Tuesday, February 26, 2008

Bermainlah ke kebunsemanggi

Kalau akhir-akhir ini merasa kehidupan kok terasa mulai menjemukan dan membosankan, bermain-mainlah ke kebunsemanggi, dijamin hidup rasanya (bisa) seru lagi!

Setidaknya itu yang saya rasakan setelah melakukannya.

Ketertarikan pertama saya kepada si kebunsemanggi diawali dengan sebuah teaser menegangkan tanpa judul di apple.com. Teaser itu hanya diakhiri dengan tanggal. Berhubung tanggal itu dibuat seperti judul film, saya pun mengira tanggal itulah judulnya. Yeah, yeah, saya termasuk makhluk bodoh yang tertipu dengan teasernya.

Tapi coba bayangkan misalnya nih, kita sedang berada di sebuah pesta di sebuah apartemen. Tiba-tiba terjadi gempa dan sebuah ledakan. Kita pasti ikut panik, segera turun dan keluar untuk mencari tahu ada apa. Lalu sesampainya di luar di pinggiran jalan. Belum juga mengerti apa yang sedang terjadi, tiba-tiba sebuah benda besar melayang cepat ke arah kita. Beruntung kita masih sempat menghindarinya. Namun apa rasanya setelah kita melihat dengan mata kepala kita sendiri, ternyata benda besar yang hampir menimpa tadi adalah kepala patung Liberty.



Jadi walaupun saya sudah kena tipu, teaser itu sudah menggaet saya. Memang sempat ada ketakutan dengan idiom “kalau trailernya keren, biasanya filmnya cupu”. Tapi rasa penasaran yang terbangun sudah terlalu besar, tak ada yang bisa menghalangi saya menonton film ini.

Adalah sebuah kebetulan yang berharga kalau release film ini di sini pas dengan datangnya rasa bosan saya dengan ritual hidup. Nah, dicampur dengan ekspektasi yang ada di atas ambang batas harapan akan filmnya, bermain-mainlahlah saya ke kebunsemanggi alias Cloverfield ini.

Teaser yang saya ceritakan tadi merupakan cara awal Matt Reeves (si sutradara) menghidupkan nyawa filmnya, yang kemudian ia perkuat dengan menyuntikkan malapetaka berkali-kali. Sehingga setiap film mulai masuk ke wilayah klise, selalu ada sesuatu yang membangkitkan adrenaline, memainkan emosi maupun menusuk hati sehingga membuat penonton mengucapkan atau berkata dalam hati-,“Oh, shit!”.

Film ini hampir memenuhi semua harapan saya di setiap adegannya. Mereka mengalir begitu manusiawi dan nyata. Apa yang ingin saya lihat pasti ada, bahkan tidak jarang diberi bonus. Kemudian apa yang tidak ingin saya lihat tapi jelas bisa membayangkannya, tidak diperlihatkan oleh film ini sehingga membuatnya minim adegan klise.

Tidak akan ada yang namanya rapat-rapat militer di Pentagon yang merasa paling bisa menyelamatkan dunia atau pesawat-pesawat siluman take off dari carrier. Tidak akan ada juga sejarah monster dan ahli beserta orang-orang sok ahli yang menggurui kita mengenai si monster. Menyenangkan.

Ada satu hal yang saya anggap sebagai usaha yang berhasil membuat film ini semakin nyata, yaitu jarang sekali nama/logo sebuah merk/brand nampang beberapa detik dan membuat penonton bergumam, “halah, sponsor”. Kalau tidak percaya perhatikan merk handycamnya deh. Mungkin saya terlewat atau memang perlu lebih memerhatikan lagi, tapi seingat saya, merk handycam yang digunakan di film ini tidak pernah diperlihatkan. Tentu akan menjadi sebuah iklan colongan/ad in atau apapun namanya yang kuat sekali apabila Sony atau Panasonic mengajak J.J. Abrams (si produser film ini) untuk bekerjasama. Tapi nyatanya tidak (atau tidak mau). Dan menurut saya itu bagus sekali.

Film ini agak sulit diceritakan karena yang terjadi adalah mengalami, bukan menonton atau mengamati. Saat keluar bioskop, saya merasa, I would love to die like Rob. Karena saya setuju dengan pernyataan “sometimes you should fuck the world and just be with the one you love”.

Malam itu, dengan melukiskan kehancuran, Matt Reeves telah memperlihatkan kepada saya betapa indahnya kehidupan.

Friday, February 15, 2008

Friday, February 01, 2008

miss that hurt

Whenever my affection rise to the top
I pinched my heart
By remembering you
Spoiled girl

Whenever I’m being smartass
I snipped my heart
By remembering you
Cute little bookworm

Whenever the jackass live in me
I stab my heart
By remembering you
Old senior girl

When I was just being me
I crush out my heart
By remembering you
Married woman

Tuesday, January 29, 2008

Penyakitan

Oi Pesakitan!

Kamu tahu bosmu pintar
Mengapa sengaja jadi bodoh?

Kamu tahu temanmu baik
Mengapa memilih jadi brengsek?

Mungkin kamu tidak sadar
Tapi itu penyakit meradang

Kamu tahu ia tidak suka dihakimi
Mengapa membuatnya marah?

Kamu tahu dirimu bukan yang terkuat
Mengapa semua beban tetap diangkat?

Rasakan sendiri sakitnya
Penyakit yang kamu tolak obatnya

Tuesday, January 08, 2008

Sarcasm

“Kalau hidup dibikin sarkasme, berarti kita bukan manusia,” begitu kata seorang copywriter di blognya. Sial.

Keluar deh dia dari shortlist gebetan , huehehe...

Tuesday, December 25, 2007

Mas Kris

Pernah mengirim ucapan Selamat Natal yang jujur? Yang benar-benar dari hati terdalam bukan karena ritual atau karena cewek yang beda agama itu cakep banget?

Sebenarnya seperti apa sih ucapan Selamat Natal yang berasal dari hati terdalam? Is such thing even exist?

Buat yang berprofesi sebagai konsultan komunikasi seperti saya (cieh) harusnya tahu (d'oh!). Setahu saya, belum pernah saya mengirimkannya. Tapi toh yang penting sudah berniat melakukannya, lumayan kan dapat pahala.

Berhubung penasaran belum ada obatnya, jadilah hari ini, sudah beberapa hari terakhir sih, saya bingung mau bikin ucapan seperti apa. Dan kemudian karena sudah deadline dan belum nemu racikan yang tepat, jadilah saya menggunakan format ucapan general yang aman. Yang penting feelnya masih "memberi kedamaian", ya nggak? Pasti iya lah, kan lagi Natal.


May the peace and joy of Christmas be with you today and always...


...or you know, not, hehehe...Merry Christmas!

Sunday, December 23, 2007

Fuck-a-tion

Bagi sebagian dari kalian yang jarang menonton tv lokal dan liburan ini jadi memiliki kesempatan menontonnya, terasa kayak buang-buang waktu nggak? Harga waktu terasa melonjak naik apabila harus ditukar dengan menonton sinetron murahan, infotainment memalukan, variety show membosankan, berita-berita kriminal menyeramkan, kontes-kontes memuakkan, dan iklan-iklan diantaranya yang menyedihkan.

Sehari-hari saya masih perlu sempatkan diri menonton tv lokal sebagai referensi, though it’s a bad one. Tapi, karena sekarang lagi liburan, jadi tidak ada keharusan bagi saya untuk menontonnya, hahaha…senangnya.

Berita terbaru saya bisa baca melalui koran dan internet, bahkan yang seram-seram tersedia dengan bahasa sehari-hari yang penuh typo di dalam Pos Kota. Tidak perlu menonton paket berita dengan gambar low-res dan kesalahan dalam pelafalan bahkan pengetikan di running text. Meskipun kadang kangen juga melihat Frida Lidwina atau sekedar pengen tahu sekarang Zelda bawain acara apa.

Hiburan? Berseri-seri House MD dan film dalam bentuk DVD bajakan menyelesaikan masalah sambil make a stand against capitalism. Ribuan musik siap di download meski sekarang search engine music multiply sudah dihapuskan. Belum lagi bloopers House dan video-video ajaib yang sangat menarik di youtube dan siap diunduh menggunakan keepvid. Tentu saja masih ada YMan, blogger, multiply dan facebook yang tidak pernah membosankan.

Yang paling menyenangkan dari semuanya adalah saya menjadi punya waktu untuk membaca. Semua itu kalah serunya dibandingkan membaca buku bagus sambil tidur-tiduran dan menuliskan kata-kata baru atau yang punya arti lucu dalam satu file lalu ketiduran saat meresapi makna ceritanya.

And so, just look at that, I can still be happy for myself though I can’t go to another continent to feel the snow. So pathetic, isn’t it?

What a lame holiday.

Entry ke-100

So what?

Tuesday, December 18, 2007

Thursday, December 06, 2007

Who’s The Master?

Dalam sebuah pembicaraan saya dengan seorang sahabat, diantara topik flow offline dan super video presentasi side job, terselip sebuah topik yang sepertinya tidak akan pernah selesai yang dalam beberapa tahun terakhir ini selalu menjadi pembahasan antara saya dan dia yaitu, who’s the master?

Seperti misalnya,
Saya : mungkin kalo dulu cewek-cewek di Bandung disuruh baris, setengahnya pasti membentuk barisan mantan loe
Sahabat : mungkin, tapi setengahnya lagi pasti jadi barisan cewek yang pernah loe **i
Saya : rese. Hmm…kira2 ada yang berdiri di irisan dua barisan itu nggak ya?
Sahabat : Mudah2an aja nggak…
Saya : Mana mungkin gw nyamain master...

Setelah itu dia pun selalu menghindar dan mengatakan kalau sudah memberikan gelarnya kepada saya. Saya kemudian bilang saya tidak pernah mau menerima gelar itu. Dia pun membalas kalau dia juga tidak pernah menyandang gelar itu. Dan terus begitu hingga salah satu dari kami harus kembali fokus ke kerjaan, makan siang atau mau pulang.

Kantor Baru

Setiap orang yang saya kasih tahu pindah ke mana, jidatnya pasti mengerut dan mengeluarkan pertanyaan yang tiba-tiba semua orang tanyakan,”kok kesitu?”

Kemudian saya akan menilai seberapa dekat hubungan saya dan orang yang bertanya itu, kalau cukup dekat saya akan menjelaskan, tapi kalau tidak, saya pasti menjawab,”Kok loe nanyanya gitu?”

Nah jawaban orang-orang setelah ditanya seperti itu yang cukup menarik. Aneh-aneh jawabannya: “ya abis aneh aja”, “bukannya loe tinggal pilih ke mana aja loe mau?”, “kan itu nggak tambah deket ke rumah loe”, “pasti duitnya gede bgt tuh”, “secakep apa cewek cakepnya di sana?”, “loe dah beneran gila ya”, “apa lagi yang loe cari sih?”

Yang lain sih ternyata nggak penting-penting amat, tapi yang terakhir itu menarik. Kesannya saya sudah mendapatkan semuanya, adalah menyebalkan diliat sebagai orang yang seperti itu. Namun pertanyaan itu berhasil masuk ke dalam pikiran tidak sadar saya.

