Monday, October 01, 2007

Merinding

Ketika saya sedang memerhatikan bayangan saya di cermin, entah kenapa tiba-tiba saya teringat seorang teman lama, seorang rival lama tepatnya. Kami pernah mencintai seseorang yang sama. Lucu juga saat teringat kembali kompetisi diantara kami.

Dulu saya dengan sangat sadar memutuskan bahwa masa sekolah adalah masa-masa yang tidak boleh disia-siakan sama sekali. Karena itu positioning eh maksudnya saya memosisikan diri ke si dia yang sama-sama kami cintai itu sebagai seseorang yang menawarkan kebebasan dan tak peduli peraturan.

Yang saya lakukan misalnya seperti ini: Sebelum obrolan malam berakhir, saya selalu menawarkan menjemputnya di pagi hari untuk bersama-sama pergi ke sekolah. Meski berjuta-juta kali ditolak, toh akhirnya luluh juga. Saat itulah saya kemudian menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya dengan sengaja menjemputnya sangat telat. Bagi murid baik seperti dirinya yang jarang telat, datang ke sekolah setengah jam lewat dari batas toleransi sama seperti bunuh diri. Ditengah kepanikannya –dia terlihat lebih cantik- saya menawarkan solusi yang…sama sekali bukan solusi, yang penting happy.

Kami pun kemudian madol ke Bandung, padahal dulu belum ada Tol Cipularang. Jadi waktu tempuh ke Bandung lewat Cikampek zaman itu sekitar tiga jam. Begitu sampai di Bandung, kami makan siang di toko Yu dan langsung balik lagi ke Jakarta setelahnya. Agar kami dapat tiba di rumahnya tidak jauh berbeda dengan waktu tiba ia pulang sehari-harinya setelah sekolah dan tambahan bimbingan belajar. Sayang hari itu ibunya tiba-tiba memutuskan untuk menjemputnya. Masuklah saya ke dalam daftar black list mamanya.

Apa yang saya lakukan tentu beda sekali dengan apa yang si rajin rival saya itu lakukan. Ia selalu saja bisa membuatnya terkagum-kagum dengan apa pun yang sudah ia baca. Atau ia juga selalu saja bisa menarik perhatian dia yang kami cinta itu dengan analisa-analisanya tentang sesuatu, baik yang penting maupun tidak. Bahkan, di periode waktu ujian sekolah yang notabene sangat suci bagi seorang siswa untuk bermain atau bertemu dengan teman, rival saya itu setiap harinya selama setengah hari (dari siang/sore hingga malam hari) berhasil terus bersamanya. Saya bisa tahu tentu saja karena suka “sok sedang lewat” dan memerhatikan rumah si dia. Dan kalau sedang belajar seperti itu si dia tidak pernah mau menjawab telepon. Hal menyebalkan ini terus berlangsung hingga puncaknya saat ujian. Selama ujian sekolah berlangsung rival saya itu selalu jadi andalan si dia untuk menjemput dan mengantarnya. Pokoknya di zaman-zaman ujian yang berlangsung beberapa bulan itu rival saya terus-terusan bersama si dia. Sialan.

Tapi bagaimanapun, seorang siswa sekolah pasti mendambakan kebebasan. Dan itulah yang membuat saya unggul dari rival saya. Melewati musim ujian, masa-masa belajar pun berakhir. Dan itu berarti berakhir pula kesempatan rival saya untuk dapat bersamanya. Huahaha…saya pun memenangkan peperangan itu.

Bayangan saya di cermin semakin lebar memerlihatkan senyum penuh kemenangan. Tapi anehnya, bayangan saya tetap tersenyum meski saya sudah manyun. Saya lalu menggerakkan tangan dan kepala saya agar ia ikut bergerak, tapi tetap saja ia hanya bergeming tersenyum. Ini sudah tidak lucu lagi, pikir saya. Tidak lama kemudian, wajah bayangan saya perlahan berubah. Awalnya saya tidak mengenalinya, tapi kemudian saya teringat dengan gaya rambut dan kacamata uniknya itu. Wajah bayangan saya berubah menjadi wajah rival saya.

Apakah ini? Sebuah rasa bersalah? Saya salah di mana? Semuanya fair kok, it’s not like I did any bad trick or so…Saya pun kemudian menelepon beberapa teman lama untuk menanyakan kabar rival saya itu. Sudah kerja di mana, sekarang tinggal di mana, sudah menikah atau belum dan sebagainya-sebagainya.

Namun ternyata tidak ada yang tahu kabarnya sekarang.

Tak seorang pun!

“Bunuh diri kali dia, Rat,” kata salah satu teman saya.

Nah lo.

Friday, August 24, 2007

Romansa Kota -2

Melihat bangunan-bangunan tua yang seksi di daerah kota berhasil menembus dinding yang melindungi rasa peduli terhadap ibukota ini. Andai daerah ini diurus sepenuh hati, suasana romantisnya pasti mengalahkan Clarke Quay dan indahnya bisa setara Venesia.

Perbaikan yang sudah dan sedang dilakukan di daerah ini pun terasa artifisial. Sepertinya hanya untuk alasan pariwisata semata. Hanya untuk enak dipandang mata dan mendatangkan devisa. Seperti keberadaan sebuah kafe yang menempati gedung tertua kedua di daerah itu namun tidak memiliki menu yang khas serta mematok harga yang sangat tidak bersahabat. Luarnya terlihat bercahaya tapi di dalamnya tak tersisa nyawa.

Perbaikan sebenarnya baik karena daerah kota sudah terlalu lama menunggu pengembalian keindahan dirinya. Tapi sebaiknya perbaikan, peremajaan, pembangunan kembali atau apapun namanya yang saat ini sudah dan sedang dilaksanakan itu dilakukan atas tujuan yang lebih mendasar, mempertahankannya sebagai daerah nostalgia penuh romansa di ibukota.

Ketidakpedulian pengatur yang seharusnya memikirkan cara mengatur bukan asal atur sekadar agar mereka tambah subur dan nyenyak tidur terhadap daerah kota menguatkan sebuah rasa sesal dalam diri saya. Penyesalan tidak hadir di saat para calon pemimpin ibukota ini menyampaikan aspirasinya. Meski belakangan saya mengetahui bahwa ajang tersebut hanya menjadi sebuah formalitas tanpa makna dan terkesan hura-hura, tetap saja saya seharusnya hadir di sana.

Ingin saya mendengarkan langsung seperti apa kata-kata yang diucapkan mereka. Bukan hanya apa kata-katanya, seperti apa struktur kalimatnya, tapi saya juga mau melihat mata mereka saat mengucapkannya, seperti apa bahasa tubuhnya serta bagaimana reaksi orang-orang yang mendengarnya.

Kehadiran saya di sana pasti dapat memperjelas bayangan saya saat calon yang saya bangun kampanyenya menyampaikan aspirasi dan pesannya yang menginspirasi seluruh hadirin.

Janji lima tahun ke depan itu sudah berkurang satu tahun, dan saya belum sempat melakukan apa-apa. Sialan.

Wednesday, August 22, 2007

Romansa Kota -1

Dengan kuatnya, aura bangunan-bangunan tua ini lembutkan kuduk. Hidupkan segala romantisme. Hilangkan semua rasa tanpa rasa.

Kamu yang di sana, hati ini sedang terbuka, memintamu masuk ke dalamnya, hanya kali ini saja, saat ini juga.

Monday, August 20, 2007

Merdekanya anak 5 tahun

Lucu deh. Weekend 17-an kemarin saya pergi bersama keponakan, adik dan sepupu-sepupu saya. Melihat banyak sekali bendera yang dikibarkan di depan rumah-rumah, keponakan saya yang baru berumur 5 tahun penasaran, “Kok banyak gituan sih?”

“Itu bendera, kan ada yang lagi ulang tahun,” kata saya. “Ayah ya yg ulang tahun? Ibu? Kak ini? Mba itu?.....” dia terus menyebutkan semua yang dia kenal.

“Bukan, yang ulang tahun Indonesia, negara kita”

“Negara kita suka bendera ya?”

……(hening)…….

“Hmm…nggak gitu, bendera itu biar ramai, kalau lagi ulang tahun kan harus ramai, kayak pesta ulang tahun kamu itu,” sepupu saya mencoba menjelaskan.

“Iya, yang lomba-lomba kemarin di rumah itu kan pesta ulang tahunnya negara kita,” adik saya mencoba menambahkan.

“Kok kita kemarin nggak bawa kado?”

….(hening)…

“Soalnya….” saya kebingungan menjawabnya

“Ah aku kalau ulang tahun nggak mau ada bendera sama lomba-lomba ah, nanti pada nggak bawa kado,” keponakan saya membuat kesimpulan.

…(hening lagi)….

….(masih hening)….

Tuesday, August 07, 2007

a knife to kill the cliche


I've prepared a knife
because wounds never heal,
as long as you try,
but never again should you be able to cry.

For just one second it goes away,
but once again it tries to sway.

I've always wondered what it felt like,
just to lead a normal life.

A life without stress or hurt or loss,
yet one without love,
for it is always lost.

A thought or feeling of normal,
pulled away by the truth of life.
Always knowing your caught
in the middle of a strife.

I always wished to be loved,
to be held and to be hugged,
but now I find its overrated
and so much easier to just be hated.

I once loved
I trusted and hugged
but before long I was betrayed.
and forevermore unable to trade.

I tried to trust and love again but
once I got close once more was I slayed.
Even though the cuts have healed
They still lay there beneath my shield.

In a sense I've survived
only by knowing I must decide.
I have ambitions and futures and hopes,
and to prove my strength they shall never be revoked.

The knife sits under my bed,
never knowing when next it shall shed.

My tiny ray of hope lies in that knife.

Monday, August 06, 2007

Choke on a regret

Dulu, saya tidak bilang iya waktu dia bilang suka. Padahal pengen bilang iya. Karena saya sudah berpikir-pikir lebih panjang dan sepertinya bukan dia yang cocok untuk rencana besar saya. Tapi dia bisa masuk ke dalam salah satu pos dalam rencana besar itu. Saya belum boleh kehilangan dia.

Saya kemudian menolaknya dengan cara paling halus dan sebaik mungkin meski akhirnya membuat pesannya tidak terlalu jelas. Hasilnya sih sesuai mau saya, dia tidak mundur, dan sepertinya mengerti dan baik-baik saja. Cukup dewasa juga. Malah saya kemudian yang merasa bersalah karena kalau dipikir saya yang egois, lebih sakit ditusuk langsung mati daripada pelan-pelan dan merasakan sakitnya terus-terusan kan?

Belum lagi kemudian dia tiba-tiba menghilang. Tanpa kabar tanpa sebab. Perkiraan saya adalah dia menyadari pesan sebenarnya. Langsung deh minta maaf walau rasanya kok ilfil karena ternyata dia belum dewasa, gitu aja kok ngilang.

Dia belum memaafkan saya, saya pun menjadi kecewa. Tapi mungkin karena pada dasarnya saya peduli sama dia, ingin sekali saya memberitahu dia betapa egoisnya saya waktu itu.

I miss her…I think.

Wednesday, August 01, 2007

dari casablanca menuju surga

Andai ku lebih mengenalmu
Pasti ku akan pernah melihatmu berteriak
Atau memberontak
Tidak hanya berkata ramah dan sopan

Andai ku lebih mengenalmu
Ku akan tahu siapa musuhmu
Dan ikut dalam perangmu
Tuk capai bahagiamu

Andai ku lebih mengenalmu
Entah ku akan bisa
Atau mau
menerima kepergianmu

Untuk Suryahito, Jurnal ‘99
Selamat jalan, kawan.
Mengenalmu adalah sebuah kehormatan.

Monday, July 30, 2007

Membosankan

Mendua, bosan!
Istri teman, perawan, anak gedongan
Bosan
Enakan ditusuk dalam-dalam

Baikan, bosan!
Kenalan, temenan, pacaran, balik temenan
Bosan
Enakan musuhan

Pembuktian, bosan!
Romantisme, kesetiaan, kemapanan, kedewasaan
Bosan
Enakan ngasih cobaan

Buktikanlah kau yang buktikan
Aku sedang bosan

Thursday, July 26, 2007

dicium istri orang

- Dia kayak loe, ganggu. Nggak mikir perasaan orang kalo ngomong. Nyebelin. Gw cium bibirnya aja. Abis gemes.
+ Goblok!
- Bukan goblok, gw mabok!
+ Mabok cinta?
- Halah. Dibilangin gemes.
+ Loe remes?
- :-*!!!
+ Itu gemes juga?
- Bukan, itu cinta.
+ Goblok…

Thursday, July 19, 2007

Do they deserve it?

