor?”
Bisa-bisa balik ke desa itu lagi
jadi dosen penunggu gaji
Karena ternyata ia Din Sumedi

Saturday, October 11, 2008

Kenapa pindah?

Karena ialah saya pindah ke tempat kerja yang sekarang.

Pertama kali bertemu dengannya sekitar 4 tahun yang lalu di lantai empat Gedung Victoria. Copy buatannya disukai oleh banyak orang. Walaupun bagi saya susu buatannya lah yang paling mantab.

Kini kami bertemu lagi. Belum secara langsung bekerja bersama, tapi setidaknya ada di lantai yang sama. Harapan saya, semoga ia bisa tetap sehat. Tidak seperti beberapa waktu lalu saat ia mengalami kerusakan yang cukup kritis. Beruntung perusahaan sayang kepadanya. Semua urusan pengobatan dibuat lancar.

Mudah-mudahan hari-hari kita ke depan akan lebih seru lagi dari sekarang, Mr. Coffeemaker.

Wednesday, October 08, 2008

Thursday, October 02, 2008

Droga For Obama

Droga5 have thrown their hats in the fierce furnace political election by joining with Sarah Silverman asking Jews to get their butts down to Florida for The Great Schlep.

The Great Schlep aims to have Jewish grandchildren visit their grandparents in Florida, educate them about Obama, and therefore swing the crucial Florida vote in his favor.


The Great Schlep from The Great Schlep on Vimeo.

Monday, September 22, 2008

Libra Man

A man who has no balance like his Zodiac symbol. He is not the gentle, cool, calm and charming guy like what you see. He has another dark side of aggression, stubborn and he likes to start an argument the most. Sometimes he can be so depress and unstable. Up and down like he is trying to balance himself most of the time.

To many people, he is a friendly guy and always smile even when he is mad or up set. His voice always gentle and calm. he always set and comb his hair as if he comes out from a shampoo advertisement. Mostly Libra men are good looking, even the ugly one is charming. When he smiles, it is so bright that the whole world is smiling with him too.

When he is in a balance mood, he is the type of person you want to be with. In other unbalancing mood, he likes to make people argue about something and watching it with fascination and fun. He will wait to be the one who compromise and clear thing up. He likes to be in a conflicting conversation.

Libra man is lazy by nature. After his tired day at work, he likes to sit still and just look out of the window or read quietly. He likes to be in his own world. After recharging his battery, he will be very energetic again and may even take you out that night.

Libra man normally will not do any shocking or abnormal things to be noticed. He likes to be conformed with his crowd, but if you watch him carefully, you will see the different. If he wear a shirt, it will have to be a zipper front instead of buttons, or a special tie bar. There is always something in him that he will not allow totally conformity to take him over.

A straight forward , no non-sense guy. He is careful and delicate in details. He will spent extra time to doing it right, than comes back to correct them later. He hates people who boost, or exaggerate. He does not like over dressed woman or make herself a center of an attention.

He loves to read. He loves poems and loves art. When he works he can work like crazy, but after work he can turn on romantic jazzy music and treat you so gently. He loves to give people advice and normally give a good advice. If you fall for him, you will stay like being trapped in a spider web. If you want to break up with him, he will persuade you a zillion ways to stay and you can not stop him anyway. After he persuade you to stay, or after a big fight, he will be so sweet to you as if he has never hurt your feeling before ever.

He will has his own way to win a girl love and affection. Once she says yes, he will lay back and wonder if he should go on or if he should back out. In his teen, he changed many girl friends because he can not clearly separate loving a friend and loving a girl friend. He will check and re-check if his match is suitable and compatible with him.

Even he is a romantic man, he can hardly understand the emotion of the one he loves. He is a generous guy even he sets his life so systematically. He never knows when he makes you unhappy. He never knows how he up set you. He will never knows what he said wrong. If he is your lover, be prepare for this.

A not so pretty girl with no brain is not his type of woman. If you are not pretty enough, he will not mind talking to you but he does not care to get to know you. Any girls, pretty or ugly can ask for his help, he will be happy to help. He hates to argue by yelling at each other, so you tend to see he argue with his girl friend seriously but try at best to be very quiet.

He likes to have a girl friend by getting to know each other like a friend first. If you want him, you have to like the same thing he does. He prefers a pretty and gentle woman than a smart and ugly woman. You have to understand his mood especially he can has many different moods. He is a private person, so when he needs to be alone better let him be.

Sunday, September 21, 2008

Ternyata Hanya Belum Mau

Entah apa yang memotivasinya, yang pasti ia berhasil mengalahkan ketakutannya.

My mom writes this whole day. Writes my day too.

Keep it going, Mom!

Tidak Ingat? Atau Tidak Mau?

Kurang lebih dua pertiga dari total biaya pendidikan saya adalah hasil kerja keras ibu saya belasan tahun sebagai corporate secretary. Dan tentu saja sebagai seorang sekretaris andalan boss ia banyak mengetik menggunakan komputer.

Pagi ini ia bertanya kepada saya dan adik saya, "Kalau ngetik di laptop nantinya bisa di-print kan?"

Saya sarankan adik saya untuk meminjamkan laptopnya, karena berpikir ibu saya akan lebih mudah beradaptasi dengan laptop pc.

Ternyata tidak.

Dia sudah lupa bagaimana membuat huruf kapital, bagaimana membuat teks menjadi justified, dan hal-hal standar penggunaan Word lainnya.

Saya ingat dulu ketika saya mengetik tugas di rumah seringkali ia mengingatkan untuk memencet control s, tapi sekarang ia kesulitan mencari tombol itu. Kok bisa ya? Kalau kita sudah pernah naik sepeda, kapan pun naik sepeda lagi pasti akan ingat. Tapi mengapa ia tidak? Umur?

Saya rasa tidak. Tebakan saya karena rasa sakit hati yang tersisa sehingga dia menjadi apatis. Karena mengingat kembali cara menggunakan komputer berarti mengingat kembali suasana di kantornya saat itu. Kembali lagi mengingat pengkhianatan anak asuhnya, kembali lagi merasakan penghinaan dan sakit hati.

Siapa juga yang mau merasakan hal seperti itu lagi.

Saturday, September 20, 2008

Independent Thinker

ipersonic. Tahu dari LiaCapri karena kita lagi ada kerjaan bikin tes-tes beginian. Iseng-iseng nyoba kok hasilnya mirip. Seumur hidup baru ada dua tes kepribadian yang cukup tepat. Pertama berdasarkan zodiak (kalau masih ada filenya saya posting di postingan berikutnya deh), dan yang kedua ya yang ini.

Coba juga deh testnya, klik di sini. Jangan lupa buat share hasilnya ya. Ini adalah hasil tes saya.

Independent Thinkers are analytical and witty persons. They are normally self-confident and do not let themselves get worked up by conflicts and criticism. They are very much aware of their own strengths and have no doubts about their abilities. People of this personality type are often very successful in their career as they have both competence and purposefulness. Independent Thinkers are excellent strategists; logic, systematics and theoretical considerations are their world. They are eager for knowledge and always endeavour to expand and perfect their knowledge in any area which is interesting for them. Abstract thinking comes naturally to them; scientists and computer specialists are often of this type.Independent Thinker

Independent Thinkers are specialists in their area. The development of their ideas and visions is important to them; they love being as flexible as possible and, ideally, of being able to work alone because they often find it a strain having to make their complex trains of thought understandable to other people. Independent Thinkers cannot stand routine. Once they consider an idea to be good it is difficult to make them give it up; they pursue the implementation of that idea obstinately and persistently, also in the face of external opposition.