Jawabannya: masih banyak, sangat banyak, makanya saya pindah.

Ke mana? Ke sini
burat@advantage.web.id

Friday, November 23, 2007

Why House?

Shakespeare really screws us with his crafty quote,”What is a name? is he?” Well, thank God I met Roland Barthes.

Tahu nggak kira-kira kenapa Ahmad Dani kalau bikin lagu yang memuja wanita selalu ada nama Dewinya? Padahal kita tahu dia bertentangan dengan Ari Lasso dalam membuat lagu karena Dani mensuperiorkan laki-laki bukan wanita. Sedangkan Ari selalu mengagungkan perempuan. Apakah karena arti kata Dewi yang selalu bagus dan terhormat dijadikannya sebagai perimbangan dalam mensuperiorkan laki-laki di dalam lagu-lagunya, atau, pada dasarnya memang ada seseorang yang bernama Dewi yang lebih berarti dan masih melekat di hati Dani dibandingkan sang istri (atau mantan istri? Tau deh nggak pernah nonton infotainment lagi)?

Setiap nama sebaiknya punya banyak arti. Berlawanan lebih seru. Atau setidaknya kita menyuntikan satu arti yang selalu bisa mengingatkan kita mengapa kita menamakan sesuatu atau seseorang dengan nama yang kita ciptakan.

Contoh, Pria Berputar-putar
Saya saat ini memanggil seorang pria dengan panggilan bundar. Dia dan semua orang (kecuali kalian yang membaca ini) akan mengartikan saya memanggilnya seperti itu “hanya” karena badannya yang gempal, sebuah celaan biasa yang setara apabila ada orang kurus dipanggil ceking. Tapi buat saya ia adalah seseorang dengan cara berpikir yang berputar-putar seperti sebuah bola bundar yang berputar tak tentu arah sehinga ia pun sering sekali melupakan inti dari suatu masalah apalagi mengerti masalah besar dari masalah yang dihadapinya. He is always gone around the bend.

Contoh lain lagi, Perempuan Mengelupas
I call her flaky karena kulitnya mengelupas akibat terkena panas. Mengapa tidak freckless? Kok addicted to Lost bgt kalau pake ini, peeler? Mungkin kalau dia sangat tomboy, tapi juga kata ini deket sama punyanya cowok, gawat kalo salah eja. Atau Snakey? Sayangnya dia tidak gesit. Ok, alasan sebenarnya adalah selain kulitnya mengelupas, dia juga seseorang yang sering sekali bertindak foolish, silly and frivolous.

So, I think I’ve made my point about “the untold meaning” that every name usually or should have. Nah, sekarang sampailah di pertanyaan besar di kepala saya, kenapa namanya Gregory House? Not Gregory Adam, or Muhammad Gregory, or even Gregory Bush. Saya sudah bertanya kepada Mr. Anderson dan dia hanya menjawab kalau yang penting adalah untuk tetap percaya. Well, I don’t.

Saya kemudian mengambil pisau bedah buatan Roland Barthes dan mengorek-ngoreknya. Yang saya dapatkan kurang lebih adalah: karena apapun masalah yang ada dihadapinya, ia selalu memberikan ketenangan karena selalu berhasil menyelesaikan masalah dengan nilai-nilai dasar yang hanya bisa berkembang sempurna di dalam sebuah rumah, nilai-nilai seperti rasa peduli tanpa pamrih dan kebenaran yang benar benar benar.

Or, you know, not.

Monday, November 19, 2007

Miserable Moment

I was just wondering, about the day when my moment of the most miserable failure in my life took place. I don’t remember the exact date but I’m sure it was Sunday.

I remember that I was just finishing my homework and saw Doraemon on TV in the morning. Oh did you know Doraemon has been on our national TV for more than 17 years? Quite amazing, yes?

Anyway, my mom saw me sitting too close to the TV and asked me why I was doing that. I said it was blurry to watch the TV from distance. I didn’t realize what that weird blurry meant.

At noon, me, my father and my mother went to an airshow at Kemayoran. It was amazing. I saw the show with binoculars. It was incredible how the pilots piloted their plane. So engaging; very stunning, as if we were watching dancers in the sky. Those top guns also acted like great painters, filling the sky with beautiful colors and forms. But that wasn’t all. One of the pilots was my uncle!

Then he took me to see his jet at the hangar. It was an F-14 Tomcat, an assault fighter jet with great maneuverability and speed, my uncle told me with enthusiasm. What was most amazing that day was that I got to sit in the cockpit! I could hold the steering stick, and wear my uncle’s helmet. I told myself confidently, “I will be an ace.”

After the airshow, we didn’t go straight home. We went to an eye doctor at the Jakarta Eye Center in Cikini. My parents asked me to run some tests with the doctor. I didn’t argue much as I was still excited about the air show and about becoming a pilot.

The tests were just standard eye tests: reading some word charts with one eye, seeing a red dot in an eye microscope, and so on. The results came back instantly. My eye doctor said I got 1.25 minus in both eyes so it was necessary for me to wear glasses. I said that was okay as long as the glasses would fit in my pilot helmet. The room suddenly became silent.

Then my dad took me to another room and told me that a pilot must have a perfect or near perfect sighting ability. A pilot is not allowed to wear minus glasses. Bottom line: I could never be a pilot. It felt like Judgment Day. I was mad at my father, my doctor and also at myself. How could I let something like this happen to me? I should’ve taken care of my eyes more carefully. I should’ve protected them.

At home, I ripped up all of my airplane posters. I threw away all of my toy planes. I hated them.

Wednesday, October 24, 2007

Getting bored in a meeting?

Saya punya beberapa cara yang mudah untuk mengubahnya. Tidak menjadi lebih baik, hanya membuatnya jadi lebih menarik.

Apabila masalah yang dibahas cukup krusial, pikirkan masalah yang lebih krusial yang bisa timbul dari masalah krusial tadi dan kemukakan, Anda sudah mencegah kebodohan semua orang yang ikut rapat untuk melakukan masalah yang lebih krusial.

Dalam mencari jawaban, jangan mencari yang paling benar. Urutkan jawaban yang paling salah dan sebutkan jawaban di urutan terakhir.

Saat forum tidak juga menemukan solusi yang disepakati dan sudah waktunya Anda ke pertemuan selanjutnya, sebutkan ide solusi yang memperkeruh suasana untuk memancing orang lain mengeluarkan idenya. Langsung setuju saat ada yang menyarankan sebuah penyelesaian. Dijamin Anda segera bisa keluar ruangan.

Ketika suasana mengarah ke sebuah keputusan untuk menjalankan solusi yang bodoh, ungkapkan lagi solusi-solusi ideal yang tidak memungkinkan untuk dilakukan hingga semua orang menekankan kembali untuk melakukan solusi bodoh tersebut. Sehingga ketika solusi bodoh melahirkan masalah yang lebih besar, tidak akan ada yang menyalahkan Anda.

Ingat kemenangan sejati bukan membuat orang lain mengikuti sesuai dengan yang Anda katakan seperti seorang diktator dan tirani, tapi membuat mereka mengatakan/melakukan apa yang sebenarnya Anda inginkan. Karena salah itu bukanlah tidak benar dan benar bukanlah tidak salah bukan?

Monday, October 01, 2007

Merinding

Ketika saya sedang memerhatikan bayangan saya di cermin, entah kenapa tiba-tiba saya teringat seorang teman lama, seorang rival lama tepatnya. Kami pernah mencintai seseorang yang sama. Lucu juga saat teringat kembali kompetisi diantara kami.

Dulu saya dengan sangat sadar memutuskan bahwa masa sekolah adalah masa-masa yang tidak boleh disia-siakan sama sekali. Karena itu positioning eh maksudnya saya memosisikan diri ke si dia yang sama-sama kami cintai itu sebagai seseorang yang menawarkan kebebasan dan tak peduli peraturan.

Yang saya lakukan misalnya seperti ini: Sebelum obrolan malam berakhir, saya selalu menawarkan menjemputnya di pagi hari untuk bersama-sama pergi ke sekolah. Meski berjuta-juta kali ditolak, toh akhirnya luluh juga. Saat itulah saya kemudian menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya dengan sengaja menjemputnya sangat telat. Bagi murid baik seperti dirinya yang jarang telat, datang ke sekolah setengah jam lewat dari batas toleransi sama seperti bunuh diri. Ditengah kepanikannya –dia terlihat lebih cantik- saya menawarkan solusi yang…sama sekali bukan solusi, yang penting happy.

Kami pun kemudian madol ke Bandung, padahal dulu belum ada Tol Cipularang. Jadi waktu tempuh ke Bandung lewat Cikampek zaman itu sekitar tiga jam. Begitu sampai di Bandung, kami makan siang di toko Yu dan langsung balik lagi ke Jakarta setelahnya. Agar kami dapat tiba di rumahnya tidak jauh berbeda dengan waktu tiba ia pulang sehari-harinya setelah sekolah dan tambahan bimbingan belajar. Sayang hari itu ibunya tiba-tiba memutuskan untuk menjemputnya. Masuklah saya ke dalam daftar black list mamanya.

Apa yang saya lakukan tentu beda sekali dengan apa yang si rajin rival saya itu lakukan. Ia selalu saja bisa membuatnya terkagum-kagum dengan apa pun yang sudah ia baca. Atau ia juga selalu saja bisa menarik perhatian dia yang kami cinta itu dengan analisa-analisanya tentang sesuatu, baik yang penting maupun tidak. Bahkan, di periode waktu ujian sekolah yang notabene sangat suci bagi seorang siswa untuk bermain atau bertemu dengan teman, rival saya itu setiap harinya selama setengah hari (dari siang/sore hingga malam hari) berhasil terus bersamanya. Saya bisa tahu tentu saja karena suka “sok sedang lewat” dan memerhatikan rumah si dia. Dan kalau sedang belajar seperti itu si dia tidak pernah mau menjawab telepon. Hal menyebalkan ini terus berlangsung hingga puncaknya saat ujian. Selama ujian sekolah berlangsung rival saya itu selalu jadi andalan si dia untuk menjemput dan mengantarnya. Pokoknya di zaman-zaman ujian yang berlangsung beberapa bulan itu rival saya terus-terusan bersama si dia. Sialan.

Tapi bagaimanapun, seorang siswa sekolah pasti mendambakan kebebasan. Dan itulah yang membuat saya unggul dari rival saya. Melewati musim ujian, masa-masa belajar pun berakhir. Dan itu berarti berakhir pula kesempatan rival saya untuk dapat bersamanya. Huahaha…saya pun memenangkan peperangan itu.

Bayangan saya di cermin semakin lebar memerlihatkan senyum penuh kemenangan. Tapi anehnya, bayangan saya tetap tersenyum meski saya sudah manyun. Saya lalu menggerakkan tangan dan kepala saya agar ia ikut bergerak, tapi tetap saja ia hanya bergeming tersenyum. Ini sudah tidak lucu lagi, pikir saya. Tidak lama kemudian, wajah bayangan saya perlahan berubah. Awalnya saya tidak mengenalinya, tapi kemudian saya teringat dengan gaya rambut dan kacamata uniknya itu. Wajah bayangan saya berubah menjadi wajah rival saya.