Kurang lebih setahun yang lalu, seorang teman yang baik terkena penyakit mata, uveitis. Peradangan di Retina yang membuat satu matanya tidak dapat melihat sama sekali dan satunya lagi buram terlapisi lapisan berwarna kuning.

Sekitar enam bulan yang lalu, seorang CD yang juga baik terkena Myasthenia Gravis. Kondisi di mana otot tidak memiliki kekuatan sama sekali karena zat yang dikeluarkan syaraf (namanya acetylcholine) agar otot bergerak dihancurkan oleh antibodi sang CD. Dalam kata lain, antibodinya fed up dan melawan balik. “Enough is enough!” mungkin kata mereka.

Kemudian beberapa bulan yang lalu, istri yang baik seorang teman baru divonis terkena kanker hati. Kalau yang ini udah tahu lah ya penyakitnya seganas apa.

Saya kemudian sok playing God, sok-sokan sebagai yang menciptakan alasan mengapa mereka harus mengalami itu semua.

Yang pertama. Selain baik, teman saya yang baik itu juga cakep, ya menarik lah, eh nggak ding benar yang awal, cakep (tomboy, jadi nggak cocok dibilang cantik). Sudah bisa ditebak kan masalahnya, bagaimana ia harus menolak cowok-cowok dengan cara yang paling halus dan tidak menyakitkan. “Kita masih bisa temenan kan” mungkin ia sudah ucapkan ratusan kali, ups berlebihan, ribuan maksudnya, hehe…Itulah yang menjadi penyebab penyakitnya. Bukan, penyakitnya timbul bukan karena ia disumpahin ribuan barisan patah hati, tapi karena sebenarnya ia merasa dikhianati. Merasa dikhianati karena ia sudah percaya kepada mereka sebagai teman, namun saat mereka meminta lebih, itu adalah pengkhianatan terhadap kepercayaannya. Dan pengkhianatan selalu melahirkan dendam. Nah, dendam yang tidak tersalurkan itulah penyebab penyakitnya.

Trus untuk sang CD yang baik, penyakitnya adalah sebuah peringatan. Meski tidak cinta terhadap diri sendiri tapi bukan berarti boleh seenaknya sendiri. Kecintaannya terhadap hal lain selain dirinya harus dikurangi, sinkronisasi jiwa dan raganya masih lebih penting daripada hal lain yang ia cintai itu. Ia harus tetap ada karena masih banyak yang mencintai dan membutuhkannya. Ia harus menyadari itu, itulah mengapa ia harus mengalami penyakitnya.

Lalu mengenai istri yang baik…Hal itu terjadi agar teman kantor suaminya menjalankan takdirnya sebagai karyawan yang selalu overload pekerjaannya, hehe apa hubungannya. Alasannya adalah simply cobaan. Mereka sudah sampai di tahap terakhir cobaan-cobaan hidup. Saat mereka menyadarinya, melewatinya hanya semudah menutup mata dengan sengaja dan mereka sekeluarga akan bahagia selamanya.

Jadi, sebenarnya bukan pantas atau tidak, tapi tinggal mau mengambil hikmahnya atau tidak, cos’ there’s always a bigger thing from everything that we’ve been doing.

Monday, July 16, 2007

Kompas Minggu yang Bersahabat

Tertanggal 15 Juli, 2007, surat kabar versi hari Minggu ini membawa ketenangan tersendiri. Tiga buah berita utamanya memberi suntikan optimisme dengan rasa sakitnya masing-masing.

Berita pertama
Headline “Kalah dengan Kepala Tegak” beserta foto Bambang Pamungkas yang sedang menarik kedua tangan M. Ridwan untuk berdiri berhasil menyentil hati. Ditambah isi berita betapa pendukung Indonesia yang mulai dewasa, mereka tidak lagi menghujat atas kekalahan Indonesia, mereka terus meneriakkan “Indonesia…Indonesia..." hingga akhir pertandingan. Mereka juga terus memberikan dukungan dan motivasi setelah pertandingan, “Bambang, jangan biarkan teman-temanmu menundukkan kepala,” ujar mereka mencoba memberi percikan semangat yang sedang padam.

Berita kedua
Kali ini kejujuran pemimpin bangsa yang lumayan menyentuh. Betapa hening ternyata juga menyelimuti tribun VVIP di menit-menit akhir pertandingan. Lalu saat peluit panjang dibunyikan, meski masih sempat menyalami pejabat Arab Saudi yang hadir di sana, dalam kesenyapan Presiden SBY langsung meninggalkan tribun tanpa kata-kata dan lambaian tangan. Malam itu beliau sama seperti saya dan jutaan penonton tim merah putih lainnya, sedih tertampar harapan semu.

Berita ketiga
Tentang film “The Photograph". Tentang Johan, seorang juru foto keliling yang hidup dalam kabut rasa bersalah. Ia kemudian bertemu seseorang yang membuatnya berani membuka kotak berisi benda-benda yang memeram tragedi masa lalunya. Ia berhenti takut atas ketakutan yang ia ciptakan sendiri.

Bagi saya, ketiga berita tersebut menegaskan satu pesan, bahwa rasa sakit tidak harus disembunyikan, dikubur atau dibuang dari ingatan, tapi justru harus dimasuki dan dihadapi. Pedih dan perih harus dikunyah, dicecap hingga habis pedih perihnya, dengan begitu rasa sakit dapat dilewati dan melahirkan optimisme.

Kejujuran terhadap hati sendiri yang masih sulit dilakukan oleh sebagian besar orang.

Tuesday, July 10, 2007

Unspoken Little Truth

Beberapa wanita mendekati kepala tiga dan sudah menjadi senior di pekerjaannya memiliki cerita cinta yang hampir sama. Dekatnya mereka dengan “deadline” membuat mereka tidak ingin lagi menjalankan proses hubungan yang panjang. Ingin langsung mendapatkan paket yang sempurna. Alhasil, puluhan pria gugur sebelum masuk ke medan pertempuran, singkatnya mereka menjadi pengumpul penggemar.

Dengan keyakinan bahwa “the one” masih belum mereka temukan, para wanita ini tanpa sadar semakin hari semakin tinggi menetapkan standar pria-pria yang dapat berkencan dengan mereka. Berpenghasilan di level manager. Bukan penggoda namun dapat terus menjaga perasaan membara. Harus setia. Sudah pernah keliling dunia, minimum asia. Tidak menggunakan roda dua sehari-harinya, kecuali cc-nya di atas 600. Mobil manual boleh, selama umurnya belum tiga tahun, dst.

Suatu saat, salah satu wanita ini bertemu dengan pria yang berniat untuk selalu jujur dan setia kepadanya, selamanya. Dimulai dengan kesiapan akan melapor saat mau bertemu wanita lain selain dia. Wanita merasa cocok dengan pria.

Namun dalam perkembangannya wanita tahu bahwa pria ini berpenghasilan sedikit di bawah level manager, roda duanya hanya ber-cc seratusan, mobil matic tapi umurnya lebih dari lima tahun serta hal-hal lain di bawah standarnya. Wanita pun meninggalkannya, tanpa kata-kata.

Tak lama kemudian wanita mengetahui tanpa sengaja kalau si pria bukanlah pria yang ia kenal sebelumnya dari sisi harta. Ternyata pria itu memiliki kekayaan tiga kali lipat dari standar wanita. Rupanya sang wanitalah yang sedang dites oleh pria.

In relationship, the enemy of truth is not lie, it’s the myth

Wednesday, July 04, 2007

Menghapus blog

Saya punya beberapa blog, banyak tepatnya, tapi terakhir tinggal tiga. Yang pertama tentu saja blog ini, pertama dibuat dan untuk siapa saja. Blog kedua untuk saya sendiri, kalau-kalau file jurnal berpassword saya tidak sengaja terhapus. Dan yang ketiga adalah blog saya dan dia.

Ya, blog ketiga itu adalah blog kami berdua. Tapi maaf saya tidak bisa memberitahu siapa dia. Mungkin nanti kalau keadaannya berbeda, kita lihat saja.

Menyenangkan sebenarnya memiliki blog bersama, setidaknya saya menganggapnya seperti itu. Banyak hal yang tidak sempat terucap bisa tersampaikan. Saya memang tipe yang lebih bisa mengerti seseorang dari tulisannya daripada perkataannya. Dan sebaliknya, saya lebih bisa berkata-kata dengan aksara daripada berbicara empat mata.

Tapi kemudian kepercayaan saya ke dia pudar. Saya merasa tidak nyaman lagi. Dia menjadi anak manja yang ahli sekali memutarbalikkan fakta. Sepertinya dia menjadi terlalu tinggi menilai dirinya sendiri dan merasa sudah mengerti seluruhnya saya. Dia pun menjadi hakim yang tidak pernah obyektif.

Karena itulah saya hapus blog itu.

Selain itu saya juga berhenti berbicara kepadanya walau masih harus bertemu dengannya. Kekanak-kanakan? Bisa. Terlalu capek? Sepertinya sih itu.

Saya kemudian menceritakan hal ini kepada seorang teman dekat (minus identitas si dia) dan bertanya mengapa kok saya bisa melakukan itu. “…karena nggak banyak orang yang bisa dapet kepercayaan dari loe, jadi kadang loe suka terlalu tinggi memposisikan orang yang loe percaya,” begitu katanya. Komentar seperti ini memang yang membuat saya selalu menganggap dia sebagai sahabat.

Friday, June 22, 2007

Dihakimi karena blog

Seorang director senior protes ke orang-orang yang protes dan menghakiminya setelah membaca blognya. Orang-orang yang protes memprotes nama-nama orang dan institusi yang disebutkan untuk direndahkan oleh director. Director menolak karena ia menganggap blognya adalah diary pribadinya. Hmm…Kalau merasa untuk pribadi kok di posting untuk umum ya?

Menurut saya pertanyaan dasarnya adalah, “Blog itu diary pribadi atau media massa?” Mungkin bukan persamaan yang tepat tapi dua itu adalah kutubnya.

Postingan di blog yang dibuka untuk umum sudah menjadi media massa, walaupun itu namanya blog. Karena ada usaha dari penulisnya untuk menyebarluaskan (dalam hal ini menjadikannya postingan umum). Tapi kalau penulisnya menulis di blog/file yang diberi password dan kemudian orang lain menjebolnya, itu baru salah karena itu diary pribadi.

Beberapa orang mengatakan, blog yang bagus sifatnya personal. Menurut saya sih, itu karena sifat dasar manusia yang suka peeping. Terbukti dari betapa lakunya produk gossip dan video pribadi. Bahkan karya serius yang mengambil kebutuhan mengintip manusia seperti film Malena, Trilogy Griffine & Sabine-nya Nick Bantock, cerpennya Seno Gumira yang saya lupa judulnya dan tentunya masih banyak lagi lainnya disuka.

Saya pribadi juga mempergunakan blog sebagai sarana peeping. Dengan maksud baik tapinya (ada nggak sih peeping tapi maksudnya baik?). Saya mempergunakannya untuk mencari tahu kabar orang lain. Saya suka malas catching up dengan teman, kenalan atau bahkan mantan dengan ketemuan atau telfonan. Bukan apa-apa, saya suka bingung mau ngomong apa, selain itu saya juga (tanpa sengaja tentunya) suka mengeluarkan kata-kata yang terlalu sarkas atau yang salah diartikan hingga akhirnya membuat semua jadi berantakan. Lagipula, buat saya terkadang tulisan lebih jujur dibanding lisan. Saya jadi lebih bisa merasakan apa yang mereka (dan Anda) sedang rasakan.

Tapi ternyata banyak juga yang melakukan itu ke saya.

Dan seperti cerita si director di atas, saya juga dihakimi oleh orang-orang yang membaca blog saya (mungkin Anda termasuk salah satunya? ;p). Seru loh. Ada yang memuji tulisan saya bagus, ada yang mengatakan saya tipe orang yang sensitive bahkan ada yang mencap saya gay. Proteskah saya? Deep down sih mau, karena fakta yang sebenarnya berlawanan. Tapi haruskah? Buat apa juga? Biarin saja seperti itu. Selama saya tidak merendahkan orang lain dan yang direndahkan orang lain cuma saya, ya nggak papa, toh semua itu akan membuat saya semakin kaya (atau gila?).