Independent Thinkers are not the type who easily comes out of his shell. Speaking about their emotional life is also not one of their strong points. Anyway, social relationships are not particularly important to them; they are happy with just a few, close friends who find it easy to share their intellectual world. They find it difficult to establish new ties. In love, they need a lot of space and independence but this does not mean that their partner is not important to them. Independent Thinkers often make a cool and reserved impression on others; but this impression is deceptive: they can hardly bear it if people close to them should reject them. They prefer a harmonious, balanced relationship with a partner who shares their interests and with whom they can realise their visions.

Adjectives which describe your type

introverted, theoretical, logical, planning, rational, independent, intellectual, self-confident, analytical, structured, dogged, witty, resolute, self-critical, visionary, inventive, independent, unsociable, reserved, nonconformist, quiet, visionary, honest, demanding, hardworking.

These subjects could interest you

art, jazz, classical music, science fiction, computer, drawing/painting, spiritual matters, meditation, handicraft, writing, strategic games, politics.

Cita-cita

Setelah punya rumah, apa cita-citamu? Kecil saja:
ingin bisa sampai rumah saat senja supaya saya
dan senja sempat minum teh bersama di depan jendela.

Ah cita-cita. Makin hari kesibukan makin bertumpuk, uang makin banyak maunya, jalanan macet, akhirnya pulang terlambat. Seperti turis lokal saja, singgah menginap di rumah sendiri buat sekedar melepas penat.

Terberkatilah waktu yang dengan tekun dan sabar membangun sengkarut tubuhku menjadi rumah besar yang ditunggui seorang ibu.
Ibuwaktu berbisik mesra: "Sudah kubuatkan sarang senja di bujur barat tubuhmu.
Senja sedang berhangat-hangat di dalam sarangnya."

(Joko Pinurbo, 2003)

Sunday, September 14, 2008

secretly in love

kebetulan melakukan yang sama terlalu sering terjadi, begitu juga yang berlawanan yang menghasilkan keutuhan. padahal saya tidak percaya dengan kebetulan.

saya tidak kenal dia, dan sebaliknya. tapi kami berada di dunia yang sama, dunia di mana hanya kami sendiri yang dapat hidup di dalamnya, yang sama-sama kami cintai dengan cara kami sendiri-sendiri.

I've been watching your world from afar
I've been trying to be where you are
And I've been secretly falling apart
Unseen
To me, you're strange and you're beautiful
You'd be so perfect with me
But you just can't see
You turn every head but you don't see me

I'll put a spell on you
Before You'll fall asleep
When I put a spell on you
And when I wake you I'll be the first thing you see
And you'll realize that you love me

...

(strange and beautiful by aqualung)

unedited blog

Selama ini, saya selalu memberikan waktu lebih untuk setiap postingan di blog ini. Ditulis, didiamkan, diedit, ditulis ulang, diedit lagi, dst sampai akhirnya "ya udahlah, cuma buat blog ini" dan akhirnya tulisan pun diposting.

Makanya jumlah postingan di blog ini cukup lama bertambahnya. Dan setelah saya membaca-baca lagi, nggak bagus-bagus amat juga tulisan-tulisannya.

Kadang saya merasa, ini tulisan gw nih, kok gini? Atau kok gini ya jadinya, maksud awalnya kan bukan ini? Dan lain sebagainya. Bottom line, bogus.

Orang Indonesia banget ya saya, maunya bagus malah jadinya bogus.

Karena itu, mulai sekarang saya mau ubah cara saya menambah postingan, tanpa edit. Maafkan kalau ternyata nantinya banyak typo atau grammar yang salah, tapi semoga dengan begitu keaslian pemikiran dan maksud dapat tersampaikan dengan benar, tanpa pretensi.

Monday, September 08, 2008

Ugh...

Tuesday, August 05, 2008

Listening What You Are Saying

Saat membeli produk yang iklannya kita yang bikin selalu menyenangkan. Menanyakan pertanyaan padahal kita sudah tahu jawabannya, lalu mengeluarkan anak-anak pertanyaan yang terkadang dikejutkan dengan jawaban-jawaban baru.

Pagi ini saya membeli Kartu Flazz BCA untuk pertama kalinya (padahal iklannya sudah mau masuk tahap ke-3). Sebenarnya tidak ada niatan khusus untuk membelinya. Tujuan utama adalah mencairkan deposito. Nah, selama saya dilayani, CSO (customer service officer) di meja sebelah sedang melayani nasabah yang mau membeli Kartu Flazz. Saya pun pasang kuping panjang sambil melirik dari ujung mata.

CSO di sebelah menjelaskan mengenai
produk ke nasabah menggunakan brosur (yang saya dan teman-teman di kantor buat). So far so good. Saya lalu menunggu bagaimana CSO akan menggunakan beberapa kata yang saya inject sebagai signature (baca: keisengan biar semangat ngerjain kerjaannya, hehehe). Dan dia menggunakannya! Hahahaha…

Tapi saya belum puas sampai di situ.
Saya pun meminta penjelasan Kartu Flazz ke CSO yang melayani saya. Ternyata CSO saya itu kayak supervisor atau senior gitu, jadi ia tidak menggunakan brosur sebagai alat bantu. Penjelasannya lebih mengalir dan ketika ia hampir sampai ke signature saya, ia bangun penjelasannya hingga saat ia menggunakannya terasa lebih dramatis. Hebat deh dia.

Saya pun “terbeli”. Proses transaksi terjadi. Tapi maaf nih saya tidak akan memberitahu signature saya. Bisa ribet kalau ketahuan.

Berhubung moodnya lagi enak, saya lalu menyampaikan complain teman saya mengenai Kartu Flazz. Yaitu beberapa merchant memberlakukan minimum pembayaran. Itu kan mematikan fungsi si kartu sebagai pengganti uang receh dan alat praktis biar nggak usah repot berurusan sama uang kembalian. Huh!

Dan karena CSO saya itu jago, ia menangkap itu dan mencatatnya. Ia juga mencari tahu detail masalah seperti merchantnya apa dan adanya di mana.


Saya pun sepertinya segera bisa memberitahu teman saya untuk tidak perlu khawatir dengan masalah minimum pembayaran di merchant langganannya itu.

Monday, August 04, 2008

PostSecret

Semakin susah tersentuh. Semakin susah tergugah. Karena semakin mengerti dan menikmati sakit.

Seorang teman pernah bilang, "Mind works like muscle, abuse it." Sepertinya hal itu berlaku juga buat consience kita.

Dan ini adalah salah satu bentuk latihannya.


Can you tell which one is mine?

See more of them, here

Note:
PostSecret is an ongoing community art project where people
mail in their secrets anonymously on one side of a postcard.

Friday, July 25, 2008

Obama In Berlin

“Will we acknowledge that there is no more powerful example than the one each of our nations projects to the world? Will we reject torture and stand for the rule of law?”

Senator Barack Obama drew a crowd of more than
200,000 in Berlin on Thursday

Begini Seharusnya Puisi

Maria sangat sedih menyaksikan anaknya
mati di kayu salib tanpa celana
dan hanya berbalutkan sobekan jubah
yang berlumuran darah.

Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit
dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang
ke kubur anaknya itu, membawa celana
yang dijahitnya sendiri dan meminta
Yesus untuk mencobanya.

“Paskah?” tanya Maria.
“Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira.

Mengenakan celana buatan ibunya,
Yesus naik ke surga.

"Celana Ibu"
Joko Pinurbo

(2004)

Monday, July 14, 2008

May I Have My Chance, With You?

Cos you know I'm letting you to use yours...

Monday, July 07, 2008

Friday, July 04, 2008

Sakit

Kok sakit di dada nggak hilang-hilang ya? Jantung? Tumor? Yang pasti bukan cuman masuk angin atau salah tidur.

Huff...