Apakah ini? Sebuah rasa bersalah? Saya salah di mana? Semuanya fair kok, it’s not like I did any bad trick or so…Saya pun kemudian menelepon beberapa teman lama untuk menanyakan kabar rival saya itu. Sudah kerja di mana, sekarang tinggal di mana, sudah menikah atau belum dan sebagainya-sebagainya.

Namun ternyata tidak ada yang tahu kabarnya sekarang.

Tak seorang pun!

“Bunuh diri kali dia, Rat,” kata salah satu teman saya.

Nah lo.

Friday, August 24, 2007

Romansa Kota -2

Melihat bangunan-bangunan tua yang seksi di daerah kota berhasil menembus dinding yang melindungi rasa peduli terhadap ibukota ini. Andai daerah ini diurus sepenuh hati, suasana romantisnya pasti mengalahkan Clarke Quay dan indahnya bisa setara Venesia.

Perbaikan yang sudah dan sedang dilakukan di daerah ini pun terasa artifisial. Sepertinya hanya untuk alasan pariwisata semata. Hanya untuk enak dipandang mata dan mendatangkan devisa. Seperti keberadaan sebuah kafe yang menempati gedung tertua kedua di daerah itu namun tidak memiliki menu yang khas serta mematok harga yang sangat tidak bersahabat. Luarnya terlihat bercahaya tapi di dalamnya tak tersisa nyawa.

Perbaikan sebenarnya baik karena daerah kota sudah terlalu lama menunggu pengembalian keindahan dirinya. Tapi sebaiknya perbaikan, peremajaan, pembangunan kembali atau apapun namanya yang saat ini sudah dan sedang dilaksanakan itu dilakukan atas tujuan yang lebih mendasar, mempertahankannya sebagai daerah nostalgia penuh romansa di ibukota.

Ketidakpedulian pengatur yang seharusnya memikirkan cara mengatur bukan asal atur sekadar agar mereka tambah subur dan nyenyak tidur terhadap daerah kota menguatkan sebuah rasa sesal dalam diri saya. Penyesalan tidak hadir di saat para calon pemimpin ibukota ini menyampaikan aspirasinya. Meski belakangan saya mengetahui bahwa ajang tersebut hanya menjadi sebuah formalitas tanpa makna dan terkesan hura-hura, tetap saja saya seharusnya hadir di sana.

Ingin saya mendengarkan langsung seperti apa kata-kata yang diucapkan mereka. Bukan hanya apa kata-katanya, seperti apa struktur kalimatnya, tapi saya juga mau melihat mata mereka saat mengucapkannya, seperti apa bahasa tubuhnya serta bagaimana reaksi orang-orang yang mendengarnya.

Kehadiran saya di sana pasti dapat memperjelas bayangan saya saat calon yang saya bangun kampanyenya menyampaikan aspirasi dan pesannya yang menginspirasi seluruh hadirin.

Janji lima tahun ke depan itu sudah berkurang satu tahun, dan saya belum sempat melakukan apa-apa. Sialan.

Wednesday, August 22, 2007

Romansa Kota -1

Dengan kuatnya, aura bangunan-bangunan tua ini lembutkan kuduk. Hidupkan segala romantisme. Hilangkan semua rasa tanpa rasa.

Kamu yang di sana, hati ini sedang terbuka, memintamu masuk ke dalamnya, hanya kali ini saja, saat ini juga.

Monday, August 20, 2007

Merdekanya anak 5 tahun

Lucu deh. Weekend 17-an kemarin saya pergi bersama keponakan, adik dan sepupu-sepupu saya. Melihat banyak sekali bendera yang dikibarkan di depan rumah-rumah, keponakan saya yang baru berumur 5 tahun penasaran, “Kok banyak gituan sih?”

“Itu bendera, kan ada yang lagi ulang tahun,” kata saya. “Ayah ya yg ulang tahun? Ibu? Kak ini? Mba itu?.....” dia terus menyebutkan semua yang dia kenal.

“Bukan, yang ulang tahun Indonesia, negara kita”

“Negara kita suka bendera ya?”

……(hening)…….

“Hmm…nggak gitu, bendera itu biar ramai, kalau lagi ulang tahun kan harus ramai, kayak pesta ulang tahun kamu itu,” sepupu saya mencoba menjelaskan.

“Iya, yang lomba-lomba kemarin di rumah itu kan pesta ulang tahunnya negara kita,” adik saya mencoba menambahkan.

“Kok kita kemarin nggak bawa kado?”

….(hening)…

“Soalnya….” saya kebingungan menjawabnya

“Ah aku kalau ulang tahun nggak mau ada bendera sama lomba-lomba ah, nanti pada nggak bawa kado,” keponakan saya membuat kesimpulan.

…(hening lagi)….

….(masih hening)….

Tuesday, August 07, 2007

a knife to kill the cliche


I've prepared a knife
because wounds never heal,
as long as you try,
but never again should you be able to cry.

For just one second it goes away,
but once again it tries to sway.

I've always wondered what it felt like,
just to lead a normal life.

A life without stress or hurt or loss,
yet one without love,
for it is always lost.

A thought or feeling of normal,
pulled away by the truth of life.
Always knowing your caught
in the middle of a strife.

I always wished to be loved,
to be held and to be hugged,
but now I find its overrated
and so much easier to just be hated.

I once loved
I trusted and hugged
but before long I was betrayed.
and forevermore unable to trade.

I tried to trust and love again but
once I got close once more was I slayed.
Even though the cuts have healed
They still lay there beneath my shield.

In a sense I've survived
only by knowing I must decide.
I have ambitions and futures and hopes,
and to prove my strength they shall never be revoked.

The knife sits under my bed,
never knowing when next it shall shed.

My tiny ray of hope lies in that knife.

Monday, August 06, 2007

Choke on a regret

Dulu, saya tidak bilang iya waktu dia bilang suka. Padahal pengen bilang iya. Karena saya sudah berpikir-pikir lebih panjang dan sepertinya bukan dia yang cocok untuk rencana besar saya. Tapi dia bisa masuk ke dalam salah satu pos dalam rencana besar itu. Saya belum boleh kehilangan dia.

Saya kemudian menolaknya dengan cara paling halus dan sebaik mungkin meski akhirnya membuat pesannya tidak terlalu jelas. Hasilnya sih sesuai mau saya, dia tidak mundur, dan sepertinya mengerti dan baik-baik saja. Cukup dewasa juga. Malah saya kemudian yang merasa bersalah karena kalau dipikir saya yang egois, lebih sakit ditusuk langsung mati daripada pelan-pelan dan merasakan sakitnya terus-terusan kan?

Belum lagi kemudian dia tiba-tiba menghilang. Tanpa kabar tanpa sebab. Perkiraan saya adalah dia menyadari pesan sebenarnya. Langsung deh minta maaf walau rasanya kok ilfil karena ternyata dia belum dewasa, gitu aja kok ngilang.

Dia belum memaafkan saya, saya pun menjadi kecewa. Tapi mungkin karena pada dasarnya saya peduli sama dia, ingin sekali saya memberitahu dia betapa egoisnya saya waktu itu.

I miss her…I think.

Wednesday, August 01, 2007

dari casablanca menuju surga

Andai ku lebih mengenalmu
Pasti ku akan pernah melihatmu berteriak
Atau memberontak
Tidak hanya berkata ramah dan sopan

Andai ku lebih mengenalmu
Ku akan tahu siapa musuhmu
Dan ikut dalam perangmu
Tuk capai bahagiamu

Andai ku lebih mengenalmu
Entah ku akan bisa
Atau mau
menerima kepergianmu

Untuk Suryahito, Jurnal ‘99
Selamat jalan, kawan.
Mengenalmu adalah sebuah kehormatan.

Monday, July 30, 2007

Membosankan

Mendua, bosan!
Istri teman, perawan, anak gedongan
Bosan
Enakan ditusuk dalam-dalam

Baikan, bosan!
Kenalan, temenan, pacaran, balik temenan
Bosan
Enakan musuhan

Pembuktian, bosan!
Romantisme, kesetiaan, kemapanan, kedewasaan
Bosan
Enakan ngasih cobaan

Buktikanlah kau yang buktikan
Aku sedang bosan

Thursday, July 26, 2007

dicium istri orang

- Dia kayak loe, ganggu. Nggak mikir perasaan orang kalo ngomong. Nyebelin. Gw cium bibirnya aja. Abis gemes.
+ Goblok!
- Bukan goblok, gw mabok!
+ Mabok cinta?
- Halah. Dibilangin gemes.
+ Loe remes?
- :-*!!!
+ Itu gemes juga?
- Bukan, itu cinta.
+ Goblok…

Thursday, July 19, 2007

Do they deserve it?

Kurang lebih setahun yang lalu, seorang teman yang baik terkena penyakit mata, uveitis. Peradangan di Retina yang membuat satu matanya tidak dapat melihat sama sekali dan satunya lagi buram terlapisi lapisan berwarna kuning.

Sekitar enam bulan yang lalu, seorang CD yang juga baik terkena Myasthenia Gravis. Kondisi di mana otot tidak memiliki kekuatan sama sekali karena zat yang dikeluarkan syaraf (namanya acetylcholine) agar otot bergerak dihancurkan oleh antibodi sang CD. Dalam kata lain, antibodinya fed up dan melawan balik. “Enough is enough!” mungkin kata mereka.

Kemudian beberapa bulan yang lalu, istri yang baik seorang teman baru divonis terkena kanker hati. Kalau yang ini udah tahu lah ya penyakitnya seganas apa.

Saya kemudian sok playing God, sok-sokan sebagai yang menciptakan alasan mengapa mereka harus mengalami itu semua.

Yang pertama. Selain baik, teman saya yang baik itu juga cakep, ya menarik lah, eh nggak ding benar yang awal, cakep (tomboy, jadi nggak cocok dibilang cantik). Sudah bisa ditebak kan masalahnya, bagaimana ia harus menolak cowok-cowok dengan cara yang paling halus dan tidak menyakitkan. “Kita masih bisa temenan kan” mungkin ia sudah ucapkan ratusan kali, ups berlebihan, ribuan maksudnya, hehe…Itulah yang menjadi penyebab penyakitnya. Bukan, penyakitnya timbul bukan karena ia disumpahin ribuan barisan patah hati, tapi karena sebenarnya ia merasa dikhianati. Merasa dikhianati karena ia sudah percaya kepada mereka sebagai teman, namun saat mereka meminta lebih, itu adalah pengkhianatan terhadap kepercayaannya. Dan pengkhianatan selalu melahirkan dendam. Nah, dendam yang tidak tersalurkan itulah penyebab penyakitnya.

Trus untuk sang CD yang baik, penyakitnya adalah sebuah peringatan. Meski tidak cinta terhadap diri sendiri tapi bukan berarti boleh seenaknya sendiri. Kecintaannya terhadap hal lain selain dirinya harus dikurangi, sinkronisasi jiwa dan raganya masih lebih penting daripada hal lain yang ia cintai itu. Ia harus tetap ada karena masih banyak yang mencintai dan membutuhkannya. Ia harus menyadari itu, itulah mengapa ia harus mengalami penyakitnya.