Atau mungkin tulisan-tulisan itu memang menggambarkan saya yang sebenarnya? Ngeri juga kalau begitu. Yang pasti saya memang dari awal memisahkan tulisan di blog ini dengan diary pribadi. Ada beberapa yang topiknya sama, namun kemasan, gaya bahasa dan isi sudah pasti berbeda. Segala macam umpatan, celaan, penghakiman, nama serta rahasia terungkap di dalam tulisan yang disimpan di beberapa file dengan password yang cuma saya sendiri mengetahuinya.

Atau mungkin tulisan-tulisan ini sengaja ditulis untuk menciptakan imej-imej seperti itu karena sebenarnya cita-cita saya menjadi Deputy Communication Director gedung putih yang membuat propaganda dan menjaga imej yang berbeda dengan aslinya. Bisa juga….

Yang pasti kalau nantinya ada yang bisa membuka file-file berpassword itu, berarti dia benar-benar membenci saya atau saya cinta mati kepadanya, huahahaha…

Monday, May 21, 2007

Suatu hari di akhir-akhir kontrak 3 minggu gw sebagai deputi direktur komunikasi yang memperbantukan pembuatan pidato rencana kerja tahunan kepala negara yang sangat peduli dengan kemanusiaan ini tiba-tiba saja gw dikejutkan dengan kedatangan beliau di ruangan gw di istana negara.

“Selamat malam, Bapak Presiden”

“Malam. Bagaimana, sudah bisa berbicara seperti saya?”

“Memang sudah seharusnya bisa, Pak. Tapi, bagaimanapun, saya tidak akan pernah bisa seperti Bapak.”

Ada satu kebijakan luar negeri mengenai pengiriman pasukan negara ini ke tempat-tempat terjadinya konflik akibat ketidakadilan yang gw tidak setuju. Kebijakan luar negeri yang tahun ini beliau akan ucapkan di depan ratusan juta rakyatnya adalah sebuah kompromi, beliau tidak ingin menjadi negara ini menjadi polisi dunia tapi juga tidak mau jadi pemimpin negara terkuat di dunia yang tidak memedulikan negara lain yang sedang ditindas tirani.

“Tugasmu memang hanya membahasakan kebijakan yang aku buat menjadi dekat dengan kenyataan kan? Bukan membuatnya menjadi harapan semu dengan membuat kebijakan baru.”

“Kontrak saya akan segera habis, Pak. Kalaupun saya tidak membuat perubahan, menciptakan harapan akan menjadi sangat berarti.”

“Tapi percayalah, tidak akan semudah itu bila kamu di posisi yang harus menanggung semua konsekwensinya. Kompromi walau tidak sesuai dengan kata hati adalah pilihan yang masuk akal.”

Gw mengerti posisinya, karena apabila beliau membuat kebijakan luar negeri negara ini untuk memperkuat posisinya menjadi polisi dunia, pasti akan mendapat kecaman dari senat dan dewan-dewan tinggi lainnya karena dianggap mengorbankan anak bangsa dan kebijakannya pun tidak akan menjadi undang-undang. Padahal negara ini sangat mampu dan sudah seharunya mau menjalankan doktrin “bebas dari tirani di mana saja di dunia” dengan alasan yang benar, bukan dengan niatan untuk mengelabuhi dunia agar negara ini bisa mendapat minyak bumi tanpa harus membeli.

“Menurut kamu, mengapa seluruh dunia menganggap rakyat negara dunia ketiga yang sedang ditindas tirani nyawanya lebih rendah dibandingkan rakyat negara kita?”

“Entahlah, Pak. Tapi memang begitu.”

Presiden yang sangat peduli kemanusian ini langsung meninggalkan ruangan gw dengan cukup marah dan sedikit kecewa.

Keesokan paginya, gw dipanggil untuk ikut dalam rapat senior staf. Beliau mau mengubah kebijakan luar negerinya.

“Kebebasan berbicara di seluruh dunia ini berawal dari doktrin kita, begitu juga kesetaraan perawatan kesehatan yang sedan kita usahakan. Sepertinya dunia membutuhkan satu doktrin lagi, bebas dari tirani, bagaimana kalian setuju?”

Seluruh senior staf tiba-tiba sibuk dengan hp masing-masing, mereka menelepon pihak-pihak yang terkait dengan perubahan kebijakan itu.

“Aku anggap itu iya.”

“Terima kasih Bapak Presiden.”

Semua senior staf berjalan keluar ruangan. Tapi…

“Burat, sebentar. Di masa kuliah kamu membuat beberapa tulisan tentang kesetaraan manusia di seluruh dunia, kamu juga pernah menjadi anggota NGO yang mendukung itu…yang kamu lakukan kemarin itu sangat berisiko, kamu tahu itu? Kamu bisa mendapat penghakiman yang 180 derajat berlawanan dengan yang kamu sebenarnya bela.”

“Betul, Pak. Saya bisa kehilangan semuanya.”

“Jadi mengapa?”

“Karena apabila sudah ada yang mengerti mengapa, saya bisa berhenti mencari.”

“Seperti sekarang ini?”

“Sepertinya, iya.”

“Kalau begitu kontrak kamu perlu diperbaharui.”

“Terima kasih, Bapak Presiden.”

Wednesday, May 02, 2007

Gut Feeling

Dua hari yang lalu gw beli tas Astro Boy warna item buat kado sepupu. Waktu milih udah mau ngambil yang putih, “more classy,” kata Ayu waktu itu. Cuman karena mikir item lebih aman dan gampang masuk sama baju apa aja, jadi ngambil yang item. Ternyata eh ternyata, sepupu gw udh punya barang yang sama! Alhasil besoknya gw tukerin lagi dah ama yang putih, untung boleh.

Beberapa hari sebelumnya pernah juga tiba-tiba rasanya harus nelfon temen lama yang udah nggak tahu kabarnya. Tapi kok takut ngeganggu dan akhirnya nggak jadi. Kemaren akhirnya nelpon dia dan ternyata pas waktu gw pengen banget nelfon dia beberapa hari sebelumnya, dia lagi makan di samping kantor.

Beberapa hari yang lalu, pengen banget ketemu dia dan bawain semacam Redoxon gitu. Setelah mikir-mikir kayaknya cuma akan bikin dia tambah capek dan bisa dimarahin mamanya, jadinya nggak jadi. Ternyata hari ini dia masuk rumah sakit.

Gut feeling shouldn’t be ignored.

Monday, April 30, 2007

paths

Dua anak lelaki lahir ke dunia sebagai sepupu berselisih satu tahun baru. Mereka sama-sama anak pertama. Para orang tua mereka memang merencanakannya. Agar mereka bisa tumbuh bersama dan saling menjaga.

Anak lelaki pertama tumbuh seperti anak lelaki biasanya, aktif, lincah, punya banyak teman, suka menjadi pusat perhatian, selalu main ke sana ke sini yang selalu membuat was-was orang tua.

Anak lelaki kedua sedikit berbeda. Toh memang orang tuanya juga berbeda. Yang ini agak sedikit pendiam. Sibuk dengan dunianya sendiri dan tidak memiliki banyak teman. Ia bahkan takut menjadi pusat perhatian karena biasanya ia akan memuntahkan makanan. Namun ia jarang membuat was-was orang tuanya.

Dua anak lelaki pun tumbuh menjadi remaja.

Anak lelaki pertama mengalami masa puber di waktu yang tepat. Ia menyukai anak perempuan seumuran dan disukai juga oleh mereka. Kehidupan percintaannya pun dimulai, mengikis waktu yang seharusnya ia gunakan untuk mengejar nilai-nilai pelajaran. Ia bisa tentu saja, hanya hatinya sedang berada di seseorang yang mencintainya. Orang tuanya sedikit kecewa dengan pilihan hatinya, mereka menyebut-nyebut sosok sepupunya sebagai yang harus diikuti prestasinya. Mereka pun kemudian mulai membatasi kebebasannya.

Sedangkan sepupunya, anak lelaki kedua baru saja keluar dari dunia ciptaannya. Ia baru mengerti arti pertemanan, persahabatan dan dendam. Pelajaran yang mudah ia mengerti dan membuatnya menjadi unggulan mulai ditinggalkannya demi status dalam pergaulan. Ia menjadi iri dengan sepupunya karena lebih dulu merasakan seperti apa cinta sepenuh hati yang terbalas. Orang tua anak lelaki kedua masih merasa aman-aman saja dengan prestasi dan perkembangan pertemanan anak sulungnya. Mereka sama sekali tidak membatasi gerak-gerik dan privatisasi, bahkan memfasilitasi.

Saat beranjak dewasa, mereka sama-sama kehilangan kepala sekaligus tulang punggung keluarga, papa dan bapaknya.

Lelaki pertama kehilangan untuk selamanya. Papanya terlalu dalam memikirkan penyelesaian masalah pekerjaannya hingga stroke menyerangnya, tepat di malam saat ia bertengkar hebat dengannya. Anak lelaki pertama kehilangan arah. Menjadi kepala dan tulang punggungg keluarga sebelum waktunya tidak pernah ada dalam bayangannya. Ia kemudian terjerat ke dalam lingkaran setan dan meninggalkan ibu dan adik-adiknya tanpa arahan.


Lelaki kedua tidak kehilangan bapaknya selamanya, bapaknya ada namun tak pernah ada. Seperti zombie. Anak lelaki tidak tahan, ia melarikan diri. Mecoba hidup sendiri meski tidak melepaskan hubungan biologis dan ekonomi dengan keluarganya. Ia kemudian menemukan jati dirinya di lingkaran pertemanan. Para mantan, kawan dan lawan, sahabat, semuanya menempatkan ia di posisi yang nyaman. Namun ia tidak tahu posisinya di keluarga, ia tidak tahu bagaimana harus mencintai mereka, apa yang harus dilakukan atau dikorbankan, peran seperti apa yang ia seharusnya lakonkan.

Kini mereka sama-sama hampir sampai di titik kedewasaan.

Lelaki pertama kini telah menjadi pria dan berhasil keluar dari lingkaran setan. Namun belum, ia belum berhasil menjadi kepala sekaligus tulang punggung keluarga. Ia telah memilih jalan lain, membentuk keluarga baru yang resmi tanpa perlu membiayai semuanya sendiri.

Lelaki kedua juga tumbuh menjadi pria. Ia berhasil menjaga perannya di lingkaran pertemanan dan mengerti sekali peran yang harus ia jalankan di keluarganya. Namun ia pun sama dengan pria pertama yang tidak juga menjalankan peran sebagai kepala dan tulang punggung keluarga dengan baik. Pria kedua malah lebih memilih membiayai sendiri “bulan madu” ke luar negeri bersama seseorang yang belum dinikahi.

Itulah dua pria bersaudara di dua jalur kehidupan berbeda namun berada di titik kedewasaan yang sama, mengesampingkan keluarga.

Little Girl

There’s a little girl
She’s real cute
And a real eater
But she’s not fat
Nor love cat
Sometimes she wears hat
Whenever she pretends to be a male brat

Everyone loves her and so do i
But I’m not a lover boy
I don’t know how to care
All I know I hurt every people I know
To let it out all the hatred in me
So I can love her with pure heart

But, lately she keep asking me to stop making her happy
Asked me to mad at her
or just stop being nice
She hated me for not being hatred

So I stop hurting people
And start hurting her
She asked to be drown when she’s drowning
Buried when she falls into a hole
i pinched, she weep
i stabbed, she bleed
i chopped, she’s dead

You should’ve been careful of your wish, dear...

Friday, April 20, 2007

Kelam itu nyaman

Cuma satu orang dewi yang bisa bikin kayak gini, nggak lagi-lagi!















Culun ya, biarin lah, momentnya cuma sekali, coba dinikmatin...

Monday, February 26, 2007

Being more comfortable in hell

Kalau sudah bisa merasa nyaman di neraka, maka berada di mana pun pasti akan terasa lebih enak.

Mindset yang membentukku untuk tidak takut dan tidak menyerah saat berada di keadaan seburuk apapun.

Jeleknya, mindset itu mulai menjadi attitude. Dan menganggap semua orang juga kuat menghadapi panasnya neraka. Lupa kalau sebagian besar dari mereka mendengar kata neraka saja langsung menutup kuping rapat2 dan lari menghindar.

AEs yang lebih suka menjadi messenger pun meledak, karena secara terang2an kutunjukan di mata pemimpinnya betapa bodohnya mereka. Aku pun dimusuhi. Meski didukung oleh teman2 kreatif dan bos mereka sendiri, tetap saja akulah target utama penembak bayaran mereka, apabila mereka mampu menyewanya.