Wednesday, July 02, 2008

Tumbuhan dan Hobinya

Saya selalu ingin memanjat gunung. Ingin merasakan sensasi melihat matahari terbit dari puncak gunung dan menikmati hawa yang begitu dingin dan segar. Tapi sayangnya hal tersebut belum pernah terwujud dan ada kemungkinan para tumbuhan akan menyusul saya.

Maksudnya tumbuhan?

Berdasarkan penelitian yang dimulai sejak tahun 1985 di pegunungan daerah Perancis, setiap tahunnya para tumbuhan memanjat gunung setinggi sekitar dua meter.Seperti yang dilakukan sekitar 171 spesies tumbuhan di Western Alps, Pyrenees, dan Massif Central.

Stimulus saya dan para tumbuhan untuk memanjat kurang lebih sama, kami sama-sama “kepanasan”. Terkadang saya merasa hati atau kepala terlalu panas karena hidup di kota yang penuh ketidakberesan. Ditambah dengan pemanasan global yang membuat suhu udara tidak jelas dan jarang terasa nyaman. Kami pun lalu sama-sama mencari temperatur ideal untuk dapat terus menjalani hidup dengan maksimal.

Dari spesies-spesies itu, tumbuhan berumur panjang seperti pepohonan dan semak-semak memang tidak mampu memanjat terlalu tinggi, namun tanaman herba/jejamuan cukup jago. Memulai dari ketinggian air laut pada tahun 1985, kini mereka sudah berada di ketinggian 8.500 kaki (2.600 meter).

Jelas saya sudah tertinggal jauh dari mereka dan sepertinya belum bisa menyusul dalam waktu dekat. Tapi tenang saja, dalam waktu dekat mereka akan tiba di puncak tertinggi dan tidak punya tempat lagi untuk dipanjat.

Sedangkan saya tinggal pindah ke Mars atau jadi ensign di USS Enterprise.

Monday, June 30, 2008

Sibuk Apa?

Karena saya bukan yang jago catching up sama orang, jadi cukup sering saya ditanya seperti itu. Tapi tanpa sadar gara-gara itu saya jadi lebih sering bertanya kepada diri sendiri dengan pertanyaan yang sama.

Sekarang ini, saya dibantu Pakde lagi punya mainan baru, belum resmi diluncurkan karena sedang mencari bentuk yang paling pas.

Thursday, June 26, 2008

Mandalay - Like her


Can’t we talk
Set it right
Can’t we talk
Anymore

All this time
Only you
Nothing more
All this time

It looks like
You won’t be staying round
Given the time
And your mood
You look a lot like her
And you look so like
You won’t be staying around
Here in this half light
You look a lot like her

Is it all
Lost and gone
Could you give
Me some room
Room to be
Room to heal
Worth as much
You will be

It looks like
You won’t be staying round
Given the time
And your mood
You look a lot like her
And you look so like
You won’t be staying around
Here in this half light
You look a lot like her

You decide
What I meant
What is right
You decide
Please believe
I will be
Here for you
I will be

It looks like
You won’t be staying round
Given the time
And your mood
You look a lot like her
And you look so like
You won’t be staying around
Here in this half light
You look a lot like her
(x3)

Monday, June 16, 2008

The Little Rabbits

The Cutest of Three Says Hello



His Black and Brown Sisters Busy



All of Them, Chatting...

Thursday, June 12, 2008

Saya sering bertanya-tanya sendiri kok cewek-cewek kayaknya ribet banget ngurus idupnya. Belum juga nikah, gelisah. Ada gebetan baru, gelisah. Mau ada sale, gelisah. Ribut mulu.

Padahal kan harusnya tingal mikir sebentar. Ok, belum juga nikah kenapa, paling mikir satu dua layer juga sudah ketemu jawabannya. Terus coba jalanin jawabannya sekuat mungkin. Kalau ternyata belum bisa melakukan hari ini ya tinggal lakuin besok. Kalau doa dan usaha sudah maksimal belum juga bisa, kan ketahuan jawabannya kalau belum saatnya. Beres kan?

Trus kenapa keributan itu saya “ributkan” lagi di sini? Karena biasanya kegiatan meributkan itu merembet dan menimbulkan masalah baru. Dulu saya tidak terlalu terganggu karena percaya dengan penelitian yang bilang cewek itu menemukan solusi masalahnya memang saat cuap-cuap. Beda dengan cowok yang memecahkan masalahnya saat menyetir mobil sendirian atau saat buang air besar.

Misalnya ada cewek yang mau married tapi belum yakin sama calonnya. Dia ngajak ngopi satu-satu teman-temannya. Ya yang cewek dan yang cowok. Terus entah kenapa selalu saja yang terjadi adalah penghakimannya kepada teman-temannya yang belum berani berkomitmen. Ujung-ujungnya dia punya masalah baru, susah cari panitia dan pager ayu dan bagus buat pernikahannya.

Dia pun tidak bisa membagi kebahagiaannya itu. Dia menjadi lebih merasa kesepian sebelum menikah.

Anehnya, teman-temannya terus membicarakan si cewek itu setiap kali mereka ketemuan (tanpa ada si cewek tentunya). Setiap kali. Jadi sama-sama nggak penting deh.

Ajaib.

Tuesday, June 10, 2008

Catatan Pinggirannya Catatan Pinggir

Goenawan Mohamad menulis di majalahnya bahwa jangan-jangan Daniel Plainview sedang berbicara dengan kita,"Akan ada darah...". Sialannya itulah yang saya pikirkan setelah menonton filmnya. Apalagi setelah adegan si pendeta pecah kepalanya. Saya membayangkan hal tersebut akan terjadi di sini (tentu bukan kepala pendeta, tapi pemimpin umat juga tentunya, Anda tebak sendiri).

Kita tahu negeri ini tidak juga berarti di mata dunia. Tapi lebih parahnya lagi, ia semakin tidak berarti bagi yang hidup di dalamnya. Kebodohan yang dipelihara dan jalan manja dan mewah yang terus diperpanjang adalah penyebabnya.

Negara asal Gandhi sang juru damai saja sudah bisa bikin nuklir, lha kok kita masih berantem siapa yang paling benar agamanya. Di hari lahirnya Dasar Negara pula. Kurang bloon apa coba?

Kemiskinan berstruktur memutarbalikkan yang kaya tidak perlu mengeluarkan keringat untuk mendapatkan uangnya sedangkan yang miskin bekerja sampai habis keringatnya pun uangnya bakal segitu-gitunya saja.

Namun hebatnya seorang tukang bakso bersepeda menyempatkan waktu untuk berhenti sejenak dan turun dari sepedanya agar dapat menyelipkan uang seribu rupiah bagi seorang kakek tunanetra peminta-minta. Sedangkan pemilik BMW yang ngebut dan membuat tukang bakso bersepeda jatuh terperosok melarikan diri tidak berani tanggung jawab.

Negeri ini sedang rapuh, serapuh mata ayah saya kemarin siang setelah beberapa bulan tidak pernah bertemu.

Wednesday, May 28, 2008

She Said I'm Cruel

Pencemburu: Mengapa kau bersamanya?

Pencinta: Karena ia menyukaiku

Pencemburu: Aku juga menyukaimu! Mengapa kau tidak bersamaku?

Pencinta: Karena ku menyukainya

Wednesday, May 21, 2008

100 Tahun Kebangkitan Nasional

basabasi basabasi basabasi basabasi
basabasi basabasi basabasi basabasi
basabasi basabasi basabasi basabasi
basabasi basabasi basabasi basabasi
basabasi basabasi basabasi basabasi
basabasi basabasi basabasi basabasi
basabasi basabasi basabasi basabasi
basabasi basabasi basabasi cumabasabasi

Friday, May 16, 2008

Love The Airplanes

The film depicts war planes lifting off all over the world and meeting over Burma. I watched with a pinch of irritation as their hatches open, expecting bombs and the requisite sight of human suffering, but -- unexpectedly -- the planes rain a canopy of flowers over the cityscape.