Lalu mengenai istri yang baik…Hal itu terjadi agar teman kantor suaminya menjalankan takdirnya sebagai karyawan yang selalu overload pekerjaannya, hehe apa hubungannya. Alasannya adalah simply cobaan. Mereka sudah sampai di tahap terakhir cobaan-cobaan hidup. Saat mereka menyadarinya, melewatinya hanya semudah menutup mata dengan sengaja dan mereka sekeluarga akan bahagia selamanya.

Jadi, sebenarnya bukan pantas atau tidak, tapi tinggal mau mengambil hikmahnya atau tidak, cos’ there’s always a bigger thing from everything that we’ve been doing.

Monday, July 16, 2007

Kompas Minggu yang Bersahabat

Tertanggal 15 Juli, 2007, surat kabar versi hari Minggu ini membawa ketenangan tersendiri. Tiga buah berita utamanya memberi suntikan optimisme dengan rasa sakitnya masing-masing.

Berita pertama
Headline “Kalah dengan Kepala Tegak” beserta foto Bambang Pamungkas yang sedang menarik kedua tangan M. Ridwan untuk berdiri berhasil menyentil hati. Ditambah isi berita betapa pendukung Indonesia yang mulai dewasa, mereka tidak lagi menghujat atas kekalahan Indonesia, mereka terus meneriakkan “Indonesia…Indonesia..." hingga akhir pertandingan. Mereka juga terus memberikan dukungan dan motivasi setelah pertandingan, “Bambang, jangan biarkan teman-temanmu menundukkan kepala,” ujar mereka mencoba memberi percikan semangat yang sedang padam.

Berita kedua
Kali ini kejujuran pemimpin bangsa yang lumayan menyentuh. Betapa hening ternyata juga menyelimuti tribun VVIP di menit-menit akhir pertandingan. Lalu saat peluit panjang dibunyikan, meski masih sempat menyalami pejabat Arab Saudi yang hadir di sana, dalam kesenyapan Presiden SBY langsung meninggalkan tribun tanpa kata-kata dan lambaian tangan. Malam itu beliau sama seperti saya dan jutaan penonton tim merah putih lainnya, sedih tertampar harapan semu.

Berita ketiga
Tentang film “The Photograph". Tentang Johan, seorang juru foto keliling yang hidup dalam kabut rasa bersalah. Ia kemudian bertemu seseorang yang membuatnya berani membuka kotak berisi benda-benda yang memeram tragedi masa lalunya. Ia berhenti takut atas ketakutan yang ia ciptakan sendiri.

Bagi saya, ketiga berita tersebut menegaskan satu pesan, bahwa rasa sakit tidak harus disembunyikan, dikubur atau dibuang dari ingatan, tapi justru harus dimasuki dan dihadapi. Pedih dan perih harus dikunyah, dicecap hingga habis pedih perihnya, dengan begitu rasa sakit dapat dilewati dan melahirkan optimisme.

Kejujuran terhadap hati sendiri yang masih sulit dilakukan oleh sebagian besar orang.

Tuesday, July 10, 2007

Unspoken Little Truth

Beberapa wanita mendekati kepala tiga dan sudah menjadi senior di pekerjaannya memiliki cerita cinta yang hampir sama. Dekatnya mereka dengan “deadline” membuat mereka tidak ingin lagi menjalankan proses hubungan yang panjang. Ingin langsung mendapatkan paket yang sempurna. Alhasil, puluhan pria gugur sebelum masuk ke medan pertempuran, singkatnya mereka menjadi pengumpul penggemar.

Dengan keyakinan bahwa “the one” masih belum mereka temukan, para wanita ini tanpa sadar semakin hari semakin tinggi menetapkan standar pria-pria yang dapat berkencan dengan mereka. Berpenghasilan di level manager. Bukan penggoda namun dapat terus menjaga perasaan membara. Harus setia. Sudah pernah keliling dunia, minimum asia. Tidak menggunakan roda dua sehari-harinya, kecuali cc-nya di atas 600. Mobil manual boleh, selama umurnya belum tiga tahun, dst.

Suatu saat, salah satu wanita ini bertemu dengan pria yang berniat untuk selalu jujur dan setia kepadanya, selamanya. Dimulai dengan kesiapan akan melapor saat mau bertemu wanita lain selain dia. Wanita merasa cocok dengan pria.

Namun dalam perkembangannya wanita tahu bahwa pria ini berpenghasilan sedikit di bawah level manager, roda duanya hanya ber-cc seratusan, mobil matic tapi umurnya lebih dari lima tahun serta hal-hal lain di bawah standarnya. Wanita pun meninggalkannya, tanpa kata-kata.

Tak lama kemudian wanita mengetahui tanpa sengaja kalau si pria bukanlah pria yang ia kenal sebelumnya dari sisi harta. Ternyata pria itu memiliki kekayaan tiga kali lipat dari standar wanita. Rupanya sang wanitalah yang sedang dites oleh pria.

In relationship, the enemy of truth is not lie, it’s the myth

Wednesday, July 04, 2007

Menghapus blog

Saya punya beberapa blog, banyak tepatnya, tapi terakhir tinggal tiga. Yang pertama tentu saja blog ini, pertama dibuat dan untuk siapa saja. Blog kedua untuk saya sendiri, kalau-kalau file jurnal berpassword saya tidak sengaja terhapus. Dan yang ketiga adalah blog saya dan dia.

Ya, blog ketiga itu adalah blog kami berdua. Tapi maaf saya tidak bisa memberitahu siapa dia. Mungkin nanti kalau keadaannya berbeda, kita lihat saja.

Menyenangkan sebenarnya memiliki blog bersama, setidaknya saya menganggapnya seperti itu. Banyak hal yang tidak sempat terucap bisa tersampaikan. Saya memang tipe yang lebih bisa mengerti seseorang dari tulisannya daripada perkataannya. Dan sebaliknya, saya lebih bisa berkata-kata dengan aksara daripada berbicara empat mata.

Tapi kemudian kepercayaan saya ke dia pudar. Saya merasa tidak nyaman lagi. Dia menjadi anak manja yang ahli sekali memutarbalikkan fakta. Sepertinya dia menjadi terlalu tinggi menilai dirinya sendiri dan merasa sudah mengerti seluruhnya saya. Dia pun menjadi hakim yang tidak pernah obyektif.

Karena itulah saya hapus blog itu.

Selain itu saya juga berhenti berbicara kepadanya walau masih harus bertemu dengannya. Kekanak-kanakan? Bisa. Terlalu capek? Sepertinya sih itu.

Saya kemudian menceritakan hal ini kepada seorang teman dekat (minus identitas si dia) dan bertanya mengapa kok saya bisa melakukan itu. “…karena nggak banyak orang yang bisa dapet kepercayaan dari loe, jadi kadang loe suka terlalu tinggi memposisikan orang yang loe percaya,” begitu katanya. Komentar seperti ini memang yang membuat saya selalu menganggap dia sebagai sahabat.

Friday, June 22, 2007

Dihakimi karena blog

Seorang director senior protes ke orang-orang yang protes dan menghakiminya setelah membaca blognya. Orang-orang yang protes memprotes nama-nama orang dan institusi yang disebutkan untuk direndahkan oleh director. Director menolak karena ia menganggap blognya adalah diary pribadinya. Hmm…Kalau merasa untuk pribadi kok di posting untuk umum ya?

Menurut saya pertanyaan dasarnya adalah, “Blog itu diary pribadi atau media massa?” Mungkin bukan persamaan yang tepat tapi dua itu adalah kutubnya.

Postingan di blog yang dibuka untuk umum sudah menjadi media massa, walaupun itu namanya blog. Karena ada usaha dari penulisnya untuk menyebarluaskan (dalam hal ini menjadikannya postingan umum). Tapi kalau penulisnya menulis di blog/file yang diberi password dan kemudian orang lain menjebolnya, itu baru salah karena itu diary pribadi.

Beberapa orang mengatakan, blog yang bagus sifatnya personal. Menurut saya sih, itu karena sifat dasar manusia yang suka peeping. Terbukti dari betapa lakunya produk gossip dan video pribadi. Bahkan karya serius yang mengambil kebutuhan mengintip manusia seperti film Malena, Trilogy Griffine & Sabine-nya Nick Bantock, cerpennya Seno Gumira yang saya lupa judulnya dan tentunya masih banyak lagi lainnya disuka.

Saya pribadi juga mempergunakan blog sebagai sarana peeping. Dengan maksud baik tapinya (ada nggak sih peeping tapi maksudnya baik?). Saya mempergunakannya untuk mencari tahu kabar orang lain. Saya suka malas catching up dengan teman, kenalan atau bahkan mantan dengan ketemuan atau telfonan. Bukan apa-apa, saya suka bingung mau ngomong apa, selain itu saya juga (tanpa sengaja tentunya) suka mengeluarkan kata-kata yang terlalu sarkas atau yang salah diartikan hingga akhirnya membuat semua jadi berantakan. Lagipula, buat saya terkadang tulisan lebih jujur dibanding lisan. Saya jadi lebih bisa merasakan apa yang mereka (dan Anda) sedang rasakan.

Tapi ternyata banyak juga yang melakukan itu ke saya.

Dan seperti cerita si director di atas, saya juga dihakimi oleh orang-orang yang membaca blog saya (mungkin Anda termasuk salah satunya? ;p). Seru loh. Ada yang memuji tulisan saya bagus, ada yang mengatakan saya tipe orang yang sensitive bahkan ada yang mencap saya gay. Proteskah saya? Deep down sih mau, karena fakta yang sebenarnya berlawanan. Tapi haruskah? Buat apa juga? Biarin saja seperti itu. Selama saya tidak merendahkan orang lain dan yang direndahkan orang lain cuma saya, ya nggak papa, toh semua itu akan membuat saya semakin kaya (atau gila?).

Atau mungkin tulisan-tulisan itu memang menggambarkan saya yang sebenarnya? Ngeri juga kalau begitu. Yang pasti saya memang dari awal memisahkan tulisan di blog ini dengan diary pribadi. Ada beberapa yang topiknya sama, namun kemasan, gaya bahasa dan isi sudah pasti berbeda. Segala macam umpatan, celaan, penghakiman, nama serta rahasia terungkap di dalam tulisan yang disimpan di beberapa file dengan password yang cuma saya sendiri mengetahuinya.

Atau mungkin tulisan-tulisan ini sengaja ditulis untuk menciptakan imej-imej seperti itu karena sebenarnya cita-cita saya menjadi Deputy Communication Director gedung putih yang membuat propaganda dan menjaga imej yang berbeda dengan aslinya. Bisa juga….

Yang pasti kalau nantinya ada yang bisa membuka file-file berpassword itu, berarti dia benar-benar membenci saya atau saya cinta mati kepadanya, huahahaha…

Monday, May 21, 2007

Suatu hari di akhir-akhir kontrak 3 minggu gw sebagai deputi direktur komunikasi yang memperbantukan pembuatan pidato rencana kerja tahunan kepala negara yang sangat peduli dengan kemanusiaan ini tiba-tiba saja gw dikejutkan dengan kedatangan beliau di ruangan gw di istana negara.

“Selamat malam, Bapak Presiden”

“Malam. Bagaimana, sudah bisa berbicara seperti saya?”

“Memang sudah seharusnya bisa, Pak. Tapi, bagaimanapun, saya tidak akan pernah bisa seperti Bapak.”