Ada juga yang sakitnya bisa langsung kurasa. Dalam beberapa bulan terakhir, berhasil memotivasi beberapa teman untuk lebih berani menulis. Tapi efeknya di luar perkiraan, ada yang sampai mengabaikan tangisan anaknya yang meminta susu atau yang lupa makan karena terlalu bersemangat menulis blog.

Rasa bersalah yang terakumulasi membentuk rasa sakit berkumpul lagi di dalam diri, menyayat perih. Dan selalu, cara menghilangkannya tidak dengan mengguyurnya dengan hura-hura, tapi dengan rasa bersalah yang lebih besar lagi. So here I am, listening to Damien Rice, discouraging and gloomy…

This is not what I'd do
It's the wrong kind of place
To be cheating on you
It's the wrong time
but she's pulling me through
It's a small crime
And I've got no excuse

But do you really feel alive without me?
If so, be free
If not, leave him for me
Before one of us has accidental babies
For we are in love

Wednesday, February 14, 2007

Selamat Hari Sadar Kasih Sayang

Akhir-akhir ini semakin bosan mendengar semua pihak mengatakan hari kasih sayang sebaiknya tidak hanya dirayakan berdua dengan yang paling dikasihi, tapi waktunya menyebarkan kasih sayang ke semua orang. Huek! Sok bijak, sok tahu! Ngajarin orang tapi sendirinya tidak mampu melakukan, penjerumusan!

Tapi tidak setuju juga dengan orang-orang yang mengganggap Valentine’s Day adalah hari kasih sayangnya orang bule, kita nggak usah ikut-ikutan, bisa dosa. Wah dangkalnya…kasihan yah? Harusnya orang-orang kayak gini segera googling dan baca sejarahnya, biar mereka tahu kalau perjuangan Saint Valentinus itu mungkin jauh lebih bernilai dibandingkan fanatisme mereka yang faktanya belum mengamalkan satupun ajaran agamanya.

Secara umum, manusia (apalagi yang ada di Jakarta) masih perlu diingatkan tentang kasih sayang, tentang kepedulian, tentang cinta. Perhatikan saja orang-orang (sampling: penduduk Jakarta) saat berada di ruang publik, mereka semua kini sudah menjadi sangat individualis. Sebuah mobil mewah keluar dari pintu gerbang yang besar dengan halaman luas tanpa sampah secuil pun, tidak berapa lama berjalan di jalan umum kaca mobil dibuka dan sebuah tissue yang ‘dikremes’ meloncat keluar.

Masuk ke dalam ruang publik yang agak kecil seperti kantor, para individu pun merasa menjadi orang paling penting, semakin penting mereka maka semakin bangga mereka menjadi manusia. Padahal kwajibannya dilakukan oleh orang lain bahkan tidak jarang oleh anak buahnya.

Siapa mereka itu? Ya tentu saja saya, dan Anda. Juga mungkin keluarga saya dan seluruh keluarga Anda. Teman-teman saya, teman-teman Anda, dan seterusnya.

Tidak, saya tidak akan menjadi editor majalah kebanyakan yang mencoba mencerahkan dengan menawarkan prinsip “everyday is a valentine day”, basi. Tapi saya juga tidak mau tipe yang menyarankan untuk melewatkan hari kasih sayang tanpa makna.

Jadi? Jadi apanya? Mulai saja belum, hehe…Mendekati hari kasih sayang ini, saya memang selalu bingung sebenarnya ada di ‘blok’ mana. Kalaupun sudah berpihak, alasan keberpihakannya juga nggak jelas. Jadi daripada nggak jelas kita bikin aja satu ‘blok’ baru, toh nyatanya negara-negara non-blok yang tidak pro barat atau timur juga sudah menjadi sebuah blok, ya nggak?

Kita ciptakan saja blok yang berisi orang-orang yang tidak mengumbar cinta di hari kasih sayang namun mengurangi sikap ignorance-nya setiap saat. Seperti mencoba mencari kata-kata tepat untuk menyapa dibandingkan sibuk dengan ponsel dan bergaya ‘cool’. Atau memaksa diri untuk berhasil tersenyum di saat suasana rapat memanas dibandingkan dengan mudahnya meninggalkan ruangan.

Yup, ignorance menghisap rasa peduli dan mengubahnya menjadi ego. Nikmat memang ketika kita berego tinggi, tapi tidak akan membuat kita menjadi orang yang lebih baik. Sampai kapan pun.

Susah? Pasti. That’s why it would be worth it.

Jadi, akhirnya jadi juga, hihihi…Selamat hari kasih sayang bagi yang dengan sadar merayakan.

Tuesday, January 30, 2007

Membangun Istana Kesedihan

Sangat membanggakan memiliki istana kesedihan termegah yang berpondasikan keluarga inti terpecah-belah ini. Serpihannya mengisi setiap kekosongan yang ditimbulkan kebahagiaan. Ketidakakuran, salah komunikasi, menuding dan selalu membela diri adalah ramuan ajaib tanpa kelemahan yang selalu berhasil mencegah kedamaian. Siapa yang membutuhkan kedamaian di dalam megahnya istana kepedihan?

Pondasi yang kuat tentu harus didukung oleh pilar-pilar utama yang kokoh. Akan melewatkan pernikahan sepupu demi mimpi pribadi ke luar negeri dengan uang keringat sendiri bisa jadi salah satu pilar megahnya istana ini. Bahan tadi memperkokoh pilar ketidakberadaan di keluarga besar. Andai saja mereka mau memecat saya dari keluarga, pilar ini pasti menjadi yang pertama abadi!

Di sisi lain juga berdiri kuat pilar ditinggal teman yang semakin kokoh dipenuhi kekosongan akibat akan perginya seorang teman kantor yang sudah menjadi kawan. Sudah terbayang pilar ini semakin kokoh menahan terpaan kegembiraan yang kadang datang menghadang. Pilar ditinggal teman ini sudah mulai terbangun dari SMP, jangan sampai saya yang mengatakan selamat tinggal, bisa runtuh pilar ini.

Di antara dua pilar tadi terbangun sebuah monumen abadi yang menjadi pilar utama nomor tiga. Monumen abadi itu berisi semua kenangan terindah bersama dan mengenai seorang dewi, kenangan yang setiap hari selalu menjadi sumber sakit hati paling dalam.

Tiga pilar inilah yang menjadi bangunan inti istana kesedihan ini. Berikutnya akan ada dinding-dinding dingin yang melindungi hati dari panah cinta sejati. Kemudian ada atap ego yang begitu tinggi, sehingga hati tak perlu capek-capek bersedih karena terlalu sering tersentuh hal-hal kecil yang sudah tidak manusiawi lagi.

Ah, istana ini akan menjadi begitu indah pada saatnya nanti.

Thursday, January 11, 2007

Resolusi

Seorang bapak berusia 52 tahun beresolusi. Bertekad kuat demi kebaikan keluarga. Ia memiliki dua istri dan 3 orang anak. Tahun ini ia berencana membuat sebuah toko kelontong dengan modal dari hasil penjualan motor yang sekarang ia gunakan untuk mengojek. Badannya sudah tidak kuat untuk bekerja mulai dari jam 8 pagi hingga 9 malam. Bagaimanapun ia tetap optimis, “Awalnya untung pasti tipis sih, tapi nantinya kan nggak”, ucap sang bapak yakin. Hebat.

Seorang bapak yang lain, berusia 52 tahun juga, sedang ditraktir makan sushi oleh anak pertamanya. “Trus kira-kira tahun ini kerjaan gimana?” tanya anak pertamanya. “Masih nunggu modal, masih disuruh sabar sama yang di Atas.” Ia juga menjawab seperti itu dua tahun yang lalu saat ku menanyakan hal yang sama kepadanya. Hebat…

Tuesday, January 02, 2007

(Not) Being Sensitive

Ada yang percaya kalau sebenarnya seniman dan orang kreatif di biro iklan itu sebenarnya sama, yaitu orang-orang yang sensitif dengan keadaan sekitarnya dan dengan jujur mengungkapkannya melalui medium yang disuka.

Benar juga.

Tapi mengapa saya sekarang ini benar-benar tidak ingin melakukannya? Saya maunya cuma main, atau jalan-jalan tanpa tujuan, atau tidur lelap seharian. Bukannya main tapi nggak lolos-lolos karena belum tau mau ngomong apa di iklan radio pengganti iklan radio yang ditarik, atau jalan-jalan dan melihat ide-ide yang pernah dibunuh hidup menjadi sebuah eksekusi yang lebih bagus dari bayangan saya, atau ditengah-tengah lelapnya tidur terbangun karena tersadar tentang beberapa kejadian aneh yang ternyata merupakan skenario pihak-pihak tidak kompeten dalam memenangkan kepentingannya.

Those brings us to my greatest war, why should I keep doing what I’m doing? Wars, all wars, does not determine what’s right, it only determines what’s left. So what’s left if I win this war?

Sayang belum tahu cara menanginnya…

Si Stagnan Si Stagnan Si

Pernah perhatiin nggak kalau semua orang pernah ngalamin yang namanya stagnansi dalam kehidupannya. Kayak marmut lari di lingkarannya itu. Secepet-cepetnya atau selambat apapun kita lari ya akan di situ-situ juga. Masanya aja yang beda. Ada yang pas lagi sekolah, kuliah, kerja, berkeluarga, atau jaman tua.

Ada temen saya yang SMA-nya 6 tahun, tiap 2 tahun dia ganti sekolah biar bisa naik kelas. Padahal waktu SD dia itu jago matematika yang pernah mewakili Indonesia di kompetisi internasional. Aneh, tapi emang gitu. Ada juga sepupu yang udah 7 eh 8 tahun belum kelar kuliahnya, padahal IQ-nya lebih tinggi 10 poin dari saya! Ada juga yang pacaran sampai 10 tahun tapi nggak kemana-mana, nggak putus-putus karena “mahkota” ceweknya sudah dia ambil. Si cowok selingkuh melulu, sedangkan si cewek sekali aja selingkuh langsung nyembah2 dan merengek2 minta tunangan. Ancur banget hubungannya.

Saya yang ngeliat stagnansi-stagnansi itu pengen bgt neriakin “Move On!” di depan muka mereka. Bisa aja, cuman sepertinya nggak akan ada gunanya, karena itulah hidup mereka, begitulah jalannya. Emang sih awalnya saya pikir itu adalah ketidakmampuan mereka, menjadikan stagnansi itu kotak aman. Yup, people are more comfortable in hell ‘cos they got nothing to lose. Nothing can be worse than being in hell all the time, right? Tapi nggak kok, sesukses apapun orang pasti mengalami stagnansi di kehidupannya. Beda di apa, kapan dan berapa lama ngalaminnya.

Jadi pertanyaannya sekarang adalah, bisa nggak move on saat stagnansi kehidupan itu melanda? Atau belum sadar kalau sedang mengalaminya? That makes two of us.

Another Goodbye

Beberapa kali saya membayangkan dan bermimpi mengucapkan selamat tinggal ke dia. Menyampaikan terima kasih secara personal dan menyampaikan bahwa dia sudah salah satu yang menginspirasi saya selama mengerjakan accountnya. Saya keduluan.

Yup, it’s not easy to find great client, but it’s easier than to lose one.

Tuesday, December 19, 2006

Hijau yang Biru

Tas berat kupangku
Di ujung alumunium berbentuk bangku
Berpikir mencoba mengartikan
Arti diacuhkan dan dilupakan

Sepasang kekasih melewatinya
Seorang ekspat dan pribumi juga
Bahkan ibu yang kerepotan dengan belanjaan
Semua masuk ke taksi biru

Sedihku tak terlihat mata
Hati teriris berkaca-kaca
Saat mata dan hati jelas melihat
Hijaunya taksi berubah biru

Ya, hijau aku tahu
Walau biru yang selalu dimau
Kutawarkan rumahku tujuan mengantar
Ia pun lama menatap tajam…

Hingga terucap kata terisak dari mulutnya
“Te-te-rima ka-sih…”

Tuesday, December 12, 2006

Your Last Birthday

Tiga tahun sudah kita tak bertegur sapa, kecuali di hari masing-masing kita lahir. Setiap tahun, ucapan selamat menjadi sangat berharga. Andai bisa lebih, andai bisa jadi lebih berarti.

Dan sepertinya ini adalah kali terakhir, karena berikutnya bisa menjadi dosa. Bukan berarti arti dirimu berkurang, tetap sama selamanya, satu-satunya, tapi memang selamanya kita takkan bersama.