Find more videos like this on AdGabber

Manhattan, May 2008

Monday, May 05, 2008

Penjiplak

Kata orang, imitasi adalah penghargaan tertinggi untuk sebuah karya. Sayangnya di Indonesia terlalu banyak peniru hebat daripada pembuat asli yang mantap. Sampai blog pun dijiplak.


Yang asli: http://nonadita.dagdigdug.com/

Penjiplak: http://nonaditta.dagdigdug.com/

Friday, May 02, 2008

Kiamat Sudah Dekat


Jay Zwally, ilmuwan iklim dari NASA memperkirakan es di Arktik akan habis pada musim panas tahun 2012.

Waktu kita sungguh tak banyak lagi.

update:
Tanggal 1 Mei 2008 lalu, prediksi terbaru dilansir NASA: mencairnya semua es di Arktik bisa terjadi di akhir tahun 2008 ini.

*lengkapnya lihat di http://dee-idea.blogspot.com

Friday, April 25, 2008

Bingung Naro Duit

Keren banget nggak tuh. Kebayang kan duit gw sebanyak apa, hohoho

…cuman sayang nyatanya uang gw sama sekali tidak banyak, hehe…

Awalnya gw mau pake duit yang nggak banyak itu buat DP rumah. Cuman karena –lagi-lagi- duitnya itu nggak banyak, malah bakal membuat cicilan bulanannya mencekik. Ogah deh.

Jadinya gw pikir duit ini harus diputerin (baca: diperbanyak) dulu. Bagaimana caranya? Nah, di situ lah serunya…

Valas
Gara-gara subprime mortgage, Dollar AS terombang-ambing. Terhadap mata uang asing lain -kayak Euro- dia udah melemah terus. Meskipun terhadap rupiah dia masih stabil. Kok bisa? Ya namanya juga rupiah, hehehe…nggak ding. Dollar Amerika terhadap rupiah masih stabil karena sengaja (baca:sebisa mungkin) dibuat stabil sama pemerintah. Karena hampir semua ekspor kita dalam Dollar AS. Jadi kalau nilai Dollar AS rendah terhadap rupiah melemah, ya bakal rugi dah negara.

Trus kenapa nggak Euro aja? Kalau yang ini baru mulai terbukti kestabilannya untuk terus naik. Cukup potensial. Tapi gw belum yakin aja. Lagian margin dari valas juga nggak terlalu istimewa.


Deposito
Sebagian besar bank ngasih bunga untuk deposito sebesar 5-6% per tahun. Ada juga sih beberapa yang ngasih 1-2% lebih tinggi. Tapi ya segitu aja, nggak bakal dapet lebih. Positifnya deposito itu tidak mengenal angka minus. No risk.


Reksa Dana
Yang ini belon terlalu ngerti, masih belajar lagi.


Saham
Resikonya terlalu tinggi, belum berani maenin sendiri.


PIA
Nah loh apaan tuh? PIA stands for Personal Investment Account. Itu salah satu produk yang ditawarkan perusahaan asuransi yang gw beli produknya. PIA bisa diambil setelah dua tahun. Returnnya gila-gilaan, bisa sampe 50% cuma dalam dua tahun! Dan setelah dua tahun udah bisa diambil likuid. Agen gw itu juga bilang kalo sekarang ini adalah waktu yang tepat karena harga per unitnya lagi turun. Sangat menarik. Yang harus diperhatikan adalah situasi politik tahun depan alias si pemilu itu. Bisa jeblok, meski bisa juga sangat tinggi kenaikannya.

Gold
Beli emas batangan! Kata temen gw yang kerja di bank. Dari awal tahun naik terus harganya. Beli emas batangan dan buka SDB. Cukup menjanjikan plus keren banget kedengerannya punya SDB isi emas, hueheuehehehe…

Selain itu juga tiba-tiba ada yang jual powerbook murah, iPhone bajakan yang dibanting harganya, Lonely Planet yang makin seksi cerita-ceritanya, sama mercy C200 mulus berharga miring.

Tapi setelah semingguan mikirin mau taro duit di mana, pas di perjalanan pulang ngeliat ibu-ibu tua narik gerobak dan nggak jauh setelah itu ada kakek-kakek sibuk menyapu jalanan. Padahal itu udah jam setengah dua.

Tambah bingung…

Tuesday, April 15, 2008

Sederhana

Senang berada di dalamnya
Membuatku tak pernah merasa cukup
Merayuku meraup seenaknya
Semaunya, sebanyak-banyaknya

Cap-cip-cup
Lalu menyeruput
Semau perutku
Seenak udelku

Tak ada yang sederhana di sini
Kecuali namanya

Nyam!

Wednesday, April 09, 2008

Tontonan Gratis

Hati senang lawan perut meradang
Peduli siapa menang yang penting pulang

Naik bis bikin meringis
Tapi duit tipis
Ya udah numpang si abang
Biarpun ngangkang

DUUAAAAKKKK!!!

Aduh, sialan!
Bang, berhenti bang!
Nggak ada waktu buat ba-bi-bu
Cerocosin aja biar dia malu

“Mau loe apa sih?! Pengen dianggap penting pasang badan di tengah jalan? Pake otak, bloon! Loe mau ganti kalo gw mati? Jangan sok cool loe! Sok nggak peduli...---“

Orang-orang di jalan bingung
Ada cewek pakai helm marah-marah sama lubang

Monday, March 24, 2008

R U avin a laff?

That’s a catchphrase used in a British TV series called “Extras”. I must say it really works that mantra, I mean it’s a real catchy.

The main character is an extra. Yeah see, that’s one of the first reasons why I bought it. Love the paradox. The other reason is how come this series got a Globe?

So, this extra, Andy Millman, was striving to get an elusive line of dialogue. His efforts created miss talks, miss understanding, miss interpret, miss world (haha, you wish!) of dialogues and gestures that were very funny, actually. Not to mention his fellow extra Magie Jacobs and his foolish agent which added more wit anomalies to the movie.

As the story goes, Andy became successful because of the sitcom he wrote and acted, “When The Whistle Blows”. In that sitcom, he acted as a factory supervisor with curly hair and a red wide-framed glasses (I believe Dian Sastro owns one of them) saying the buzzword over and over,”Are you having a laugh? Is he/she having a laugh?”



It was surely funny at first. But then I realized, maybe those words were the real buzzword that they were going to use in the first place. You know, like mocking those ignorant audiences who are laughing when they watch a brainless TV shows or thickheaded TV drama (sinetrons you might say).

I guess I’m beginning to understand why this series has won the Globe. Because it delivers the message so strong and cleverly: Stay aware while watching the series.

I mean like, if you love watching House, be careful that you might become a sarcastic and mean person. Or even if you like this series, this “Extras”, be aware that there were too much anomalies in it. You might become anomalously overloaded, you couldn’t feel the right thing anymore.

What, am I having a laugh?

Just watch the series, mate. I'm pretty sure you'll be avin a laff.

Tuesday, March 18, 2008

Banality

Beberapa minggu terakhir, mantan boss dan boss yang sekarang nanya-nanya kenal copywriter yang bagus atau nggak.

Emangnya kalo copywriter temenannya ama copywriter gitu ya? Tapi akhirnya gw merasakan keputusasaan mereka karena emang ternyata nggak gampang.

Kenapa nggak gampang?

Menurut gw sih, karena ternyata jarang yang suka baca dan menulis. Meskipun copywriter kerjaannya cuma dua itu.