Ada satu kebijakan luar negeri mengenai pengiriman pasukan negara ini ke tempat-tempat terjadinya konflik akibat ketidakadilan yang gw tidak setuju. Kebijakan luar negeri yang tahun ini beliau akan ucapkan di depan ratusan juta rakyatnya adalah sebuah kompromi, beliau tidak ingin menjadi negara ini menjadi polisi dunia tapi juga tidak mau jadi pemimpin negara terkuat di dunia yang tidak memedulikan negara lain yang sedang ditindas tirani.

“Tugasmu memang hanya membahasakan kebijakan yang aku buat menjadi dekat dengan kenyataan kan? Bukan membuatnya menjadi harapan semu dengan membuat kebijakan baru.”

“Kontrak saya akan segera habis, Pak. Kalaupun saya tidak membuat perubahan, menciptakan harapan akan menjadi sangat berarti.”

“Tapi percayalah, tidak akan semudah itu bila kamu di posisi yang harus menanggung semua konsekwensinya. Kompromi walau tidak sesuai dengan kata hati adalah pilihan yang masuk akal.”

Gw mengerti posisinya, karena apabila beliau membuat kebijakan luar negeri negara ini untuk memperkuat posisinya menjadi polisi dunia, pasti akan mendapat kecaman dari senat dan dewan-dewan tinggi lainnya karena dianggap mengorbankan anak bangsa dan kebijakannya pun tidak akan menjadi undang-undang. Padahal negara ini sangat mampu dan sudah seharunya mau menjalankan doktrin “bebas dari tirani di mana saja di dunia” dengan alasan yang benar, bukan dengan niatan untuk mengelabuhi dunia agar negara ini bisa mendapat minyak bumi tanpa harus membeli.

“Menurut kamu, mengapa seluruh dunia menganggap rakyat negara dunia ketiga yang sedang ditindas tirani nyawanya lebih rendah dibandingkan rakyat negara kita?”

“Entahlah, Pak. Tapi memang begitu.”

Presiden yang sangat peduli kemanusian ini langsung meninggalkan ruangan gw dengan cukup marah dan sedikit kecewa.

Keesokan paginya, gw dipanggil untuk ikut dalam rapat senior staf. Beliau mau mengubah kebijakan luar negerinya.

“Kebebasan berbicara di seluruh dunia ini berawal dari doktrin kita, begitu juga kesetaraan perawatan kesehatan yang sedan kita usahakan. Sepertinya dunia membutuhkan satu doktrin lagi, bebas dari tirani, bagaimana kalian setuju?”

Seluruh senior staf tiba-tiba sibuk dengan hp masing-masing, mereka menelepon pihak-pihak yang terkait dengan perubahan kebijakan itu.

“Aku anggap itu iya.”

“Terima kasih Bapak Presiden.”

Semua senior staf berjalan keluar ruangan. Tapi…

“Burat, sebentar. Di masa kuliah kamu membuat beberapa tulisan tentang kesetaraan manusia di seluruh dunia, kamu juga pernah menjadi anggota NGO yang mendukung itu…yang kamu lakukan kemarin itu sangat berisiko, kamu tahu itu? Kamu bisa mendapat penghakiman yang 180 derajat berlawanan dengan yang kamu sebenarnya bela.”

“Betul, Pak. Saya bisa kehilangan semuanya.”

“Jadi mengapa?”

“Karena apabila sudah ada yang mengerti mengapa, saya bisa berhenti mencari.”

“Seperti sekarang ini?”

“Sepertinya, iya.”

“Kalau begitu kontrak kamu perlu diperbaharui.”

“Terima kasih, Bapak Presiden.”

Wednesday, May 02, 2007

Gut Feeling

Dua hari yang lalu gw beli tas Astro Boy warna item buat kado sepupu. Waktu milih udah mau ngambil yang putih, “more classy,” kata Ayu waktu itu. Cuman karena mikir item lebih aman dan gampang masuk sama baju apa aja, jadi ngambil yang item. Ternyata eh ternyata, sepupu gw udh punya barang yang sama! Alhasil besoknya gw tukerin lagi dah ama yang putih, untung boleh.

Beberapa hari sebelumnya pernah juga tiba-tiba rasanya harus nelfon temen lama yang udah nggak tahu kabarnya. Tapi kok takut ngeganggu dan akhirnya nggak jadi. Kemaren akhirnya nelpon dia dan ternyata pas waktu gw pengen banget nelfon dia beberapa hari sebelumnya, dia lagi makan di samping kantor.

Beberapa hari yang lalu, pengen banget ketemu dia dan bawain semacam Redoxon gitu. Setelah mikir-mikir kayaknya cuma akan bikin dia tambah capek dan bisa dimarahin mamanya, jadinya nggak jadi. Ternyata hari ini dia masuk rumah sakit.

Gut feeling shouldn’t be ignored.

Monday, April 30, 2007

paths

Dua anak lelaki lahir ke dunia sebagai sepupu berselisih satu tahun baru. Mereka sama-sama anak pertama. Para orang tua mereka memang merencanakannya. Agar mereka bisa tumbuh bersama dan saling menjaga.

Anak lelaki pertama tumbuh seperti anak lelaki biasanya, aktif, lincah, punya banyak teman, suka menjadi pusat perhatian, selalu main ke sana ke sini yang selalu membuat was-was orang tua.

Anak lelaki kedua sedikit berbeda. Toh memang orang tuanya juga berbeda. Yang ini agak sedikit pendiam. Sibuk dengan dunianya sendiri dan tidak memiliki banyak teman. Ia bahkan takut menjadi pusat perhatian karena biasanya ia akan memuntahkan makanan. Namun ia jarang membuat was-was orang tuanya.

Dua anak lelaki pun tumbuh menjadi remaja.

Anak lelaki pertama mengalami masa puber di waktu yang tepat. Ia menyukai anak perempuan seumuran dan disukai juga oleh mereka. Kehidupan percintaannya pun dimulai, mengikis waktu yang seharusnya ia gunakan untuk mengejar nilai-nilai pelajaran. Ia bisa tentu saja, hanya hatinya sedang berada di seseorang yang mencintainya. Orang tuanya sedikit kecewa dengan pilihan hatinya, mereka menyebut-nyebut sosok sepupunya sebagai yang harus diikuti prestasinya. Mereka pun kemudian mulai membatasi kebebasannya.

Sedangkan sepupunya, anak lelaki kedua baru saja keluar dari dunia ciptaannya. Ia baru mengerti arti pertemanan, persahabatan dan dendam. Pelajaran yang mudah ia mengerti dan membuatnya menjadi unggulan mulai ditinggalkannya demi status dalam pergaulan. Ia menjadi iri dengan sepupunya karena lebih dulu merasakan seperti apa cinta sepenuh hati yang terbalas. Orang tua anak lelaki kedua masih merasa aman-aman saja dengan prestasi dan perkembangan pertemanan anak sulungnya. Mereka sama sekali tidak membatasi gerak-gerik dan privatisasi, bahkan memfasilitasi.

Saat beranjak dewasa, mereka sama-sama kehilangan kepala sekaligus tulang punggung keluarga, papa dan bapaknya.

Lelaki pertama kehilangan untuk selamanya. Papanya terlalu dalam memikirkan penyelesaian masalah pekerjaannya hingga stroke menyerangnya, tepat di malam saat ia bertengkar hebat dengannya. Anak lelaki pertama kehilangan arah. Menjadi kepala dan tulang punggungg keluarga sebelum waktunya tidak pernah ada dalam bayangannya. Ia kemudian terjerat ke dalam lingkaran setan dan meninggalkan ibu dan adik-adiknya tanpa arahan.


Lelaki kedua tidak kehilangan bapaknya selamanya, bapaknya ada namun tak pernah ada. Seperti zombie. Anak lelaki tidak tahan, ia melarikan diri. Mecoba hidup sendiri meski tidak melepaskan hubungan biologis dan ekonomi dengan keluarganya. Ia kemudian menemukan jati dirinya di lingkaran pertemanan. Para mantan, kawan dan lawan, sahabat, semuanya menempatkan ia di posisi yang nyaman. Namun ia tidak tahu posisinya di keluarga, ia tidak tahu bagaimana harus mencintai mereka, apa yang harus dilakukan atau dikorbankan, peran seperti apa yang ia seharusnya lakonkan.

Kini mereka sama-sama hampir sampai di titik kedewasaan.

Lelaki pertama kini telah menjadi pria dan berhasil keluar dari lingkaran setan. Namun belum, ia belum berhasil menjadi kepala sekaligus tulang punggung keluarga. Ia telah memilih jalan lain, membentuk keluarga baru yang resmi tanpa perlu membiayai semuanya sendiri.

Lelaki kedua juga tumbuh menjadi pria. Ia berhasil menjaga perannya di lingkaran pertemanan dan mengerti sekali peran yang harus ia jalankan di keluarganya. Namun ia pun sama dengan pria pertama yang tidak juga menjalankan peran sebagai kepala dan tulang punggung keluarga dengan baik. Pria kedua malah lebih memilih membiayai sendiri “bulan madu” ke luar negeri bersama seseorang yang belum dinikahi.

Itulah dua pria bersaudara di dua jalur kehidupan berbeda namun berada di titik kedewasaan yang sama, mengesampingkan keluarga.

Little Girl

There’s a little girl
She’s real cute
And a real eater
But she’s not fat
Nor love cat
Sometimes she wears hat
Whenever she pretends to be a male brat

Everyone loves her and so do i
But I’m not a lover boy
I don’t know how to care
All I know I hurt every people I know
To let it out all the hatred in me
So I can love her with pure heart

But, lately she keep asking me to stop making her happy
Asked me to mad at her
or just stop being nice
She hated me for not being hatred

So I stop hurting people
And start hurting her
She asked to be drown when she’s drowning
Buried when she falls into a hole
i pinched, she weep
i stabbed, she bleed
i chopped, she’s dead

You should’ve been careful of your wish, dear...

Friday, April 20, 2007

Kelam itu nyaman

Cuma satu orang dewi yang bisa bikin kayak gini, nggak lagi-lagi!















Culun ya, biarin lah, momentnya cuma sekali, coba dinikmatin...

Monday, February 26, 2007

Being more comfortable in hell

Kalau sudah bisa merasa nyaman di neraka, maka berada di mana pun pasti akan terasa lebih enak.

Mindset yang membentukku untuk tidak takut dan tidak menyerah saat berada di keadaan seburuk apapun.

Jeleknya, mindset itu mulai menjadi attitude. Dan menganggap semua orang juga kuat menghadapi panasnya neraka. Lupa kalau sebagian besar dari mereka mendengar kata neraka saja langsung menutup kuping rapat2 dan lari menghindar.

AEs yang lebih suka menjadi messenger pun meledak, karena secara terang2an kutunjukan di mata pemimpinnya betapa bodohnya mereka. Aku pun dimusuhi. Meski didukung oleh teman2 kreatif dan bos mereka sendiri, tetap saja akulah target utama penembak bayaran mereka, apabila mereka mampu menyewanya.