Teruslah menjadi bintang, walau kau menetap di langit orang lain. Karena itu adalah yang terbaik.

Selamat Ulang Tahun.

Tuesday, December 05, 2006

Goes without saying

That’s what happened last night. Dia suka baca, Tim Burton pula. Dia juga download soundtrack Before Sunset di Limewire (tapi gw lebih lengkap donk), tidak suka Superman Returns karena ceritanya, bukan cuma karena make upnya Superman yang ketebelan dan dia pindah kerja karena 2 tahun gajinya nggak naik banyak. She‘s just like me, only prettier, hehe… What’s her name? I don’t know, I didn’t hear when she said it. I could’ve asked, but I was too scared, she’s older, that makes her more perfect (I always got a thing for older women). Yes, I got a crush on her.

You give me something that makes me scared all right
This could be nothing but I’m willing to give it a try
Please give me something, cos someday I might know, my heart

Monday, December 04, 2006

Before Sunseting Again

Setelah beberapa kali tersedak di Kill Bill 1 & 2 dan tergelitik di Matrix 1, 2 & 3, akhirnya tetap Before Sunrise & Before Sunset jawaranya di weekend ini. Dua film itu menstimulasi terbentuknya dua file scribbles dan tentu saja tulisan ini juga sebagai karya ketiga.

Sebenarnya lebih ke Before Sunset, lebih terasa faktual dibandingkan Before Sunrise. Atau mungkin juga karena Before Sunset adalah gambaran harapan yang masih saya tunggu akan terjadi. Entah, biar si alam bawah sadar saja yang menikmatinya.

Apa yang saya cari di film-film berseri itu? Self Esteem of course. Di sela-sela membuat presentasi untuk anak kampus 9 Desember nanti dan menemani keponakan ke Dufan, saya masih butuh kontemplasi. Dan apa yang berhasil saya temukan? Petikan favorit saya berubah! Kalau terakhir nonton adalah ini:

“I guess when you're young, you just believe there'll be many people with whom you'll connect with. Later in life, you realize it only happens a few times”

menjadi ini:

“… the true work of improving things is in the little achievements of the day, and that’s you need to enjoy, just to stay in that feel.”

The weird thing is I really don’t know what exactly the changing means, only I felt so relieved. I guess contemplating and sex are the same after all, makes you wanting more! Hehehe…

Thursday, November 23, 2006

Traveling alone is traveling within

Kata-kata itu pernah saya baca di karyanya Desi Anwar saat launch bukunya di Senayan City. Dan baru saja saya membaca kata-kata Seno Gumira,”Perjalanan adalah penjelajahan ke dalam diri sendiri”. Apakah ini petanda saya harus segera melakukan perjalanan? Maunya, tapi duit dari manaaaaa? Jadi daripada pergi jauh-jauh dan harus bayar pula, mending liat pameran interaktif keramik di Japan Foundation aja, gratis! Hehe…

Di tempat yang seharusnya menjadi perpustakaan dan galeri, perupa Miyuki Anai dan Kurniawaty Gautama, mengubahnya menjadi seperti ‘backyard’ alias halaman belakang rumah-rumah di Jepang. Daun-daun kering sengaja dibuat berserakan seperti di taman, mengelilingi beberapa catur jawa dan congklak dari tanah liat yang siap dan boleh dimainkan siapa saja. Di atasnya tergantung awan-awan, bintang-bintang dan bulan sebagai tempat para pengunjung menggantungkan kertas bertuliskan harapan mereka.

Di sana saya berhasil mengurangi ketakutan saya terhadap kodok. Meski dari tanah liat, saya tadi memegangnya! Itu karena kodok-kodokan itu divisualkan berlomba-lomba memasuki rumah-rumah sambil bermain, menyimbolkan manusia yang mencari kedamaian di suatu tempat tidak lagi dengan cara berjalan atau berlari namun melompat! Agar tidak menjadi kodok (katak) dalam tempurung yang selalu dalam kepenatan dan rutinitas namun menjadi seseorang yang selalu bugar dan mengisi hari-hari dengan hal yang positif dan menyenangkan. Walau siang bolong, hati serasa temaram…

Selain itu walau di dalam gedung dan dalam ruangan yang kecil, saya bisa merasakan besarnya pesan yang ingin disampaikan penciptanya. Mereka berhasil menyentuh dan membawa saya pergi dari lantai 2 gedung Summitmas 1 ke ujung hati paling dalam untuk mengambil kembali harapan dan mengajak saya untuk menggantungkannya kembali ke tempat yang tinggi namun tetap dapat diraih pada saatnya nanti.

Lezat sekali makan siang hati saya hari rabu ini, jadi mau lagi, tapi kalau bisa jangan yang imitasi, pengen banget bisa ketemu samurai asli.

Monday, November 13, 2006

be present

Postingan ini sebenarnya udah agak lama ada di draft, belum selesai2. Tapi kemarin tiba-tiba dapat tambahannya, jadi coba diselesein tapi ternyata kalau nunggu selesai kayaknya nggak akan selesai-selesai, hehe…

be present. Dua orang creative director udah bilang itu langsung ke gw. Dan baru aja Beau Burroughs bilang itu ke Sarah Jennings. Walau bisa aja dia bilang gitu cuma trik buat bikin tenang Sarah so he can get laid with her. But either way, it’s still a good thing.

Di hari kerja, gw biasanya udah nyiapin rencana buat weekend mau ngapain aja. Mulai dari hari Sabtunya mau bangun jam berapa sampai nentuin hari seninnya akan ijin masuk siang atau malah sekalian cuti mendadak karena kebayang pasti akan capek banget ngelakuin semua rencana itu. Tapi biasanya yang terjadi adalah Sabtunya seharian tidur-makan-nonton tv series-makan-tidur lagi. Terus minggunya paling nemenin nyokap belanja ke some hypermart atau ITC-ITC. Bukannya recharge malah tambah capek.

Bandingkan sama yang ini. Di hari kerja berangkat agak pagian (walaupun malemnya baru pulang jam 2) dan ngedatengin bank yang nggak ada di jalur menuju kantor. Terus membagi-bagi uang gajian/honor SJ-an yang ada di bank tersebut ke dua account yang berbeda di dua bank lainnya. Lagi ngantri tiba-tiba ketemu junior kuliah dulu yang sekarang kerja di USAID. Tanpa sengaja jalur ke NGO pun terbuka, padahal selama berbulan-bulan berusaha menghubungi teman yang lain yang juga kerja di NGO dan belum pernah berhasil.

Atau kalau lagi badung dan nggak terlalu banyak kerjaan, naek feeder busway dari BTC jam 9 dan sampai di Plasa Senayan pas mereka baru buka. Abis itu ubek2 Kinokuniya sampai pusing ngebacain judul dan sinopsis buku satu-persatu dan tanpa sadar ngabaca lagi yang awal-awal tadi udah pernah dilihat dan baca. Tapi disaat lagi pusing-pusingnya, trilogy Griffin & Sabine yang bertahun-tahun dicari nggak dapet-dapet (bahkan yang minjemin buku itu pertama kali ke gw juga belum dapet sampai sekarang) muncul di depan mata, langsung deh ngambil tanpa mikir harus kehilangan 600rb (but i really felt worth for it).

Terus disaat weekendnya. Pagi-pagi milih salah satu nomor telepon perempuan cantik di phone book dan ngajak dia jalan. Walaupun nggak bisa dapet malam minggunya karena dia pasti kencan sama pacarnya, tetap aja seru. Sesampainya di rumah tiba-tiba saja kepikiran sesuatu dan langsung menulisnya walau itu berarti belum ganti baju dan makan. Dalam waktu setengah hingga satu jam langsung jadi satu cerpen baru, meski anehnya tema cerpennya kematian.

You see, I’m starting to live my life again by being present, or present man that is. Karena kalau dilihat-lihat dari kata-nya sendiri sebenarnya secara tersirat kata itu sudah menyampaikan makna dalamnya. Nih ya, selain berarti SAAT INI, present kan memiliki arti lain sebagai HADIAH. Dan bila arti harafiahnya digabungkan, present pun akhirnya mengandung arti bahwa MENIKMATI SAAT INI ADALAH SEBUAH HADIAH. Hehe…tau deh bener atau nggak.

Anyway, cobain deh, be present, jangan terlalu pusing sama masa depan apalagi masa lalu. Toh kita nggak akan bisa membeli waktu. So, selamat menikmati hari ini ya dan pastikan untuk dapat menikmatinya, asal jangan keterlaluan aja.

Carpe diem friends! Carpe diem!


Note:
Beau Burroughs is Kevin Costner and Sarah Jennings is Jennifer Aniston in Rumor has it…

Friday, November 10, 2006

Pahitnya (Nonton) Jomblo Lagi

Meskipun nggak suka kopi, tapi gw suka film ini karena membuat gw merasakan kembali kepahitan. Biarpun udah nonton berkali-kali, tetep aja hati gw terasa ditusuk-tusuk dan perasaan ditendang-tendang, nyebelin. Jadi karena itulah gw putuskan buat nonton sekali lagi di VCD, hehe...Hasilnya? Ada yang terasa tusukannya malah makin dalem tapi ada juga yang tendangannya lebih pelan. Here’s some of them why

Logatna, euy…
Dulu tuh gw benci bgt gaya bicara Ringgo. Saking bencinya sampe nggak pengen temenan sama siapapun yang berlogat kayak gitu (dan ingat gw kuliah dimana?). Jadilah gw susah dapet temen dan nggak bisa belajar bener-bener bahasanya. Sampe akhirnya diajarin untuk mengerti logat itu sama si “Agus” gw itu (bukan, bukan perihal gay atau semacamnya, cuma analogi aja, nanti juga ngerti) dan sampe sekarang gw pun menjadi sering berlogat seperti itu, dan belum tahu gimana cara ngilanginnya.

Karakter yang mewakili
Sebenarnya sih dia bukan kayak Agus yang smart & funny gitu. Aslinya dia lebih kayak Asri yang memenuhi criteria semua orang sebagai seseorang yang cantik digabung sama kepribadian kayak Rita yang keibuan dan penuh perhatian.
Karakter Doni juga terasa deket. Sahabat gw waktu kuliah adalah sex master of multiple girls, hehe tapi sayang nggak bisa meraih gelar grand master karena sekarang punya gelar lain yang abadi, MBA. Tapi pada dasarnya sekarang ini mereka sama, dewasa karena sering bercinta, hahaha….

Exact moment
Yang Ultimate adalah adegan yang suasana dan tokohnya selalu berubah sendiri setiap kali nonton lagi, yaitu waktu dia jadi Agus di Gumati (waktu itu di café roti) dan gw jadi…Lani.

Nyesel juga dulu nonton film ini pertama kali nggak bareng “Agus” gw itu. Padahal dia dulu ngotot ngajak nonton bareng walaupun sebelumnya dia udah nonton sama pacarnya, “filmnya kita banget,” katanya. Yah siapa tahu kalau nonton bareng bisa ada kejadian yang merubah keadaan sekarang? hehe...
Oh, well…the past surely never dies and it definitely kills...

Thursday, November 09, 2006

What’s up on me? #1

Sebagian orang kini jarang catching up lagi dengan teman-temannya karena alasan waktunya tersita oleh kerjaan. Mereka kemudian mengandalkan blog milik temannya untuk mengetahui kabar terbaru tanpa harus menghubungi atau bertemu. Begitu juga dengan gw, hehe…Tipe-tipe yang masih selalu bertanya kapan pekerjaan bisa berhenti jadi alasan setiap ada yang ngajak jalan atau sekedar ketemuan.

Tapi ternyata buat gw setiap saat melihat sesuatu yang baru dan menuliskannya di blog juga bukan hal yang sempat untuk dilakukan, kadang hanya sempat menulisnya di journal tanpa edit namun dilindungi password. Tapi ya itu, yang tahu cuma gw sendiri. Sedangkan gw nggak (mau) idup sendiri di dunia ini, Superman aja nggak tahan, gimana gw?

Nah, karena itu gw sekarang mau bikin daftarnya (diusahakan diupdate per minggu, kalau nggak ya per bulan aja yak). Daftar yang isinya hal-hal terbaru yang gw dapet atau baru kembali gw lakukan. Kalau tertarik sama detailnya silakan melakukan usaha yang lebih ya jangan cuma gratisan baca aja, hehehe…

Here’s the list:

Ponsel 3G, Sony Ericsson K608i. Murah dan terbukti udah bisa dipake buat video call, tapi belum tahu caranya nonton tv.