Jadilah sedikit sekali nama yang gw kasih ke boss baru untuk diseleksi. Lebih banyakan nama yang gw kasih ke mantan boss karena para mantan bisa masuk sana, bebas conflict of interest, huehehehe…

Ngomong-ngomong mantan dan copywriter, ada fakta menarik. Ternyata orang-orang mantan copywriter jadi orang lebih penting daripada yang selamanya jadi copywriter.

Bandingin aja
http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_copywriters

http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_former_copywriters

Siapa yang tahu David Ogilvy, Leo Burnett, W. Bernbach? Tapi siapa yang nggak tahu Salman Rusdhie dan Hugh Hefner?

Karena sekarang gw copywriter, berarti tinggal setengah jalan lagi buat gw jadi orang-orang penting itu, hehehe…

Dangkal banget emang, tapi bener kan?

Tuesday, February 26, 2008

Bermainlah ke kebunsemanggi

Kalau akhir-akhir ini merasa kehidupan kok terasa mulai menjemukan dan membosankan, bermain-mainlah ke kebunsemanggi, dijamin hidup rasanya (bisa) seru lagi!

Setidaknya itu yang saya rasakan setelah melakukannya.

Ketertarikan pertama saya kepada si kebunsemanggi diawali dengan sebuah teaser menegangkan tanpa judul di apple.com. Teaser itu hanya diakhiri dengan tanggal. Berhubung tanggal itu dibuat seperti judul film, saya pun mengira tanggal itulah judulnya. Yeah, yeah, saya termasuk makhluk bodoh yang tertipu dengan teasernya.

Tapi coba bayangkan misalnya nih, kita sedang berada di sebuah pesta di sebuah apartemen. Tiba-tiba terjadi gempa dan sebuah ledakan. Kita pasti ikut panik, segera turun dan keluar untuk mencari tahu ada apa. Lalu sesampainya di luar di pinggiran jalan. Belum juga mengerti apa yang sedang terjadi, tiba-tiba sebuah benda besar melayang cepat ke arah kita. Beruntung kita masih sempat menghindarinya. Namun apa rasanya setelah kita melihat dengan mata kepala kita sendiri, ternyata benda besar yang hampir menimpa tadi adalah kepala patung Liberty.



Jadi walaupun saya sudah kena tipu, teaser itu sudah menggaet saya. Memang sempat ada ketakutan dengan idiom “kalau trailernya keren, biasanya filmnya cupu”. Tapi rasa penasaran yang terbangun sudah terlalu besar, tak ada yang bisa menghalangi saya menonton film ini.

Adalah sebuah kebetulan yang berharga kalau release film ini di sini pas dengan datangnya rasa bosan saya dengan ritual hidup. Nah, dicampur dengan ekspektasi yang ada di atas ambang batas harapan akan filmnya, bermain-mainlahlah saya ke kebunsemanggi alias Cloverfield ini.

Teaser yang saya ceritakan tadi merupakan cara awal Matt Reeves (si sutradara) menghidupkan nyawa filmnya, yang kemudian ia perkuat dengan menyuntikkan malapetaka berkali-kali. Sehingga setiap film mulai masuk ke wilayah klise, selalu ada sesuatu yang membangkitkan adrenaline, memainkan emosi maupun menusuk hati sehingga membuat penonton mengucapkan atau berkata dalam hati-,“Oh, shit!”.

Film ini hampir memenuhi semua harapan saya di setiap adegannya. Mereka mengalir begitu manusiawi dan nyata. Apa yang ingin saya lihat pasti ada, bahkan tidak jarang diberi bonus. Kemudian apa yang tidak ingin saya lihat tapi jelas bisa membayangkannya, tidak diperlihatkan oleh film ini sehingga membuatnya minim adegan klise.

Tidak akan ada yang namanya rapat-rapat militer di Pentagon yang merasa paling bisa menyelamatkan dunia atau pesawat-pesawat siluman take off dari carrier. Tidak akan ada juga sejarah monster dan ahli beserta orang-orang sok ahli yang menggurui kita mengenai si monster. Menyenangkan.

Ada satu hal yang saya anggap sebagai usaha yang berhasil membuat film ini semakin nyata, yaitu jarang sekali nama/logo sebuah merk/brand nampang beberapa detik dan membuat penonton bergumam, “halah, sponsor”. Kalau tidak percaya perhatikan merk handycamnya deh. Mungkin saya terlewat atau memang perlu lebih memerhatikan lagi, tapi seingat saya, merk handycam yang digunakan di film ini tidak pernah diperlihatkan. Tentu akan menjadi sebuah iklan colongan/ad in atau apapun namanya yang kuat sekali apabila Sony atau Panasonic mengajak J.J. Abrams (si produser film ini) untuk bekerjasama. Tapi nyatanya tidak (atau tidak mau). Dan menurut saya itu bagus sekali.

Film ini agak sulit diceritakan karena yang terjadi adalah mengalami, bukan menonton atau mengamati. Saat keluar bioskop, saya merasa, I would love to die like Rob. Karena saya setuju dengan pernyataan “sometimes you should fuck the world and just be with the one you love”.

Malam itu, dengan melukiskan kehancuran, Matt Reeves telah memperlihatkan kepada saya betapa indahnya kehidupan.

Friday, February 15, 2008

Friday, February 01, 2008

miss that hurt

Whenever my affection rise to the top
I pinched my heart
By remembering you
Spoiled girl

Whenever I’m being smartass
I snipped my heart
By remembering you
Cute little bookworm

Whenever the jackass live in me
I stab my heart
By remembering you
Old senior girl

When I was just being me
I crush out my heart
By remembering you
Married woman

Tuesday, January 29, 2008

Penyakitan

Oi Pesakitan!

Kamu tahu bosmu pintar
Mengapa sengaja jadi bodoh?

Kamu tahu temanmu baik
Mengapa memilih jadi brengsek?

Mungkin kamu tidak sadar
Tapi itu penyakit meradang

Kamu tahu ia tidak suka dihakimi
Mengapa membuatnya marah?

Kamu tahu dirimu bukan yang terkuat
Mengapa semua beban tetap diangkat?

Rasakan sendiri sakitnya
Penyakit yang kamu tolak obatnya

Tuesday, January 08, 2008

Sarcasm

“Kalau hidup dibikin sarkasme, berarti kita bukan manusia,” begitu kata seorang copywriter di blognya. Sial.

Keluar deh dia dari shortlist gebetan , huehehe...

Tuesday, December 25, 2007

Mas Kris

Pernah mengirim ucapan Selamat Natal yang jujur? Yang benar-benar dari hati terdalam bukan karena ritual atau karena cewek yang beda agama itu cakep banget?

Sebenarnya seperti apa sih ucapan Selamat Natal yang berasal dari hati terdalam? Is such thing even exist?

Buat yang berprofesi sebagai konsultan komunikasi seperti saya (cieh) harusnya tahu (d'oh!). Setahu saya, belum pernah saya mengirimkannya. Tapi toh yang penting sudah berniat melakukannya, lumayan kan dapat pahala.

Berhubung penasaran belum ada obatnya, jadilah hari ini, sudah beberapa hari terakhir sih, saya bingung mau bikin ucapan seperti apa. Dan kemudian karena sudah deadline dan belum nemu racikan yang tepat, jadilah saya menggunakan format ucapan general yang aman. Yang penting feelnya masih "memberi kedamaian", ya nggak? Pasti iya lah, kan lagi Natal.


May the peace and joy of Christmas be with you today and always...


...or you know, not, hehehe...Merry Christmas!

Sunday, December 23, 2007

Fuck-a-tion

Bagi sebagian dari kalian yang jarang menonton tv lokal dan liburan ini jadi memiliki kesempatan menontonnya, terasa kayak buang-buang waktu nggak? Harga waktu terasa melonjak naik apabila harus ditukar dengan menonton sinetron murahan, infotainment memalukan, variety show membosankan, berita-berita kriminal menyeramkan, kontes-kontes memuakkan, dan iklan-iklan diantaranya yang menyedihkan.