Ada juga yang sakitnya bisa langsung kurasa. Dalam beberapa bulan terakhir, berhasil memotivasi beberapa teman untuk lebih berani menulis. Tapi efeknya di luar perkiraan, ada yang sampai mengabaikan tangisan anaknya yang meminta susu atau yang lupa makan karena terlalu bersemangat menulis blog.

Rasa bersalah yang terakumulasi membentuk rasa sakit berkumpul lagi di dalam diri, menyayat perih. Dan selalu, cara menghilangkannya tidak dengan mengguyurnya dengan hura-hura, tapi dengan rasa bersalah yang lebih besar lagi. So here I am, listening to Damien Rice, discouraging and gloomy…

This is not what I'd do
It's the wrong kind of place
To be cheating on you
It's the wrong time
but she's pulling me through
It's a small crime
And I've got no excuse

But do you really feel alive without me?
If so, be free
If not, leave him for me
Before one of us has accidental babies
For we are in love

Wednesday, February 14, 2007

Selamat Hari Sadar Kasih Sayang

Akhir-akhir ini semakin bosan mendengar semua pihak mengatakan hari kasih sayang sebaiknya tidak hanya dirayakan berdua dengan yang paling dikasihi, tapi waktunya menyebarkan kasih sayang ke semua orang. Huek! Sok bijak, sok tahu! Ngajarin orang tapi sendirinya tidak mampu melakukan, penjerumusan!

Tapi tidak setuju juga dengan orang-orang yang mengganggap Valentine’s Day adalah hari kasih sayangnya orang bule, kita nggak usah ikut-ikutan, bisa dosa. Wah dangkalnya…kasihan yah? Harusnya orang-orang kayak gini segera googling dan baca sejarahnya, biar mereka tahu kalau perjuangan Saint Valentinus itu mungkin jauh lebih bernilai dibandingkan fanatisme mereka yang faktanya belum mengamalkan satupun ajaran agamanya.

Secara umum, manusia (apalagi yang ada di Jakarta) masih perlu diingatkan tentang kasih sayang, tentang kepedulian, tentang cinta. Perhatikan saja orang-orang (sampling: penduduk Jakarta) saat berada di ruang publik, mereka semua kini sudah menjadi sangat individualis. Sebuah mobil mewah keluar dari pintu gerbang yang besar dengan halaman luas tanpa sampah secuil pun, tidak berapa lama berjalan di jalan umum kaca mobil dibuka dan sebuah tissue yang ‘dikremes’ meloncat keluar.

Masuk ke dalam ruang publik yang agak kecil seperti kantor, para individu pun merasa menjadi orang paling penting, semakin penting mereka maka semakin bangga mereka menjadi manusia. Padahal kwajibannya dilakukan oleh orang lain bahkan tidak jarang oleh anak buahnya.

Siapa mereka itu? Ya tentu saja saya, dan Anda. Juga mungkin keluarga saya dan seluruh keluarga Anda. Teman-teman saya, teman-teman Anda, dan seterusnya.

Tidak, saya tidak akan menjadi editor majalah kebanyakan yang mencoba mencerahkan dengan menawarkan prinsip “everyday is a valentine day”, basi. Tapi saya juga tidak mau tipe yang menyarankan untuk melewatkan hari kasih sayang tanpa makna.

Jadi? Jadi apanya? Mulai saja belum, hehe…Mendekati hari kasih sayang ini, saya memang selalu bingung sebenarnya ada di ‘blok’ mana. Kalaupun sudah berpihak, alasan keberpihakannya juga nggak jelas. Jadi daripada nggak jelas kita bikin aja satu ‘blok’ baru, toh nyatanya negara-negara non-blok yang tidak pro barat atau timur juga sudah menjadi sebuah blok, ya nggak?

Kita ciptakan saja blok yang berisi orang-orang yang tidak mengumbar cinta di hari kasih sayang namun mengurangi sikap ignorance-nya setiap saat. Seperti mencoba mencari kata-kata tepat untuk menyapa dibandingkan sibuk dengan ponsel dan bergaya ‘cool’. Atau memaksa diri untuk berhasil tersenyum di saat suasana rapat memanas dibandingkan dengan mudahnya meninggalkan ruangan.

Yup, ignorance menghisap rasa peduli dan mengubahnya menjadi ego. Nikmat memang ketika kita berego tinggi, tapi tidak akan membuat kita menjadi orang yang lebih baik. Sampai kapan pun.

Susah? Pasti. That’s why it would be worth it.

Jadi, akhirnya jadi juga, hihihi…Selamat hari kasih sayang bagi yang dengan sadar merayakan.

Tuesday, January 30, 2007

Membangun Istana Kesedihan

Sangat membanggakan memiliki istana kesedihan termegah yang berpondasikan keluarga inti terpecah-belah ini. Serpihannya mengisi setiap kekosongan yang ditimbulkan kebahagiaan. Ketidakakuran, salah komunikasi, menuding dan selalu membela diri adalah ramuan ajaib tanpa kelemahan yang selalu berhasil mencegah kedamaian. Siapa yang membutuhkan kedamaian di dalam megahnya istana kepedihan?

Pondasi yang kuat tentu harus didukung oleh pilar-pilar utama yang kokoh. Akan melewatkan pernikahan sepupu demi mimpi pribadi ke luar negeri dengan uang keringat sendiri bisa jadi salah satu pilar megahnya istana ini. Bahan tadi memperkokoh pilar ketidakberadaan di keluarga besar. Andai saja mereka mau memecat saya dari keluarga, pilar ini pasti menjadi yang pertama abadi!

Di sisi lain juga berdiri kuat pilar ditinggal teman yang semakin kokoh dipenuhi kekosongan akibat akan perginya seorang teman kantor yang sudah menjadi kawan. Sudah terbayang pilar ini semakin kokoh menahan terpaan kegembiraan yang kadang datang menghadang. Pilar ditinggal teman ini sudah mulai terbangun dari SMP, jangan sampai saya yang mengatakan selamat tinggal, bisa runtuh pilar ini.

Di antara dua pilar tadi terbangun sebuah monumen abadi yang menjadi pilar utama nomor tiga. Monumen abadi itu berisi semua kenangan terindah bersama dan mengenai seorang dewi, kenangan yang setiap hari selalu menjadi sumber sakit hati paling dalam.

Tiga pilar inilah yang menjadi bangunan inti istana kesedihan ini. Berikutnya akan ada dinding-dinding dingin yang melindungi hati dari panah cinta sejati. Kemudian ada atap ego yang begitu tinggi, sehingga hati tak perlu capek-capek bersedih karena terlalu sering tersentuh hal-hal kecil yang sudah tidak manusiawi lagi.

Ah, istana ini akan menjadi begitu indah pada saatnya nanti.

Thursday, January 11, 2007

Resolusi

Seorang bapak berusia 52 tahun beresolusi. Bertekad kuat demi kebaikan keluarga. Ia memiliki dua istri dan 3 orang anak. Tahun ini ia berencana membuat sebuah toko kelontong dengan modal dari hasil penjualan motor yang sekarang ia gunakan untuk mengojek. Badannya sudah tidak kuat untuk bekerja mulai dari jam 8 pagi hingga 9 malam. Bagaimanapun ia tetap optimis, “Awalnya untung pasti tipis sih, tapi nantinya kan nggak”, ucap sang bapak yakin. Hebat.

Seorang bapak yang lain, berusia 52 tahun juga, sedang ditraktir makan sushi oleh anak pertamanya. “Trus kira-kira tahun ini kerjaan gimana?” tanya anak pertamanya. “Masih nunggu modal, masih disuruh sabar sama yang di Atas.” Ia juga menjawab seperti itu dua tahun yang lalu saat ku menanyakan hal yang sama kepadanya. Hebat…

Tuesday, January 02, 2007

(Not) Being Sensitive

Ada yang percaya kalau sebenarnya seniman dan orang kreatif di biro iklan itu sebenarnya sama, yaitu orang-orang yang sensitif dengan keadaan sekitarnya dan dengan jujur mengungkapkannya melalui medium yang disuka.

Benar juga.

Tapi mengapa saya sekarang ini benar-benar tidak ingin melakukannya? Saya maunya cuma main, atau jalan-jalan tanpa tujuan, atau tidur lelap seharian. Bukannya main tapi nggak lolos-lolos karena belum tau mau ngomong apa di iklan radio pengganti iklan radio yang ditarik, atau jalan-jalan dan melihat ide-ide yang pernah dibunuh hidup menjadi sebuah eksekusi yang lebih bagus dari bayangan saya, atau ditengah-tengah lelapnya tidur terbangun karena tersadar tentang beberapa kejadian aneh yang ternyata merupakan skenario pihak-pihak tidak kompeten dalam memenangkan kepentingannya.

Those brings us to my greatest war, why should I keep doing what I’m doing? Wars, all wars, does not determine what’s right, it only determines what’s left. So what’s left if I win this war?

Sayang belum tahu cara menanginnya…

Si Stagnan Si Stagnan Si

Pernah perhatiin nggak kalau semua orang pernah ngalamin yang namanya stagnansi dalam kehidupannya. Kayak marmut lari di lingkarannya itu. Secepet-cepetnya atau selambat apapun kita lari ya akan di situ-situ juga. Masanya aja yang beda. Ada yang pas lagi sekolah, kuliah, kerja, berkeluarga, atau jaman tua.

Ada temen saya yang SMA-nya 6 tahun, tiap 2 tahun dia ganti sekolah biar bisa naik kelas. Padahal waktu SD dia itu jago matematika yang pernah mewakili Indonesia di kompetisi internasional. Aneh, tapi emang gitu. Ada juga sepupu yang udah 7 eh 8 tahun belum kelar kuliahnya, padahal IQ-nya lebih tinggi 10 poin dari saya! Ada juga yang pacaran sampai 10 tahun tapi nggak kemana-mana, nggak putus-putus karena “mahkota” ceweknya sudah dia ambil. Si cowok selingkuh melulu, sedangkan si cewek sekali aja selingkuh langsung nyembah2 dan merengek2 minta tunangan. Ancur banget hubungannya.

Saya yang ngeliat stagnansi-stagnansi itu pengen bgt neriakin “Move On!” di depan muka mereka. Bisa aja, cuman sepertinya nggak akan ada gunanya, karena itulah hidup mereka, begitulah jalannya. Emang sih awalnya saya pikir itu adalah ketidakmampuan mereka, menjadikan stagnansi itu kotak aman. Yup, people are more comfortable in hell ‘cos they got nothing to lose. Nothing can be worse than being in hell all the time, right? Tapi nggak kok, sesukses apapun orang pasti mengalami stagnansi di kehidupannya. Beda di apa, kapan dan berapa lama ngalaminnya.

Jadi pertanyaannya sekarang adalah, bisa nggak move on saat stagnansi kehidupan itu melanda? Atau belum sadar kalau sedang mengalaminya? That makes two of us.

Another Goodbye

Beberapa kali saya membayangkan dan bermimpi mengucapkan selamat tinggal ke dia. Menyampaikan terima kasih secara personal dan menyampaikan bahwa dia sudah salah satu yang menginspirasi saya selama mengerjakan accountnya. Saya keduluan.

Yup, it’s not easy to find great client, but it’s easier than to lose one.