Dua buku kumpulan cerpen Kompas, Jl, Asmaradhana sama Riwayat Negeri yang Haru. Dua-duanya belum sempet dibaca.

Baru selese baca Batman, A Death In The Family. Ternyata pembaca komik tahun 80-an sadis2, hehe…”Robin died by the readers, not the writers”

Dua mainan yang menghabiskan 5 giga ibook gw, Call of Duty 2 sama Football Manager 2007. Mereka memaksa gw mengusir Miyabi dari hardisk dan pindah ke dalam 3 keping CD (hehe, lumayan banyak ya).

Shaver BrAun. Lebih bersih dari sebelumnya dan lebih gampang dibersihinnya. Sayang masih pakai batere, bukan listrik (abis yg listrik mahal bgt, di atas 1 juta).

Bercinta tanpa rasa.

Dua cerpen selesai, Kado sama Takdir Takbir. Tapi belum bisa wrap, masih mau diedit lagi dikit.

Dua program TV lahir, belum selesai tapi. Rencanya mau gw ajuin ke om gw sang Eksekutif Produser di salah satu stasiun tv dan PH.

Side Job translate-an.

CD player Philips. Beli ini di Electronic Solutions cuma karena modelnya keren. Tapi ternyata suaranya bagus dan bisa ditempel di tembok saking tipisnya! Bener-bener keren! Tapi itu berarti tambah lagi beban cicilan yang harus gw bayar…*sigh*

Bola-bola Speedball penyangga ibook.

Club 8 di itunes jadi ada tiga album. Nouville, The Friend I Once Had sama Strangely Beautiful. Album yang terakhir bagus banget.

Mouse putih Mediatech. Cukup efektif untuk memenangkan pertempuran di Call of Duty 2, hehe..

CSI season 6, Thank You for Smoking, The Lake House, The Girl in The Café, 36, The Unfinished Life. DVD-DVD yang terakhir gw beli dan tonton.

Setelah namatin Star Trek: Encounter, gw beli God Hand. DVD PS2. Ini side storynya Jin di Tekken. Seru dan menghibur. Kita bisa bikin jurus sendiri.

Huff..ternyata lumayan banyak ya. Itu pun baru material aja. Belum mengenai hubungan, pengetahuan, gosip, keyakinan, dll. Sepertinya nggak akan cukup kalau ditulis semua. Tapi namanya juga usaha, siapa tahu abis ini ada yang ngajak ketemuan, huehehe…

Saturday, October 28, 2006

"Ingat-ingatlah semua salahku: caci, dengki, semuanya yang membuatmu sakit. Sudah semuanya? Berapa harus kubayar? Sejuta cek maaf cukup? Atau kau ingin tunai seperti mata dibalas mata? Berapapun kau jual, kubeli!

Untuk maafku? Gratislah untukmu :-)

Selamat Idul Fitri 1427 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Monday, October 09, 2006

Senior yang Junior

Seorang sutradara senior mengatakan TVC yang dulu kami kerjakan tidak maksimal (salah satunya) akibat saya terlalu sok tahu dengan mengajukan arahan untuk menghadirkan storytelling ad yang dilakukan dengan motion control approach, karena menurutnya karakter dan emosi tidak akan terbangun. Mungkin mengenai tidak cocoknya storytelling ad dan motion control menurut dia itu benar. Tapi yang dia lupa (atau memang tidak pernah mengerti) bahwa TVC yang saya dan tim maksud dan inginkan bukan storytelling ad menye-menye atau storytelling yang menyentuh secara mendalam yang memerlukan karakter dan emosi yang mendalam. Maksudnya, iklan yang ingin kami buat bukan untuk menjadi terlalu dramatis, namun menjual dengan elegan dengan cara yang berkesan massif dan canggih namun tetap bercerita. Suatu upaya untuk menggambarkan keunggulan sinyal TELKOMSEL dan inovasinya selama sebelas tahun yang selalu menjadi yang pertama di generasi-generasi GSM di Indonesia. Kami pun sudah punya ‘klasifikasi’ sendiri hasil seloroh CD kami waktu itu, yaitu storryselling ad!

Di pre-pro awal sepertinya director mengerti hal tersebut, ia pun setuju bahwa motion control adalah pendekatan yang paling cocok. Namun sayang ternyata ia tidak mengerti keseluruhan pesan yang ingin disampaikan dalam iklan kami ini.

Bukti dari hal tersebut terjadi pada salah satu, saya ulangi lagi, salah satu klimaks kesalahannya, yaitu salah mengambil shot! Itulah pertama kalinya saya dan art director melihat seorang director salah mengambil shot. Bukan. Yang ia ambil bukan shot untuk stock seperti yang dilakukan director awamnya, ia mengambil shot yang benar-benar tidak berguna.

Biar saya terangkan kesalahannya. Shot yang mau diambil adalah adegan video call. Adegan setelah transisi antar penelepon yang dilakukan dengan cara crash zoom ke dalam layar ponsel lalu warping ke tempat lawan bicara. Untuk mendapatkan tempat lawan bicara tentu saja angle yang harus diambil adalah frontal dari depan, namun yang ia ambil adalah frontal dari samping. Ketika ditanya alasannya,”Iya, kan nanti ada transisi cut/dissolve” Duar!!! Kontan saya dan tim meledak, sepanjang iklan telah disetujui bersama bahwa transisinya tidak akan ada cut sama sekali, tiba-tiba di bagian yang transisinya tidak mungkin dengan cut malah ia lakukan. Meski kemudian ia mengakui sudah salah mengambil shot (dan memang terbukti salah karena kami tidak pakai sama sekali shot2 itu) tapi tetap saja…ia beruntung GM marketing klien sedang diajak makan oleh account director dan president director kami, kalau tidak…

Tapi sepertinya kejadian itu membekas dengan arti yang berbeda di dalam diri sang director, ga papa juga, namun sayangnya ia mengungkapkannya ke banyak orang dengan cara dan pesan yang berbeda (seperti yang ada di dalam blognya), sehingga kami (agency) dan PH mendapat pandangan negatif yang mempengaruhi kredibilitas kami. Saran saya sih, jadi Public Relations aja gih, hasilnya lebih bagus tuh daripada nge-direct.

Mungkin ia sudah senior di bidangnya, namun saat membuat iklan kami ia sama sekali bukan itu. Banyak sekali pekerjaan rumah yang tidak ia kerjakan. Sebagai contoh adalah director shooting board yang plek ketiplek persis eh salah maaf, 80% plek ketiplek, dua puluh persen adalah tambahannya dia yang tidak sesuai dengan pesan iklannya. Dan hal tersebut terjadi berkali-kali meski kami sudah minta revisi, sehingga kami harus merevisi di kantor klien sepuluh menit sebelum final prepro meeting.

Mengenai art director kami yang dianggapnya nggak pede sehingga mengeluarkan terlalu banyak referensi yang membuat (ingat ini menurut dia) iklannya kehilangan identitas, malah yang terjadi waktu itu adalah sebaliknya. Kami melihat ia kebingungan sebenarnya iklannya mau dibuat seperti apa. Treatment-treatmentnya terus bertabrakan dengan isi pesan. Karena itu kami bantu dengan menghadirkan referensi-referensi untuk membantunya. Agency, PH bahkan Post House sih mengerti-mengerti saja, cuma dia saja yang kebingungan sendiri. Seperti timing slot masuknya super, masak tidak diperhitungkan saat offline sehingga kami harus merombak kembali hasil offline, beruntung sebelumnya produser kami sudah mengantisipasi sehingga kami bisa masuk dan melihat hasil offlinenya lebih awal, hal tersebut telah berhasil mencegah kesalahan yang lebih besar. Namun sayang tindakan pencegahan tidak berhasil dilakukan pada tahap online, akibatnya tim agency harus terus supervisi rombakan online hingga jam enam pagi.

Kalau kemudian ia banyak mendapat job setelah orang tau ia menggarap iklan kami, ya sudahlah. Tapi mungkin orang2 itu harus tahu bagaimana sebenarnya iklan kami ini akhirnya bisa jadi. Yaitu karena DOP yang dengan kompetensi dan kesabarannya membuat iklannya tidak blontang blonteng. Lalu ada Mas astrada yang dengan ulet memberi arahan ke semua talent terutama si bapak yang masih juga kaku sampai akhir sementara ia lebih sering ongkang-ongkang kaki bukan karena yang paling mengerti tapi menjadi yang paling terakhir mengerti. Serta peran besar terakhir ada di para editor post house yang sudah cukup sering bekerja dengan kami.

Jadi kalau ternyata ekspektasi director tidak sesuai dengan realita saat membuat iklan kami, mungkin ia harus mulai melihat ke dalam dirinya dahulu daripada sibuk menilai dan bercuap mengenai jeleknya orang lain.

Thursday, September 28, 2006

Kebenaran bukanlah kenyataan

Waktu Batman (Christian Bale) bilang ke Rachel Dawes, “It’s not who you are underneath, it’s what you do that defines you”, gw tau itu bener, and I love Batman in many ways.

But somehow I disagree with his statement. For me, “It’s who you are underneath that defines you, not what you do.”

Here's why:
- “Loe mau ngapain lagi datang ke sini? Why haven’t you give up on me? Pokoknya apapun yang loe mau omongin jawabannya nggak!!!”
Hmm…Okay, Gw mau bilang kalau kita udah tiga tahun lebih putus silaturahmi, sedangkan aturan di Islam cuma 3 hari, selebihnya diangap dosa besar. Gw ke sini mau nyoba jalin itu lagi, but if you say so…selamat menjalankan bulan Ramadhan penuh dengan dendam…
- “Wah copy2 loe terlalu langsung ya, nggak ada twist.”
Yet that’s not the way I usually speak or write, I did it so we can get fast approval through the client since the AE’s can’t sell a thing. And…didn’t you hear yourself these days? “Udah ikutin aja maunya mereka, yang penting cepet selesai”. Oh I really want to stamp your forehead with a really big capital words, I TOLD YOU!
- “Segitunya banget kerja, kalau cuma buat duit segitu aja kerja sama gw deh, gw bayar lebih.”
Thanks, but no thanks. I know where you got your money…I know what I gotfrom this job is not worth it, but at least it’s a clean money…
- “Ambil cuti kok pas lagi banyak kerjaan, karena urusan keluarga lagi, egois banget.”
Yang ngomong nggak tahu kalau orang rumah udah bilang kayak gini, “Emang sih keluarga sudah nggak mampu ngidupin, tapi sampai kapan pekerjaan selalu di atas keluarga, memang tempat kerja itu rumah kamu?”

Huff…I guess to be good is to be misunderstood.

Wednesday, September 27, 2006

Hai lihat kami baikan lagi! Hehe...;p


Sunday, September 17, 2006

Kebahagiaan yang tak terlihat mata

Beberapa teman membagi masalahnya. Masalah yang sama, masalah saya juga. Menyenangkan. Mengetahui kalau mereka masih percaya, setidaknya membuat saya melupakan masalah sama yang melanda saya juga.

Pada dasarnya mereka bertanya bagaimana kami dapat menang dalam perang ini, perang melawan kebodohan orang lain yang membuat hidup kami lebih berat. Sebuah kehidupan yang harus dijalani dengan terus menerus kehilangan begitu banyak teman, keluarga, waktu, kesempatan, dan yang paling menyakitkan, harapan.

Namun kemudian ada salah satu dari kami (hampir dapat dipastikan) berhasil keluar dari kungkungan masalah yang kami semua alami. Ia tidak pergi atau melarikan diri. Ia berhasil meraih harapannya.

Saya ikut bangga, lebih-lebih bahagia. Karena dengan begitu berkurang satu yang harus dijaga, sehingga kedepannya saya bisa lebih fokus berperang ke hal yang lebih besar daripada melawan kebodohan orang lain ini, yaitu perang melawan kebodohan diri sendiri. Seperti yang terjadi sampai saat ini.

Nggak ada brief, deadline mepet. Berarti kerjakan secepatnya tanpa kesalahan, lalu gunakan waktu lebihnya untuk crafting masterpiece yang lain atau membangun kehidupan. Ibarat air mulai pasang dan kita harus membuat sebuah kastil di atas pasir, semakin lama menghabiskan waktu semakin sia-sia nantinya. Kalau kita Tuhan sih tidak apa-apa. Yang kapan saja tinggal mengalihkan air pasangnya atau mengubah pasirnya menjadi adamantium sehingga meski air pasang kastil tetap bergeming.