Sehari-hari saya masih perlu sempatkan diri menonton tv lokal sebagai referensi, though it’s a bad one. Tapi, karena sekarang lagi liburan, jadi tidak ada keharusan bagi saya untuk menontonnya, hahaha…senangnya.

Berita terbaru saya bisa baca melalui koran dan internet, bahkan yang seram-seram tersedia dengan bahasa sehari-hari yang penuh typo di dalam Pos Kota. Tidak perlu menonton paket berita dengan gambar low-res dan kesalahan dalam pelafalan bahkan pengetikan di running text. Meskipun kadang kangen juga melihat Frida Lidwina atau sekedar pengen tahu sekarang Zelda bawain acara apa.

Hiburan? Berseri-seri House MD dan film dalam bentuk DVD bajakan menyelesaikan masalah sambil make a stand against capitalism. Ribuan musik siap di download meski sekarang search engine music multiply sudah dihapuskan. Belum lagi bloopers House dan video-video ajaib yang sangat menarik di youtube dan siap diunduh menggunakan keepvid. Tentu saja masih ada YMan, blogger, multiply dan facebook yang tidak pernah membosankan.

Yang paling menyenangkan dari semuanya adalah saya menjadi punya waktu untuk membaca. Semua itu kalah serunya dibandingkan membaca buku bagus sambil tidur-tiduran dan menuliskan kata-kata baru atau yang punya arti lucu dalam satu file lalu ketiduran saat meresapi makna ceritanya.

And so, just look at that, I can still be happy for myself though I can’t go to another continent to feel the snow. So pathetic, isn’t it?

What a lame holiday.

Entry ke-100

So what?

Tuesday, December 18, 2007

Thursday, December 06, 2007

Who’s The Master?

Dalam sebuah pembicaraan saya dengan seorang sahabat, diantara topik flow offline dan super video presentasi side job, terselip sebuah topik yang sepertinya tidak akan pernah selesai yang dalam beberapa tahun terakhir ini selalu menjadi pembahasan antara saya dan dia yaitu, who’s the master?

Seperti misalnya,
Saya : mungkin kalo dulu cewek-cewek di Bandung disuruh baris, setengahnya pasti membentuk barisan mantan loe
Sahabat : mungkin, tapi setengahnya lagi pasti jadi barisan cewek yang pernah loe **i
Saya : rese. Hmm…kira2 ada yang berdiri di irisan dua barisan itu nggak ya?
Sahabat : Mudah2an aja nggak…
Saya : Mana mungkin gw nyamain master...

Setelah itu dia pun selalu menghindar dan mengatakan kalau sudah memberikan gelarnya kepada saya. Saya kemudian bilang saya tidak pernah mau menerima gelar itu. Dia pun membalas kalau dia juga tidak pernah menyandang gelar itu. Dan terus begitu hingga salah satu dari kami harus kembali fokus ke kerjaan, makan siang atau mau pulang.

Kantor Baru

Setiap orang yang saya kasih tahu pindah ke mana, jidatnya pasti mengerut dan mengeluarkan pertanyaan yang tiba-tiba semua orang tanyakan,”kok kesitu?”

Kemudian saya akan menilai seberapa dekat hubungan saya dan orang yang bertanya itu, kalau cukup dekat saya akan menjelaskan, tapi kalau tidak, saya pasti menjawab,”Kok loe nanyanya gitu?”

Nah jawaban orang-orang setelah ditanya seperti itu yang cukup menarik. Aneh-aneh jawabannya: “ya abis aneh aja”, “bukannya loe tinggal pilih ke mana aja loe mau?”, “kan itu nggak tambah deket ke rumah loe”, “pasti duitnya gede bgt tuh”, “secakep apa cewek cakepnya di sana?”, “loe dah beneran gila ya”, “apa lagi yang loe cari sih?”

Yang lain sih ternyata nggak penting-penting amat, tapi yang terakhir itu menarik. Kesannya saya sudah mendapatkan semuanya, adalah menyebalkan diliat sebagai orang yang seperti itu. Namun pertanyaan itu berhasil masuk ke dalam pikiran tidak sadar saya.

Jawabannya: masih banyak, sangat banyak, makanya saya pindah.

Ke mana? Ke sini
burat@advantage.web.id

Friday, November 23, 2007

Why House?

Shakespeare really screws us with his crafty quote,”What is a name? is he?” Well, thank God I met Roland Barthes.

Tahu nggak kira-kira kenapa Ahmad Dani kalau bikin lagu yang memuja wanita selalu ada nama Dewinya? Padahal kita tahu dia bertentangan dengan Ari Lasso dalam membuat lagu karena Dani mensuperiorkan laki-laki bukan wanita. Sedangkan Ari selalu mengagungkan perempuan. Apakah karena arti kata Dewi yang selalu bagus dan terhormat dijadikannya sebagai perimbangan dalam mensuperiorkan laki-laki di dalam lagu-lagunya, atau, pada dasarnya memang ada seseorang yang bernama Dewi yang lebih berarti dan masih melekat di hati Dani dibandingkan sang istri (atau mantan istri? Tau deh nggak pernah nonton infotainment lagi)?

Setiap nama sebaiknya punya banyak arti. Berlawanan lebih seru. Atau setidaknya kita menyuntikan satu arti yang selalu bisa mengingatkan kita mengapa kita menamakan sesuatu atau seseorang dengan nama yang kita ciptakan.

Contoh, Pria Berputar-putar
Saya saat ini memanggil seorang pria dengan panggilan bundar. Dia dan semua orang (kecuali kalian yang membaca ini) akan mengartikan saya memanggilnya seperti itu “hanya” karena badannya yang gempal, sebuah celaan biasa yang setara apabila ada orang kurus dipanggil ceking. Tapi buat saya ia adalah seseorang dengan cara berpikir yang berputar-putar seperti sebuah bola bundar yang berputar tak tentu arah sehinga ia pun sering sekali melupakan inti dari suatu masalah apalagi mengerti masalah besar dari masalah yang dihadapinya. He is always gone around the bend.

Contoh lain lagi, Perempuan Mengelupas
I call her flaky karena kulitnya mengelupas akibat terkena panas. Mengapa tidak freckless? Kok addicted to Lost bgt kalau pake ini, peeler? Mungkin kalau dia sangat tomboy, tapi juga kata ini deket sama punyanya cowok, gawat kalo salah eja. Atau Snakey? Sayangnya dia tidak gesit. Ok, alasan sebenarnya adalah selain kulitnya mengelupas, dia juga seseorang yang sering sekali bertindak foolish, silly and frivolous.

So, I think I’ve made my point about “the untold meaning” that every name usually or should have. Nah, sekarang sampailah di pertanyaan besar di kepala saya, kenapa namanya Gregory House? Not Gregory Adam, or Muhammad Gregory, or even Gregory Bush. Saya sudah bertanya kepada Mr. Anderson dan dia hanya menjawab kalau yang penting adalah untuk tetap percaya. Well, I don’t.

Saya kemudian mengambil pisau bedah buatan Roland Barthes dan mengorek-ngoreknya. Yang saya dapatkan kurang lebih adalah: karena apapun masalah yang ada dihadapinya, ia selalu memberikan ketenangan karena selalu berhasil menyelesaikan masalah dengan nilai-nilai dasar yang hanya bisa berkembang sempurna di dalam sebuah rumah, nilai-nilai seperti rasa peduli tanpa pamrih dan kebenaran yang benar benar benar.

Or, you know, not.

Monday, November 19, 2007

Miserable Moment

I was just wondering, about the day when my moment of the most miserable failure in my life took place. I don’t remember the exact date but I’m sure it was Sunday.