Tuesday, December 19, 2006

Hijau yang Biru

Tas berat kupangku
Di ujung alumunium berbentuk bangku
Berpikir mencoba mengartikan
Arti diacuhkan dan dilupakan

Sepasang kekasih melewatinya
Seorang ekspat dan pribumi juga
Bahkan ibu yang kerepotan dengan belanjaan
Semua masuk ke taksi biru

Sedihku tak terlihat mata
Hati teriris berkaca-kaca
Saat mata dan hati jelas melihat
Hijaunya taksi berubah biru

Ya, hijau aku tahu
Walau biru yang selalu dimau
Kutawarkan rumahku tujuan mengantar
Ia pun lama menatap tajam…

Hingga terucap kata terisak dari mulutnya
“Te-te-rima ka-sih…”

Tuesday, December 12, 2006

Your Last Birthday

Tiga tahun sudah kita tak bertegur sapa, kecuali di hari masing-masing kita lahir. Setiap tahun, ucapan selamat menjadi sangat berharga. Andai bisa lebih, andai bisa jadi lebih berarti.

Dan sepertinya ini adalah kali terakhir, karena berikutnya bisa menjadi dosa. Bukan berarti arti dirimu berkurang, tetap sama selamanya, satu-satunya, tapi memang selamanya kita takkan bersama.

Teruslah menjadi bintang, walau kau menetap di langit orang lain. Karena itu adalah yang terbaik.

Selamat Ulang Tahun.

Tuesday, December 05, 2006

Goes without saying

That’s what happened last night. Dia suka baca, Tim Burton pula. Dia juga download soundtrack Before Sunset di Limewire (tapi gw lebih lengkap donk), tidak suka Superman Returns karena ceritanya, bukan cuma karena make upnya Superman yang ketebelan dan dia pindah kerja karena 2 tahun gajinya nggak naik banyak. She‘s just like me, only prettier, hehe… What’s her name? I don’t know, I didn’t hear when she said it. I could’ve asked, but I was too scared, she’s older, that makes her more perfect (I always got a thing for older women). Yes, I got a crush on her.

You give me something that makes me scared all right
This could be nothing but I’m willing to give it a try
Please give me something, cos someday I might know, my heart

Monday, December 04, 2006

Before Sunseting Again

Setelah beberapa kali tersedak di Kill Bill 1 & 2 dan tergelitik di Matrix 1, 2 & 3, akhirnya tetap Before Sunrise & Before Sunset jawaranya di weekend ini. Dua film itu menstimulasi terbentuknya dua file scribbles dan tentu saja tulisan ini juga sebagai karya ketiga.

Sebenarnya lebih ke Before Sunset, lebih terasa faktual dibandingkan Before Sunrise. Atau mungkin juga karena Before Sunset adalah gambaran harapan yang masih saya tunggu akan terjadi. Entah, biar si alam bawah sadar saja yang menikmatinya.

Apa yang saya cari di film-film berseri itu? Self Esteem of course. Di sela-sela membuat presentasi untuk anak kampus 9 Desember nanti dan menemani keponakan ke Dufan, saya masih butuh kontemplasi. Dan apa yang berhasil saya temukan? Petikan favorit saya berubah! Kalau terakhir nonton adalah ini:

“I guess when you're young, you just believe there'll be many people with whom you'll connect with. Later in life, you realize it only happens a few times”

menjadi ini:

“… the true work of improving things is in the little achievements of the day, and that’s you need to enjoy, just to stay in that feel.”

The weird thing is I really don’t know what exactly the changing means, only I felt so relieved. I guess contemplating and sex are the same after all, makes you wanting more! Hehehe…

Thursday, November 23, 2006

Traveling alone is traveling within

Kata-kata itu pernah saya baca di karyanya Desi Anwar saat launch bukunya di Senayan City. Dan baru saja saya membaca kata-kata Seno Gumira,”Perjalanan adalah penjelajahan ke dalam diri sendiri”. Apakah ini petanda saya harus segera melakukan perjalanan? Maunya, tapi duit dari manaaaaa? Jadi daripada pergi jauh-jauh dan harus bayar pula, mending liat pameran interaktif keramik di Japan Foundation aja, gratis! Hehe…

Di tempat yang seharusnya menjadi perpustakaan dan galeri, perupa Miyuki Anai dan Kurniawaty Gautama, mengubahnya menjadi seperti ‘backyard’ alias halaman belakang rumah-rumah di Jepang. Daun-daun kering sengaja dibuat berserakan seperti di taman, mengelilingi beberapa catur jawa dan congklak dari tanah liat yang siap dan boleh dimainkan siapa saja. Di atasnya tergantung awan-awan, bintang-bintang dan bulan sebagai tempat para pengunjung menggantungkan kertas bertuliskan harapan mereka.

Di sana saya berhasil mengurangi ketakutan saya terhadap kodok. Meski dari tanah liat, saya tadi memegangnya! Itu karena kodok-kodokan itu divisualkan berlomba-lomba memasuki rumah-rumah sambil bermain, menyimbolkan manusia yang mencari kedamaian di suatu tempat tidak lagi dengan cara berjalan atau berlari namun melompat! Agar tidak menjadi kodok (katak) dalam tempurung yang selalu dalam kepenatan dan rutinitas namun menjadi seseorang yang selalu bugar dan mengisi hari-hari dengan hal yang positif dan menyenangkan. Walau siang bolong, hati serasa temaram…

Selain itu walau di dalam gedung dan dalam ruangan yang kecil, saya bisa merasakan besarnya pesan yang ingin disampaikan penciptanya. Mereka berhasil menyentuh dan membawa saya pergi dari lantai 2 gedung Summitmas 1 ke ujung hati paling dalam untuk mengambil kembali harapan dan mengajak saya untuk menggantungkannya kembali ke tempat yang tinggi namun tetap dapat diraih pada saatnya nanti.

Lezat sekali makan siang hati saya hari rabu ini, jadi mau lagi, tapi kalau bisa jangan yang imitasi, pengen banget bisa ketemu samurai asli.

Monday, November 13, 2006

be present

Postingan ini sebenarnya udah agak lama ada di draft, belum selesai2. Tapi kemarin tiba-tiba dapat tambahannya, jadi coba diselesein tapi ternyata kalau nunggu selesai kayaknya nggak akan selesai-selesai, hehe…

be present. Dua orang creative director udah bilang itu langsung ke gw. Dan baru aja Beau Burroughs bilang itu ke Sarah Jennings. Walau bisa aja dia bilang gitu cuma trik buat bikin tenang Sarah so he can get laid with her. But either way, it’s still a good thing.

Di hari kerja, gw biasanya udah nyiapin rencana buat weekend mau ngapain aja. Mulai dari hari Sabtunya mau bangun jam berapa sampai nentuin hari seninnya akan ijin masuk siang atau malah sekalian cuti mendadak karena kebayang pasti akan capek banget ngelakuin semua rencana itu. Tapi biasanya yang terjadi adalah Sabtunya seharian tidur-makan-nonton tv series-makan-tidur lagi. Terus minggunya paling nemenin nyokap belanja ke some hypermart atau ITC-ITC. Bukannya recharge malah tambah capek.

Bandingkan sama yang ini. Di hari kerja berangkat agak pagian (walaupun malemnya baru pulang jam 2) dan ngedatengin bank yang nggak ada di jalur menuju kantor. Terus membagi-bagi uang gajian/honor SJ-an yang ada di bank tersebut ke dua account yang berbeda di dua bank lainnya. Lagi ngantri tiba-tiba ketemu junior kuliah dulu yang sekarang kerja di USAID. Tanpa sengaja jalur ke NGO pun terbuka, padahal selama berbulan-bulan berusaha menghubungi teman yang lain yang juga kerja di NGO dan belum pernah berhasil.

Atau kalau lagi badung dan nggak terlalu banyak kerjaan, naek feeder busway dari BTC jam 9 dan sampai di Plasa Senayan pas mereka baru buka. Abis itu ubek2 Kinokuniya sampai pusing ngebacain judul dan sinopsis buku satu-persatu dan tanpa sadar ngabaca lagi yang awal-awal tadi udah pernah dilihat dan baca. Tapi disaat lagi pusing-pusingnya, trilogy Griffin & Sabine yang bertahun-tahun dicari nggak dapet-dapet (bahkan yang minjemin buku itu pertama kali ke gw juga belum dapet sampai sekarang) muncul di depan mata, langsung deh ngambil tanpa mikir harus kehilangan 600rb (but i really felt worth for it).

Terus disaat weekendnya. Pagi-pagi milih salah satu nomor telepon perempuan cantik di phone book dan ngajak dia jalan. Walaupun nggak bisa dapet malam minggunya karena dia pasti kencan sama pacarnya, tetap aja seru. Sesampainya di rumah tiba-tiba saja kepikiran sesuatu dan langsung menulisnya walau itu berarti belum ganti baju dan makan. Dalam waktu setengah hingga satu jam langsung jadi satu cerpen baru, meski anehnya tema cerpennya kematian.

You see, I’m starting to live my life again by being present, or present man that is. Karena kalau dilihat-lihat dari kata-nya sendiri sebenarnya secara tersirat kata itu sudah menyampaikan makna dalamnya. Nih ya, selain berarti SAAT INI, present kan memiliki arti lain sebagai HADIAH. Dan bila arti harafiahnya digabungkan, present pun akhirnya mengandung arti bahwa MENIKMATI SAAT INI ADALAH SEBUAH HADIAH. Hehe…tau deh bener atau nggak.

Anyway, cobain deh, be present, jangan terlalu pusing sama masa depan apalagi masa lalu. Toh kita nggak akan bisa membeli waktu. So, selamat menikmati hari ini ya dan pastikan untuk dapat menikmatinya, asal jangan keterlaluan aja.

Carpe diem friends! Carpe diem!


Note:
Beau Burroughs is Kevin Costner and Sarah Jennings is Jennifer Aniston in Rumor has it…

Friday, November 10, 2006

Pahitnya (Nonton) Jomblo Lagi

Meskipun nggak suka kopi, tapi gw suka film ini karena membuat gw merasakan kembali kepahitan. Biarpun udah nonton berkali-kali, tetep aja hati gw terasa ditusuk-tusuk dan perasaan ditendang-tendang, nyebelin. Jadi karena itulah gw putuskan buat nonton sekali lagi di VCD, hehe...Hasilnya? Ada yang terasa tusukannya malah makin dalem tapi ada juga yang tendangannya lebih pelan. Here’s some of them why

Logatna, euy…
Dulu tuh gw benci bgt gaya bicara Ringgo. Saking bencinya sampe nggak pengen temenan sama siapapun yang berlogat kayak gitu (dan ingat gw kuliah dimana?). Jadilah gw susah dapet temen dan nggak bisa belajar bener-bener bahasanya. Sampe akhirnya diajarin untuk mengerti logat itu sama si “Agus” gw itu (bukan, bukan perihal gay atau semacamnya, cuma analogi aja, nanti juga ngerti) dan sampe sekarang gw pun menjadi sering berlogat seperti itu, dan belum tahu gimana cara ngilanginnya.