Setelah tahunan setia bekerja mengubah sampah menjadi karya hingga mengorbankan keluarga, lalu tiba-tiba dianggap pengkhianat karena sedang jatuh cinta? Atau meski naik pangkat namun masih menerima lebih kecil dari yang belum? Saran saya, mulai saja bangun kerajaan bisnis sendiri. Walau dari nol, yang penting tiap proyek bisa gol. ‘Cos as far as i know, loyalty for a company is a lie. Hanya sebuah harapan semu yang diciptakan pemilik usaha untuk mengurangi pengeluaran seperti pemerintah menghargai guru di Indonesia dengan slogan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”, tanpa menghitung dengan benar kebutuhan atau sama sekali peduli dengan kesejahteraan mereka. Mau kerja kayak apa ya dapatnya segitu juga.

Mau ikut perang sampai kapan? Sudah, mulailah jadi raja, jangan mau hanya jadi budak yang dipuja.

ps:beberapa contoh yang ada hanya drama belaka, tapi kalau sudah terlanjur percaya itu nyata ya saya mau berkata apa, huahahahaha…

Wednesday, September 06, 2006

vuck

V vor vague vapid vanity view ov very vicious vigilant vindication

Saturday, September 02, 2006

"kok pacarnya tiba-tiba unjuk gigi gitu ya, Bos? :p"
"Masudnya?"
"Tiba-tiba muncul di mana-mana aja gitu. Ya mungkin ada hubungannya sama elo."
"Mungkin."
"Pasti kali maksud loe? Haha...Secara loe berhari-hari ama ceweknya bedua doank ngine--"
"Woi, iye tau. Tapi masih SMS-an tuh, jadi ya harusnya nggak papa. Yang dulu aja satu kota gw ga disentuh tuh ama cowoknya, hehehehe..."
"Masih SMSan? Biar kesannya nggak langsung ngebuang ya? Canggih. You're becoming a Jedi Master."
"Sialan, yah setidaknya gw ga kayak elo, lord sidius."
"Ah kayak gituan nggak ada yang putih, Bos. Item semua, opacitynya aja yg beda. Akhirnya ilmu gw terwariskan. hwakakakak"
"Gw belajar sendiri neh, ilmu loe tuh sesat, gw ga mau."
"Kenapa? Karena akhirnya gelar gw MBA? Justru itu."
"Lah kok malah justru itu? Loe mau ngajakin gw ke dark side?"
"Bukan gitu. Gw malah mau ngajarin biar loe ga kayak gw."
"Ow, kirain...hmm...eh, Man..."
"Ape?"
"Sorry ya gw ga dateng ke nikahan loe."
"It's okay. Tapi loe tau kan loe harusnya dateng?"
"Yeah, i know. I NEED to be there."
"Yup, there u go."
"But we're good now, right Matey?"
"Sure, but only if you accept my 'playacology'."
"Hahahaha...okay. That would be fun."

Saturday, August 26, 2006

into the same hole again

Ada suatu masa di mana gw bener-bener ga percaya sama satu orang pun. Dan itu berlangsung cukup lama. Karena pasti apa yg gw sampein itu diterima salah sama orang itu dan efek snowball membuat kesalahpahamannya semakin parah. Gw pun menjadi orang yang dibenci banyak orang karena kesalahan yang nggak pernah gw buat.

Sekarang2 ini gw mulai masuk ke masa itu lagi. Penyebabnya sederhana, tiba2 ada orang lain yg tahu info yg gw share cuma ke dua orang yg (saat ini) paling gw percaya dan orang yg (seharusnya nggak) tahu itu nggak mau membagi dia tahu dari mana.

Gara-gara itu gw mempertanyakan loyalitas para sahabat. Sesuatu yang bener-bener gw anggap tabu. Kayak ngelakuin dosa besar rasanya, tapi mungkin karena memang iya. Untung belum mempertanyakan ke dua2nya, secara yg satu lagi nikah. Goblog bgt kalau sampai itu terjadi.

Mungkin bukan hal yg penting buat orang yg tau itu (krn emg seharusnya dia nggak tahu), tapi kenyataan kalau info itu bisa keluar dari “jalur komunikasi aman” gw adalah sesuatu yang berdampak sangat besar.

Pertama, yang pasti gw jadi ga percaya sama orang yang tahu itu. Gw ngerti sih, kalau dia ngasih tau ke gw dia tahu dari siapa info itu, berarti dia mengkhianati orang yg ngasih tau info itu. Tapi dengan tidak memberitahu, buat gw itu berarti dia membela pengkhianat. Kita liat sejauh apa dia bisa dipercaya.

Kedua, gw jadi curiga sama semua teman yang ada, temen kantor, Fikom, Metro, semuanya, bahkan saudara yang sudah jadi temen juga.

Dalam menjalin hubungan baik pertemanan, persahabatan atau persaudaraan, sebisa mungkin gw terbuka dan sejujur mungkin. Karena memang nggak banyak juga yang gw anggap sebagai teman atau sahabat, saudara aja ga sampai lima yang gw percaya.

Gw tahu betapa capeknya hidup sendiri tanpa bisa membagi kesedihan apalagi kebahagiaan, rasanya sepi bgt. Dan gw udh cukup lama hidup di lubang tanpa orang lain itu. Gw benci lubang itu, tapi untuk sebuah kepercayaan, i have to get back into that hole.

Ya, itulah self defence mechanism gw. Tidak peduli sama orang lain. Hell is other people, sartre once said.
Jadi sampai akhirnya gw tahu itu siapa atau mungkin sampai tahu alasan sebenarnya, i‘ll always in a bitchy mode.

Syuh!

Friday, August 25, 2006

Late Hour Stupidity

I’m awake to be exact.
(Yeah, I woke u up. That’s why
Why in the world I woke her up, anyway?
Why did I have to call her in the first place?
Why not some other padangneese?)

I’m awake and start to think
Nooooo….
(Don’t think.
Ur not gonna stop doing that
Now I got problem to forgive myself)
I mean, i'm sorry.

No worries.
Oh no..no..no..no…
(It’s easier if u mad or angry
This kinda thing stucks in my head
While I got lines and lines to be made)
Just go back to sleep
Please

Will do
Ok.
Do it now
Just close ur eyes and count those sheeps

In a while
Nooo
Now
U need to sleep now
(I need you to go back to sleep now)

…..
(Oh I hate this
Can’t take the guilt anymore
I better go home
Who knows I’ll be able to sleep
And forget all this)

(Damn it!)

Tuesday, August 22, 2006

the battle within

I hate my family, they judge
I hate my friends, they’re narcissist
I hate my workmates, they never really understand
I hate my boss, he just get things talked not get things done
I hate my girl friend, she’s too sensitive
I hate my ex, she haunts me all the time
I hate God, He knows everything about me

I hate myself hating them all.

Sunday, August 20, 2006

Dari mata turun ke hati


Di bawah jembatan ratu plaza setelah beli tiket Trans Bintaro, saya baru sadar kalau harusnya beli tiketnya pake lima puluhan saja, bukannya sepuluh ribuan. Mengapa? Karena saat itu saya lagi haus sekali dan tukang minuman belum tentu punya kembalian. Ya masa’ beli minumannya di OhLaLa atau Carefour…

Coba dulu lah ke tukang minuman, kenapa juga harus lompat ke kesimpulan padahal masalahnya juga belum nyata.

Sesampainya di tukang minuman, sepertinya yang haus bukan cuma saya. Di samping penjaja minum, seorang mbo-mbo sedang menenggak aqua dengan kencangnya. Saya merasa geli sendiri melihatnya. Senyum saya mengembang, tapi cuma sebentar. Karena setelah saya melihat bakul jamu besar yang ada di sebelahnya si Mbo, saya jadi malu hati sendiri. Karena memang sepertinya ia memang sedang haus sekali.

Dari mata turun ke hati, begitu katanya. Cuman yang jadi masalah adalah saya ngga punya uang kecil itu tadi. Saya jadi ragu untuk dapat membantu si Mbo.

Tapi kalau hati sudah berbicara, apa juga dilakukan. Makanya langsung saja saya coba tukar uang ke tukang tahu pong. Si bapak penjaja tahu pong lagi melayani pembeli. Kebetulan ia sedang menyiapkan kembalian. Ia menghitung agak keras, sayangnya perhitungannya tidak pas. “Satu, dua, tiga, dua, empat, lima setengah, enam setengah…Nah ini kembaliannya” Bapak tahu pong memberikan kurang lebih 11 ribu rupiah (karena saya lihat ada satu 5 ribuan dan sisanya ribuan) ke pembeli yang awalnya memberikan Rp 10 rb buat sepuluh tahu pong dan sepotong lontong. Saya melongo melihatnya, lebih lagi si pembeli. Aduh, Pak…..Tapi sepertinya si pembeli orang baik, sebelum saya menawarkan bantuan, Ia langsung membantu si bapak menghitung kembalian dengan benar.

Melihat sepertinya akan lama, saya beralih ke tukang siomay, karena saya harus bisa melaksanakan niat awal saya sendiri yang sedang tertunda ini. Namun, dengan sombongnya tukang siomay menolak untuk menukarkan uangnya. Padahal saya sempat melihat laci uangnya penuh dengan puluhan ribu. Tukang siomay sialan. Dia lupa apa kalau ikhlas membantu orang itu niscaya akan lebih mudah mendapat berkah dibandingkan berdagang dengan itung-itungan yang berlebihan? Terserah lah, tanggung sendiri saja pokoknya.

Hmm…Tidak lagi ada penjaja yang bisa ditukarkan uangnya. Setidaknya itu yang saya pikir saat itu. Saya lupa bahwa sebenarnya masih ada tukang minuman yang belum saya minta bantuannya. Memang agak dilematis karena si mbo ada tepat di sebelahnya. Tapi mau bagaimana lagi, sudah tidak ada pilihan lain.

“Mas, maaf, boleh tuker puluhan?”
“Minumnya apa, Mas”
“Nggak minum”
“Wah nggak ada, Mas”

Wah ini sih sama aja kayak tukang somay. Dasar pelit. Tapi tiba-tiba…

“Ini saya ada, Den. Campur ribuan ndak papa?”
“Eh…oh, Mbo. Iya boleh, nggak papa.”

Saat si Mbo sedang mengeluarkan uang-uangnya dari dompet kecilnya itu, saya coba laksanakan niat awal saya yang sepertinya keadaannya saat ini malah kebalikan.

“Mbo, masih ada beras kencur? Saya mau.”
“Wah jangan, Den. Itu sudah tinggal ampas, nanti malah jadi penyakit.”
“Oh…kalau gitu yang lain aja Mbo, itu yang kuning-kuning juga ga papa.”
“Sing iki? Wah Den, iki kunyit. Nggak enak kalau tidak dicampur, lagian khasiatnya nggak terlalu pas buat Aden.”

Entah apa maksud sebenarnya, yang pasti saya merasa mulai kehabisan akal. She really caught me off guard.

“Ya udah terserah Mbo aja, yang penting bisa bikin saya seger.”
“Lha ya mending beli teh botol dingin sama Mase’ iki, dijamin pasti seger.”

Hukk! Langsung kena di lubuk. Bodoh. Bodoh. Bodoh.

“Kalau itu sih rasanya udah apal Mbo. Kalau jamu si Mbo kan beda”
“Wah kita kebalikan ya, Den…hahaha…mungkin karena si mbo jarang beli minuman kayak gitu ya, habisnya mahal.”

Oh My God….I’m Sorry.

“….katanya tukang minuman nggak punya kembalian Mbo, kalau saya nggak beli.”

“Yah, mungkin memang kurang uangnya tukang minuman…Nah, ini tukerannya, Den. Coba dihitung lagi”

“Iya Mbo. Terima kasih. Permisi.”

“Maaf ya Den, jadi gak bisa ngerasain yang seger-seger”

“Nggak papa Mbo. Saya sudah segar kok”

…dan itu karena Mbo. Terima kasih banyak, Mbo. Semoga Mbo mendapat balasan yang paling sepadan dari Tuhan….

Friday, August 11, 2006

be the second but the best, not the first but the last

“Syukur tahun ini bisa pulang kampung. Sudah kekumpul duitnya”
“Oya? Rencana naik apa? Bis? Kereta?”
“Oh enggak, ngajak temen yang punya motor aja, patungan. Paling banyak habis 150, kalau dibagi dua kan jadi ga berat diongkos. Soalnya keperluan mudik lainnya masih banyak”

Duak! Kepala gw langsung ketiban palu hakim 1000 ton. Rp 150 dibagi dua adalah budget yg ia tabung selama setahun untuk bisa pulang kampung, itupun baru sekali jalan naik motor ke Madura. Tuh tukang sate udah gila. Hehe ya nggak lah, keadaan yang memaksa.