I remember that I was just finishing my homework and saw Doraemon on TV in the morning. Oh did you know Doraemon has been on our national TV for more than 17 years? Quite amazing, yes?

Anyway, my mom saw me sitting too close to the TV and asked me why I was doing that. I said it was blurry to watch the TV from distance. I didn’t realize what that weird blurry meant.

At noon, me, my father and my mother went to an airshow at Kemayoran. It was amazing. I saw the show with binoculars. It was incredible how the pilots piloted their plane. So engaging; very stunning, as if we were watching dancers in the sky. Those top guns also acted like great painters, filling the sky with beautiful colors and forms. But that wasn’t all. One of the pilots was my uncle!

Then he took me to see his jet at the hangar. It was an F-14 Tomcat, an assault fighter jet with great maneuverability and speed, my uncle told me with enthusiasm. What was most amazing that day was that I got to sit in the cockpit! I could hold the steering stick, and wear my uncle’s helmet. I told myself confidently, “I will be an ace.”

After the airshow, we didn’t go straight home. We went to an eye doctor at the Jakarta Eye Center in Cikini. My parents asked me to run some tests with the doctor. I didn’t argue much as I was still excited about the air show and about becoming a pilot.

The tests were just standard eye tests: reading some word charts with one eye, seeing a red dot in an eye microscope, and so on. The results came back instantly. My eye doctor said I got 1.25 minus in both eyes so it was necessary for me to wear glasses. I said that was okay as long as the glasses would fit in my pilot helmet. The room suddenly became silent.

Then my dad took me to another room and told me that a pilot must have a perfect or near perfect sighting ability. A pilot is not allowed to wear minus glasses. Bottom line: I could never be a pilot. It felt like Judgment Day. I was mad at my father, my doctor and also at myself. How could I let something like this happen to me? I should’ve taken care of my eyes more carefully. I should’ve protected them.

At home, I ripped up all of my airplane posters. I threw away all of my toy planes. I hated them.

Wednesday, October 24, 2007

Getting bored in a meeting?

Saya punya beberapa cara yang mudah untuk mengubahnya. Tidak menjadi lebih baik, hanya membuatnya jadi lebih menarik.

Apabila masalah yang dibahas cukup krusial, pikirkan masalah yang lebih krusial yang bisa timbul dari masalah krusial tadi dan kemukakan, Anda sudah mencegah kebodohan semua orang yang ikut rapat untuk melakukan masalah yang lebih krusial.

Dalam mencari jawaban, jangan mencari yang paling benar. Urutkan jawaban yang paling salah dan sebutkan jawaban di urutan terakhir.

Saat forum tidak juga menemukan solusi yang disepakati dan sudah waktunya Anda ke pertemuan selanjutnya, sebutkan ide solusi yang memperkeruh suasana untuk memancing orang lain mengeluarkan idenya. Langsung setuju saat ada yang menyarankan sebuah penyelesaian. Dijamin Anda segera bisa keluar ruangan.

Ketika suasana mengarah ke sebuah keputusan untuk menjalankan solusi yang bodoh, ungkapkan lagi solusi-solusi ideal yang tidak memungkinkan untuk dilakukan hingga semua orang menekankan kembali untuk melakukan solusi bodoh tersebut. Sehingga ketika solusi bodoh melahirkan masalah yang lebih besar, tidak akan ada yang menyalahkan Anda.

Ingat kemenangan sejati bukan membuat orang lain mengikuti sesuai dengan yang Anda katakan seperti seorang diktator dan tirani, tapi membuat mereka mengatakan/melakukan apa yang sebenarnya Anda inginkan. Karena salah itu bukanlah tidak benar dan benar bukanlah tidak salah bukan?

Monday, October 01, 2007

Merinding

Ketika saya sedang memerhatikan bayangan saya di cermin, entah kenapa tiba-tiba saya teringat seorang teman lama, seorang rival lama tepatnya. Kami pernah mencintai seseorang yang sama. Lucu juga saat teringat kembali kompetisi diantara kami.

Dulu saya dengan sangat sadar memutuskan bahwa masa sekolah adalah masa-masa yang tidak boleh disia-siakan sama sekali. Karena itu positioning eh maksudnya saya memosisikan diri ke si dia yang sama-sama kami cintai itu sebagai seseorang yang menawarkan kebebasan dan tak peduli peraturan.

Yang saya lakukan misalnya seperti ini: Sebelum obrolan malam berakhir, saya selalu menawarkan menjemputnya di pagi hari untuk bersama-sama pergi ke sekolah. Meski berjuta-juta kali ditolak, toh akhirnya luluh juga. Saat itulah saya kemudian menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya dengan sengaja menjemputnya sangat telat. Bagi murid baik seperti dirinya yang jarang telat, datang ke sekolah setengah jam lewat dari batas toleransi sama seperti bunuh diri. Ditengah kepanikannya –dia terlihat lebih cantik- saya menawarkan solusi yang…sama sekali bukan solusi, yang penting happy.

Kami pun kemudian madol ke Bandung, padahal dulu belum ada Tol Cipularang. Jadi waktu tempuh ke Bandung lewat Cikampek zaman itu sekitar tiga jam. Begitu sampai di Bandung, kami makan siang di toko Yu dan langsung balik lagi ke Jakarta setelahnya. Agar kami dapat tiba di rumahnya tidak jauh berbeda dengan waktu tiba ia pulang sehari-harinya setelah sekolah dan tambahan bimbingan belajar. Sayang hari itu ibunya tiba-tiba memutuskan untuk menjemputnya. Masuklah saya ke dalam daftar black list mamanya.

Apa yang saya lakukan tentu beda sekali dengan apa yang si rajin rival saya itu lakukan. Ia selalu saja bisa membuatnya terkagum-kagum dengan apa pun yang sudah ia baca. Atau ia juga selalu saja bisa menarik perhatian dia yang kami cinta itu dengan analisa-analisanya tentang sesuatu, baik yang penting maupun tidak. Bahkan, di periode waktu ujian sekolah yang notabene sangat suci bagi seorang siswa untuk bermain atau bertemu dengan teman, rival saya itu setiap harinya selama setengah hari (dari siang/sore hingga malam hari) berhasil terus bersamanya. Saya bisa tahu tentu saja karena suka “sok sedang lewat” dan memerhatikan rumah si dia. Dan kalau sedang belajar seperti itu si dia tidak pernah mau menjawab telepon. Hal menyebalkan ini terus berlangsung hingga puncaknya saat ujian. Selama ujian sekolah berlangsung rival saya itu selalu jadi andalan si dia untuk menjemput dan mengantarnya. Pokoknya di zaman-zaman ujian yang berlangsung beberapa bulan itu rival saya terus-terusan bersama si dia. Sialan.

Tapi bagaimanapun, seorang siswa sekolah pasti mendambakan kebebasan. Dan itulah yang membuat saya unggul dari rival saya. Melewati musim ujian, masa-masa belajar pun berakhir. Dan itu berarti berakhir pula kesempatan rival saya untuk dapat bersamanya. Huahaha…saya pun memenangkan peperangan itu.

Bayangan saya di cermin semakin lebar memerlihatkan senyum penuh kemenangan. Tapi anehnya, bayangan saya tetap tersenyum meski saya sudah manyun. Saya lalu menggerakkan tangan dan kepala saya agar ia ikut bergerak, tapi tetap saja ia hanya bergeming tersenyum. Ini sudah tidak lucu lagi, pikir saya. Tidak lama kemudian, wajah bayangan saya perlahan berubah. Awalnya saya tidak mengenalinya, tapi kemudian saya teringat dengan gaya rambut dan kacamata uniknya itu. Wajah bayangan saya berubah menjadi wajah rival saya.