Karakter yang mewakili
Sebenarnya sih dia bukan kayak Agus yang smart & funny gitu. Aslinya dia lebih kayak Asri yang memenuhi criteria semua orang sebagai seseorang yang cantik digabung sama kepribadian kayak Rita yang keibuan dan penuh perhatian.
Karakter Doni juga terasa deket. Sahabat gw waktu kuliah adalah sex master of multiple girls, hehe tapi sayang nggak bisa meraih gelar grand master karena sekarang punya gelar lain yang abadi, MBA. Tapi pada dasarnya sekarang ini mereka sama, dewasa karena sering bercinta, hahaha….

Exact moment
Yang Ultimate adalah adegan yang suasana dan tokohnya selalu berubah sendiri setiap kali nonton lagi, yaitu waktu dia jadi Agus di Gumati (waktu itu di café roti) dan gw jadi…Lani.

Nyesel juga dulu nonton film ini pertama kali nggak bareng “Agus” gw itu. Padahal dia dulu ngotot ngajak nonton bareng walaupun sebelumnya dia udah nonton sama pacarnya, “filmnya kita banget,” katanya. Yah siapa tahu kalau nonton bareng bisa ada kejadian yang merubah keadaan sekarang? hehe...
Oh, well…the past surely never dies and it definitely kills...

Thursday, November 09, 2006

What’s up on me? #1

Sebagian orang kini jarang catching up lagi dengan teman-temannya karena alasan waktunya tersita oleh kerjaan. Mereka kemudian mengandalkan blog milik temannya untuk mengetahui kabar terbaru tanpa harus menghubungi atau bertemu. Begitu juga dengan gw, hehe…Tipe-tipe yang masih selalu bertanya kapan pekerjaan bisa berhenti jadi alasan setiap ada yang ngajak jalan atau sekedar ketemuan.

Tapi ternyata buat gw setiap saat melihat sesuatu yang baru dan menuliskannya di blog juga bukan hal yang sempat untuk dilakukan, kadang hanya sempat menulisnya di journal tanpa edit namun dilindungi password. Tapi ya itu, yang tahu cuma gw sendiri. Sedangkan gw nggak (mau) idup sendiri di dunia ini, Superman aja nggak tahan, gimana gw?

Nah, karena itu gw sekarang mau bikin daftarnya (diusahakan diupdate per minggu, kalau nggak ya per bulan aja yak). Daftar yang isinya hal-hal terbaru yang gw dapet atau baru kembali gw lakukan. Kalau tertarik sama detailnya silakan melakukan usaha yang lebih ya jangan cuma gratisan baca aja, hehehe…

Here’s the list:

Ponsel 3G, Sony Ericsson K608i. Murah dan terbukti udah bisa dipake buat video call, tapi belum tahu caranya nonton tv.

Dua buku kumpulan cerpen Kompas, Jl, Asmaradhana sama Riwayat Negeri yang Haru. Dua-duanya belum sempet dibaca.

Baru selese baca Batman, A Death In The Family. Ternyata pembaca komik tahun 80-an sadis2, hehe…”Robin died by the readers, not the writers”

Dua mainan yang menghabiskan 5 giga ibook gw, Call of Duty 2 sama Football Manager 2007. Mereka memaksa gw mengusir Miyabi dari hardisk dan pindah ke dalam 3 keping CD (hehe, lumayan banyak ya).

Shaver BrAun. Lebih bersih dari sebelumnya dan lebih gampang dibersihinnya. Sayang masih pakai batere, bukan listrik (abis yg listrik mahal bgt, di atas 1 juta).

Bercinta tanpa rasa.

Dua cerpen selesai, Kado sama Takdir Takbir. Tapi belum bisa wrap, masih mau diedit lagi dikit.

Dua program TV lahir, belum selesai tapi. Rencanya mau gw ajuin ke om gw sang Eksekutif Produser di salah satu stasiun tv dan PH.

Side Job translate-an.

CD player Philips. Beli ini di Electronic Solutions cuma karena modelnya keren. Tapi ternyata suaranya bagus dan bisa ditempel di tembok saking tipisnya! Bener-bener keren! Tapi itu berarti tambah lagi beban cicilan yang harus gw bayar…*sigh*

Bola-bola Speedball penyangga ibook.

Club 8 di itunes jadi ada tiga album. Nouville, The Friend I Once Had sama Strangely Beautiful. Album yang terakhir bagus banget.

Mouse putih Mediatech. Cukup efektif untuk memenangkan pertempuran di Call of Duty 2, hehe..

CSI season 6, Thank You for Smoking, The Lake House, The Girl in The Café, 36, The Unfinished Life. DVD-DVD yang terakhir gw beli dan tonton.

Setelah namatin Star Trek: Encounter, gw beli God Hand. DVD PS2. Ini side storynya Jin di Tekken. Seru dan menghibur. Kita bisa bikin jurus sendiri.

Huff..ternyata lumayan banyak ya. Itu pun baru material aja. Belum mengenai hubungan, pengetahuan, gosip, keyakinan, dll. Sepertinya nggak akan cukup kalau ditulis semua. Tapi namanya juga usaha, siapa tahu abis ini ada yang ngajak ketemuan, huehehe…

Saturday, October 28, 2006

"Ingat-ingatlah semua salahku: caci, dengki, semuanya yang membuatmu sakit. Sudah semuanya? Berapa harus kubayar? Sejuta cek maaf cukup? Atau kau ingin tunai seperti mata dibalas mata? Berapapun kau jual, kubeli!

Untuk maafku? Gratislah untukmu :-)

Selamat Idul Fitri 1427 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Monday, October 09, 2006

Senior yang Junior

Seorang sutradara senior mengatakan TVC yang dulu kami kerjakan tidak maksimal (salah satunya) akibat saya terlalu sok tahu dengan mengajukan arahan untuk menghadirkan storytelling ad yang dilakukan dengan motion control approach, karena menurutnya karakter dan emosi tidak akan terbangun. Mungkin mengenai tidak cocoknya storytelling ad dan motion control menurut dia itu benar. Tapi yang dia lupa (atau memang tidak pernah mengerti) bahwa TVC yang saya dan tim maksud dan inginkan bukan storytelling ad menye-menye atau storytelling yang menyentuh secara mendalam yang memerlukan karakter dan emosi yang mendalam. Maksudnya, iklan yang ingin kami buat bukan untuk menjadi terlalu dramatis, namun menjual dengan elegan dengan cara yang berkesan massif dan canggih namun tetap bercerita. Suatu upaya untuk menggambarkan keunggulan sinyal TELKOMSEL dan inovasinya selama sebelas tahun yang selalu menjadi yang pertama di generasi-generasi GSM di Indonesia. Kami pun sudah punya ‘klasifikasi’ sendiri hasil seloroh CD kami waktu itu, yaitu storryselling ad!

Di pre-pro awal sepertinya director mengerti hal tersebut, ia pun setuju bahwa motion control adalah pendekatan yang paling cocok. Namun sayang ternyata ia tidak mengerti keseluruhan pesan yang ingin disampaikan dalam iklan kami ini.

Bukti dari hal tersebut terjadi pada salah satu, saya ulangi lagi, salah satu klimaks kesalahannya, yaitu salah mengambil shot! Itulah pertama kalinya saya dan art director melihat seorang director salah mengambil shot. Bukan. Yang ia ambil bukan shot untuk stock seperti yang dilakukan director awamnya, ia mengambil shot yang benar-benar tidak berguna.

Biar saya terangkan kesalahannya. Shot yang mau diambil adalah adegan video call. Adegan setelah transisi antar penelepon yang dilakukan dengan cara crash zoom ke dalam layar ponsel lalu warping ke tempat lawan bicara. Untuk mendapatkan tempat lawan bicara tentu saja angle yang harus diambil adalah frontal dari depan, namun yang ia ambil adalah frontal dari samping. Ketika ditanya alasannya,”Iya, kan nanti ada transisi cut/dissolve” Duar!!! Kontan saya dan tim meledak, sepanjang iklan telah disetujui bersama bahwa transisinya tidak akan ada cut sama sekali, tiba-tiba di bagian yang transisinya tidak mungkin dengan cut malah ia lakukan. Meski kemudian ia mengakui sudah salah mengambil shot (dan memang terbukti salah karena kami tidak pakai sama sekali shot2 itu) tapi tetap saja…ia beruntung GM marketing klien sedang diajak makan oleh account director dan president director kami, kalau tidak…

Tapi sepertinya kejadian itu membekas dengan arti yang berbeda di dalam diri sang director, ga papa juga, namun sayangnya ia mengungkapkannya ke banyak orang dengan cara dan pesan yang berbeda (seperti yang ada di dalam blognya), sehingga kami (agency) dan PH mendapat pandangan negatif yang mempengaruhi kredibilitas kami. Saran saya sih, jadi Public Relations aja gih, hasilnya lebih bagus tuh daripada nge-direct.

Mungkin ia sudah senior di bidangnya, namun saat membuat iklan kami ia sama sekali bukan itu. Banyak sekali pekerjaan rumah yang tidak ia kerjakan. Sebagai contoh adalah director shooting board yang plek ketiplek persis eh salah maaf, 80% plek ketiplek, dua puluh persen adalah tambahannya dia yang tidak sesuai dengan pesan iklannya. Dan hal tersebut terjadi berkali-kali meski kami sudah minta revisi, sehingga kami harus merevisi di kantor klien sepuluh menit sebelum final prepro meeting.

Mengenai art director kami yang dianggapnya nggak pede sehingga mengeluarkan terlalu banyak referensi yang membuat (ingat ini menurut dia) iklannya kehilangan identitas, malah yang terjadi waktu itu adalah sebaliknya. Kami melihat ia kebingungan sebenarnya iklannya mau dibuat seperti apa. Treatment-treatmentnya terus bertabrakan dengan isi pesan. Karena itu kami bantu dengan menghadirkan referensi-referensi untuk membantunya. Agency, PH bahkan Post House sih mengerti-mengerti saja, cuma dia saja yang kebingungan sendiri. Seperti timing slot masuknya super, masak tidak diperhitungkan saat offline sehingga kami harus merombak kembali hasil offline, beruntung sebelumnya produser kami sudah mengantisipasi sehingga kami bisa masuk dan melihat hasil offlinenya lebih awal, hal tersebut telah berhasil mencegah kesalahan yang lebih besar. Namun sayang tindakan pencegahan tidak berhasil dilakukan pada tahap online, akibatnya tim agency harus terus supervisi rombakan online hingga jam enam pagi.

Kalau kemudian ia banyak mendapat job setelah orang tau ia menggarap iklan kami, ya sudahlah. Tapi mungkin orang2 itu harus tahu bagaimana sebenarnya iklan kami ini akhirnya bisa jadi. Yaitu karena DOP yang dengan kompetensi dan kesabarannya membuat iklannya tidak blontang blonteng. Lalu ada Mas astrada yang dengan ulet memberi arahan ke semua talent terutama si bapak yang masih juga kaku sampai akhir sementara ia lebih sering ongkang-ongkang kaki bukan karena yang paling mengerti tapi menjadi yang paling terakhir mengerti. Serta peran besar terakhir ada di para editor post house yang sudah cukup sering bekerja dengan kami.

Jadi kalau ternyata ekspektasi director tidak sesuai dengan realita saat membuat iklan kami, mungkin ia harus mulai melihat ke dalam dirinya dahulu daripada sibuk menilai dan bercuap mengenai jeleknya orang lain.