Gw langsung berpikir, ini pasti gara2 dia salah tempat jualan. Masak dia jualan sate di deket sate Apjay yang terkenal itu.

“kenapa dagang di sebelah mereka, Pak? Dagangan mereka kan terkenal nomor satu”
“Saya sudah coba cari tempat lain, Dik, dan istilahnya jadi nomor satu di sana, tapi penjualan gak sebaik di sini”

Ternyata dia sudah berusaha menjadi nomor satu dan memang berhasil jadi nomor satu juga, tapi bila dilihat lebih besar lagi dia sedang menjadi nomor dua, dan kalau mau ditarik lagi dia mungkin itungannya bukan apa-apa.

Jleb! Tiba-tiba sebuah pedang lancip nan panjang menusuk hati. Itu yang terjadi di agency ini. Yang katanya nomor satu dan diakui sebagai nomor, tapi tidak pernah menghasilkan karya nomor satu bagi klien nomor satunya. Dan aku tahu kenapa. Semua yang ada di sini merasa sebagai nomor satu, merasa masih menjadi yang terbaik sehingga segala petanda bahwa mereka bukan lagi nomor satu tidak terbaca. Klien utama yang kecewa dengan hasil beberapa bulan terakhir, tidak lagi percaya dengan rekomendasi yang diajukan, mempertanyakan semua langkah yang diambil agency yang notabene adalah konsultannya.

Si tukang sate kemudian mengajukan pertanyaan mendalam

“Mas, kenapa makan satenya di sini, bukan di sana?”

Jawabannya adalah, karena di sana pelayanannya ga enak. Mereka terlalu sibuk mencari perhatian untuk dirinya sendiri sehingga melupakan kepuasan pembeli. Seperti pesanan yang datangnya lama, tidak sesuai dengan yang diminta bahkan tidak datang karena mereka begitu sibuk sendiri membanggakan diri.

Tapi gw menjawabnya, “di sana bosen, mau nyoba ngerasain yang lain”

Dzig! Gw kepukul kata-kata gw sendiri. Inilah ketakutan gw dari kemarin yang terbukti, meski baru oleh kata-kata gw sendiri, tapi ini adalah bad feeling yg mulai jadi masalah nyata. Beberapa minggu terakhir gw uring2an di kantor karena setiap mau mengatakan bad feeling ini belum didukung sama bukti nyata, hanya instink yang biasanya gw bahas sama CD lama dan kemudian bersama-sama mencegahnya jadi masalah nyata. Tapi sekarang gw gak bisa melakukan itu, belum ada lagi orang yang mengerti hal itu dan tau bagaimana menyelesaikannya.

Tukang sate kemudian menjawab, “iya Mas, banyak yang kayak gitu bilangnya. Kadang saya pingin bilang itu ke tukang sate di sana itu. Tapi kalau begitu nanti saya bisa kehilangan pekerjaan, keluarga mau dikasih makan apa?”

Duenk! Plak! Bak! Buk! Brak! Jleb! Jleb! Jleb! Kali ini gw ga bisa jawab, karena memang belum ketemu jawabannya atau karena memang begitu mengena di dalam hati. Jadi mending gw cepet2 pergi aja daripada mati berdiri di sana.

“ini Pak, ambil aja kembaliannya”

Monday, August 07, 2006

my resignation

August 7th, 2006

To:
All of my cousins

Dear Guys/Girls,

I want to thank you for all you have done for me. It's been a pleasure shared with you and tries to solve your problems.

As you can see, its all your problems, not mind. Therefore I have decided to tender my resignation. I want to solve my problems first. My last date of availability will be today. This decision has nothing to do with the exceptional opportunity you all have provided me. You and your family have been quite fair with me, and in a way, I genuinely appreciate it.

I wish all of you can be better persons and become success, and I want to thank you for allowing me to be a part of the family. Please feel free to contact me for further smooth transition assistance.

Love and regards,


Burat Pangeran

Monday, July 24, 2006

i won't fail you

The following is my latest conversations with my best friends after i told them about the situation.

This one here is my best friend whom I almost fuck his fiancee with

Him : "leave her"
me : "I did. I came back."
H : "What? You never do that, you always leave. How can you be so stupid?"
m : "i...i...
H : "You...You...What? You're so in love with her and become a moron?"
m : "Hey no!...i mean yes i love her..no! i mean, i don't! i don't know what i mean...
H : "She don't seem worth to be kept, just leave her..."
m : "I won't, i'm not gonna leave her,not now. She's really a nice girl. I think at least she can be a friend..."
H : "You think? Do you really think she'll be there when you go down? She's the kind who just wanna have fun, she's doesn't really wanna be your friend. U already got friends, u got me. Come on, Man. You're just wasting your time and energy, which i know u don't have a lot of those right now."
m : "Hey, don't say that! I always have time and energy for my friends!"
H : "True...but answer me this, IS SHE YOUR FRIEND right now?
m : "..."
H : "Suits yourself, i'm leaving and gonna make a huge sign with "i told you" written on it so i can show it to you whenever you come to me later on,crying. Hehehe..."
m : "Bastard! You're a jerk, you know that??!!!"
H : "But as jerk as i can be, i'm still your friend. And unfortunately, one of your best one. Huahahaahhaaha..."

This one here, is someone who rejected me cos we got different religion.

She : "isn't this what exactly happen between us back then?
Me : "Yup. pretty much the same."
S : "and she's furious with you? Why don't you tell her about me? About us?"
m : "I did,i tried. But she think that just some bullshit or something."
S: "maybe you told her wrong. I mean, you often did that you know. Telling a wrong message from what you really want to say."
m: "I think i made my self clear."
S: "Clear enough to say that we're still care for each other and still can be together though not as a couple? Hey, why don't we just be a couple? u still love me, right?
m: "Oh shut up! u know exactly why we can't be a couple."
S: "Hahaha of course i know, just teasing you...So why don't you just leave her?"
m: "oh great, not this kind of conversation again..."

Wednesday, July 19, 2006

Pot dan Pucuk Tanaman

Sebuah pot bertanya marah kepada pucuk tanaman.
“Mengapa kita tidak pindah saja? Aku malu menampung tanaman yang tidak juga berambah besar seperti ini.”
“Nanti saja kalau cuacanya bagus.”
“Di sini cuaca nggak akan pernah bagus, makanya ayo cepat kita pindah!”
“Udh tenang aja. Kamu nggak lihat apa yang aku lihat dari atas sini sih, di bawah sana tuh sebenarnya lebih aman, jadi santai lah.”

Pot tidak mau mengerti itu. Apa enaknya di bawah sini, enakan juga di atas sana. Tapi mengapa si Pucuk tidak begitu menikmatinya? Alhasil ia jadi tidak banyak membuat perubahan. Mana daun-daun baru yang seharusnya ia hasilkan? Ia juga kelihatannya tidak terlalu mati-matian mengejar sinar matahari, hanya mencari secukupnya saja. Peran Pucuk sebagai tombak utama tanaman ini menurut Pot sangat kurang!

Namun entah mengapa Batang dan para Akar adem-adem saja. Mereka selalu menemukan cara untuk berkompromi dengan si Pucuk, mereka pun santai-santai saja menyerap apapun makanan yang dihasilkan Pucuk.

Di suatu malam, Pot melihat pucuk tanaman bergoyang keras. Ia dan Batang sedang berusaha keras melepaskan diri dari cengkraman Benalu. Pucuk tanaman biasanya bisa lolos, namun sekarang ia agak sulit bergerak karena ia bersama si Batang. Benalu menang, Pucuk tanaman dan Batangnya tertebang.

Saat itu, Pot tidak dapat berbuat apa-apa.

Namun bukan berarti kemudian ia tidak berusaha. Pot berusaha mengikuti arah jatuh Pucuk tanaman. Mencoba bergerak sekuat tenaga, sayang ia belum mampu melepaskan tanaman yang ditampungnya begitu saja. Lagipula dalam perpindahannya, Pucuk tanaman berpesan agar Pot tetap bertahan dan terus menjadi penopang tanaman yang kini dikepalai oleh Benalu pemenggal si Pucuk.

Pot marah besar. “Lihat! Sekarang aku juga kan yang mempertahankan tanaman ini, katanya kita mau sama-sama bikin tanaman yang besar dengan daun2 yg banyak??!!”

Pucuk tanaman yg sudah menjadi pucuk lagi di tanaman yang lain balik mempertanyakan,”Pucuk baru kan pandai mencari makan, apa masalahnya? Kamu bilang ingin memiliki daun banyak tanaman bisa dapat banyak makanan dan cepat menjadi besar, kau ingin menampung tanaman yg besar kan?”

“Iya. Tapi biarpun menjadi pucuk, tetap saja dia itu benalu. Dapat makanan juga lebih banyak buat dia sendiri bukan dengan membuat daun yang banyak. Liat saja Batang baru dan para Akar menjadi lemah dan kehilangan kekuatan untuk menyerap makanan karena kini tidak banyak makanan yang dapat diserap. Bagaimana tanaman ini bisa tambah besar? Pucuk Benalu ini terlalu arogan. Selalu saja melihat ke atas tanpa sadar siapa sebenarnya yang menyokong tanaman ini selama ini,” ratap Pot pilu.

“Kalau begitu bergulinglah. Mau memecahkan diri dulu baru berguling atau mengajak seluruh tanaman agar si pucuk baru merasakan apa yg namanya tanah, terserah. Tapi bergulinglah…” rintih Pucuk tanaman.

“Baiklah…” Meski sedih, kini Pot pun lega.

Monday, July 17, 2006

Yin

I’m in need for one. An equalizer, a balancer, the Yin. An opposite power that stabilizes me. The nice and soft kinda power. And within her, I believe I found it.

Ideally, this power lies within “The One” that you love forever. That’s why they often said, “He/She completes me”. Yeah right. I don’t buy that. The idea that someone can be completed by only just one person is absurd. I believe that’s not even a fact, it’s just something we create to fulfill our expectations and also (unfortunately) our hope. Cos if it’s true we can be completed by just one person, why would we need another person? Why in fact we still need our relatives and friends?

As for me, I think Yin can lies in the heart of our mom, sister, cousin, best friend, a friend or maybe the sum of them. Just like right now. I got a cousin that can pull me from my gloomy world, and show me how warm this world is. No, not taking me to some park or conservation or just being so nice to me. But her kindness to other that melted my gloomy cold heart. Even my purest heart is not as kind as her regular heart.

See? I feel completed already.

Wait…What’s this? Who are you? What? I love her? Are you crazy? Me? I am the crazy one? Hey! I can’t have that feeling for her. You! Shut your mouth up!

Hmm…what if that noise is telling the truth? No way! Just what if? Ooo…ooo…I’m in big trouble…dududududu

Well, anyway, no matter what, I hope she continues doing it. Cos someday who knows, I’ll be able to do kind things the way she’s doing it without wax.

Thursday, July 06, 2006

Mengalirlah Bersamaku

Tadi pas lagi denger Prambors ada lagu yang sebagian liriknya kayak gitu. Ga tau yang nyanyi sapa tapi kena banget.

Gw bukan tipe yang suka ngukung, dan dia pun bukan tipe yang suka dikukung. Tapi gw juga gak mau yang selalu cuma bisa ngedorong dia dari belakang aja, gw juga mau jadi yang narik dia ke atas, agar pada akhirnya, berdua selalu bisa melewati semua riak dan ombak hidup serta menikmati kesenangan-kesenangannya bersama.

Mengalir tanpa beban.
Saling bantu dari belakang dan depan.
Untuk satu tujuan.
Kebahagiaan.

Monday, July 03, 2006

build trust 'till the end

first of all, my dear,
i never imagine anything like that could ever happen

i know it's hard for you to trust me right now
again, i'm so sorry

and for that, from now 'till the end
i will regain that trust

'cos after you said you believe my reasons,
i started to think that i've been giving
a second chance
a chance to feel again how nice it was
to love somebody

it's not gonna be easy, but i know i can
all because i care about you, i really do

Saturday, July 01, 2006

hatred for loving

always seem unfair
some have killed
their heart, their faith
just because of it

not just being hatred
nor envy
yet patience is not enough
u have to be an angel

don't wanna feel a thing
hating this, the pain i'm used to
should quit from this pain
but i'm not been enough

it's sad when she is not
she was is what she is
loves me hates me
for loving her