Apakah ini? Sebuah rasa bersalah? Saya salah di mana? Semuanya fair kok, it’s not like I did any bad trick or so…Saya pun kemudian menelepon beberapa teman lama untuk menanyakan kabar rival saya itu. Sudah kerja di mana, sekarang tinggal di mana, sudah menikah atau belum dan sebagainya-sebagainya.

Namun ternyata tidak ada yang tahu kabarnya sekarang.

Tak seorang pun!

“Bunuh diri kali dia, Rat,” kata salah satu teman saya.

Nah lo.

Friday, August 24, 2007

Romansa Kota -2

Melihat bangunan-bangunan tua yang seksi di daerah kota berhasil menembus dinding yang melindungi rasa peduli terhadap ibukota ini. Andai daerah ini diurus sepenuh hati, suasana romantisnya pasti mengalahkan Clarke Quay dan indahnya bisa setara Venesia.

Perbaikan yang sudah dan sedang dilakukan di daerah ini pun terasa artifisial. Sepertinya hanya untuk alasan pariwisata semata. Hanya untuk enak dipandang mata dan mendatangkan devisa. Seperti keberadaan sebuah kafe yang menempati gedung tertua kedua di daerah itu namun tidak memiliki menu yang khas serta mematok harga yang sangat tidak bersahabat. Luarnya terlihat bercahaya tapi di dalamnya tak tersisa nyawa.

Perbaikan sebenarnya baik karena daerah kota sudah terlalu lama menunggu pengembalian keindahan dirinya. Tapi sebaiknya perbaikan, peremajaan, pembangunan kembali atau apapun namanya yang saat ini sudah dan sedang dilaksanakan itu dilakukan atas tujuan yang lebih mendasar, mempertahankannya sebagai daerah nostalgia penuh romansa di ibukota.

Ketidakpedulian pengatur yang seharusnya memikirkan cara mengatur bukan asal atur sekadar agar mereka tambah subur dan nyenyak tidur terhadap daerah kota menguatkan sebuah rasa sesal dalam diri saya. Penyesalan tidak hadir di saat para calon pemimpin ibukota ini menyampaikan aspirasinya. Meski belakangan saya mengetahui bahwa ajang tersebut hanya menjadi sebuah formalitas tanpa makna dan terkesan hura-hura, tetap saja saya seharusnya hadir di sana.

Ingin saya mendengarkan langsung seperti apa kata-kata yang diucapkan mereka. Bukan hanya apa kata-katanya, seperti apa struktur kalimatnya, tapi saya juga mau melihat mata mereka saat mengucapkannya, seperti apa bahasa tubuhnya serta bagaimana reaksi orang-orang yang mendengarnya.

Kehadiran saya di sana pasti dapat memperjelas bayangan saya saat calon yang saya bangun kampanyenya menyampaikan aspirasi dan pesannya yang menginspirasi seluruh hadirin.

Janji lima tahun ke depan itu sudah berkurang satu tahun, dan saya belum sempat melakukan apa-apa. Sialan.

Wednesday, August 22, 2007

Romansa Kota -1

Dengan kuatnya, aura bangunan-bangunan tua ini lembutkan kuduk. Hidupkan segala romantisme. Hilangkan semua rasa tanpa rasa.

Kamu yang di sana, hati ini sedang terbuka, memintamu masuk ke dalamnya, hanya kali ini saja, saat ini juga.

Monday, August 20, 2007

Merdekanya anak 5 tahun

Lucu deh. Weekend 17-an kemarin saya pergi bersama keponakan, adik dan sepupu-sepupu saya. Melihat banyak sekali bendera yang dikibarkan di depan rumah-rumah, keponakan saya yang baru berumur 5 tahun penasaran, “Kok banyak gituan sih?”

“Itu bendera, kan ada yang lagi ulang tahun,” kata saya. “Ayah ya yg ulang tahun? Ibu? Kak ini? Mba itu?.....” dia terus menyebutkan semua yang dia kenal.

“Bukan, yang ulang tahun Indonesia, negara kita”

“Negara kita suka bendera ya?”

……(hening)…….

“Hmm…nggak gitu, bendera itu biar ramai, kalau lagi ulang tahun kan harus ramai, kayak pesta ulang tahun kamu itu,” sepupu saya mencoba menjelaskan.

“Iya, yang lomba-lomba kemarin di rumah itu kan pesta ulang tahunnya negara kita,” adik saya mencoba menambahkan.

“Kok kita kemarin nggak bawa kado?”

….(hening)…

“Soalnya….” saya kebingungan menjawabnya

“Ah aku kalau ulang tahun nggak mau ada bendera sama lomba-lomba ah, nanti pada nggak bawa kado,” keponakan saya membuat kesimpulan.

…(hening lagi)….

….(masih hening)….

Tuesday, August 07, 2007

a knife to kill the cliche


I've prepared a knife
because wounds never heal,
as long as you try,
but never again should you be able to cry.

For just one second it goes away,
but once again it tries to sway.

I've always wondered what it felt like,
just to lead a normal life.

A life without stress or hurt or loss,
yet one without love,
for it is always lost.

A thought or feeling of normal,
pulled away by the truth of life.
Always knowing your caught
in the middle of a strife.

I always wished to be loved,
to be held and to be hugged,
but now I find its overrated
and so much easier to just be hated.

I once loved
I trusted and hugged
but before long I was betrayed.
and forevermore unable to trade.

I tried to trust and love again but
once I got close once more was I slayed.
Even though the cuts have healed
They still lay there beneath my shield.

In a sense I've survived
only by knowing I must decide.
I have ambitions and futures and hopes,
and to prove my strength they shall never be revoked.

The knife sits under my bed,
never knowing when next it shall shed.

My tiny ray of hope lies in that knife.

Monday, August 06, 2007

Choke on a regret

Dulu, saya tidak bilang iya waktu dia bilang suka. Padahal pengen bilang iya. Karena saya sudah berpikir-pikir lebih panjang dan sepertinya bukan dia yang cocok untuk rencana besar saya. Tapi dia bisa masuk ke dalam salah satu pos dalam rencana besar itu. Saya belum boleh kehilangan dia.

Saya kemudian menolaknya dengan cara paling halus dan sebaik mungkin meski akhirnya membuat pesannya tidak terlalu jelas. Hasilnya sih sesuai mau saya, dia tidak mundur, dan sepertinya mengerti dan baik-baik saja. Cukup dewasa juga. Malah saya kemudian yang merasa bersalah karena kalau dipikir saya yang egois, lebih sakit ditusuk langsung mati daripada pelan-pelan dan merasakan sakitnya terus-terusan kan?

Belum lagi kemudian dia tiba-tiba menghilang. Tanpa kabar tanpa sebab. Perkiraan saya adalah dia menyadari pesan sebenarnya. Langsung deh minta maaf walau rasanya kok ilfil karena ternyata dia belum dewasa, gitu aja kok ngilang.

Dia belum memaafkan saya, saya pun menjadi kecewa. Tapi mungkin karena pada dasarnya saya peduli sama dia, ingin sekali saya memberitahu dia betapa egoisnya saya waktu itu.

I miss her…I think.

Wednesday, August 01, 2007

dari casablanca menuju surga

Andai ku lebih mengenalmu
Pasti ku akan pernah melihatmu berteriak
Atau memberontak
Tidak hanya berkata ramah dan sopan

Andai ku lebih mengenalmu
Ku akan tahu siapa musuhmu
Dan ikut dalam perangmu
Tuk capai bahagiamu

Andai ku lebih mengenalmu
Entah ku akan bisa
Atau mau
menerima kepergianmu

Untuk Suryahito, Jurnal ‘99
Selamat jalan, kawan.
Mengenalmu adalah sebuah kehormatan.